
Pov Juna Naina
...🍀🍀🍀...
Kalau teringat anak-anak nya sudah beranjak dewasa, Alma mulai resah karena suatu saat nanti mungkin dirinya akan ditinggalkan. Namun, Alma percaya bahwa kedua anak itu tidak mungkin lupa pada orang tuanya.
Alma berpesan pada Naina, agar jangan melupakan dirinya ketika sudah menikah nanti. Tentu saja Naina tidak akan melakukan itu, Naina akan tetap menyayangi mama nya. Walaupun kelak ia akan menikah, Naina tetaplah putri Alma dan Bryan, keluarga Aditama.
Setelah selesai merapikan riasan wajah Naina, Alma dan Naina berencana untuk berangkat bersama, karena mobil Naina masih berada di bengkel.
"Kayanya papa dan kakak kamu sudah berangkat duluan tuh" ucap Alma sambil melihat mobil di garasi yang hanya tinggal mobilnya saja.
"Ish.. padahal aku mau nebeng sama kakak karena kita satu arah. Tapi, dia malah pergi duluan.." gerutu Naina sebal pada kakak nya yang meninggalkannya begitu saja
"Ya sudah, kamu berangkat sama mama aja"
"Nanti mama bisa telat berangkat kerjanya, kan arah kantor Navin sama Albry galeri gak searah" Naina cemas pada mama nya, jika Alma mengantar nya maka Alma akan terlambat ke kantor.
Din.. Din.. Din..
Terdengar bunyi klakson mobil dari jalanan yang ada di depan rumah Naina. Orang di dalam mobil itu membuka kaca jendela mobilnya.
Pria itu tersenyum memandang ke arah Naina.
Kelihatan banget kalau Naina malu-malu, itu tandanya dia memang ada rasa padaku. batin Juna senang melihat Naina malu-malu.
Junjun? ngapain dia kesini?. Naina memalingkan wajahnya saat melihat orang berada di dalam mobil yang membunyikan klakson nya itu.
Bukannya pria itu teman SMA nya Naina?. Alma memperhatikan Juna dengan seksama.
Juna keluar dari mobilnya, dengan cepat ia mencium tangan Alma lalu meluncur lah ucapan salam dari bibirnya dengan sopan. "Assalamualaikum tante, apa kabar?"
"Waalaikumsalam.. Alhamdulillah baik" Alma masih memperhatikan Juna dari atas sampai ke bawah, sebenarnya ia sedang mengingat ingat siapa pria yang ada di depannya itu.
"Tante, ini saya Juna.. teman sekelas Naina waktu SMA" Juna memperkenalkan dirinya lagi karena ia merasa kalau Alma sudah lupa padanya
"Tunggu.. tunggu! Juna yang suka pakai motor butut itu kan? yang suara knalpot nya bising dan suka nganterin Naina?" tanya Alma menebak-nebak
Apa benar ya dulu suara motor ku bising?. Ah iya in aja deh biar cepet. batin Juna mengingat ingat suara motor yang dipakainya dulu.
"Haha.. iya Tante. Saya Juna yang itu" Juna tersenyum lebar
Begitu mendengar jawaban dari Juna, Alma langsung terlihat tidak senang melihat sosok Juna. Karena Alma ingat kalau yang namanya Juna ini pernah menyakiti hati Naina. Meninggalkan Naina, membuat Naina sakit dan galau. Alma tidak pernah lupa bagaimana terluka nya hati Naina saat Juna pergi meninggalkan nya begitu saja tanpa kabar.
DEG!
Kenapa Tante Alma menatapku seperti itu? seingat ku dia dulu ramah sama aku, kok sekarang tatapannya sama kaya om Bryan?
"Tante.. saya mau minta izin mengantar Naina ke tempat kerjanya" ucap Juna sopan dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Gak usah! Naina berangkat bareng tante" Alma menolak dengan tegas permohonan Juna padanya, "Nai, ayo cepat nanti mama telat"' ajak Alma sambil membuka pintu mobil nya.
Naina terdiam dan menatap Juna, ia bisa merasakan sikap dingin, ketus ibunya pada Juna.
Mama kenapa ya ketus gitu sama Juna? apa mama masih marah karena Juna dulu pernah meninggalkan aku?.
GLEK
Juna menelan saliva nya.
Mendapatkan sikap ketus dari Alma, membuat ia sadar bahwa kesalahan nya tidak mudah dimaafkan. Misinya bertambah banyak, selain meluluhkan hati Bryan, Kelvin dan Ken, ia juga harus meluluhkan hati Alma.
Baiklah Jun, kamu hanya perlu bermuka tembok. Juna memantapkan hatinya, bermaksud melakukan ide gilanya.
"Tante, maaf tapi ada yang harus saya bicarakan sama Naina. Jadi, saya harus berangkat bareng Naina" Juna mengatupkan kedua tangan nya, seraya memohon pada Alma.
