
Mulut Jason ternganga, permintaan Bryan adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia ataupun oleh sang pemilik nyawa sekalipun.
"Aku mohon.. kalian bisa meminta apa saja, uang, semua harta kekayaan ku akan aku berikan. Tapi aku mohon maafkan Risya, dia masih terlalu muda! hidup dan perjalanan nya masih panjang. Aku mohon.. kalian masih punya hati kan? kumohon.. biarkan aku saja yang menggantikan nya.." Jason meraih kaki Alma dan memegangi nya, ia menangis memohon pengampunan pada Alma. "Alma, tolong.. maafkan Risya satu kali ini saja.. "
Alma diam dengan tatapan kosong, derai air mata terus mengalir dari matanya. Kematian Albry tidak bisa ia lupakan dari ingatannya, luka yang belum kering dihatinya itu kembali basah dan terbuka.
Disisi lain, Risya sempat tercengang mendengar papa nya sampai berlutut untuk dirinya. Kenapa papanya sampai mempertaruhkan segalanya untuk kebebasan nya? padahal selama ini papanya tidak terlihat mencintainya?
Risya terdiam, teringat masa lalu..
Bukankah selama ini papa tidak mencintaiku? lalu kenapa papa bersikap seperti ini?
#FLASHBACK
Risya usia 8 tahun..
Gadis kecil itu duduk di kursi sendirian tanpa ada siapapun yang menemaninya. Papanya sibuk bekerja, dan hanya pulang ketika malam hari. Risya tidak punya teman ataupun seseorang yang bisa ia ajak bicara. Sesekali ia merindukan Kayla dan keluarga Aditama yang pernah ada di dalam hidupnya.
"Risya kenapa kamu masih memikirkan mereka? mereka sudah membuang kamu, karena kamu bukan keluarga kandung mereka" Risya menatap sedih layar televisi, terlihat kebahagiaan keluarga Bryan-Alma, juga Leon dan Laura. Risya cemburu, ia juga ingin merasakan kebahagiaan seperti itu dari Jason dan Selina.
Boro-boro bahagia, Risya malah kesepian. Ibunya masuk rumah sakit jiwa, di sekolah ia diejek teman-teman nya. Dan papanya juga selalu berada di luar rumah dengan alasan sibuk. Sesekali Risya juga mengunjungi Selina di rumah sakit jiwa, entah karena ikatan batin atau apa.. Risya masih peduli pada mamanya, walau Mama nya itu pernah menyiksanya.
Risya sendirian, ia kesepian. Hari-harinya hanya ditemani oleh pengasuhnya yang bernama Maya. Sepulang sekolah, Risya selalu melihat rumahnya yang sepi dan kosong. Terlebih lagi ia berada di negara yang asing, Paris.
Keseharian yang membosankan, tanpa emosi, dan kesepian. Suatu hari Risya asyik sendiri menonton sebuah film horor di televisi. Risya melihat banyak darah di film itu, anehnya ia tidak merasa takut melihatnya. Malah terlihat menikmati apa yang ia tonton. Risya pun mulai kecanduan dengan film film bergenre thriller, horor, yang berbau psikopat yang umumnya mungkin akan menakutkan untuk ditonton oleh anak berusia 8 tahun.
Pengasuhnya mengetahui hal itu dan hanya membiarkan nya, Maya sibuk dengan urusannya sendiri. Seperti video call dengan pacarnya, telponan dengan pacarnya, bahkan dengan tidak tau dirinya. Dia mengambil perhiasan Selina yang ada di rumah itu sendiri diam-diam dan menjualnya.
Mau Risya melakukan apapun, terserah dia. Maya hanyalah orang yang memberikan Risya makanan tepat waktu, menyiapkan baju baju yang akan dikenakan oleh majikannya itu, dan selebihnya ia tak peduli pada Risya. Bahkan Maya pernah beberapa kali memukuli Risya karena Risya sering berbuat ulah. Saat Risya melapor pada papanya, Jason.
Jason tak peduli padanya! "Kamu jangan manja, mungkin kamu dipukul karena kamu nakal" ucap Jason setiap kali Risya mengadu kalau Maya mencubit atau memukulnya.
Pada suatu pagi, Maya sedang berada di kamar Selina yang sudah lama ditinggalkan nya..
"Hehe, ternyata perhiasan si wanita gila itu masih ada disini. Uangnya juga masih banyak.. beruntungnya aku" Maya gelap mata, ia mengambil beberapa perhiasan berlian, dan beberapa uang gepokan dari laci dan brangkas di kamar Selina
DEG!
Risya berada di belakang wanita Maya yang sedang senang meraup harta Selina. Risya menatap Maya dengan tajam, tidak seperti anak pada umumnya. Tatapan Risya sangat tajam dan aneh untuk usia nya yang masih sangat muda.
