Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 105. Terkuak



πŸ€πŸ€πŸ€


Juna menatap Naina dengan mata yang berkaca-kaca, dia membawa sebuah map berwarna merah lalu meletakkan nya di atas meja.


Naina menelan ludah melihat ekspresi Juna yang tidak terbaca, terlebih lagi saat Juna membentaknya. Hal yang tidak pernah di lakukan oleh Juna sebelumnya.


#FLASHBACK


Pagi sebelum Juna dan Naina bertemu. Juna pergi bekerja seperti biasa nya. Pagi itu Juna mendapatkan berita penting dari Ardi, dengan wajah paniknya Ardi menghampiri sang bos yang tengah duduk di kursi nya.


"Pak! saya sudah dapat.. saya sudah mendapatkan nya" Ardi berlari menghampiri Juna dengan wajah panik membawa ponselnya.


"Dapat apa? kamu kenapa sih rusuh sekali?' tanya Juna yang sedang sibuk dengan dokumen menumpuk di meja.


"Dokter itu saya sudah mendapatkan nomor ponselnya. Orang-orang kita sudah menemukan nya, dan seperti yang bapak perkirakan bahwa dokter itu memang bersembunyi"


Mata Juna melirik ke arah Ardi, tangannya berhenti menandatangani dokumen di mejanya. Fokus nya buyar mendengarkan Ardi yang mendapatkan berita tentang dokter Maldives itu.


"Telpon dia, tidak jangan telpon! video Call saja!" titah Juna pada Ardi


"Baik pak, akan saya sambungkan" jawab Ardi mengangguk patuh. Ardi mengangkat ponselnya dan memvideo call orang-orang yang di sewa Juna di Maldives.


Tak butuh waktu lama untuk mereka mengangkat video call itu, terlihat disana sang dokter di ikat di meja bersama 3 orang suruhan Juna.


"Halo bos, ini dokternya" kata seorang pria berkacamata hitam pada Juna


"Anda siapa? kenapa anda melakukan semua ini? saya bahkan tidak kenal anda?!!" tanya dokter wanita itu dalam bahasa Inggris


"Kita memang tidak saling kenal. Tapi saya terpaksa harus kenal dengan dokter. Saya akan menyuruh orang-orang saya melepaskan dokter kalau dokter menjawab beberapa pertanyaan saya dengan jujur!" Juna menunjukkan damage nya, sosok yang berbeda ketika dirinya berhadapan dengan Naina.


"Pertanyaan apa??"


"Ini tentang gadis yang bernama Ninaina Alisya Aditama"jawab Juna sambil menunjukkan foto Naina pada dokter itu lewat sambungan telpon


Kedua mata dokter itu membulat melihat foto Naina, seperti nya dia masih ingat pada sosok pasien yang pernah dia rawat.


"Melihat dari wajah anda, seperti nya anda tau apa yang terjadi pada gadis ini? apa saya salah dokter?" tanya Juna sambil memegang kedua tangannya sendiri, dan menatap tajam dokter itu.


"Saya tidak tau apa-apa, saya tidak pernah bertemu dengannya" jawab dokter itu tak mau mengaku


"Dokter, apa kamu tidak mau mengaku? kalau tidak mau mengaku, aku akan meminta orang-orang ku mengakhiri hidupmu saat ini juga" ancam Juna pada si dokter yang membuat orang-orang di sekitarnya ikut tercengang.


Rahasia Naina harus aku pecahkan.


"Saya benar-benar tidak tahu!" seru Dokter itu yang harus menjaga kerahasiaan informasi pasiennya. Itu sudah menjadi kode etik dalam pekerjaan nya.


Namun apalah arti kode etik bagi nya sekarang, saat nyawa nya tengah terancam, Juna tidak main-main dia meminta ketiga orang itu menakuti sang dokter.


"Jangan bunuh saya?! saya mohon.. saya akan mengatakan segalanya" ucap dokter itu menyerah


"Katakan! apa yang terjadi pada tunangan ku sekarang?!!" teriak Juna sangat penasaran


"Tunangan bapak, dia menderita sebuah penyakit" jawab dokter itu dengan wajah pasrah, merasa bersalah karena dia harus melanggar kode etiknya.


"Penyakit apa?! kalau terjadi sesuatu padanya, aku benar-benar akan membunuhmu! si*lan!!" tanya Juna yang sudah emosi duluan.


