
Hai Readers! mohon perhatian nya untuk menyingkir dari chapter ini, terutama untuk yang lagi berpuasa atau usia dibawah umur☺️☺️☺️🙏
...🍀🍀🍀...
Malam itu..
Alma masih berada di dalam kamarnya, tubuhnya lemas sekali dan kepalanya terasa sangat pusing. Dia berbaring dengan mata merahnya yang bengkak karena banyak menangis. Bryan membawakan sepiring nasi dan 2 lauk untuk istrinya.
"Sayang, kamu belum makan dari pagi. Ayo makan dulu yuk.. nanti kamu sakit" bujuk Bryan pada istrinya
"Gimana aku bisa makan, Bry.. Naina juga belum makan apa-apa dari pagi. Tidak tahu kapan dia akan sadar, bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini" gumam Alma sambil memeluk guling di ranjangnya.
Bryan menghela nafas panjang, dia mulai kesal dengan sikap Alma yang tidak mau makan dan minum. Di satu sisi dia mengerti bagaimana keadaan Alma, disisi lain dia juga kesal karena Alma mood nya selalu naik turun.
Dengan terpaksa, Bryan menyuapi Alma dengan mulutnya. Dari mulut ke mulut, Alma terkejut sampai batuk-batuk dengan suapan itu.
"Bryan! kamu apa-apaan sih?!" seru Alma sambil mengusap nasi yang ada di sudut bibirnya
"Habisnya kamu susah sih di suruh makan juga, bukannya tadi di rumah sakit kita sudah sepakat untuk kuat demi orang yang disayangi?" tanya Bryan sebal
"Maaf Bry, aku gak lupa kok tapi aku malas makan"
"Kamu harus tetap makan! kalau kamu tidak makan, aku juga tidak akan makan!" seru Bryan mengancam
Oh ya, setelah dipikir-pikir.. Bryan juga belum makan apa-apa dari tadi. Bagaimana bisa aku menjadi egois? ya ampun, istri macam apa aku ini. Alma baru ngeh kalau suaminya juga belum makan dari tadi pagi, dan dirinya hanya tenggelam dalam kesedihan. Alma merasa bersalah pada Bryan.
"Ya udah, aku mau makan. Tapi makannya bareng kamu" ucap Alma pada suaminya
"Nah gitu dong, makan ya" Bryan tersenyum senang karena istrinya sudah mau makan, "Aku ambil makanan ku dulu ya. Kita makan disini"
"Enggak usah, kita makan aja di meja makan" jawab Alma
Alma dan Bryan keluar dari kamar mereka, kemudian duduk di meja makan. Sedihnya malam itu mereka makan malam tanpa Naina. Dengan susah payah Alma mengumpulkan mood nya untuk makan, walau hatinya masih perih karena Naina tidak ada disana.
"Siapa yang masak ini? gak mungkin kamu kan, sayang? soalnya ini enak rasanya" Alma mengomentari makanan yang rasanya enak itu.
"Keira yang masak" jawab Bryan
"Keira?"
"Iya, dia masak makan malam buat kita" ucap Bryan sambil memakan makanan yang ada di piringnya dengan sendok.
"Bry, aku jadi semakin merasa bersalah. Ini harusnya menjadi hari bahagia mereka dan harusnya mereka pergi berbulan madu. Tapi semuanya malah jadi begini" Alma baru menyadari kalau kegiatan pengantin baru anak sulungnya itu terganggu karena kejadian mendadak yang menimpa Naina.
"Kita suruh aja mereka bulan madu, biar Naina kita yang mengurusnya. Kasihan juga mereka kan? kalau rencana bulan madu mereka kalau harus tertunda" kata Bryan yang juga merasa bersalah dengan anak sulung nya dan menantu perempuan nya itu.
"Gak usah ma, pa, kami sudah memutuskan untuk menundanya. Keira juga sudah bilang gak apa-apa" kata Kelvin sambil duduk di meja makan, dia bersiap untuk makan malam karena dia sadar bahwa dia harus kuat juga untuk Naina.
"Iya, Ma, Pa, gak apa-apa kok. Bulan madu bisa dilakukan nanti" ucap Keira sambil duduk di samping suaminya, dia menyajikan nasi dan lauk ke piring kosong.
"Tapi kan kalian sudah reservasi ke Korea, gimana bisa kalian membatalkan nya?" tanya Alma pada putra dan menantu perempuan nya.
