
Wildan tampak berdiri tepat di luar ruangan tempat Bryan di sekap, ia mondar-mandir seperti orang gelisah. Seperti nya pria tua itu habis menguping pembicaraan Ken dan Bryan.
Saat Ken keluar dari pintu itu, Wildan segera menyambut kedatangan Ken dan langsung mengubah eskpresi gelisah nya menjadi wajah yang ramah tamah.
" Kamu sudah selesai bicara dengan nya, Ken?" tanya Wildan penasaran
Apa yang mereka bicarakan? kenapa aku tidak bisa mendengar nya dengan jelas? apa Bryan mengatakan sesuatu?
" Aku hanya mengancam nya, om tenang saja. Dia harus tetap hidup untuk mendapatkan banyak siksaan "
Jika benar yang dikatakan Bryan kalau om Wildan di balik semua nya, maka aku sendiri yang akan membunuh nya. Sebaiknya aku mengetes nya dulu saja.
" haha, kamu benar Ken. Keluarga Aditama harus mendapatkan bayarannya karena sudah membuang mu. Oh ya Ken, kalau kamu sudah mendapatkan perusahaan Aditama jangan lupa berikan suratnya pada om ya " Wildan tersenyum ramah sambil menepuk bahu Ken.
Harta keluarga Aditama adalah milikku dan harus menjadi milikku.
Ken tersenyum menyeringai, dimatanya mulai ada kecurigaan kepada pria yang sudah membesarkan nya dari usianya 6 tahun sampai saat ini.
" Baik om, untuk mendapatkan perusahaan Aditama. Aku juga masih perlu Bryan untuk melakukan nya, tanpa tanda tangannya itu semua tidak berarti. Jadi aku harap om tidak menyentuhnya " ucap Ken mengingatkan
" Haha baiklah, sesuai perintah mu Ken "
Sialan! benar-benar bocah menyebalkan. Kalau bukan karena harta keluarga Aditama dan dendam ku pada ayah kalian.. aku tidak akan pernah mau mengurus mu.
" Baiklah om, aku pergi dulu ke perusahaan Aditama " ucap Ken sambil tersenyum dan memakai jas nya.
" Ya Ken, semangat ya " Wildan memasang senyum diwajahnya
Tak lama setelah kepergian Ken, Wildan dan anak buah nya berbicara tentang sesuatu. Wildan seperti nya peka kalau Ken mulai mencurigai nya, untuk itu ia punya rencana cadangan.
" Bos, ini foto foto nya" ucap seorang pria kekar sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada Wildan.
Amplop coklat itu berisi foto foto Alma dan si kembar.
" Haa.. mereka bisa dijadikan ancaman untuk Bryan dan Ken kalau seandainya rencana a milikku gagal. Pokoknya aku harus mendapatkan harta keluarga Aditama, dan perusahaan itu!" seru Wildan sambil melihat foto-foto itu dan tersenyum menyeringai.
...πππ...
3 hari berlalu sejak Alma berada di rumah sakit, si kembar dititipkan pada Laura dan Leon di rumah utama Aditama. Setelah pembicaraan nya dengan Andre, Mike, Leon dan Kelvin, belum ada satupun dari mereka yang mengetahui jejak keberadaan Bryan yang asli. Dan selama hari hari itu, Alma sudah hidup bersama Ken alias Bryan palsu.
Wanita hamil itu merasa heran karena Ken jadi bersikap baik padanya selama ia berada di rumah sakit. Bahkan si Bryan palsu itu memperhatikan nya dan kandungan nya, meski sikapnya sedikit kasar padanya. Tapi Ken tidak pernah menyakitinya lagi sejak saat terakhir kali ia sengaja bersama Livia untuk membuatnya cemburu. Selama 3 hari itu Alma juga berakting seolah tidak tau apa-apa tentang Ken yang palsu.
Malam itu Ken pulang dari kantor Aditama, ia melihat Alma sedang menjahit sesuatu sambil duduk di sofa.
" Tidak baik menjahit malam-malam, tanganmu bisa tertusuk jarum "
" Aku merajut, bukan menjahit. " jawab Alma ketus
" Apa kamu tidak akan menyambut suamimu?" tanya Ken sambil tersenyum ramah
Cih, suami? siapa suamiku? jelas-jelas dia tau kalau dia bukan Bryan. Dia selalu melakukan ini. Tentu saja ini dikatakan nya di dalam hati
" Oh ya, selamat datang Bryan " jawab Alma malas, tanpa melihat ke arah Ken dan terus merajut.
