
Bryan yang baru pulang kerja, tersentak mendengar kata-kata Alma yang langsung menusuk ke dalam hatinya.
" Kenapa kamu bicara begitu? kenapa kita tidak mungkin bersama?" tanya Bryan sambil memegang tangan Alma, mengharapkan jawaban yang bisa membuat nya tenang.
" Bryan, kamu tenang dulu. " ucap Laura yang melihat api kemarahan pada diri Bryan
" Kita tidak mungkin bisa bersama karena aku sudah memilih orang lain " jawab Alma tegas dan berani.
Laura dan Ny. Delia juga tercengang mendengar kata-kata Alma.
" Apa maksud mu? "
" Aku sudah memiliki kekasih dan kami juga tidak berencana untuk main-main. "
" Apa maksud mu Almahyra ?! bagaimana bisa kamu memilih pria lain? bukankah aku sudah bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah, aku tidak pernah berselingkuh darimu. Kenapa kamu memutuskan nya terburu-buru?" Bryan emosi dan masih memegang tangan Alma dengan erat.
Alma menepis tangan Bryan, hatinya mulai terusik melihat kedua mata Bryan yang menatapnya dengan penuh harapan dan kekecewaan. Namun, ia teringat Leon yang sudah menjadi kekasihnya.
" Aku tau kamu tidak bersalah. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? enam tahun sudah berlalu, dan tidak ada yang tersisa untuk kita "
Deg, hati Bryan bagai tersayat pisau mendengar kata-kata itu dari wanita yang ia cintai. Penolakan Alma, tidak bisa ia terima. Bryan menarik tangan Alma, ia meminta ibu dan kakak nya untuk menjaga anak-anak. Sementara Bryan mengajak Alma berbicara berdua di lantai atas.
" Lepaskan tangan ku !" ujar nya pada Bryan yang dari tadi terus memegang tangannya.
" Maaf " Bryan langsung melepaskan tangan nya yang menggenggam tangan Alma.
" Kamu mau bicara apa ?" tanya Alma
" Apa benar tidak ada yang tersisa diantara kita?" tanya Bryan
" Tidak ada " jawabnya datar
" Almahyra! aku serius ! " seru Bryan, dengan tatapan penuh harapan
" Kamu tidak dengar kata-kata ku barusan? apa masih kurang jelas? aku sudah menjalin hubungan dengan orang lain. "
" Apa itu Leon Maxton? apa dia orangnya? " tanya Bryan
" Benar "
" Kenapa kamu berhubungan dengannya?"
" Ada hak apa kamu bertanya seperti ini?"
" Aku memang tidak punya hak untuk bertanya sekarang. Tapi, aku tau kamu masih mencintai ku " ucap Bryan percaya diri
" Apa? ternyata penyakit kenarsisan kak Bryan masih sama seperti dulu ya "
" Aku tidak narsis, aku bicara fakta. Kamu masih mencintai ku, makanya kamu kembali ke Jakarta kan?" Bryan sangat percaya diri
" Aku tidak mencintai mu lagi " jawab Alma
" Aku tidak percaya "
" Percaya atau tidak, sekarang aku sudah menjadi kekasih kak Leon. Dan mungkin mereka akan menjadi papa dari anak-anak ku "
" Kamu berani melakukan itu? papa mereka itu cuma aku ! aku tidak akan membiarkan pria lain menggantikan peranku " Bryan terlihat emosi saat nama Leon di sebut.
" Lalu selama 6 tahun ini, apa kamu menjalankan peranmu sebagai papa mereka? semua itu kak Leon yang menjalankannya !" ujar Alma kesal
" Jadi semuanya hanya salahku saja? bukankah kamu yang pergi selama 6 tahun dan membawa kedua anak kita bersamamu? kenapa hanya salahku saja?!!" teriak Bryan yang mulai emosi
Bryan tersenyum sinis, seharusnya ia yang kesal disini karena Alma lah yang meninggalkan nya selama 6 tahun. Alma membuatnya tidak tahu apapun tentang keberadaan anaknya di dunia ini. Pembicaraan mereka pun berubah menjadi perdebatan yang cukup panjang.
