
Pov Junai
🍂🍂🍂
"Nai, kok kamu ngomong seenaknya kaya gitu sih??" Juna naik pitam dengan ucapan Naina yang terbilang seenaknya memutuskan pernikahan mereka.
"Aku gak ngomong seenaknya tuh. Buat apa kita menjalin hubungan ke arah serius kalau kamu nya gak serius" Naina bicara dengan menatap tajam ke arah Juna, kemarahan di hatinya tampak membuncah.
*Kayaknya Bu Naina marah banget sama pak
Arjuna*. batin Carol yang hanya diam saja di kursi depan dan mendengarkan pertengkaran mereka.
Memikirkan nya saja Naina sudah penat, ada wanita yang mencium dan memeluk pasangan mu? perasaan apa yang akan dirasakan saat itu? cemburu sudah jelas, marah itu sudah pasti dirasakan oleh Naina.
"Naina, aku serius!" seru Juna meyakinkan Naina.
"Maaf Jun, kayanya kita butuh waktu berfikir sendiri-sendiri dulu untuk melangkah ke pernikahan" ucap Naina yang ingin menyudahi semua pembicaraan mereka saat itu.
Juna deg degan ketakutan mendengar ucapan Naina seperti ingin memutuskan hubungan dengan dirinya. Juna takut kehilangan Naina, bersusah-payah dia mendapatkan maaf dari Naina dan mengejar cintanya, bagaimana bisa Juna melepaskan Naina begitu saja? bagaimana bisa Juna membiarkan hubungan mereka kandas hanya karena satu orang bernama Citra?
"Nai.. dengerin aku dulu, please. Kamu mau nya aku gimana? katakan padaku, Nai" pinta Juna pada Naina dengan mata yang berharap Naina akan mendengarkan nya.
Mobil taksi itu berhenti tepat di depan hotel yang tak jauh dari pantai di Maldives. Naina segera turun dari mobil itu bersama dengan Carol, mereka membawa koper dan masuk ke dalam hotel.
"Nai.. Nai jangan kayak gini dong, aku gak nyaman. Swear! aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, aku juga gak tau dia datang dan tiba-tiba kayak gitu sama aku. Please Nai.. masa cuma gara-gara gini aja kamu marah?" Juna memegang tangan Naina dan memohon-mohon pada Naina agar percaya padanya.
TAK
Untuk kesekian kalinya Naina menepis tangan Juna. Mendengarkan ocehan Juna malah membuatnya semakin marah.
"Cuma gara-gara gini aja? apa kamu bilang Jun?" tanya Naina marah dan mulai mendengar kan Juna.
"Ya, lagian kamu sensitif banget sih. Jadi orang jangan mudah salah paham dong, dengerin dulu penjelasan!" Juna malah balik marah pada gadis yang sedang marah padanya itu.
Naina mengernyitkan dahinya, dia tak habis pikir dengan kata-kata Juna yang seenaknya padanya. "Aku? sensitif? Jun, kamu mengatakan nya seolah ini adalah hal yang sepele. Kamu gak ngerti gimana perasaan aku Jun, kalau aku yang di peluk dan di cium pria lain apa kamu tidak akan marah? kamu tidak akan cemburu? apa kamu akan diam saja seolah tak terjadi apa-apa?" Naina sakit hati
"Nai, maksud aku gak kaya gitu Nai.. Kamu tidak paham apa maksudku" Juna semakin merasa bersalah melihat wajah Naina yang terlihat terluka dengan kata-kata nya.
Sial! kenapa aku pakai ngomong kaya gitu?. Juna menyesali apa yang baru saja dia ucapkam.
"Dari dulu kamu gak berubah Jun! sikap kamu yang kalau marah suka melampiaskan kemarahan pada orang lain. Kamu selalu aja kaya gini Jun, aku bukan samsak yang bisa kamu marahi dan pukuli seenaknya" Naina ingat betul saat dulu nilai ujian Juna kurang bagus, dia selalu melampiaskan kemarahannya pada Naina atau orang lain disekitarnya. Begitu juga kalau dia sedang ada masalah, dan itu adalah hal yang tidak disukai Naina dari Juna.
"Nai, aku minta maaf Nai.. aku gak bermaksud marah sama kamu"
"Aku pikir kita belum bisa sepaham Jun, tolong jangan bahas dulu tentang hubungan pernikahan kita sampai kamu menyelesaikan urusan kamu dengan para mantan kamu dan sampai kamu mulai belajar memahami aku, Jun" jelas Naina tegas pada Juna, dia tidak mau terlibat dalam drama para mantan Juna ataupun masa lalu Juna yang belum selesai itu.
Apa maksudnya?. Juna mulai takut dengan kata-kata Juna padanya.