Maya menyadari kalau Risya ada dibelakang nya, dengan cepat Maya mengembalikan perhiasan perhiasan yang ia pegang ke tempatnya semula. Risya langsung mengubah tatapannya kembali menjadi normal, polos dan lugu di depan Maya.
"Eh, ada non Risya? non sudah bangun tidur? yuk saya temani mandi non, non harus sudah pergi ke sekolah" kata Maya ramah pada Risya
Anak ini gak tau kan kalau aku mencuri perhiasan mamanya? tidak mungkin, dia kan bodoh. Dia tidak mungkin tau. ejek Maya pada Risya dalam hatinya.
"Bi Maya ngapain di kamar mamahku?" tanya Risya dengan senyuman polosnya.
"Bibi habis membersihkan kamar Bu Selina. Yuk, non kita mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Kalau non terlambat lagi, saya akan pukul non " Maya tersenyum sinis lalu menarik tangan Risya dengan kasar.
Maya membantu Risya untuk mandi seperti biasanya. Risya terlihat diam dan tertekan, matanya tajam memancarkan kemarahan. Terlihat ditubuhnya banyak bekas cubitan dan pukulan dari Maya.
"Ya bi, Risya ngerti" jawab Risya menyeringai
Beraninya dia memperlakukan aku seperti ini! dan mengatai kalau mama ku gila.
Risya selesai berganti baju dengan baju seragam, tiba-tiba anak itu senyum-senyum sendiri. Risya melihat ke arah pisau pemotong buah yang ada di atas meja. Beberapa saat kemudian, sarapan pagi roti tawar dan selai sudah tersaji di meja makan. Bersama segelas susu coklat yang hangat disana.
"Silahkan non, dimakan" ucap Maya ramah, Maya duduk lagi di sofanya dengan santai. Bermain ponsel nya sambil senyum-senyum sendiri, entah apa yang dilihatnya disana.
Risya melihat Maya dengan muak, ia menatap makanan yang ada di depannya dengan kesal. Matanya murka. Merasa bicara pada papanya tidak akan membuahkan hasil, Risya berencana untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Setelah selesai mengisi perutnya dengan sepotong roti dan segelas susu coklat. Risya menggandeng tas gendongnya. Bersiap-siap pergi ke sekolah. Risya tersenyum sendiri, ia memegang sebuah korek api gas di saku bajunya.
"Non mau berangkat ya?"
"Iya bi, cepetan dong"
"Loh kok ada bau gas, jangan-jangan gas nya bocor! Bentar non Risya, saya lihat dulu gas di dapur." Maya panik karena mencium bau gas, Maya berlari ke arah dapur, bergegas memeriksa tabung gas.
SRASH.. benar saja, suara gas bocor terdengar jelas.
"Maaf bi, aku udah telat" Risya sudah berada di dekat pintu keluar. Risya menyunggingkan senyuman licik dan tatapan mata nya yang aneh.
Risya memperlihatkan korek api gas yang dibawa nya itu. Ia juga mengambil kunci rumah nya. Maya yang ada di dapur tercekat melihat Risya yang tampak berbeda dari biasanya.
"Non.. non Risya mau ngapain?" tanya Maya dengan tatapan takut
"Kalau aku nyalain korek api gas nya? apa yang akan terjadi ya?" Risya tertawa kecil, ia menikmati wajah Maya yang ketakutan.
"Jangan macam-macam ya! non Risya?!" Maya berlari menuju ke arah pintu dengan tubuh gemetar, ia berniat menghampiri Risya.
"Maaf bi, aku juga melakukan ini karena aku sayang sama bibi. Sama kaya bibi yang sayang sama aku" Risya tersenyum polos, lalu menyeringai.
Maya kalah cepat dengan Risya yang sudah di dekat pintu. Risya menyalakan korek api gas itu dan melemparnya ke arah tabung gas. Risya mengunci pintu rumah nya itu.
"TIDAK!!! Non Risya!!! Kamu monster kecil!!" teriak Maya yang berusaha menggapai pintu.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara ledakan keras dari rumahnya.
DUAKKK
Api yang besar sudah membakar rumahnya, tubuh Risya juga sedikit terpental karena ledakan itu. Risya tersenyum saat melihat satu mayat terbakar yang diyakini sebagai Maya, pengasuhnya.
"Haha, bahkan sampai akhir dia tidak mengatakan maaf. Maka, langsung saja kamu pergi ke neraka. Dasar wanita jallang" gumam Risya sambil tersenyum puas melihat mayat wanita yang hangus terbakar itu.
...---***---...
Mau up lagi? please kasih komen, like dan gift nya 1 ajaðŸ¤ðŸ¥°ðŸ˜˜
Makasih dukungannya ya..