
Sudah satu tahun lamanya Juna dan Naina menikah tapi mereka belum dikaruniai keturunan. Sedangkan yang lain ada yang sudah melahirkan, sedang hamil, bahkan ada yang sudah punya anak dua.
Dalam hatinya Juna merasa iri, tak bisa dipungkiri lagi kalau dia ingin memiliki seorang anak dengan Naina. Terlebih lagi hasil pemeriksaan Naina yang terakhir memang bermasalah. Karena Naina mengonsumsi banyak obat obatan kimia sebelum nya, dia akan kesulitan hamil. Dan benar saja, Naina kesulitan untuk mempunyai anak.
Sepulang nya dari rumah sakit, Juna dan Naina pulang ke rumah mereka yang sepi tanpa ada siapapun selain mereka, dua pembantu rumah tangga dan dua penjaga rumah yang selalu tidak terlihat.
"Jun,"
"Ya?" tanya Juna sambil melepaskan jas nya dan menyimpan nya ke ranjang.
"Apa.."
Tidak, hal sensitif seperti ini jangan dibicarakan sekarang.
"Ada apa sayang?" tanya Juna dengan suara lembut seperti biasanya.
"Ah itu.. Apa kamu mau makan malam di rumah?" tanya Naina pada suaminya. Tadinya Naina ingin menanyakan soal anak, tapi dia tidak bisa membicarakan nya karena takut Juna marah dan sedih.
"Untuk hari ini kita akan makan malam diluar. Aku lupa ya kasih tau kamu kalau Damar sama Kayla ngajakin kita makan malam bersama, disana juga ada teman-teman yang lain," Juna tersenyum.
Tidak ada yang berbeda dari Juna, tapi Naina takut kalau Juna akan berubah karena dia masih belum bisa memberikan nya keturunan. Naina takut kalau suatu saat nanti Juna akan berpaling dari dirinya.
"Oh iya, nanti aku gak usah masak untuk makan malam, " ucap Naina dengan wajah sedih.
Tangan Juna mengangkat dagu istrinya, dia menatap wanita itu dalam-dalam. "Ada apa? Kenapa dengan wajahmu ini, sayang?"
"Aku gak apa-apa Jun,"
"Wanita itu kalau bilang gak apa-apa, pasti ada apa-apa. Hayo, bilang kenapa kamu sedih?" Juna mencoba menebak raut wajah istrinya.
Naina diam saja, kini dia sudah duduk di pangkuan Juna. "Nai, kamu kenapa?"
"Jun, ini hanya seandainya saja..kalau aku tidak bisa mempunyai anak, apa kamu akan mencari wanita lain?" tanya Naina berhati-hati.
Juna tersentak kaget mendengar ucapan istrinya. Pertanyaan itu sungguh menusuk hatinya. Juna mendorong pelan tubuh Naina, kemudian dia berdiri. Raut wajahnya berubah menjadi kacau.
"Kenapa kamu bertanya seperti ini?" Juna malah balik bertanya ketika ditanyai istrinya.
"Kamu tau kan hasil pemeriksaan terakhir ku? Aku akan kesulitan mempunyai anak, ini sudah setahun lebih kita menikah. Kamu bisa mempunyai anak jika kamu..." Naina berat mengatakan nya.
"Apa?! Kamu mau ngomong apa lagi?!" teriak Juna marah. Dia tidak pernah semarah ini pada Naina, bahkan sampai membentak nya. Sejak awal pernikahan sampai sekarang, Juna selalu sabar menemani Naina.
"Kamu bisa mencari wanita lain di luar sana yang lebih sempurna dariku! Selama ini kamu tidak bahagia bersama denganku. Aku sakit dan kamu yang selalu berkorban untukku. Dari mulai waktu, keuangan dan kesabaran! Aku..ingin kamu bahagia,"
GREP!
Juna menatap Naina dengan murka, tatapan yang tidak pernah Naina lihat dari suaminya. Tangan Juna memegang tangan Naina dengan erat. "Kamu menganggap ku apa sih selama ini?! Seenaknya saja kamu bilang bahwa aku tidak bahagia? Aku cinta kamu tentu saja aku bahagia bersamamu Nai! Hanya karena kita belum punya anak, kamu bicara seperti ini! Aku sakit Nai, hatiku sakit! Apa kamu tau itu?!!"