Melihat dari wajahnya, dia pasti sedang memaki ku di dalam hatinya. Bryan, selera mu unik juga.
Ken yang penasaran pun, duduk di samping Alma. Alma terkejut dan menyuruh Ken untuk pergi bersih-bersih karena tubuhnya bau. Sebenarnya Alma tidak mau didekati pria lain selain suaminya.
" Kenapa? aku kan suamimu, kamu tidak mau dekat-dekat denganku?" goda Ken pada Alma
" Menjauh dariku, bayi ku tidak mau dekat-dekat denganmu. Ini bawaan bayi ! paham?!" ucap Alma tegas
" Haa..baiklah ibu hamil, aku akan mandi " Ken menghela napas.
Setiap kali Ken ingin mendekati nya, atau tidur seranjang dengannya, Alma selalu mengatakan tentang bawaan bayi. Ken juga tidak tega pada wanita hamil dan menurut saja pada Alma. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Sekilas Alma melihat Ken dari belakang, ia terlihat bingung dan sedih. " Bryan, sebenarnya kamu ada dimana? kenapa kami menghilang seolah ditelan bumi?apa aku harus membongkar sandiwara ini dan bertanya pada nya secara langsung? Bry, aku dan anak-anak kita merindukan mu, " Alma menahan air matanya dan melanjutkan merajut kaus kaki bayi yang sedang di lakukan nya.
Beberapa menit kemudian setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, Ken keluar dari kamar karena belum melihat Alma di dalam sana.
Ken berjalan ke arah ruang tamu, dan benar saja dugaan nya. Alma masih berada di sana, dari belakang tampak Alma masih duduk.
" hey! bukankah ku suruh kamu untuk segera tidur? begadang tidak bagus untuk ibu hamil " ucap Ken, sambil melangkah menghampiri Alma yang ia lihat punggungnya saja.
" Lah? dia tidur? sambil duduk?" tanpa sadar bibir Ken menyungging memperlihatkan senyuman tulus. Bukan senyuman sinis seperti biasanya. Ia memandangi Alma yang ketiduran di sofa itu dengan posisi duduk. Dan beberapa saat kemudian kepala Alma mulai terkulai ke samping.
GREP
Dengan gerakan cepat, Ken menahan tubuh wanita hamil itu agar tidak jatuh ke sofa. Secara alami dan otomatis, membuat Ken dan wajah cantik Alma berdekatan. Tanpa sadar Ken menatap istri dari saudara kembarnya itu.
" Dia biasanya sangat waspada dalam keadaan apapun, tapi kenapa kali ini dia tertidur sangat pulas sampai-sampai tidak sadar kalau dirinya akan jatuh. Bodoh !" gumam Ken
DEG! DEG! DEG!
Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku. Kenapa melihat wajahnya aku merasa..
Ken menyingkirkan pikiran aneh di dalam hatinya itu, ia menangkup tubuh wanita hamil yang sedang tidur itu dan menggendong nya.
" woah.. kamu berat juga ya. Jangan kepedean, aku melakukan ini karena kamu wanita hamil. Demi bayi mu, bukan demi kamu. Kamu dengar aku kan? haha.. kenapa aku bicara pada orang tidur? aku sudah gila " gumam Ken sambil tersenyum sendiri
Pria itu membawa Alma ke kamar nya, merebahkan nya ke ranjang dengan hati-hati. Alma sama sekali tidak terbangun, ia tertidur sangat lelap.
" Bagaimana bisa wanita yang berwajah polos seperti mu menjadi sangat garang? saat tidur kamu terlihat seperti kucing penurut, namun saat membuka matamu kamu seperti kucing galak " Ken duduk di samping ranjang, dan melihat wanita hamil itu. Ia teringat selama 3 hari itu Alma selalu mengerjainya.
Jika hidupku tidak untuk balas dendam, apa aku bisa membangun keluarga sama seperti Bryan dan merasakan kehangatan keluarga? mempunyai istri dan anak-anak yang perhatian padaku, bisakah aku melakukan itu?. Mata Ken terlihat sedih saat mengingat masa-masa yang sudah ia lewati.
