Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 98. Aku sayang kamu



Pov Junai


🍂🍂🍂


Para wanita sedang sibuk memilah milah persiapan pernikahan bersama-sama, dekorasi, catering, souvenir dan barang-barang yang akan dibawa oleh Kelvin untuk Keira sebagai hantaran.


Perbincangan itu sangat menarik sampai mereka tidak sadar kalau para pria juga masih mengobrol di ruang tamu.


"Jadi gimana Kei? kamu mau temanya warna biru?" tanya Alma pada calon menantunya itu


"Iya mah, kakak ipar suka warna biru. Ya kan kakak ipar?" tanya Naina sambil tersenyum dan melirik ke arah Keira


"Iyah" jawab Keira sambil tersenyum lembut


"Oke, jadi fiks nya warna biru ya" Alma tersenyum, "Dan untuk catering mama sudah pesan sama Damar, untuk fotografer sama Nando temen kamu dan untuk dekorasi juga bunga nya itu akan di kerjakan oleh Bagas, terakhir souvenir kita pesan sama Reza" jelas Alma sambil mencatat semua nama-nama itu pada buku kecil berwarna hitam.


Setelah lulus dari SMA, Bagas dan Reza tidak melanjutkan kuliah mereka dan bergelut di bidang lain. Bagas di bidang dekorasi pelaminan, sedangkan Reza adalah pembuat souvenir pernikahan dan juga seorang pengusaha bengkel kecil-kecilan. Sedangkan Nando, dia melanjutkan kuliah ke LaSalle College Indonesia yaitu sekolah khusus fotografer profesional, dan sekarang Nando berprofesi sebagai fotografer.


Tak lama setelah itu Juna pamit pulang pada semua keluarga Naina, terakhir dia pamit pada Naina. "Kamu yakin mau ikut lomba catur? kamu kan gak bisa catur! belum lagi lombanya nanti malam, gimana bisa belajar dengan waktu secepat itu"


"Nai, kenapa kamu bilang gitu? kasih aku semangat saja! aku pasti bisa kalau demi kamu, gak ada yang gak mungkin! kenapa kamu malah mematahkan semangat ku? dasar angry cat" gerutu Juna yang kesal pada Naina


"Bukannya gitu Jun, aku cuma khawatir sama kamu. Kalau kamu gagal, papa bilang dia gak akan merestui hubungan kita"


"Apa kamu tidak percaya padaku kalau aku bisa menang lomba itu?"


"Bukannya tidak percaya, tapi aku rasa itu tidak mungkin saja kamu bisa belajar catur secepat itu. Apalagi lawannya kak Kelvin, dia kan udah masternya kalau urusan main catur" Naina tahu benar kalau kakak nya itu jago hampir dalam semua hal yang berhubungan dengan permainan otak, contohnya bermain catur. Dan dia kurang percaya kalau Juna bisa mengalahkannya.


"Kalau dia masternya, aku adalah dewa nya main catur" Juna tertawa kecil sambil mencubit pipi Naina dengan gemas


"Juna, jangan bercanda deh! taruhannya adalah aku!" Naina gemas pada Juna yang terus bercanda padanya.


"Iya aku tau taruhannya adalah kamu dan hubungan kita, makanya aku gak akan main-main. Aku akan menang, kamu percaya saja dan berikan aku semangat!" Juna memegang kedua tangan Naina dengan lembut.


Ya,meskipun aku tidak yakin kalau aku bisa menang. Tapi aku harus percaya diri dulu aku pasti menang, setelah ini aku harus berguru pada guru catur profesional. Ide Juna


"Ya aku percaya sama kamu, tapi menurut perkiraan ku kamu dan kak Kelvin itu selisih 99,9 persen. Dan kamu yang satu persennya"


"Haha.. kalau kakak ipar ku 99,9 persen maka aku adalah satu persennya kan? satu persen itu akan menang" Juna tersenyum seraya meyakinkan Naina kalau dia akan menang.


Juna sudah sangat percaya diri, padahal aku tau di dalam hatinya dia pasti sangat resah. Baiklah, aku sebagai wanita yang dia cintai.. aku harus mendukung nya. Naina mulai tersenyum lembut


"Iya, baiklah aku akan percaya. Kamu pasti menang, satu persen itu adalah kamu" ucap Naina yakin


CUP


Juna mengecup punggung tangan Naina dengan lembut, kemudian pria itu tersenyum manis pada Naina.