"Pak tenanglah.. pak.." Ardi menenangkan Juna dari emosinya.


"Saya akan mengirimkan dokumen pada bapak, silahkan bapak lihat dokumennya" jawab dokter itu dengan wajah sedihnya.


Setelah perbincangan itu, Juna meminta Ardi mencetak dokumen yang dikirimkan oleh dokter padanya lewat ponsel. Juna membaca dokumen itu dengan seksama, saking terkejut nya tubuh Juna roboh terduduk di kursi.


"Pak.. bapak kenapa??" tanya Ardi terkejut melihat wajah Juna yang tampak syok.


"Tidak .. tidak mungkin.. Naina..." Juna memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa penat. Juna terlihat sedih.


Naina mengidap kanker??


"Pak Presdir!!" Ardi tidak mengerti kenapa Juna seperti itu.


"Ardi, kosongkan jadwalku siang ini"


"Jadi, rapatnya?" tanya Ardi


"Batalkan! aku mau bertemu Naina" ucap Juna dengan wajah Frustasi, dia meremas dokumen itu.


"Baik pak" Ardi patuh


Apa yang terjadi? hasil pemeriksaan dokter itu, apa ya?. Ardi bertanya-tanya dengan dokumen yang dibaca Juna, dia penasaran.


#END FLASHBACK


Deg deg an itulah yang dirasakan oleh Naina sekarang ketika berhadapan dengan Juna. Naina duduk di kursi yang ada di depan Juna.


"Jun, ada apa? bukannya siang ini kamu ada rapat penting?" tanya Naina pada


"Nai, kenapa akhir-akhir ini kamu sulit sekali menerima telpon dariku dengan cepat? apa aku harus menelpon ribuan kali baru kamu akan mengangkat nya"


"Juna, jadi kamu marah karena ini.. aku minta maaf, aku kan sudah bilang akhir-akhir ini aku sibuk dengan persiapan pernikahan kakak"


Juna marah karena aku tidak mengangkat telpon darinya? tapi kenapa marahnya sampai seperti ini? tatapannya.. kenapa begitu?. Naina menjentikkan, memainkan kedua kuku jari nya.


Lagi-lagi berbohong. Juna menatap tajam ke arah Naina yang memainkan kedua kuku jarinya.


"Bagaimana dengan masuk angin kamu? apakah sudah sembuh?" tanya Juna dengan nada yang dingin


"Su-sudah baikan kok" jawab Naina sambil menyeruput minuman manis berwarna coklat yang ada di depannya.


"Benarkah kamu sudah baikan?" tanya Juna dengan mata yang sedih.


Sampai kapan kamu akan berbohong Nai


"Iya Jun" jawab Naina sambil tersenyum pada Juna


Kenapa hatiku deg degan gini? apa maksud pertanyaan Juna yang mengandung arti mendalam ini?


"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa akhir-akhir ini kamu tidak makan makanan pedas lagi?" tanya Juna


"Aku sedang sembelit jadi aku tidak boleh makan makanan pedas untuk sementara dan aku juga baru sembuh dari masuk angin. Kalau aku makan makanan pedas, itu bisa membuatku tambah sakit" jelas


"Bukan karena efek kemoterapi? makanya kamu gak bisa makan pedas?" tanya Juna tajam


"Apa?" kedua mata Naina membulat mendengar pertanyaan Juna padanya. Mengapa ada kata kemoterapi disana? Naina tidak mengerti.


"Mau sampai kamu berbohong seperti ini???! mau sampai kapan kamu menyembunyikannya??!" teriak Juna yang emosinya tiba-tiba meledak. Semua orang disana melihat ke arah Naina dan Juna, Damar juga melihat pada Na. dan Juna yang terlihat sedang bertengkar itu.


"Juna, kamu kenapa sih? aku bohong apa? aku menyembunyikan apa?" tanya Naina keheranan


"Lihat saja ini!!"teriak Juna sambil melempar dokumen itu pada Naina


"Bisa gak kamu gak usah teriak!" seru Naina yang kaget karena tidak pernah melihat Juna seemosi itu. Naina membaca dokumen yang dilemparkan Juna, dia terkejut mendapati laporan tentang penyakit nya disana. "Juna, kamu menyelidiki ku?!" tanya Naina balik marah


"Aku pikir kamu akan menyesal dan minta maaf karena sudah menyembunyikan nya dariku, tidak ku sangka kamu malah marah" Juna dengan senyuman sinis nya yang menunjukkan kekecewaan mendalam.