" Aku sudah bilang kan kita tidak cocok, lihat? jika kita memulai nya dari awal seperti apa katamu kak, kita tidak bisa " Alma terlihat sedih
" Kita bisa ! dulu kita menikah tanpa cinta dan kita jadi saling mencintai. Itu tandanya kita cocok "
" Itu di masa lalu, bukan sekarang."
" oke ! oke STOP dulu Alma ! apa kamu masih marah karena sikapku dimasa lalu? apa karena ke playboyan ku? atau karena pernikahan ku dengan Selina? "
" Kenapa jadi membicarakan masa lalu?" tanya Alma tak mengerti
" Karena kamu yang memulainya ! " teriak Bryan kesal
Alma terdiam mendengar Bryan berteriak padanya. " Kamu yang memulainya dan terus menerus bicara tentang masa lalu, padahal aku sudah berubah. Kenapa tidak ada kesempatan untukku memperbaiki nya? Aku tidak suka kamu terus mengungkit masa lalu !!"
Teriakan Bryan sampai terdengar ke lantai bawah, tempat anak-anak bermain. Laura dan Ny. Delia juga kebingungan, dengan apa yang terjadi di lantai atas.
Si kembar, Kayla dan Risya terlihat bingung. Baru kali ini mereka mendengar teriakan Bryan.
" Memperbaiki? apanya yang bisa diperbaiki dari masa lalu? kamu tau betapa sulitnya aku menghadapi semuanya sendiri, saat aku mengandung si kembar. Aku sangat kebingungan, kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Sakitnya hatiku, saat aku berharap untuk bersamamu lagi dan kamu malah bertunangan dengan wanita itu! meskipun itu adalah salah paham, tapi saat itu rasanya hatiku sakit sekali ! Masa lalu yang kamu sebutkan itu sudah mempengaruhi masa depan, masa sekarang !"
Kemarahan Alma membludak
Hiks hiks hiks
Bulir bulir air mata jatuh dari kedua mata Alma, ia tak tahan lagi dengan Bryan yang terus berteriak-teriak padanya. Mendadak rasa sakit di hatinya itu datang lagi. Mengingat masa lalu masa-masa pernikahan mereka. Ternyata Alma belum bisa berdamai dengan masa lalu nya, itulah yang membuat nya tidak bisa memberikan kesempatan pada Bryan.
" Aku tidak bisa, aku tidak bisa lagi mencintai mu dan membenci mu secara bersamaan. Aku tidak mau terluka lagi. hiks "
Lagi lagi aku membuat mu menangis.
" Aku.. aku tidak bermaksud membuat mu menangis, aku minta maaf Alma " Bryan terlihat merasa bersalah, melihat Alma menangis di depannya.
Si kembar yang mendengar ibunya menangis, langsung menghampiri ibunya dengan cemas. Kelvin langsung berdiri di depan ibunya.
" Om apakan Mama ku? kenapa mama ku bisa menangis seperti ini?" tanya Kelvin sambil merentangkan tangannya, melindungi ibunya.
" Mama, mama kenapa?" Naina menatap ibunya dengan cemas
Kenapa aku malah nangis? aku tidak boleh membuat anak-anak cemas.
Alma menyeka air matanya. Wanita itu mengatakan bahwa ia bukan menangis karena Bryan.
" Tidak, ini semua salah papa. Papa yang sudah membuat mama kalian menangis. Alma aku minta maaf "
Ini salahku yang tidak mengerti perasaan Alma. Aku bicara seenaknya, aku bahkan membentaknya. Sekarang pasti aku semakin minus saja di matanya dan di mata anak-anak. Haa..
" Ini bukan salah kak Bryan, tidak apa. Anak-anak, ayo kita pulang. Ini sudah mau malam " Alma merangkul kedua anaknya itu.