"Gimana kita bisa pergi bulan madu, ma, kalau keadaan Naina masih seperti ini. Kita juga gak akan bisa fokus disana" jelas Kelvin yang cemas pada keadaan saudara kembarnya.
"Kamu benar juga" jawab Bryan sambil tersenyum pahit mengingat kondisi Naina yang belum jelas.
Setelah selesai makan malam, Kelvin berencana untuk pergi ke rumah sakit dan menunggu adiknya. Namun Bryan dan Alma melarang nya, sebagai pengantin baru dia tidak boleh kemana-mana dulu.
Bryan dan Alma sepakat untuk pergi ke rumah sakit menemani Naina dan Kelvin Keira yang di rumah. Karena tidak ada siapa-siapa yang menjaga rumah, Sonya dan Viona juga malah menginap di rumah besar keluarga Aditama bersama Leon, Laura dan kedua anak mereka.
Keira dan Kelvin melihat keberangkatan orang tua mereka dengan mobil menuju ke rumah sakit. Kini hanya tinggal Kelvin dan Keira yang berdua saja di rumah yang besar dan luas itu.
"Vin, kamu mau tidur?" tanya Keira pada suaminya yang terlihat lelah.
"Kayanya aku gak bisa tidur Kei, kita nonton film aja yuk?" ajak Kelvin pada istrinya. Keira tersenyum dan mengangguk setuju.
Kelvin menyalakan drama Korea romantis kesukaan Keira, mereka berdua duduk di sofa sambil berpelukan dengan mesra. "Vin..."
"Hmm??" Kelvin melihat ke arah istrinya
"Naina pasti akan sembuh, Naina itu kan kuat" ucap nya menyemangati Kelvin yang sedih karena kondisi Naina.
"Aku percaya kalau Naina akan siuman dan sembuh. Hanya saja aku sedih karena dia memendam semuanya sendirian,seharusnya aku curiga dari awal kalau dia sakit. Dia itu sama seperti mu, selalu memendam semua nya sendiri dan berkata baik-baik saja" jelas Kelvin sedih
"Sekarang aku tidak akan begitu, kalau ada apa-apa aku akan bilang padamu. Kamu kan suamiku. Vin, aku harap aku bisa meredakan kesedihan kamu saat ini" Keira meraih pipi Kelvin dengan kedua tangan lembutnya, dia menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. Dia berharap bisa menghibur suaminya yang sedang galau.
"Maaf Kei, dihari pernikahan kita dan malam pertama kita sebagai suami istri. Kamu malah harus menghiburku, seharusnya aku membuat mu bahagia" Kelvin merasa kasihan dan merasa bersalah di hari bahagia nya, dia malah bersedih. Bukannya melihat Keira bahagia.
"Dengan senyuman kamu saja, aku sudah bahagia Vin" Keira tersenyum lembut pada Kelvin. Kelvin membalas senyuman itu dengan lembut juga.
Di televisi tampak gambar sepasang kekasih berciuman. Kelvin melihat adegan itu, saliva nya mulai naik turun. Terlebih lagi saat melihat istrinya berbalut baju tidur yang tipis dan tampak memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
"Kei.." Kelvin menatap Keira dengan tatapan nanar dan memburu.
"Aku.. aku sudah siap kalau kamu mau melakukan nya sekarang" ucap Keira yang paham dengan tatapan Kelvin padanya, bahwa dia ingin melakukan itu. Hubungan suami-istri, malam pertama mereka.
"Tapi suasananya sedang seperti ini, kita tidak berada di Korea Kelvin memegang kedua tangan Keira, lalu mencium pipi Keira dengan lembut.
MUACH
Tubuhnya sudah terasa panas, bagian bawah sudah semakin mengeras. Sepotong daging itu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"PFut.. mau di Korea atau tidak, kita tetap bisa melakukan nya kalau kamu mau Vin" Keira duduk di pangkuan Kelvin, kedua tangannya melingkar di leher Kelvin.
Pria itu terkejut, karena wanita polos dan lugu yang dia kenal selama ini berubah menjadi wanita yang menggoda hasratnya. "Kamu belajar darimana trik seperti ini?" Kelvin membelai rambut panjang milik Keira itu.
"Tidak dari mana-mana, ini hanya insting ku saja" jawab Keira jujur. Bibitnya mengecup lembut bibir Kelvin dengan manja.
CUP
"Kei, kamu akan menyesalinya.. karena bagian bawahku sudah tidak kuat" ucap Kelvin menahan n*fsunya.