"Juna.."Naina bingung mau menjelaskan apa pada Juna, tangannya gemetar


"Kalau aku tidak menyelidiki nya, mungkin aku tidak akan pernah tau! karena kamu tidak mau bicara, kamu selalu bilang kamu baik-baik saja. Masalah sebesar ini kamu menyembunyikannya dariku. Kamu anggap aku apa, Nai?? apa aku tunangan kamu?" tanya Juna dengan suara yang kecewa, dia kecewa berat pada Naina.


"Juna, aku akan jelaskan semuanya. Aku mohon kamu tenang dulu" Naina mencoba bicara sekuat hatinya pada Juna, walau dia sulit untuk melakukan nya. Mata nya berkaca-kaca. Kebenaran akhirnya terungkap juga oleh Juna.


"Tenang? apa kamu bisa tenang kalau jadi aku setelah mendengar dari orang lain kalau tunangan nya sendiri menyembunyikan hal besar ini? bagaimana kamu bisa melakukan hal ini??!" Juna sakit hati pada Naina, sudah jelas sakit hati nya itu karena tunangannya menyembunyikan penyakit nya.


"Juna.." Naina memanggil Juna sambil memegang tangannya, seraya membujuk pria itu.


Juna menepis tangan Naina dan membuat gadis itu terpana. Kemarahan Juna seperti nya tidak sederhana. Saat itulah Damar datang dan menanyakan apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya itu, mereka yang semalam baru saja bermesraan sekarang malah bertengkar. Ada apa kah gerangan?


"Ada apa dengan kalian? Jun, Lo kenapa bro?" tanya Damar sambil melihat ke arah temannya yang kesal itu.


Kenapa si Juna kelihatan marah banget sama si Naina?. Damar heran


"Bukan urusan Lo!"


"Sorry bro, ini jadi urusan gue karena kalian ribut di restoran ini. Ada apa sih?" tanya Damar sambil melirik ke arah Juna dan Naina. Keadaan mereka sedang memanas.


Alih-alih menjawab pertanyaan Damar, Juna malah pergi begitu saja dengan langkah besar dan wajah murka. Naina panik melihat Juna semarah itu padanya.


"Nai, ada apa sih?" tanya Damar


"Damar maaf ya aku buat keributan, aku jelasin nanti" Naina menangis melihat sikap Juna padanya. Tak lupa Naina mengambil dokumen itu lalu pergi menyusul Juna sambil berlari.


Juna pasti kecewa banget.. kenapa dia harus tau tentang ini?


Damar melihat gadis itu berlari keluar dari restoran dan menatapnya dengan cemas. Hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan pasangan bucin yang selalu romantis itu? apa masalah pelakor? atau adalah LIL? lelaki idaman lain?


Juna dan Naina sampai ke tempat parkir, hal yang diucapkan oleh Naina bukan lah permintaan maaf pada Juna, tapi permintaan yang lain.


"Juna.. please jangan kasih tau siapapun tentang ini" pinta Naina sambil menangis


"Naina, kamu berencana membuat siapa lagi kecewa HAH!!" teriak Juna emosi


"Tolong mengertilah posisi ku Jun, tolong pahamilah aku. Aku juga bingung, aku gak sengaja menyembunyikan semuanya..aku cuma gak mau semua orang sedih"


"Itu bukan alasan, sedih itu adalah hal lumrah bagi mereka orang yang sayang sama kamu. Mereka berhak tau apa yang sebenarnya terjadi tanpa kamu tutup tutupi. Terutama keluarga kamu, mereka harus tau!" Juna merasa tidak berguna dan tidak dihargai oleh Naina karena dia tidak tahu kalau Naina sakit.


"Juna.. aku mohon jangan...besok pernikahan kak Kelvin" Naina menangis dan memegang tangan Juna, seraya memohon padanya


"Terus kenapa kalau besok pernikahan Kelvin? apa kamu berencana untuk menyembunyikan nya??! sampai mereka kecewa pada mu sama seperti aku!!" Juna menahan amarahnya pada Naina. Dia sangat kecewa berat.