Pertama kalinya Juna membuat Naina menangis, tapi ini bukan kesalahan Juna semata. "Aku juga sakit! Hatiku juga sama sakitnya dengan kamu, setiap kali kamu melihat orang-orang yang menggendong anak, menggandeng tangan seorang anak, kamu selalu sedih kan? Kamu selalu sedih karena aku belum bisa memberikan kamu kebahagiaan dengan hadirnya seorang anak?!" Naina bicara dengan bulir air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.
"Ya! Jujur, aku memang menginginkan seorang anak. Tapi, aku bisa menunggu..ini baru setahun! Nai, sulit hamil bukan berarti tidak bisa kan? Aku bisa menunggu kamu...tapi jangan pernah sebut tentang wanita lain lagi!" bentak Juna pada Naina, dia sudah terlanjur emosi pada pikiran Naina yang tidak memikirkan perasaan nya.
"Aku...aku cuma ingin kqmu-"
"CUKUP!"
Juna terlihat kesal, dia tak mau mendengar lagi kata-kata Naina. Bibir Juna mengunci bibir istrinya agar dia tidak bicara lagi.
"Hmphh!!!" Juna mencium istrinya dengan emosi dalam. Tidak memberikan Naina kesempatan untuk beristirahat.
Pertengkaran suami istri itu terdengar sampai ke lantai bawah, tempat pak Kusno dan pelayan lainnya. Mereka keheranan karena hubungan Naina dan Juna selalu tampak harmonis, lalu hari ini mereka bertengkar hebat?
Di dalam emosi yang menggebu-gebu, Juna melampiaskan amarahnya dengan menjamah kasar tubuh Naina.
"Kamu suruh aku cari wanita lain?!! Kamu yakin Nai?" Juna membuka bajunya dan melempar baju itu penuh amarah. Dia menatap Naina dengan tatapan nanar dan murka secara bersamaan.
"Juna, hentikan!" Naina menangis, dia takut melihat sorot mata Juna dan kekasaran nya.
"Hentikan! Kamu yang hentikan! Bicara tentang wanita lain lagi, aku akan memberimu pelajaran!" ujar Juna sambil meneteskan air mata.
"Juna...hiks"
Saat itu juga, Juna menyetubuhi istrinya dengan rasa emosi, sedih, bercampur kecewa.
Naina hanya bisa pasrah menerima kemarahan Juna. Ini memang kesalahan nya, dia mengakui semua itu di dalam hatinya. Tapi, dia melakukan nya karena dia ingin Juna bahagia.
"Tega kamu Nai. Kejam sekali kamu melukai ku dengan kata-kata, kamu selalu bisa membuat hatiku berdarah,.." ucap Juna sebelum dia melancarkan serangan terakhir nya pada Naina yang sudah terlihat lelah.
Hampir di sekujur tubuh nya terlihat bekas ciuman yang menampakan warna merah.
"Maaf.. maafkan aku Jun, maaf aku sudah melukai hati kamu," Naina merasakan betapa marah dan kecewa nya Juna karena kata-kata nya itu.
Seakan-akan tidak menghargai cinta Juna untuk dirinya. Tidak memikirkan perasaan Juna yang selalu bersabar untuk dirinya. Dia meminta Juna mencari wanita lain?
"Hatiku sakit Nai.. jangan lakukan ini lagi," Juna menangis, dia membelai rambut Naina yang tergerai panjang.
"Maaf Jun, maafkan aku.."Naina memeluk Juna dalam keadaan tubuh tanpa sehelai benang itu dengan erat. Air mata juga mengalir di wajahnya.
"Aku tidak akan memaafkan kamu, kalau kamu bicara sembarangan lagi!" Juna memegang kedua tangan Naina dengan erat, sebelum dia membenamkan miliknya lagi pada pintu milik Naina yang selalu ia masuki.
"Akhhhhhh!!!" Naina mengerang, serangan Juna kali ini begitu menyakitinya.
Setelah melakukan nya dari malam sampai pagi hari, Naina dan Juna masih tertidur pulas dengan keadaan tubuh ditutupi selimut.
"Hiss.." Naina terbangun lebih dulu dari suaminya. Namun, tangan Juna masih melingkar ditubuhnya, hingga dia tak bisa bergerak. Juna masih tertidur pulas, Naina tidak mau membangunkan nya.
