Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 154. Anugerah terindah



🍀🍀🍀


Pria itu membopong tubuh istrinya dan segera membawanya ke rumah sakit. Sesampainya disana, Naina langsung dibawa ke ruang perawatan.


Juna sangat cemas, dia mengira kalau Naina mungkin sakit lagi seperti dulu. Dia mondar-mandir di depan ruangan itu. Sebuah telpon masuk ke ponsel Naina, itu dari Alma.


🎵🎵🎵


Dreet..


Dreet..


"Mama Alma?"


Juna mengangkat telpon dari ibu mertuanya itu, "Halo Assalamualaikum ma,"


"Waalaikumsalam, eh Juna? Kok kamu yang jawab sih?"


"Naina lagi di ruang rawat ma," jawab Juna resah.


"Innalilahi! Naina kenapa Juna?" tanya Alma tercengang mendengar putrinya berada di ruang rawat.


"Naina pingsan, aku juga gak tau kenapa ma. Dokter sedang memeriksa nya,"


"Ya ampun, mama dan papa akan segera kesana sekarang juga!" Alma buru-buru.


"Santai saja ma, mama dan papa bukannya ada di rumah kakak ipar? Hari ini kan syukuran mya baby R," Juna tersenyum, dia tau kalau haru ini adalah hari syukuran baby R. Anak pertama Kelvin dan Keira, jadi Alma dan Bryan pasti sibuk berada di sana mempersiapkan segalanya.


"Mama akan tetap kesana Jun!' kata Alma yang ingin segera menemui anak nya.


"Ya udah ma," jawab Juna.


Setelah pembicaraan itu berakhir, dokter keluar dari ruang rawat Naina. Juna menghampiri dokter itu dengan wajah cemas, menanyakan kondisi istrinya.


"Dokter bagaimana kondisi istri saya?"


Dokter itu tidak terlihat cemas, malah dia terlihat bahagia. Seperti nya dokter itu membawa kabar baik, "Tenang saja pak, istri bapak baik-baik saja. Dia pingsan karena mengalami gejala awal kehamilan,"


"A-Apa??" Juna tersentak kaget mendengar ucapan dokter tentang istrinya. Apa dia tidak salah dengar?


Juna terdiam dengan mata membulat, dia masih mencerna apa yang dikatakan dokter padanya.


"Saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk ibu hamil, saya harap bapak memperhatikan kondisi istri dan anak bapak, jangan sampai istri bapak kecapean," dokter itu tersenyum ramah.


"Tu-tunggu Dokter! Dokter bilang kalau istri saya mengalami gejala kehamilan? Apa istri saya hamil, dok?" tanya Juna sambil menatap serius pada dokter laki-laki itu.


"Iya, istri bapak sedang hamil menginjak usia 2 minggu,"


"A-apa??!" Saking kagetnya, Juna sampai berteriak. Kemudian dia kehabisan kata-kata, bahkan dia sampai tak sadar dokter itu sudah pergi meninggalkan nya.


Naina hamil? Naina hamil? Naina HAMIL?!


Dengan senyuman bahagia, mata yang berkaca-kaca, Juna masuk ke dalam ruangan Naina. Seorang suster sedang mengecek kondisi nya.


"Juna?"


Juna berlari dan segera memeluk istrinya dengan bahagia. "Ada apa Juna?"


"Akhirnya sayang, setelah menanti cukup lama.. kita akhirnya.. kita akhirnya akan segera menjadi orang tua," ucap Juna sambil menangis.


"A-Apa maksud kamu Jun?" Naina mendorong tubuh Juna yang memeluknya.


"Alhamdulillah.. dokter bilang kalau kamu sedang hamil, katanya menginjak dua Minggu. Kamu hamil sayang! Kita akan punya anak," Juna menangis bahagia, matanya menatap sang istri.


Naina terpana, dia tidak percaya dengan kata-kata suaminya. "Ka-kamu jangan bercanda Jun?"


"Aku serius! Ayo kita periksa lagi kalau kamu tidak percaya! Awalnya aku tidak percaya, tapi dokter sudah mengatakan nya..sayang, terimakasih.."


"Aku akan menjadi ibu? Aku hamil?" Naina ikut menangis juga, dia memegang perutnya dengan perasaan bahagia dan sedih yang bercampur jadi satu.


Keduanya menangis bahagia, tidak percaya bahwa karunia itu akan hadir dalam kurun waktu satu tahun lebihnya.


"Aku hamil..Jun.. aku hamil...hiks," Naina menangis terisak-isak, "Terimakasih ya Allah.. terimakasih," Naina mengucapkan rasa syukur nya kepada yang maha kuasa atas amanah ini.


