Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 148. Alhamdulillah



Pada zaman kuliah dulu, banyak pria yang mengejar-ngejar Naina. Banyak pria yang mendekatinya dan berharap akan menjadi tambatan hatinya.


Salah satu dari pria itu adalah Marcell, mahasiswa kedokteran yang berasal dari universitas yang tak jauh dari tempat Naina belajar di London.


Pertemuan mereka berawal dari sebuah gambar sebuah taman milik Naina yang tertinggal di sebuah cafe. Bagaimana awalnya?


Sore itu di dalam sebuah cafe mewah, terlihat Naina dan ketiga teman bule nya sedang duduk di salah satu meja yang ada disana. Mereka bertiga mengobrol menggunakan bahasa Inggris, topik obrolan itu adalah tentang tugas seni mereka.


Setelah hampir setengah jam di dalam cafe dan mengobrol, satu persatu teman Naina mulai berpamitan pulang dan akhirnya meninggalkan dia sendiri disana.


Naina yang bosan akhirnya menggambar sesuatu di buku gambarnya. Dia menggambar apa yang terlintas dipikiran nya.


"Hm.. taman yang bagus," gumam Naina sembari melihat hasil gambarnya. Sebuah taman yang indah. Dia tersenyum lalu meneguk coklat panas nya dengan hati-hati.


Tanpa Naina sadari, sedari tadi ada 3 orang pria yang sedang melihat ke arahnya. Saat Naina mengibaskan rambut panjang nya dan mengikatnya, dua dari ketiga pria itu menatap Naina dengan tatapan terpesona.


Tiga pria itu memiliki paras yang tampan, kulit putih bersih. Mereka adalah calon dokter di universitas London.


"Bro, dia beautiful kan?" tanya seorang pria pada Marcell sambil tersenyum.


"Gak seksi, tapi sederhana.. bidadari gue nih," ucap seorang pria sambil menatap Naina dari kejauhan.


"Apa dia orang Indonesia juga?" tanya Marcell penasaran dengan sosok Naina. Sebelumnya Marcell pernah melihat Naina di perpustakaan umum.


"Lo gak tau dia?"tanya Vicky, salah satu teman Marcell.


"Enggak," jawab Marcell polos, "Memangnya dia siapa? Kalian kenal dia?" tanya Marcell.


"Dia itu berasal dari keluarga Aditama, Lo tau kan keluarga Aditama?" tanya Rangga, teman Marcell yang satunya lagi.


"Aditama? Perusahaan fashion yang paling besar di negara Indonesia?" Marcell terbelalak mendengar nama Aditama disebut. Siapa yang tidak kenal dengan perusahaan fashion itu. Produknya berada dimana-mana dan sukses besar.


"Iya, dia anak perempuan keluarga Aditama. Saudara kembarnya si genius, Kelvin.." bisik Rangga pada Marcell.


"Dia cantik kan? Dia juga pintar dan baik hati. Seandainya dia jadi pacar gue, atau jadi istri gue. Gue gak bakalan deh keluar rumah seumur hidup! Diem aja di rumah nikmati wajah cantik nya dan suara lembutnya," Vicky membayangkan Naina menjadi istrinya.


"Mimpi Lo, walaupun dia baik dan ramah. Tapi dia punya prinsip, katanya dia gak mau pacaran mau nya diajak nikah,"Rangga berbisik pada kedua temannya.


"Cewek kaya gini langka banget! Gas lah, gue mau ngajak dia nikah!" kata Vicky semangat.


"Punya apa Lo mau nikahin dia? Cewek kaya dia itu kaya beda dunia sama kita," kata Rangga meminta Vicky sadar diri. Bahwa Naina berbeda dari gadis lain, dan latar belakang keluarga nya juga sangat hebat.


"Kalau jodoh kan gak tau, ya gak?" tanya Vicky sambil tersenyum bercanda dengan kedua temannya.


Ketika Vicky dan Rangga asyik membicarakan Naina, Marcell juga asyik menatap gadis yang sedang duduk dan terlihat menulis sesuatu di buku gambarnya. Gadis cantik itu tersenyum sambil menikmati minuman di dalam cangkir.