Rupanya di hatiku masih tersisa rasa untukmu. Sehingga aku menangis seperti ini. Rasa sakit di hati ku adalah bukti aku masih mencintai mu. Tapi, kita sudah tak mungkin.
" Aku akan antar kalian ke bawah " Bryan tersenyum pahit.
" Naina sama Mama duluan, aku mau bicara dulu sama om Bryan sebentar " ucap Kelvin
Naina dan Alma pergi ke lantai bawah lebih dulu. Sementara Kelvin dan papa nya itu sedang berbicara serius tentang Alma.
" Katanya om cinta sama Mama ku? kenapa om membuatnya menangis seperti itu?" tanya Kelvin
" Nak, papa tidak pernah bohong padamu. Yang papa cintai hanya Mama mu, papa juga mencintai kamu dan Naina " kata Bryan tulus
" Jadi kenapa tadi mama menangis?" tanya Kelvin tajam
" Papa membentak Mama mu, tapi itu tidak sengaja. Sungguh !!"
" Apa? beraninya om membentak Mama ku? pantas saja Mama ku lebih memilih om Leon daripada om !" Kelvin menunjukan wajah marahnya
" Nak, aku papa kandungmu. Apa kamu berada di pihaknya?" tanya Bryan cemburu
" kayaknya om tidak mengerti. Aku ini netral, tidak di pihak siapapun juga. Siapapun yang membuat mama dan Naina bahagia, maka itu adalah pilihanku juga. Meskipun om adalah papa kandungku secara hukum dan ikatan darah, tapi kalau om menyakiti Mama ku. Aku juga tidak akan berpihak pada om. Jangan lupakan itu "
" Bagaimana bisa anak berusia 5 tahun mengucapkan kata yang begitu kejam kepada ayahnya sendiri? nak, setidaknya kamu harus memihak diriku " kata Bryan keheranan
" Aku akan melihat dulu, apakah om Bryan atau om Leon kah yang pantas menjadi papa ku. Yang jelas saat ini, Mama sudah memilih om Leon menjadi kekasihnya. " ucap Kelvin memanasi
Jadi itu benar? Alma benar-benar sudah berpacaran dengan Leon? tidak, tidak bisa dibiarkan. Usahaku selama ini untuk membuktikan diriku tidak bersalah, jadi sia-sia.
" Tidak bisa, Mama mu itu mencintai ku. Dia tidak mungkin akan bersama orang lain. " Bryan terlihat kesal
Aku juga tau kalau Mama masih mencintai mu, dan mama menerima om Leon. Hanya karena om Leon baik pada kami. Kelvin tersenyum tipis
" Kalau begitu cobalah rebut Mama dari om Leon. Kalau om bisa merebut Mama dari om Leon, dan membuktikan kalau kalian saling mencintai. Aku akan mengakui om sebagai papa kandung ku. "
Dukungan dari putra ku sendiri? apakah ini ujian untukku? jadi akhirnya karma datang juga pada Cassanova seperti ku?
" Apa ini tantangan?"
" Kamu memang benar-benar putraku, kamu mirip denganku. " Bryan memeluk Kelvin dengan bangga, karena mereka memiliki kemiripan dalam bersikap.
" Jangan senang dulu ya, aku belum mengakui mu sebagai papa ku. Bisa saja papa ku itu om Leon "
" Tidak ! itu tidak benar ! papa mu hanya aku !" kata Bryan
Kelvin dan Bryan tersenyum dan mereka memiliki senyuman yang sama. Penuh semangat dan penuh tekad.
Sekarang lah perjalanan Bryan untuk mengambil hati mantan istrinya kembali, resmi di mulai..
🍂🍂🍂
Hampir setiap hari Bryan pergi menemui Alma dengan berbagai alasan. Kebetulan Leon masih berada di luar negeri, karena urusannya yang belum selesai.
Bryan bahkan dengan terang-terangan memberikan bunga ke kantor Alma setiap hari. Bersamaan dengan bunga dari Leon yang juga datang padanya tiap hari.