" Bryan, aku iri padamu " gumam Ken pelan
πΆπΆ
Tring.. tring..
Drett.. Drett..
Ken terkejut saat mendengar ponselnya berdering, ia segera berlari keluar dari kamar karena khawatir Alma akan terbangun oleh suara ponselnya. Ken segera mengangkat telpon itu, seperti nya telpon yang penting. Wajah Ken berubah menjadi serius, menantikan apa yang dikatakan orang yang ada di dalam telpon itu.
" Katakan! apa yang kamu temukan?" tanya Ken tegas
" Pak, memang benar pak Wildan pernah dicurigai ada hubungannya dengan kecelakaan pak Fahri, tapi polisi membebaskan nya karena tidak punya bukti yang kuat untuk menahannya " suara seorang pria dari balik telpon itu.
" Jadi benar.. om Wildan dia..Argh! " Ken memukul tangannya ke tembok dan tampak kesal.
BUK
" Benar pak, dia memanfaatkan bapak untuk balas dendam kepada keluarga Aditama. Yang dia inginkan adalah aset keluarga Aditama "
" Brengsek! aku sudah ditipu dan di manfaatkan nya selama ini. Bryan benar, aku bodoh. " gerutu pria itu kesal
" lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya pak? haruskah saya menyingkirkan pak Wildan?" tanya anak buahnya itu
" Tidak! jika dia harus disingkirkan, maka aku sendiri yang akan menyingkirkan nya " Ken tersenyum sinis, lalu ia menutup telponnya.
Ken merasa sangat bersalah dan terpukul karena selama ini ia dibuatkan oleh dendam pada keluarga nya sendiri. Wajah Ken tampak menyeramkan saat ia memanggil nama Wildan dengan penuh amarah.
****
Malam itu ternyata adalah malam yang panjang untuk Alma. Tadinya ia tertidur sangat nyenyak, namun ia terbangun karena merasa lapar dan ingin makan sesuatu. Wanita hamil itu resah karena makanan yang ia inginkan tidak ada di kulkas, dan di dapur rumahnya. Ia sempat melihat Ken yang tidur di sofa ruang tengah.
" Bagaimana ini? aku ingin makan itu, tapi bahan-bahan nya tidak ada. Huu.. apa jam segini supermarket masih buka?" gumam Alma sambil menahan tangisnya, entah kenapa ia menjadi sangat sensitif terutama soal makanan yang ia inginkan.
Alma menutup pintu kulkasnya dengan kecewa dan mata yang berkaca-kaca. Perutnya juga sudah keroncongan. Tepat saat Alma menutup pintu lemari kulkasnya, berdiri seseorang dengan tubuh tinggi dan tegap di depannya.
" Woah!! hantu!!" teriak Alma ketakutan melihat sosok hitam tinggi di depannya itu.
Orang itu menyalakan lampu dapur yang sebelum mati. CKLAK
" Hantu?" tanya Ken
Sosok hitam tinggi itu akhirnya terlihat jelas saat lampu di nyalakan. " Ini jam dua pagi, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ken
" Apa yang aku lakukan disini bukan urusanmu!" seru Alma sambil melangkah pergi
" Kamu mau makan apa?" tanya Ken
" Haah? apa maksud nya?"
" Tadi aku mendengar mu bergumam, kalau kamu ingin makan itu. Apa itu?" tanya Ken
" Sudahlah, kamu tidak perlu tau " jawab Alma malas
Ken memegang tangan Alma, menahannya untuk pergi. " Kamu mau makan apa? bilang saja! nanti bayi kita ileran "
Bayi kita? hahh! di bersikap seperti seorang ayah saja!
Alma pun mengatakan bahwa ia ingin makan cemilan coklat dan kue keju. Tapi bahan-bahan untuk membuatnya di kulkas habis semua nya. Ken hanya tersenyum mendengar kan gerutu dari Alma.
" Jadi karena itu kamu menangis? " tanya Ken
" Aku tidak menangis! " Alma mengerucutkan bibirnya
" Tenanglah, kan ada pesan layanan antar. " jawab Ken
" Jam segini, mana bisa?" tanya Alma tak percaya
" Bisa. Kamu duduk saja dengan tenang disana, dan tunggulah sekitar 10 menit " Ken tersenyum lalu mengambil ponsel yang ada di meja.