"Gak Nai, urusanku sama mantan-mantan ku sudah beres. Aku gak ada hubungan apapun dengan mereka Nai, Nai..maafkan aku.." ucap Juna memohon pada Naina.
"Saya lelah pak Arjuna, saya mau istirahat" ucap Naina sinis pada Juna yang terus mengekori nya dari belakang.
Naina tidak pernah semarah ini bahkan sampai memutuskan hubungan nya dengan Juna. Kali ini Juna benar-benar harus waspada, terlebih lagi dengan kehadiran Citra. Atau mungkin saja mantan mantan Juna yang lainnya bisa mengganggunya juga. Selain Citra, Juna pernah berpacaran dengan model, sektretaris, ada yang berdarah lokal asli Indonesia, bule dan juga wanita blasteran.
Begitu Juna mengatakan pada Naina, bahwa dia memiliki banyak mantan. Apa yang akan dipikirkan Naina nantinya? pasti nya dia akan menganggap nya sebagai seorang playboy. Meski menurutnya pacaran itu hanya coba-coba, tapi tetap saja dia akan mendapatkan cap playboy di mata orang yang mendengar kisah cintanya. Padahal yang di dalam hatinya hanyalah Naina.
"Bego kamu Jun! bego!" Juna memaki dirinya sendiri dengan penyesalan sudah mengatakan hal yang melukai hati Naina.
Tentu saja Naina terluka, dia melihatku di cium dan di peluk oleh wanita lain dan aku malah bilang dia sensitif? kalau itu terjadi pada Naina, aku juga pasti akan marah dan cemburu berat! niatku kemari membawanya untuk berduaan dan melamarnya secara pribadi, tapi kalau Naina marah seperti ini gimana cara ku untuk melakukan nya? Naina..
Juna sudah memiliki rencana panjang, maksudnya membawa Naina ke Maldives adalah untuk melamarnya secara pribadi sebelum melamar Naina secara resmi pada orang tuanya. Namun, melihat keadaan Naina sekarang mungkin Juna harus mengemis maaf dulu pada gadis itu.
Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon sekretaris nya, "Ardi! dimana kamu?" tanya Juna yang bad mood
"Saya di perjalanan menuju ke sana pak" jawab Ardi yang berada dalam taksi
"Dimana wanita gila itu?!" tanya Juna membentak Ardi dengan marah.
"Pak sebenernya dia.."
Belum sempat menyelesaikan kata-kata nya, suara seorang wanita sudah lebih dulu menyambarnya.
"Apa kamu nyari aku Jun?" tanya Citra sambil memeluk Juna dari belakang. Juna terkejut dan langsung melepaskan pelukan wanita itu darinya.
"Hey! kenapa Lo ada disini?!" tanya Juna pada wanita itu dengan kesal nya.
"Tentu saja aku akan ikut kemana sayangku akan pergi" ucap Citra dengan senyum genitnya pada Juna
"Iuhhh...Ardi cepat kesini! kalau kamu tidak segera kesini dan menyingkirkan si gila ini, aku akan memecat mu!" teriak Juna pada Ardi yang masih bicara dengannya di telpon itu.
"P-pak maafkan saya, sebentar lagi saya akan sampai. Tunggu pak!" Ardi panik tidak mau kehilangan pekerjaan nya.
Setelah itu Ardi benar-benar datang dengan cepat, sebelumnya dia sempat kehilangan Citra yang kabur begitu saja. Juna sampai harus menyewa bodyguard untuk membawa Citra pergi dari sana bahkan sampai menyewa pesawat untuk Citra pergi dari Maldives dengan pengawasan ketat. Citra berhasil dibereskan, kini Juna tinggal membereskan urusan Naina.
Sore itu Naina melihat pemandangan pantai Maldives melalui jendela di kamarnya. Naina tersenyum cerah melihat pemandangan disana. Merasa sayang dengan pemandangan indah itu, Naina pergi keluar sendirian dari kamar hotelnya dengan memakai setelan olahraga.
Naina berlari di pinggir pantai itu untuk berolahraga dan merilekskan tubuh pikiran nya. Namun, bukannya rileks Naina malah lelah padahal baru berlari satu putaran saja.
"Apa karena sudah lama tidak berolahraga? makanya aku menjadi mudah lelah? kenapa ya sekarang aku menjadi cepat lelah?" tanya Naina bingung karena dia jadi mudah lelah, tubuhnya juga tidak berkeringat seperti biasanya menandakan bahwa tubuhnya kurang baik.
Juna menyebalkan! sangat menyebalkan!
Tes, tes, tes
"Lagi-lagi aku mimisan? ini sudah keberapa kalinya?" Naina melihat darah menetes dari hidungnya jatuh ke telapak tangannya.
Baiklah, setelah acara pameran besok aku harus ke dokter.
...---***---...