" Ada apa sih dengan kak Bryan? Apa maksud nya melakukan ini?" gerutu Alma sambil memandangi bunga pemberian Leon dan Bryan.
Ting..
Sebuah pesan masuk ke ponsel Alma, dari Leon.
Sayang, maafkan aku. Aku belum bisa pulang ke Jakarta. Ada proyek mendadak yang harus aku tangani. Semoga kamu suka bunganya, jaga kesehatan. Jangan lupa makan, salam sama si kembar
Alma segera membalas pesan dari Leon dengan cepat. " Tidak apa kak, Kakak selesaikan dulu urusan di sana. Kakak juga jaga kesehatan ya "
Kemudian Alma melihat ada kertas yang ada di buket bunga dari Bryan, ia membaca note nya yang disana.
...Aku memungut bunga ini di jalan, semoga kamu suka....
" PFutt.. dia masih tidak berubah. Saat dulu memberikan ku bunga, kata-kata nya juga persis seperti ini " Tanpa sadar Alma tertawa karena kata-kata sederhana yang tertulis di kertas.
Ternyata hatiku masih terjebak masa lalu. Tidak, ini tidak boleh. Aku sudah punya kak Leon.
Tok, tok,tok
" Bu Presdir !"
" Masuklah Viona " jawab Alma
KLAK
Viona membuka pintu ruangan Presdir, sekretaris itu tersenyum sambil membawa sekotak kue coklat yang dibungkus oleh bungkusan berbentuk hati.
" Bu, ini dari pak Bryan "
" Apa? dia lagi? ya ampun " Alma mulai gusar. Belum lagi sekarang tersebar dikantornya bahwa Bryan sedang mengejar Alma.
Siang itu, Bryan tampak sedang duduk di sebuah restoran sendirian. Tak lama kemudian Alma datang menghampiri nya.
" Kenapa bapak mengajak saya bertemu disini? kita kan bisa bertemu di kantor?"
Bryan memegang bahu Alma, dan mendudukkannya di kursi yang ada di depannya.
" Aku sudah pesan makanan kesukaan kamu, duduklah dulu ya " Bryan tersenyum ramah
Aku memang tidak bisa menggantikan waktu yang sudah terlewati atau kenangan buruk mu. Tapi, aku akan mengubah kenangan buruk itu menjadi kenangan yang indah.
" Saya kesini bukan untuk makan siang, kita disini untuk membahas desain " kata Alma heran
" Makan lah dulu, mana bisa kita bicara bisnis disaat perut masih kosong. Dan juga kalau sedang diluar, aku harap kamu tidak bicara formal padaku "
Seorang pelayan datang membawakan makanan pesanan Bryan. Ada 2 piring dan dua gelas berisi air ada di depan mereka.
Alma melihat Bryan yang sedang makan lahap itu dengan bingung. " Masakan mu lebih enak dari ini, aku harap nanti kamu bisa memasak lagi untukku "
" Jangan mimpi " kata Alma ketus
" Ya aku tidak akan bermimpi, karena itu akan jadi nyata " Bryan tersenyum manis
" Masakan bapak lebih enak dari ini, apalagi Omelet nya "
" Akhirnya kamu mau bicara padaku, kamu bahkan memuji ku. Baiklah, aku akan memasak untukmu setiap hari jika kamu mau. " Bryan tersenyum menggoda Alma.
" Bapak bicara apa sih?" Alma terlihat kesal, tangannya memotong daging yang ada di depannya. Tiba-tiba ia termenung, teringat dulu saat ia berada di rumah Bryan.
Kenapa masa lalu terus membayangi nya saat ia bersama dengan Bryan? Hatinya masih mengingat setiap hari harinya bersama dengan Bryan dulu. Perasaan nya menjadi tidak nyaman, benci dan cinta bercampur di dalam hatinya terhadap pria itu. " Mungkinkah aku masih mencintaimu kak Bryan? tidak, ini tidak benar. Aku punya kak Leon sekarang."
