Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 23. Kompak



Tadinya Kelvin ingin mengantarkan Keira pulang, tapi jika ia pergi maka Naina akan sendirian di rumah sakit. Ya, walaupun ada pengawal yang berjaga diluar. Namun, Kelvin tak bisa meninggalkan adiknya sendirian di dalam ruangan. Viona, Sonya dan Ken pulang dulu ke rumah untuk mengambil baju baju Naina dan bersiap menginap di rumah sakit.


Alma dan Bryan juga belum pulang dari liburan mereka di Bali.


Akhirnya Damar lah yang mengantar Keira pulang, meskipun Kelvin terlihat tidak senang melihat Damar dan Keira pergi berdua.


"Kalau gitu gue sama Keira cabut ya Vin, Nai cepet sembuh ya" Damar pamit pada Naina dan Kelvin


"Antar dia sampai rumahnya, kalau dia sampe kenapa-napa, Lo berhadapan sama gue"ucap Kelvin yang tak ragu menunjukkan kekhwatiran nya pada Keira.


Apa aku salah dengar? Kelvin mencemaskan ku?. Keira senang


"Siapa Lo ya ngomong kaya gini sama gue?" tanya Damar sinis


"Gue sahabat baik nya dan gue gak mau kalau sahabat baik gue kenapa-napa" jawab Kelvin


Sahabat? jadi Kelvin mencemaskan ku sebagai sahabatnya? apa aku tidak pernah jadi orang spesial di hati Kelvin?. Wajah Keira langsung cemberut mendengar Kelvin bicara tentang sahabat.


"Oh sahabat ya? oke. Tenang aja, gue bakal jagain sahabat Lo" Damar tersenyum lalu ia pergi bersama Keira keluar dari ruangan rawat Naina.


Naina langsung memukul kakak nya dengan bantal begitu Damar dan Keira pergi. Naina terlihat kesal pada kakaknya.


"Dasar kakak! kenapa kakak bicara seperti itu?! lihat Keira jadi sedih, kan?" tanya Naina sebal


"Loh? emangnya aku salah apa?" tanya Kelvin sambil duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Naina berbaring


"Kakak kan suka sama dia ya harusnya langsung bilang aja, kakak akan menyesal loh kalau sampai Keira diambil orang lain" Naina mengingatkan.


"Kamu mau sok nasihati aku? kamu sendiri, kenapa sangat tidak peka dengan perasaanmu? bodoh! jangan urusi asmara orang lain. Urusi saja urusan percintaan mu sendiri" Kelvin tersenyum mengejek adiknya


"Apa maksud kakak? percintaan ku? untuk sekarang aku tidak mau terlibat dengan hal seperti itu. Aku mau menggapai mimpiku dulu" jelas Naina


Menjadi wanita berkarir cemerlang adalah keinginan nya yang utama, dan bagi Naina cinta itu adalah urusan nomor 3. Nomor dua nya adalah membahagiakan orang tua.


"Kamu bisa melakukan nya secara bersamaan, menggapai mimpi dan hubungan asmara mu" ucap Kelvin


"Tentu saja tidak bisa,aku harus menyelesaikan nya satu satu dulu kak." kata Naina penuh keyakinan


"Haish.. aku jadi kasihan sama mereka karena menyukai adikku yang suka nonton drama romantis, tapi tidak ada romantis romantisnya sama sekali" gerutu Kelvin pada adiknya itu


"Apa? kakak bilang apa? gak kedengaran jelas" tanya Naina


"Aku gak ngomong apa-apa" jawab Kelvin cuek


"Aku denger ada kata drama, apaan itu kak?" tanya Naina pemasaran


"Gak ada kok, kamu salah dengar kali" Kelvin senyum-senyum sendiri melihat kepolosan adiknya itu.


Kasihan banget si Juna sama si Theo.


.


.


Malam itu Viona, Ken dan Sonya berada di rumah sakit. Ken mengantar Viona untuk menginap menjaga Naina di rumah sakit.


"Tante gak usah repot-repot, aku bisa jagain Naina kok. Biar aku saja yang menginap disini"


"Biar Tante aja Vin, kamu kan besok harus sekolah"


"Terus Sonya gimana?" tanya Kelvin


"Sonya kan ada papa nya" jawab Viona


"Kamu gak usah cemas Vin, Sonya sama om di rumah" ucap Ken


"Ya udah deh, aku titip Naina ya om" ucap Kelvin sambil melihat Naina yang sudah tertidur lelap setelah minum obat nya. "Nai, aku pulang dulu ya" ucap Kelvin sambil mengusap kepala adiknya itu.


"Hati-hati Vin, pak Jeffry sama Han udah nunggu di luar" ucap Ken


"Eh? om gak pulang bareng aku?" tanya Kelvin


"Om disini dulu sebentar lagi" jawab Ken


Aku harus bilang apa ya pada Kelvin tentang anak yang bernama Risya itu? Atau aku bilangnya nanti saja saat kak Bryan dan kakak ipar sudah pulang. batin Ken bingung


****


Keesokan harinya, Pagi itu Naina sedang makan bubur yang dibawakan oleh Theo dan Juna, mereka berdua kompak datang pagi-pagi ke rumah sakit untuk menjenguk Naina. Mereka bermaksud untuk membuat gadis itu peka terhadap keberadaan mereka.


"Kak Theo, Juna kenapa kalian bukannya ke sekolah? nanti telat loh" tanya Naina pada kedua pria yang sudah datang pagi-pagi untuk menjenguknya.