"Aku tidak meminta kamu menahan nya Vin, ini sudah kewajiban ku untuk melayani mu" ucap Keira yang sudah bersedia menyerahkan dirinya pada sang suami.
Kedua tangan Kelvin mendorong pelan Keira ke atas sofa, hingga wanita itu terbaring di bawah tubuhnya. Panas di tubuh itu semakin membuncah, Kelvin membuka kancing piyama tidurnya. Dia melempar bajunya ke lantai, akhirnya dia bertelanjang dada kemudian tangannya mulai melorotkan lingerie yang dipakai oleh Keira. Dia juga membuka pengait Bh yang dipakai oleh istrinya dengan lembut.
Membuat kedua daging milik Keira terlihat menyembul. Tatapan Kelvin yang nanar itu, membuat Keira menjadi malu. Dia memalingkan wajahnya dari sang suami.
Deg
Deg
Tangan Kelvin menyentuh bibir Keira dengan lembut, "Kamu tidak boleh mengigit nya begitu Kei.. biar aku yang menggigit nya"
"Kel-Kelvin.." Keira terpana mendengar suara lembut pria itu yang menggetarkan hatinya.
Segera tanpa basa-basi, Kelvin mencium bibir Keira. Mengigit nya dengan gemas, gigitan kecil sebagai upaya agar mulut itu terbuka.
"Hmphh!!!"
Lidah mereka bertemu di dalam sana, bergerak sampai ke ujung pangkal mulut. Bersahutan, menikmati rasa manis satu sama lain. Begitu nikmat dan indahnya dari penyatuan dua bibir itu. Kelvin bermain-main lama dengan bibir itu.
Kelvin menyesap bibir itu tanpa memberi jeda pada istrinya untuk bernapas. Dia seperti ingin menghabisi istrinya saat itu juga "Hmph!! hmph!!" Keira memukul-mukul dada Kelvin, seraya meminta Kelvin melepas ciumannya.
"Ada apa?" tanya Kelvin pada istrinya itu dengan kening yang berkerut.
"Hah.. hah.. aku gak bisa bernapas" Keira menghela napas dan mengambil napas, rasanya dia sesak berciuman dengan Kelvin tanpa jeda.
"Masih bisa kan pakai hidung?" tanya Kelvin dengan mudahnya
"Tapi susah! setidaknya kamu harus memberikan kesempatan untukku bernapas" rengek Keira pada suaminya
"Kalau begitu kamu harus banyak belajar, aku akan mengajarimu..jadi, tenang saja" Kelvin kembali membenamkan bibirnya pada bibir Keira. Membuat gadis itu terkesiap "Akhph!!!"
Pria itu mengeksplor lidah Keira dengan lidahnya, tangannya sudah meracau kemana-mana. Bergerilya masuk ke dalam bagian bawah istrinya.
"Kelvin!!" teriak Keira terkejut saat Kelvin menyentuh bagian sensitif tubuhnya.
"Kenapa? kamu gak mau disini?" tanya Kelvin
"I-itu..."
GREP
Kelvin menangkup tubuh Keira dengan kedua tangan kokohnya. Keira terkejut karena Kelvin begitu kuat mengangkat dirinya yang berat.
"Ah! Kelvin!"
"Kita ke kamar saja" ucap Kelvin sambil melihat ke arah istrinya. Wajah gadis itu memerah karena malu.
"Ta-tapi ba-baju..BH!! " Keira melihat ke arah baju Kelvin dan bra nya yang ada dibawah lantai. Dia takut kalau ada orang yang ke rumah dan melihatnya.
"Biarkan saja!" kata Kelvin cuek
Dia sudah tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya, dia membawa istrinya ke kamar pengantin mereka yang ada di lantai dua dengan buru-buru. Kelvin sampai menendang pintu saking tidak sabarnya dia melahap tubuh Keira.
"Kelvin! kamu nendang pintu!" seru Keira yang sudah duduk di atas ranjang.
Perlahan-lahan Kelvin membuka baju istrinya, menelanjangi Keira tanpa sehelai benang pun yang tersisa kecuali segitiga pengaman yang masih terpasang. Keira malu karena tubuh telanjang nya di lihat oleh Kelvin, tentu saja itu karena pertama kali baginya.