"Aku minta maaf Jun..aku minta maaf...aku tau kamu marah. Tapi kumohon jangan kasih tau mereka, aku akan memberitahu mereka saat waktunya sudah tiba, Jun..Setelah pernikahan aku akan memberitahu mereka, aku janji" Naina menangis memohon pada Juna, menggenggam tangan Juna dengan erat.


"Naina, kamu benar-benar..." sebelum sempat menyelesaikan kata-kata nya, Juna terkejut melihat ke arah Naina.


"Uhuk!" Darah menyembur dari mulut Naina, membanjiri blouse warna biru yang dikenakan nya.


"NAI!!" Juna memegang tangan Naina, tubuh wanita itu roboh dan jatuh ke pelukan Juna dengan lemas. Namun matanya masih terbuka lebar. "Aku bawa kamu ke rumah sakit"


"TIDAK mau!"


"Ninaina!!" teriak Juna marah dengan kedua tangan kekar yang menopang tubuh Naina. Dia panik melihat Naina muntah darah di depannya.


"Janji dulu, kamu jangan kasih tau pada keluarga ku kalau aku sakit" pintanya dengan suara lemas


"Nai, jangan kaya gini aku gak bisa!" Juna menolak permintaan Naina untuk menjaga rahasia.


"Hanya sam-sampai besok saja..kumohon rahasiakan"


"Naina kamu ini..."


"Kalau kamu tidak janji, aku tidak mau ke rumah sakit"ancam Naina pada tunangannya itu dengan mempertaruhkan hidupnya.


Tidak tega melihat kondisi Naina, akhirnya dengan terpaksa Juna setuju untuk merahasiakan kondisi Naina sampai hari esok, hari pernikahan Kelvin dan Keira akan berlangsung.


"Aku sudah janji, jadi kita ke rumah sakit ya" suara Juna mulai melunak melihat Naina yang pucat dengan berlumuran darah di sekitar mulutnya.


"Makasih ya Jun.. aku..."Naina menutup matanya, kini dia benar-benar tidak sadarkan diri.


"Nai! Naina!! Nai..." Juna panik melihat Naina tak sadarkan diri, dengan tangan kokoh nya dia menangkup tubuh Naina. Juna merasakan bahwa tubuh yang digendongnya itu sangat ringan.


Mengapa aku baru sadar kalau kamu sakit? kenapa tidak dari dulu Nai..


Pria itu membawa tunangan nya ke rumah sakit, dengan panik dia menggendong Naina. Entah naas atau beruntung, kebetulan pada saat itu Juna yang sedang membawa Naina bertemu dengan Theo yang baru saja mau pulang dari rumah sakit.


"Juna, Naina??" Mata Theo melirik pada Juna, kemudian pada Naina yang tidak sadarkan diri."Naina kenapa? apa yang terjadi padanya?" Theo terkejut melihat Naina yang berlumuran darah.


"Theo! tolong Naina,,Theo!" seru Juna pada Theo, wajah Juna kini sudah basah oleh air mata nya.


"Kamu tenang saja!" Theo menatap Naina dengan cemas.


Naina segera di larikan ke ruang UGD. Theo memeriksa kondisi Naina, selang oksigen dan infus di pasangkan ke tubuh Naina ketika Theo mendiagnosis bahwa Naina kekurangan banyak cairan dan anemia yang parah.


Di depan ruang UGD..


KLAK


Pintu ruangan itu terbuka, Theo dengan memakai jas dokternya dan stetoskop ditelinga nya, keluar dari ruangan tersebut. Dengan langkah cepat Juna menghampiri Theo.


"Theo, Naina gimana? dia gak papa?" tanya Juna cemas


"Dia mengalami anemia parah, kekurangan cairan dan aku juga menemukan kalau ada indikasi obat kemoterapi ditubuhnya. Juna.. apakah Naina sakit kanker?" tanya Theo dengan wajahnya yang cemas juga, tak jauh berbeda dengan wajah Juna. Theo berharap kalau apa yang dia diagnosis adalah salah, dan Juna akan menjawab tidak. Namun fakta berkata sebaliknya.


Juna tercekat menatap ke arah Theo, di matanya mengalir air mata.


...---***---...


Hai Readers.. berhubung ini hari Senin, author boleh gak minta vote sama gift nya?? ☺️πŸ₯° jangan lupa komen dan like nya juga..


Terimakasih atas komen kalian, maaf author gak bisa balas satu satu.. tapi komen kalian membantu author semangat ☺️