"Kalau kamu gak mau kita telat ke sekolah, cepat habiskan buburnya" Theo membujuk dengan senyuman manisnya


"Iya bener, kali ini gue setuju sama si Theo" Juna setuju


Theo dan Juna sama-sama cemberut mendengar Naina tidak bisa menghabiskan semua buburnya. Naina berada dalam situasi yang bernama dilema. Melihat wajah Theo dan Juna, ia tidak bisa bilang tidak kepada kedua pria itu.


"Haah.. baiklah, aku akan habiskan. Tapi kalian harus cepat pergi sekolah, ini sudah mau jam tujuh" Naina menghela napas sambil mengambil salah mangkuk bubur di meja.


"Habiskan dulu buburnya!" seru Juna dan Theo bersamaan


"Kalian kompak banget sih, memang benar kalian tuh sehati." Naina tertawa kecil melihat kekompakan Theo dan Juna


Apa lagi yang dia pikirkan di dalam kepalanya itu? . Batin Juna kebingungan


Aku dan dia sehati? kita ini musuh? kita ini saingan, Nai apa kamu tidak bisa melihatnya?. Theo terlihat sedih


"Ya udah jangan sedih, aku akan habiskan dua mangkuk bubur ini. Mubazir kan kalau dibuang, kebetulan aku juga sedang lapar" Naina memakan buburnya dengan santai, tanpa memikirkan beban apapun.


Theo dan Juna hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka, melihat kepolosan gadis yang sedang mereka perebutkan itu. Setelah yakin Naina sudah menghabiskan bubur dan minum obatnya, Viona juga Sonya sudah ada disana untuk menemani Naina, Theo dan Juna pun pamit pergi ke sekolah.


"Tante, saya pamit dulu ke sekolah ya" kata Theo sambil mencium tangan Viona


Juna juga tidak mau kalah dari Theo, ia mendorong Theo, lalu mencium tangan Viona untuk memberi salam juga. Viona sampai terkejut dengan tingkah kedua anak remaja itu. Naina juga mengernyitkan dahi, keheranan dengan tingkah Juna dan Theo yang mulai terlihat seperti bersaing.


Lah? kedua anak ini kenapa ya?. Viona tersenyum bingung pada Theo dan Juna


"Tante, saya juga pamit. Tolong titip Naina ya Tante" kata Juna sambil tersenyum manis


"Iya kalian tenang aja, cepat pergi sekolah saja sana. Nanti terlambat loh" Viona mengingatkan


"Iya Tante, ayo Jun ke sekolah!" ajak Theo


"Ayo" jawab Juna cepat


"Kakak ganteng, sun dulu.. sun.. sun" kata Sonya sambil menarik baju Juna.


"Sun? maksudnya?" tanya Juna tak paham dengan tingkah gadis kecil itu. Juna pun jongkok di depan Sonya


Sonya langsung mencium pipi Juna dengan genit dan tersenyum manis.


MUACH


"HAH??!! "


Juna, Theo, Viona dan Naina terkejut melihat tingkah Sonya.


Ciuman keduaku? diambil anak bocah? kapan Naina akan mencium ku seperti ini?. Juna langsung murung dan memegang pipinya


"Sayang, kamu gak boleh gitu nak! aduh Juna maafin Sonya ya " Viona merasa tidak enak


"PFut..hahaha" Theo dan Naina malah tertawa melihat ekspresi Juna


Rasain lo Juna! ucap Theo dalam hatinya


"haha, iya gak papa Tante" jawab Juna sambil nyengir


Sialan si Theo, ngetawain aku.


Kedua rival yang terlihat kompak itu pun pergi dari rumah sakit dan segera bergegas ke sekolah. Di sepanjang perjalanan bahkan sampai di sekolah Theo terus mengejek Juna dengan puas.


"Cie.. cie Juna, ada yang naksir nih.. walaupun cuma anak usia 5 tahun. Tapi dia imut dan cantik kok, gue dukung" ejek Theo


"Sialan Lo! Lo harusnya dukung gue sama Naina, Naina lebih imut dan cantik" ucap Juna dengan nada yang kesal


"Kalau itu sih gue gak setuju banget, Lo juga tau kan kenapa?" kata Theo mulai tajam, dan wajahnya mulai serius


"Percuma tau gak kita bersaing kaya gini kalau orangnya sendiri gak peka dan selalu ngira kalau kita kompak. Jadi, lebih baik kita mundur aja deh sama-sama biar adil " kata Juna menyarankan sambil tersenyum


Apa dia akan mundur kalau aku bilang kaya gini?


"Apa maksud Lo ngomong kaya gini supaya buat gue nyerah? sorry ya, gue udah lama suka sama Naina dan gue gak akan nyerah hanta karena satu kata provokasi dari Lo" Theo tegas


"Haah.. Lo yang udah lama dekat sama dia, tapi tetep gak bisa dapetin hati dia, mending Lo nyerah aja. Biarin gue maju, karena Lo pasti kalah" kata Juna percaya diri


"Lo percaya diri banget ya? kita lihat siapa yang bisa dapatkan hati Naina duluan" kata Theo yang juga percaya diri.


Mereka berdua saling menatap tajam, seperti ada aliran listrik di dalam tatapan mereka. Juna cs yang ada disana bisa merasakan hawa dingin yang ada pada diri Juna dan Theo.


"Kenapa tuh mereka? berantem lagi?" tanya Reza melihat ke arah Juna dan Theo yang saling melemparkan tatapan sinis


"Paling juga rebutan sisir" jawab Nando


Hem, makin seru nih. Kalau aku komporin sedikit, gak papa kali ya. Damar senyum-senyum melihat Juna dan Theo, entah apa yang akan direncanakan oleh Damar.


...---***---...