"Eits.. sayang, jangan nangis. Ibu hamil gak boleh nangis-nangis ya, nanti berpengaruh pada janinnya," tangan Juna menyeka air mata Naina dengan lembutnya.


"Bicaramu sudah seperti seorang ayah saja!" Naina tersenyum lebar.


"Aku kan baca dari buku, dan aku akan jadi seorang ayah. Terimakasih sayang, tolong jaga anak kita baik-baik ya, kamu gak boleh keras kepala lagi! Kamu harus nurut sama aku!" Juna mengingatkan Naina untuk tidak keras kepala, karena sekarang di dalam tubuhnya tidak hanya ada dirinya sendiri.


"Aku pasti akan menjaga anak kita baik-baik, hiks.. hiks," Naina masih belum bisa menghentikan air mata bahagia nya.


"Selamat ya bapak dan ibu," ucap suster itu sambil tersenyum pada Juna dan Naina.


"Makasih ya sus," kata Juna bahagia.


Setelah itu, Juna meminta Naina menunggu di ruang tunggu. Sementara Juna pergi ke apotik rumah sakit untuk menebus vitamin Naina. Disana dia bertemu Theo dan Nisha.


"Jun, ngapain kamu disini?" tanya Nisha pada Juna, dia melihat vitamin ditangan Juna. Vitamin nya sama dengan vitamin yang selalu dia minum.


Juna mengabaikan Nisha, dia masih marah karena kejadian kemarin pada Nisha dan Theo. Juna terus berjalan pergi.


"Jun, gue minta maaf atas kelakuan gue kemarin.." ucap Theo pada Juna, meminta maaf.


Juna membalikkan tubuhnya ke arah belakang, dia menatap tajam pada Theo dan Nisha."Gue maafin, tapi gue gak pernah lupa sikap jelek Lo dan bibir ember Lo. Lo sama Nisha udah menghina gue sama Naina," ucap Juna ketus.


"Juna, aku minta maaf banget," kata wanita yang perutnya sudah buncit itu.


"Juna, kamu kok lama banget.." Naina menyusul Juna di tempat pengambilan obat. Ucapan Naina pada Juna terhenti ketika dia melihat Nisha dan Theo.


Nisha berjalan menghampiri Naina dan meminta maaf padanya. Dia menyesal sudah membuat Naina dan Juna tersinggung. Dengan dingin Naina menepis tangan Nisha.


, dia tersenyum pahit pada sahabat lamanya itu.


"Aku maafin kamu Nis, tapi maaf sepertinya aku gak bisa bersahabat lagi sama kamu dan kak Theo," Naina terlihat kecewa dengan kejadian kemarin yang telah menyinggung perasaan Juna dan dirinya.


"Maafkan kami Nai, ucapan kami menang keterlaluan tapi kamu jangan sampai memutuskan hubungan diantara kita begitu saja, kita sudah bersahabat cukup lama!" Theo angkat bicara, dia benar-benar menyesal.


"Aku tidak memutuskan nya. Aku hanya ingin kita berteman biasa dan bukannya bersahabat lagi seperti dulu, oh ya.. dan aku minta maaf kalau kata-kata ku cukup kasar!"


Theo dan Nisha tercengang mendengar ucapan Naina. Mereka merasa bersalah pada pasangan suami istri itu. Mereka berdua sadar kalau mereka telah melukai hati Juna dan Naina.


"Mas, tunggu sebentar! Ini susu ibu hamil nya ketinggalan!" ucap seorang apoteker sambil membawa sekotak susu ibu hamil pada Juna.


"Makasih ya sus," ucap Juna sambil melirik sinis ke arah Theo dan Nisha.


Theo dan Nisha akhirnya mengetahui kalau Naina kemungkinan besar sedang hamil.


Juna Naina sedang menikmati anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada mereka. Dia memapah istrinya dengan perhatian dan hati-hati.


"Hati-hati sayang, ada tangga!"


"Juna, kamu berlebih banget sih! Lepasin aja tanganmu itu!"


"Gak boleh, nanti kalau kamu salah injak tangga , kamu kepeleset terus jatuh? Gimana? Aku gak mau kamu sama calon anak kita kenapa-napa," Juna memegang tangan Naina, matanya mengamankan jalan yang akan diambil oleh istrinya.


Ketika mereka sampai di depan rumah sakit. Alma dan Bryan sudah berada disana.


"Nai sayang? Kamu gak apa-apa nak?" tanya Alma menatap wajah anaknya yang pucat.


"Hehe, aku gak apa-apa ma," jawab Ninaina sambil nyengir.


Bryan dan Alma heran melihat anak dan menantu mereka senyum-senyum sendiri ketika keluar dari rumah sakit.


...---***---...