Ia menghubungi seseorang dan memintanya untuk membeli kue yang diinginkan oleh Alma. Hanya dalam beberapa menit, orang itu sudah datang pada pukul setengah 3 dini hari dan membawa makanan yang diinginkan Alma.
" Bos, kenapa anda menyuruh saya malam-malam begini pergi ke restoran dan membeli makanan?" tanya Hans, orang kepercayaan Ken. Dengan napas yang terengah-engah seperti terburu-buru, pria itu masih memakai piyama tidurnya.
Pak Ken sudah gila ya? dia menyuruhku membuka restoran hanya untuk membeli kue? demi seorang wanita? Han menggerutu di dalam hatinya.
Ken bos dari black dragon yang di kenal sebagai Mr. K, tidak pernah peduli pada wanita dan hanya ada dendam di dalam hatinya. Bisa peduli pada seorang wanita yang tak lain adalah istri saudara kembar nya sendiri. Han tidak percaya sampai melihatnya sendiri.
" Katanya kamu butuh kerjaan, ya ini kerjaan nya" jawab Ken sambil mengambil bungkusan keresek yang dipegang oleh Han.
Segera setelah mendapat apa yang ia inginkan, Ken segera mengusir Han karena bahaya jika Alma tau keberadaan Han disana. Han segera pulang dengan wajah yang kebingungan.
Alma langsung memburu makanan yang dibawa Ken, karena baunya yang enak menusuk hidungnya dan membuat perutnya semakin lapar. Tak sabar mulut nya ingin melahap kue yang ada di dalam keresek itu. Entah kenapa Ken senang melihat wanita hamil itu mendapatkan apa yang ia inginkan.
" Makanlah yang banyak, dan pelan-pelan. Nanti kamu tersedak " Ken mengingatkan
" Iya iya aku tau, nyam nyam " Alma tersenyum senang sambil memakan kue coklat dan kue keju yang ada di tangannya itu.
DUG
DUG
" Uh.. " Alma memegang perutnya
" Eh kenapa? kamu tersedak? kan sudah kubilang untuk ..."
Kata-kata Ken terhenti saat melihat Alma menangis sambil memegang perutnya. Bayinya menendang nendang di dalamnya.
" Kenapa kamu menangis?" tanya Ken cemas
" Hiks .. hiks " Alma menangis tersedu-sedu, seakan-akan air matanya tidak terkendali dan sudah tertahan sejak lama.
Albry, kamu pasti rindu Papa mu kan? Papa mu yang selalu membuatkan kue keju dan coklat untuk Mama dan untuk mu. Sebentar lagi ya sayang, sabar sebentar lagi. Kita akan bertemu Papa mu.
" Aku sudah selesai makan " ucap Alma sambil menyeka air matanya, ia berdiri dari sofa tempatnya duduk.
" Eh kenapa? kue nya masih banyak loh? dan kamu baru makan satu " kata Ken cemas
" Aku ngantuk, aku sudah kenyang " Alma melangkah pergi menuju ke dalam kamarnya dengan hati yang sedih dan bimbang. Ia merindukan Bryan. Walaupun wajah Bryan dan Ken sama, tapi rasanya mereka sangat berbeda, itu lah yang membuat Alma sedih.
Ken melihatnya dengan bingung, bertanya-tanya ada apa dengan Alma.
...πππ...
Pagi itu Ken sudah bersiap untuk pergi ke kantor, ia melihat Alma sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya.
" Aku berangkat " pamit Ken pada Alma
" Ya" jawab Alma singkat
" Hey, aku bilang aku berangkat!" kata Ken setengah berteriak
" Aku bilang YA " jawab Alma dengan suara yang agak meninggi.
Wanita hamil itu sungguh tidak tahan lagi dengan sandiwara nya, ia tak bisa menunggu lebih lama untuk mengetahui dimana keberadaan Bryan. Akhirnya Alma berkata jujur, terbuka pada Ken.
" Dimana suamiku?" tanya Alma
" Apa maksud kamu?" tanya Ken tak paham
" aku bilang dimana suamiku?" ucap nya sambil melangkah maju ke depan Ken.