Naina menatap suaminya yang tertidur pulas itu, dia merasa bersalah karena sudah membuat Juna semarah itu padanya tadi malam. Dia tak pernah melihat Juna marah sampai murka padanya.
Juna, maafkan aku.. aku sudah bicara tanpa berpikir lebih dulu. Kamu pasti sangat terluka kan? Padahal kamu selalu sabar menghadapi ku, tapi aku nya yang tidak sabar. Aku hanya ingin kamu bahagia. Naina membelai lembut wajah suaminya.
"Kamu sudah bangun?" Juna membuka matanya, tangannya memeluk tubuh Naina dengan erat.
"Ah.. iya," jawab Naina sambil memperhatikan wajah suaminya.
Juna sudah kembali seperti biasa? Apa dia tidak marah lagi?
Kedua mata Juna menatap Naina yang berada di dalam dekapannya. "Astagfirullah Nai, maafkan aku.." matanya membulat ketika melihat hasil perbuatannya pada tubuh Naina.
"Maaf kenapa Jun?" tanya Naina bingung, "Aku yang harusnya minta maaf," ucapnya pelan.
"Aku gak mau bahas itu lagi! Kalau kamu bicara tentang semalam, aku tidak bisa menjamin diriku bisa tetap sabar," Juna mengancam istrinya untuk tidak bicara tentang kejadian semalam.
"Iya, aku paham," jawab Naina patuh.
"A-ada apa?" Juna langsung beranjak bangun melihat istrinya memegang punggung.
"Tubuhku sakit semua," jawab nya sambil merasakan sakit di tubuhnya terutama bagian pinggang dan bahu.
"Ma-maaf, semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku, kamu pasti kesakitan ya?" tanya Juna cemas.
"Gak apa-apa, ini salahku karena telah memancing bintang buas," jawab Naina sambil tersenyum.
"Aku akan bertanggungjawab. Nah, kamu tidur saja dulu, aku akan mengerjakan semua pekerjaan mu hari ini," Juna bersikap seperti biasa lagi. Dia meminta Naina untuk tiduran dulu di ranjang.
"Kamu mau apa?"
"Biar aku yang melakukan semuanya! Kamu tidur saja dulu!" kata Juna lembut
Ya Allah, apa yang sudah kulakukan pada tubuhnya sehingga dia bisa menjadi seperti itu?. Juna menatap cemas pada tubuh Naina yang penuh oleh mark kiss darinya.
"Ta-tapi.."
Belum selesai bicara, Juna sudah masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Tanpa sadar Naina juga ketiduran, karena malam itu dia hanya tidur 2 jam. Juna terus menggoncang tubuhnya tanpa jeda.
Beberapa jam kemudian, Naina terbangun dari tidurnya. Untunglah hari itu adalah hari Sabtu, jadi Naina bebas untuk bermalas-malasan. Dia merasakan tubuhnya masih terasa sakit.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Naina menatap ke arah suaminya yang sedang duduk di ranjang, tak jauh dari tempatnya berbaring. "Juna, kamu disini?" tanya nya.
"Iya, aku udah siapkan sarapan buat kamu," jawab Juna sambil tersenyum manis.
"Makasih sayang," jawab Naina.
Tanpa bicara apa-apa, mereka seperti nya sudah berbaikan. Asal jangan membahas masalah semalam.
"Kamu mau makan dulu atau mandi dulu? Atau kamu mau aku pijat? Tubuhmu masih sakit, kah?" tanya Juna mengoceh. Dia mencemaskan tubuh kecil istrinya.
Bagaimana mungkin suami sebaik kamu, yang sangat mencintai ku akan mengkhianati diriku? Aku berfikir terlalu jauh, kamu tidak mungkin begitu, kan?
"Nai? Sayang?" tanya nya lembut.
"Iya Jun,"
"Kamu mau makan atau mandi dulu?" tanya Juna perhatian.
"Seperti nya aku akan mandi dulu," jawab Naina sambil tersenyum.
GREP!
Juna tiba-tiba menggendong Naina yang tanpa busana itu. Naina terlihat malu dan terkejut.
"Juna, aku gak pakai baju! Apa yang kamu lakukan sih?!" Bibirnya mengerucut.