Bryan menatap Alma, membayangkan jika setiap hari ia bisa bersama dengan Alma dan kedua anaknya. Betapa bahagianya hidupnya, dan keluarga nya akan lengkap.
Aku akan mendapatkan mu kembali Alma.
Kenapa dia melihatku seperti itu?
Setelah selesai makan, mereka mengakhiri nya dengan minum segelas air putih. Langsung saja Alma membahas masalah bisnis pada Bryan.
" Kamu ini, baru saja selesai makan sudah membahas bisnis. Bagaimana kalau kita mengobrol dulu yang lain?"
" Saya masih banyak urusan di kantor "
" Aku tau kamu tidak ada jadwal lagi sore ini, dan waktumu senggang"
" Apa? dari mana kamu tau?" tanya Alma kaget
" Kamu tau kan aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. "
" Benar, kamu kan Bryan Alvaro Aditama " Alma tersenyum pahit
Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Termasuk mematahkan hatiku seperti dulu. Dan aku tak mau hatiku patah lagi, aku takut.
" Bersantai lah sedikit, mari kita berbincang dulu "
" Aku harus pergi, kamu membuang-buang waktuku "
" Tunggu, Alma !"
Alma berdiri dari kursinya, Bryan juga mengikutinya lalu tiba-tiba saja Bryan meringis kesakitan memegang perutnya " Uh.. "
Mendengar dan melihat Bryan kesakitan, Alma yang tadi berjalan meninggalkan nya, jadi berbalik menghampiri nya dengan wajah cemas.
" Ada apa? kamu kenapa?" tanya Alma cemas
" Tidak apa, ini biasanya terjadi kok "
" Aku tanya, kamu kenapa?!" teriak Alma marah
Entah kenapa aku senang melihatnya marah padaku? katanya marah sebagian dari rasa sayang.
" Maag ku kambuh lagi " jawab Bryan
" Apa kamu masih suka melewatkan sarapan mu? bagaimana bisa kamu tidak berubah setelah bertahun-tahun? " kata Alma menasehati.
Bryan tersenyum senang, hatinya puas ,melihat perhatian Alma padanya. Alma segera membantu Bryan masuk ke dalam mobilnya, karena tidak Andre yang bersama nya. Alma pun berlari membeli obat ke apotik yang ada di dekat sana.
Beberapa menit kemudian, Alma sampai pada Bryan dengan napas yang ngos ngosan. Sambil membawa sebotol air minum dan keresek yang ada obat di dalamnya.
" Padahal apoteknya lumayan jauh loh, tapi kamu datang dengan cepat. Mungkinkah itu kekuatan cinta?" Bryan tersenyum menggoda
" Jangan banyak bicara, kamu sedang sakit. Jadi minum obatnya sekarang !" ujar Alma marah.
Aku tau kamu masih cinta padaku, aku hanya tinggal menggerakkan hatimu Alma.
Bryan mengambil obat dan air minum yang ada di tangan Alma, ia langsung meminum obatnya dan meneguk air nya. Mereka berdua kini duduk bersampingan di dalam mobil Bryan. Alma masih melihat Bryan dengan cemas.
Wajahnya masih terlihat pucat.
" Apa sudah baikan? apa masih sakit? haruskah aku mengantarmu ke rumah sakit?" tanya Alma khawatir
" Tidak usah, aku sudah baikan " jawab Bryan sambil tersenyum menatap Alma.
" Bagaimana bisa sudah baikan? wajahmu masih terlihat pucat " Alma tidak percaya
" Aku benar-benar sudah baikan, melihatmu disini dan memperhatikan ku aku merasa lebih baik " bibir Bryan sedikit terangkat dan menunjukkan senyum nya pada Alma
Alma terdiam mendengar nya, hatinya masih merasa berdebar saat di dekat Bryan. Padahal ia ingin menyangkalnya.
...---***---...