Memang rasanya bahagia, ketika orang yang kita cintai menatap kita dengan penuh cinta. Namun dia malah merasa malu. "Ma-matikan lampunya Vin" pinta Keira malu
"Matikan lampu? maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu"
"A-aku malu Vin" rengek nya sambil memalingkan wajah
"Siapa yang tadi berkata sudah siap untuk ini? kenapa malah seperti ini? Hm..? Aku ingin melihat ini dibawah cahaya yang terang Kei, aku ingin melihat setiap sudut tubuh mu baik-baik"
Kelvin memulai aksinya, dia merem*s dua buah gunung yang menyembul itu. Memainkan daging yang ada di tengahnya, memelintirnya. Hingga membuat Keira menggelinjang kegelian.
"Kelvin.. Ahh.. jangan.. geli"
Pria itu menciumi setiap sudut tubuh Keira sesuai dengan janjinya. Dari mulai punggung, sampai ke bagian depan tak luput dari jamahan sentuhan bibirnya. Kelvin menciumi nya seperti sedang menghitung setiap ruas tulang di tubuhnya.
Tangannya bermain main di dua gunung milik istrinya, terkadang gigitan gigitan kecil dirasakan oleh tubuh Keira. Kelvin begitu mencintai Keira sampai sampai dia tidak mau melepaskannya sedetik pun. Rasanya hasrat itu harus dituntaskan nya saat ini juga.
Dirasa pemanasan sudah cukup, Kelvin merebahkan tubuh Keira di ranjang dengan lembut. Keira sendiri masih mengatur napas, merasakan beberapa bagian tubuhnya yang geli akibat ulah suaminya, tubuhnya sudah mulai panas.
Beberapa tanda merah berada ditubuh Keira, melihat tanda tanda merah itu malah membuat Kelvin tersenyum bahagia. "Kenapa malah senyum begitu? lihatlah akibat perbuatan kamu!"
"Sayang, aku akan membuat lebih banyak lagi. Jangan cemas" ucapnya tidak tahu malu, dengan tangan membelai pipi istrinya.
"Kelvin kamu itu benar-benar deh.."
Kelvin mulai membuka celananya, menunjukkan sepotong daging miliknya yang sudah mengeras. Keira terkejut melihat nya dan menutup mata.
"I-itu.."
"Kamu harus tau apa yang disebut melayani, Kei. Jangan takut, karena aku akan lembut tapi aku tidak janji" Kelvin membuka tangan yang menutup mata Keira. Mereka pun saling bertatapan.
Diiringi kata-kata cinta dan cahaya lampu yang terang, mereka melakukan hubungan suami istri. Penyatuan rasa, penyatuan tubuh dalam artian malam pertama mereka yang dilakukan di rumah orang tua Kelvin.
Suara-suara menyenangkan dan menyakitkan menggema memenuhi setiap ruangan itu. Berpacu dalam kenikmatan pasangan pengantin baru itu. Setengah jam dalam pergelutan ranjang itu, akhir nya mereka berhenti dan diakhiri dengan ungkapan cinta dari mulut mereka.
Keira sudah tampak lelah dan ngantuk hingga membuat Kelvin menghentikan aksinya. Padahal api di dalam tubuh nya belum padam.
"Ini baru setengah jam dan kamu sudah lelah?" tanya Kelvin sambil memeluk istrinya dengan tubuh telanjang dada.
"Mungkin ini pertama kalinya untukku jadi aku lelah, atau mungkin stamina kamu saja yang kuat" jelas Keira jujur, tubuhnya tanpa sehelai benang itu hanya ditutupi oleh selimut.
"Maafkan aku ya, kamu pasti kesakitan"
"Hanya sakit saat kamu masuk di awal saja" jawab Keira malu-malu.
"Tapi kamu sampai berdarah" Kelvin merasa bersalah karena membuat istrinya berdarah.
"Sungguh, aku sudah tidak papa" Keira tersenyum santai, dia merasa bahagia karena membuat suaminya puas.
"Tidurlah, aku akan pergi mandi lagi" ucap Kelvin sambil mencium kening istrinya. Nampak senyuman kepuasan di wajah Kelvin setelah berhasil menjamah tubuh istrinya.
"Aku akan siapkan air hangat" ucap Keira sambil beranjak duduk. "ACK! aduh!"
"Ada apa?"
"Punggungku sakit" jawab Keira sambil memegang punggungnya.
"Sudah, kamu istirahat dulu. Kamu pasti lelah dan pegal-pegal, aku bisa menyiapkan nya sendiri" Kelvin menidurkan Keira kembali di ranjang itu. Dia menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Makasih sayang" Keira tersenyum lembut. Tak lama kemudian dia tertidur pulas.
...---***---...