Marcell terpesona, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang bernama Ninaina Alyssa Aditama itu.


"Woy bro! Kepincut lo ya?" tanya Rangga melihat Marcell.


"Gue lihat ada lope lope di udara," kata Vicky sambil melihat ke arah Marcell yang fokus memandangi Naina.


Marcell mengambil tas gendong nya, dia beranjak dari tempat duduk itu. "Cell, Lo mau kemana?"


"Nyusulin cewek itu," jawab Marcell yang melihat Naina baru saja pergi keluar dari cafe itu.


"Lo mau ngapain nyusul dia?" tanya Rangga.


Marcell hanya menjawab dengan senyuman. Rangga dan Vicky keheranan. Marcell yang selalu dingin pada wanita dan dia sekarang menunjukkan dengan jelas ketertarikan nya pada Naina.


Marcell mengambil buka gambar Naina yang ada di meja, dia berlari keluar dari cafe tersebut dan mengejar Naina.


Naina sendiri sedang berdiri di dekat halte bus, dengan tas gendong, sepatu kets, kemeja, celana jeans dan rambut yang diikat adalah ciri khasnya.


"Tunggu!" seru Marcell pada Naina yang sedang berjalan ke halte bus.


"Ya? Apa anda memanggil saya?" Naina menoleh dan bertanya pada Marcell, "Ah? Anda orang Indonesia juga?" tanya Naina lagi yang baru menyadari bahwa Marcell berbicara bahasa Indonesia padanya.


Marcell tersenyum tipis, gadis itu sangat ramah dan tidak setenang wajahnya. Apalagi senyumnya sangat menawan.


Deg, Deg, Deg,


Senyuman Naina sukses membuat Marcell berdebar-debar. Tidak pernah Marcell dibuat seperti ini oleh seorang wanita. Hanya tatapan saja, mampu membuat Marcell terpana pada Naina.


Padahal di luar sana banyak gadis cantik yang mengejar dirinya yang berasal dari keluarga dokter terkenal dan hebat. Tapi, dia akhirnya dia sudah jatuh hati pada Naina.


"Iya, saya orang Indonesia.. blasteran sih," ucap Marcell pada Naina.


Apa ini yang namanya dari mata turun ke hati?


"Hehe, iya kak. Anda mau apa ya memanggil saya? Saya rasa saya tidak mengenal anda," tanya Naina bingung kenapa Marcell memanggilnya.


"Ini buku gambar kamu, kan?" Marcell menyerahkan buku gambar milik Naina. Gadis itu segera mengambilnya.


"Ya ampun, kok bisa ada pada anda? Makasih ya, anda sudah mengembalikan buku gambar saya," ucap Naina sangat berterimakasih pada Marcell yang telah mengembalikan buku gambar miliknya.


"Iya sama-sama," jawab Marcell kikuk.


"Kalau begitu saya permisi ya kak," Naina melihat bus mengarah ke arahnya. Bus yang sudah dia tunggu-tunggu.


Bus itu hampir mendekati Naina, Marcell masih berdiri mematung disana. Dia bingung dengan apa yang harus dikatakannya pada Naina. Niatnya ingin mengajak kenalan, tapi mulutnya malah membeku.


"Tunggu! Siapa nama kamu?" tanya Marcell buru-buru.


"Aku Naina kak,'" jawab Naina sambil naik ke tangga bus.


"Aku Marcell! Kalau kita bertemu lagi, mari kita tukeran nomor telpon!" teriak Marcell pada Naina.


Naina hanya tersenyum, lalu dia masuk ke dalam bus.


Sejak saat itu Marcell pindah jurusan seni, satu kelas dengan Naina walau dia tidak menyukai seni. Karena dia ingin dekat dengan Naina. Usaha mendekati Naina berhasil dengan baik, tapi Naina tidak memberikan Marcell pertanda dalam asmara.


Tidak ada rasa suka di hati Naina sedikitpun untuk Marcell, dia hanya menganggapnya teman. Marcell merasa ada seseorang yang membuat Naina sulit membuka hatinya untuk orang lain.