" Aku suamimu " jawab Ken tenang
" Cukup! aku sudah tidak tahan dengan sandiwara ini, Kenan Alviandra Aditama ! " teriak Alma kesal
Matilah aku! habislah sudah!
Itulah yang dilihat Alma dari wajah Ken yang mirip dengan suaminya itu.
Sementara itu Ken terpana bahkan tercengang mendengar nama lengkap nya di sebutkan oleh Alma. Banyak pertanyaan di benak nya saat itu sampai membuat tubuhnya membeku.
" Sejak kapan kamu tau? bagaimana kamu tau aku bukan Bryan?!" tanya Ken memburu
" Apa itu penting? yang penting sekarang adalah kamu harus mengatakan padaku tentang keberadaan Bryan. Dimana suamiku?!" tanya Alma sambil menangis penuh emosi
" Baiklah kalau kamu sudah tau semuanya, aku tidak bisa menyangkal nya lagi. Aku memang Ken " jawab Ken jujur, helaan napas terdengar dari tubuhnya.
" Lalu dimana Bryan? kamu harus memberitahu ku? selagi aku masih percaya kamu adalah orang baik" ucap Alma mengancam Ken.
" Jadi kamu benar-benar Ken? kamu benar-benar Ken?" tanya Laura dengan mata berkaca-kaca melihat Ken.
Entah darimana Laura muncul, tiba-tiba wanita itu sudah ada di belakang Ken dan seperti nya sudah mendengar obrolan Alma dan Ken.
Ken tidak bisa berdalih lagi di depan Alma dan Laura, ia memberitahukan semuanya pada kedua wanita yang sedang hamil itu. Tentang Wildan dan masalahnya. Ia juga menjelaskan bahwa Bryan baik-baik saja dan masih selamat sampai saat ini.
Laura menangis haru bahagia, mengetahui kebenaran kalau Ken masih hidup. Ia memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang. Laura pun menjelaskan semu kejahatan Wildan pada keluarga Aditama.
" Ken.. aku tidak menyangka kalau kamu masih hidup. Aku masih tidak menyangka..hiks " Laura menangis
" Maafkan aku kakak, aku benar-benar minta maaf karena sudah terbakar api dendam kesalahpahaman " Ken berlutut di depan kakak nya yang sudah seperti pengganti ibu nya itu.
Alma juga merasa terharu melihat pemandangan di depannya itu, pertemuan adik dan kakak yang sudah lama terpisahkan.
" Hentikan Ken! tidak apa, yang penting kamu sudah kembali Ken! kakak senang kamu kembali dan baik-baik saja " Laura membantu Ken berdiri, mereka berdua sama-sama menangis dan mencurahkan semua kerinduan mereka dengan berpelukan.
" Apa aku masih diterima kak? apa aku masih bisa diterima di keluarga Aditama?" tanya Ken dengan mata yang bercucuran air mata.
Aku tidak menyangka ternyata Ken adalah orang yang bisa menangis juga. Aku pikir dia orang yang jahat, tapi ternyata dia hanya membutuhkan kasih sayang. Kesalahpahaman yang sudah membutakan mata hatinya, dan mendorongnya berbuat salah.
" Apa yang kamu bicarakan? kami adalah keluarga mu! tempatmu kembali, hanyalah kami. Kita keluarga Ken! kita keluarga!" seru Laura sambil memeluk adiknya itu sekali lagi
Ken menangis haru, ia sangat berterimakasih karena Laura mau menerimanya kembali. Suasana haru itu kacau saat salah satu bodyguard Alma yang bernama Angga memberitahukan kalau Kelvin dan Naina menghilang dari sekolah mereka.
" Apa? Kelvin dan Naina hilang?!" teriak Alma panik dan kaget, tubuhnya lemas dan ambruk. Beruntung nya Ken menahan tubuh Alma.
" Al! kamu tenang ya " ucap Laura yang juga panik melihat kondisi adik iparnya itu
" Aku harus mencari nya! aku harus mencari mereka!" teriak wanita hamil itu tak terkendali.
" Kalian di rumah saja, aku tau harus mencari mereka kemana. Alma, aku berhutang banyak padamu. Aku janji akan menyelamatkan Bryan dan si kembar " Ken memegang tangan Alma dan menatap wanita itu dengan serius.
...---***---...