"Kenapa kamu malu-malu gitu? Aku kan sudah melihat semuanya, kita sudah menikah satu tahun lebih," jawab Juna sambil tersenyum memandangi tubuh istrinya.
"Juna.. kamu itu ya,"
"Aku antar ke kamar mandi, sekalian akan aku tunjukkan kasih sayang ku sama kamu,"ucap Juna pada istrinya.
"Kasih sayang??" Naina ternganga," Juna kamu jangan macam-macam, tubuhku semalam sudah hampir remuk!"
"Aku tidak akan meremukkannya, aku malah ingin memperbaiki nya," Juna nyengir. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.
Pria itu menggendong istrinya sampai masuk ke dalam kamar mandi. Dia membaringkan tubuh lainnya di bathtub yang sudah diisi air hangat.
Dengan perhatian, Juna menunjukkan kasih sayangnya. Dia benar-benar tidak melakukan hal macam-macam selain memandikan Naina. Bahkan Juna juga memijat tubuh istrinya yang semalam dijamah dengan kasar olehnya.
"Gimana? Pijatan ku?" Juna memijat bahu Naina dengan lembut.
"Kamu cocok jadi tukang pijat," jawab nya sambil tersenyum. Dia menikmati pijatan suaminya yang nyaman.
"Benarkah? Maka aku adalah tukang pijat pribadi mu," ucap Juna sambil beralih memijat tangan Naina.
Naina menoleh ke arah suaminya, "Juna, aku pikir kita sudah berbaikan. Tapi, aku merasa kalau aku harus tetap mengatakan nya. Maafkan aku karena tidak memikirkan perasaan kamu dengan bicara sembarangan, aku hanya-"
Cup
Juna mendaratkan bibirnya mengecup bibir manis Naina," Aku juga minta maaf, karena aku sudah marah padamu. Aku membentak mu, padahal aku sudah berjanji akan selalu memperlakukan mu dengan baik,"
"Kamu selalu memperlakukan ku dengan baik kok. Hanya saja aku sangat menyebalkan,"
"Jadi kamu tau kalau kamu sangat menyebalkan? Dan kamu tau apa salahmu?" tanya Juna serius.
Naina mengangguk, dia paham apa kesalahannya. Salahnya karena dia meragukan kepercayaan Juna.
"Maka kamu hanya perlu berjanji, jangan pernah meragukan aku lagi!" seru Juna sambil memegang kepala Naina, membantunya membersihkan rambut.
"Iya aku mengerti. Tapi kamu juga harus berjanji kalau kamu akan bilang padaku apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kamu sukai," jelas Naina pada suaminya.
"Aku janji, ini adalah pertengkaran pertama dan terakhir kita ya?" Juna tersenyum. Naina juga membalas senyuman nya dengan senyuman.
Mereka sarapan pagi bersama pukul 9 pagi, waktu yang cukup siang untuk disebut sarapan. Ya, itu semua karena mereka berdua terlambat bangun.
Setelah selesai sarapan, Naina dan Juna pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Keira dan juga keponakan mereka. Disana ada Theo dan Nisha juga.
"Naina, Juna? Kalian ada disini juga? Kok kalian gak datang sih semalam?" tanya Nisha pada kedua temannya. Perut Nisha sudah membesar, kira-kira dua bulan lagi dia akan melahirkan nya bayinya dan Theo.
"Iya, semalam semua orang nungguin kalian berdua" Theo tersenyum lembut. Dia tampak bahagia dengan pernikahannya itu. Terlebih lagi mereka akan menyambut kelahiran buah hati.
"Hehe, semalam kami sibuk di kamar," jawab Juna dengan wajah polosnya.
"Haha, pantesan aja.. di tubuh Naina, ada beberapa tanda," Nisha melirik ke arah leher Naina yang ada mark kiss nya.
"Juna, kenapa kamu gak bilang kalau masih ada?" Naina melirik ke arah Juna dengan kesal.
"Aku sengaja, biarlah orang melihat hasil mahakarya ku," Juna bangga dengan hasil mahakarya nya ditubuh Naina.
"Kalian udah kerja keras nih, kapan dong punya baby?" tanya Nisha pada pasangan suami istri itu.
Lagi-lagi pertanyaan soal anak membuat mereka tertegun dalam keheningan.
...---***---...