****


Kembali ke masa kini..


Marcell masih ada berada di dalam mobil, dia akan segera pulang ke rumahnya.


"Sekarang aku tau siapa pria yang membuat kamu menutup hati mu Nai. Seperti nya suami mu adalah pria itu," Marcell tersenyum pahit mengingat cinta pertamanya yang hanya tinggal kenangan.


7 bulan telah berlalu sejak Naina melakukan pengobatan bersama Marcell dan Juna. Sesekali Alma dan Bryan menengoknya. Sementara Kelvin tidak bisa pergi menemui Naina dan Juna di Singapura karena kehamilan Keira sudah semakin membesar. Dan Keira tidak boleh dibawa bepergian jauh.


Naina dan Juna berkomunikasi dengan Keira Kelvin lewat video call. Mereka saling merindukan dan ingin bertemu, tapi pengobatan Naina belum selesai. Selama 7 bulan di Singapura, keadaan Naina mulai membaik. Sel sel kanker ditubuhnya juga mulai menghilang, dia jarang muntah darah atau mimisan lagi. Rambut Naina juga sudah mulai tumbuh.


Hari itu, Naina pergi ke rumah sakit ditemani oleh mama nya untuk mengetahui hasil tes kesehatan Naina. Dia melihat ada ibu hamil yang sedang lewat di depannya. Mereka berdua menunggu Marcell di ruang tunggu.


"Nai, kamu kenapa sayang?" tanya Alma pada anaknya yang sedang melamun itu.


"Ma, ini sudah tujuh bulan dan aku belum hamil juga," gerutu Naina yang ingin segera hamil.


"Sayang, kamu hanya belum dikasih aja sama Allah... kalau sudah waktunya pasti Allah akan memberikan nya. Mungkin Allah belum memberikan amanah itu karena Allah ingin kamu sembuh dulu," Alma menasehati putrinya dengan bijak.


"Mungkin mama benar, tapi aku pengen segera punya anak," Naina terlihat sedih.


"Allah akan memberikan nya pada saat waktu yang tepat. Dokter Marcell kan sudah bilang kalau gak ada masalah sama rahim kamu. Kamu dan Juna bisa memiliki banyak anak di masa depan," Alma menyemangati putrinya.


"Aamiin, semoga ya ma," ucap Naina sambil tersenyum.


"Nah gitu dong senyum,"


Seorang suster datang menghampiri Naina dan Alma, memberitahu mereka untuk segera masuk ke dalam ruangan Marcell.


KLAK...


Naina membuka pintu ruangan itu, dia dan mama nya masuk ke dalam sana. Marcell tersenyum menyambut Alma dan Naina. Bahkan Marcell sampai memberi salam pada Alma dengan sopan.


"Selamat siang Tante Alma," sapa Marcell kepada mama nya Naina.


"Selamat siang juga dokter Marcell," sapa Alma pada dokter tampan dan muda itu.


"Siang kak Marcell," sapa Naina kepada Marcell.


"Silahkan duduk, saya punya berita bagus yang akan membuat Tante Alma dan Naina senang. Tapi, dimana pak Arjuna?" tanya Marcell yang tidak melihat Juna disana.


"Suami ku sedang ada urusan di kantor kak, gak apa-apa.. kakak katakan saja apa berita baik itu," jawab Naina.


Naina dan Alma duduk berhadapan dengan Marcell. Kemudian dokter itu menyerahkan hasil pemeriksaan Naina pada Alma sekalian menjelaskan tentang kondisi Naina.


"Sel kanker di dalam tubuh Naina sudah mulai berkurang. Naina sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa nya.Tapi mohon diingat, Naina belum sembuh total, hanya saja keadaan nya menjadi lebih baik," jelas Marcell sambil tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah terimakasih dokter, berkat dokter anak saya bisa kembali sehat seperti sedia kala. Bertemu dengan dokter Marcell adalah keberuntungan untuk Naina," Alma bersyukur karena anak nya sudah kembali sehat


"Alhamdulillah.. terimakasih kak Marcell," ucap Naina senang mengetahui kondisi nya.


Aku harus segera memberitahu Juna tentang semua ini.