"Tapi saya gak mau kamu berangkat sama Naina!" Alma menyilangkan kedua tangannya di dada, ia menatap galak ke arah Juna.
"Please Tante.. ini masalah bisnis kok" Juna memohon-mohon pada Alma untuk mengizinkan nya
"Bisnis?" Naina terheran-heran, sejak kapan ia punya urusan bisnis dengan Juna.
"Ayo Nai, mama bisa telat nih!"
Alma mulai kesal dengan Juna yang terus mengajaknya mengobrol seperti sengaja ingin menghabiskan waktunya. Tanpa mereka sadari hari sudah mulai siang pukul 8.
Juna tersenyum lembut penuh kemenangan,"Ya udah Tante berangkat aja, biar saya yang mengantarkan Naina. Kan kantor Tante sama galeri nya Naina berlainan arah"
Yes, berhasil. Cara muka tembok berhasil! Aku memang, Tante.. Batin Juna senang
"Kamu..!! kamu sengaja kan? dasar anak gila!" pekik Alma kesal sambil masuk ke dalam mobilnya dengan buru-buru. Sebenarnya masih banyak hal yang ia ingin katakan pada Juna, namun ia sudah dikejar deadline.
Ih.. dia pasti sengaja mengajak ngobrol supaya dia bisa berangkat bersama Naina. Licik sekali dia, tapi kenapa aku merasa dia mirip dengan seseorang ya?
"Hati-hati di jalan ya Tante" Juna melambaikan tangannya ke arah Alma.
"Kalau kamu ngapa-ngapain anak saya, awas kamu ya!" kata Alma dengan mata melotot penuh ancaman ke arah Juna
"Saya akan menjaga Naina baik-baik" Juna tersenyum santai, penuh kemenangan.
"Hati-hati mama" ucap Naina pada mamanya mengingatkan.
BRUMM..
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Alma menancap gas mobilnya. Kini hanya tinggal Naina dan Juna yang berada di depan gerbang rumah itu.
Naina tidak berani bicara satu patah kata pun, ia mendadak menjadi pendiam. Juna juga sama, ia masih malu-malu dengan apa yang ia lakukan semalam.
Aduh, harus ngomong apa ya?. Juna sedang sibuk merangkai kata di kepalanya.
Kenapa Juna kesini? apa dia gak malu apa semalam kita sudah..
"Nai!!" panggil Juna memberanikan dirinya di depan Naina.
"Ya?" Naina langsung menjawab dengan cepat
Juna mau ngomong apa ya? kok aku jadi deg degan.
"Ayo berangkat bareng" ajak nya pada Naina sambil membukakan pintu mobilnya untuk Naina.
"Ah.. gak usah" tolak nya merasa tak enak
"Masuk aja! aku tidak akan melakukan apa-apa padamu tanpa seizin mu lagi. Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu canggung" Juna tersenyum, matanya menatap Naina yang terus memalingkan wajahnya.
Naina tidak bicara apa-apa, ia masuk ke dalam mobil Juna dengan perasaan gugupnya. Naina duduk di kursi depan di samping Juna. Dalam hatinya, Juna senang sekali karena Naina akhirnya berangkat bersamanya.
Kenapa keadaan nya jadi seperti ini?
"Nai.."
"Ya!!" Naina terkejut dengan panggilan dari Juna
"Naina aku minta maaf, semalam aku hanya ingin memastikan perasaan kamu" Juna meminta maaf atas tindakannya semalam.
"Lalu, apa kamu sudah dapat jawabannya?" tanya Naina sambil melirik ke arah Juna pelan-pelan
"Kalau melihatmu sekarang, seperti nya sudah" jawab Juna sambil tersenyum bahagia pada Naina.
"Oh begitu ya" Naina diam-diam tersenyum manis mendengar jawaban Juna.
"Kamu jangan khawatir Nai, mulai sekarang aku akan berusaha keras. Sesibuk apapun aku, aku akan menyempatkan waktu untuk menemui keluarga kamu sesering mungkin" kata Juna gentle dan serius
"Kenapa kamu mau melakukan nya?" tanya Naina menengadah ke arah Juna dengan mata bingung penuh pertanyaan.
"Aku akan berusaha membuat keluarga kamu menerimaku sebagai menantu mereka.. jadi kamu harus menungguku" jawab Juna penuh percaya diri.
DEG!
Naina seperti terkena serangan jantung beberapa kali karena ucapan Juna yang romantis padanya. Ia tidak melihat wajah bercanda dari Juna, hanya wajah seorang pria yang memegang teguh perkataan nya pada seorang wanita.
Gadis itu tidak berkomentar lebih tepatnya kehilangan kata-kata, Juna mengartikannya sebagai persetujuan.
Restu dari mereka pasti akan aku dapatkan.
Juna, fiks.. kamu buat aku baper. Aku memang suka sama kamu, tapi aku malu untuk mengatakan nya.
...----***---...