"Jaga kesehatan nya ya dan jaga asupan makanan," tutur Marcell mengingatkan.


Naina sangat bahagia, karena dia tak perlu menjalani kemoterapi lagi. Dirinya sudah menjadi lebih baik, karena semangat dan keinginan nya untuk sembuh sangat besar.


Malam itu, Juna baru saja pulang dari kantor. Naina dan Alma sedang memasak dapur, kedua orang itu sangat bahagia. Disisi lain ada Bryan sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Assalamualaikum pa," Juna memberi salam pada ayah mertuanya.


"Waalaikumsalam," jawab Bryan ramah.


"Naina sama mama dimana pa?" Juna tanyakan keberadaan istri dan mama mertuanya yang tidak terlihat di sana.


"Mama sama Naina ada di dapur, mereka lagi memasak makan malam bersama," jawab Bryan pada menantunya.


Juna langsung pergi ke dapur untuk melihat istrinya karena dia sangat merindukan istrinya. Tanpa sadar Juna memeluk dan mencium istrinya itu.


"Sayang, aku pulang," ucapnya sambil mengecup bibir Naina.


"Jun-juna, ada mama disini," bisik nya pada sang suami.


"Gak apa-apa kok, anggap aja mama nyamuk," Alma tersenyum melihat kearah Juna dan Naina yang romantis selama 7 bulan pernikahan mereka.


"Ma-mama, maaf ma..," Juna langsung melepaskan pelukan itu dari istrinya. Dia terlihat malu, dia lupa kalau mama mertuanya ada disana.


"Gak apa-apa, kok minta maaf sih? Kalian kan suami istri, jadi wajar saja dong melakukan itu," Alma hanya tersenyum.


"Hehe," Naina hanya nyengir karena malu,"Sayang kamu ganti baju dulu, nanti kita makan malam bersama ya," ucap Naina, "Oh ya, aku belum siapkan baju ganti kamu. Kita ke kamar bersama," kata Naina sambil tersenyum.


Pasangan suami istri itu masuk ke dalam kamar mereka. Naina menyiapkan baju untuk dikenakan oleh suaminya, kemudian dia menyiapkan air hangat di bathtub untuk suaminya.


"Sayang, ini airnya sudah siap!" seru Naina pada suaminya yang belum masuk kamar mandi.


Juna menghampiri Naina yang sedang duduk di atas bathtub. Dari tadi Naina terus senyum-senyum sendiri.


"Ada apa dengan hari ini? Kenapa kamu terlihat senang? Sampai-sampai di tubuhmu ada aroma manis kebahagiaan," Juna memangku istrinya dan mendudukkan wanita itu di pangkuan nya.


"Saat makan malam, aku akan kasih tau apa yang membuat aku bahagia. Cepatlah mandi dulu!" Naina tersenyum dan memegang hidung suaminya dengan gemas.


"Kasih tau sekarang," tangan Juna menangkup pinggul istrinya.


"Tidak boleh, mama dan papa juga harus mendengarkan apa yang membuat aku bahagia. Jadi, aku kasih tau nya nanti," ucap Naina sambil tersenyum.


"Ya sudah, cium dulu! Hari ini aku belum di cium, tadi pagi juga belum," keluhnya pada sang istri.


MUACH.


Bibir Naina mendarat di pipi Juna dengan lembut. "Nah, sudahkan?"


"Belum cukup," jawab nya sebal.


"Begini?" kedua tangan Naina merengkuh pipi Juna, dia membenamkan bibir cantiknya kepada bibir suaminya.


Kedua nya saling berpagutan satu sama lain, mengecap, menikmati dan merasakan kehangatan lewat sentuhan lidah.


"Sudah tuh,"


"Oke, pergilah.. aku mau mandi dulu sayang, makasih ciuman penambah semangat nya," kata sang suami puas.


"Iya sayang,"


Tak lama kemudian setelah selesai mandi dan mengganti bajunya. Juna dan Naina makan malam bersama Bryan Alma. Di sanalah Naina mengatakan tentang kondisi nya yang sangat baik. Dan mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


...---***---...