"Tubuh kamu masih dingin banget, kamu istirahat ya. Lebih baik kamu jangan ikut nanti malam" Juna khawatir karena bibir nya baru saja mencium tangan Naina yang terasa dingin.


"Aku gak papa Jun, nanti malam juga baikan"


"Nai..."


"Hm..?"


"Aku boleh cium kamu?" Juna menatap wanita itu dengan tatapan yang nanar.


"Jun-jun! kamu ngomong apa sih? ini di depan rumah ku" Naina celingukan kesana kemari takutnya ada yang melihat atau mendengar ucapan Juna.


Kedua tangan Juna meraih wajah Naina, memegangnya dengan lembut. Dengan hati-hati, Juna mendaratkan bibirnya pada pipi Naina.


CUP


"Aku sayang kamu Nai, aku cinta kamu.. pake banget" Juna menatap Naina dengan penuh cinta, senyuman indah tersirat di bibirnya.


"Juna.." Naina memegang pipi nya, dia tak berani menatap Juna dengan


Deg


Deg


"Awas loh, nanti kamu jatuh cinta lagi padaku" Juna tersenyum seksi, menggoda Naina dengan tingkah narsis dan slengean nya. Karena itu adalah Juna, Juna yang membuat Naina jatuh cinta sampai tak bisa berpaling darinya.


"Sudah! cepat kamu pulang sana!" seru Naina dengan pipi merah nya.


"Aku mau isi daya dulu" Juna tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya.


"Barusan kan sudah?" tanya Naina yang dimaksud nya adalah ciuman di pipi.


"Itu kan isi daya kamu, aku belum dapat dari kamu" ucap pria itu manja.


"Juna.. ini masih di depan rumahku, kalau papa ku lihat bagaimana?" tanya Naina ketakutan papa nya akan melihat.


"Makanya kamu harus cepat-cepat, supaya papa kamu gak lihat" dengan tidak tahu malu, Juna merentangkan kedua tangannya di depan Naina. Dia berharap Naina akan memeluk nya.


"Juna, kamu tuh ya. Aku kehabisan kata-kata sama kamu" Naina menggeleng-geleng lalu tersenyum pada Juna.


"Cepetan! udah ini aku harus belajar catur, kamu juga harus istirahat, kan?" Juna seperti sangat menantikan isi daya itu.


Naina melangkah ke arah Juna dan memeluk pria itu dengan lembut. Gadis itu tersenyum manis saat berada di dekapan Juna.


"Jun, kamu pasti bisa.. kamu pasti menang. Ini isi daya bonus semangat" ucap Naina lembut


"Hehe, aku suka isi daya bonus semangat ini. Aku jadi semakin semangat, Nai" Juna memeluk Naina semakin erat seakan tak mau melepaskannya.


Ah, aku tidak mau pulang. Aku mau disini saja selamanya, bersama kamu adalah surga.. Nai.


"Aku sayang kamu Jun, sayang dan cinta pake banget" ucap Naina tulus dari dalam hatinya


"Kamu bisa aja buat aku kehilangan kata-kata Nai" Juna mengcopy kata-kata Naina sebelum nya


"Kamu mengcopy kata-kata ku!" Naina melepaskan pelukannya.


"Kita kan satu hati, kamu dan aku.. makanya kata-kata kita juga sama, begitu pula perasaan kita" ucap Juna lembut


"Kamu ini sekarang jago merayu ya" Naina tersenyum malu


"Ini bukan rayuan, tapi kata hati ku"


"Lebaynya kamu!"


"Tapi kamu tetap cinta kan?"


"Ya aku cinta"


Saking cinta dan sayangnya sama kamu, aku gak bisa kasih tau kamu tentang keadaan aku Jun. Jika kamu tau tentang aku, apa nanti kamu akan marah karena aku menyembunyikan nya? aku cuma tidak mau membuat kamu sedih.


Di dalam rumah tepatnya di jendela depan, Bryan sedang gigit jari melihat anak gadisnya berpelukan mesra dengan Juna.


"Anak gadisku, aku tidak rela dia berpelukan dengan pria menyebalkan itu!" Bryan mendengus kesal melihat pemandangan anak gadisnya sedang berpelukan dengan kekasihnya.


"Sayang, jangan harap kamu bisa menganggu mereka. Ingat, bahwa kita pernah muda! dan pria menyebalkan itu adalah pria yang dicintai oleh anak kita" Alma mengingatkan suaminya agar jangan menganggu Juna dan Naina.


"Haaih... pokoknya Naina jangan menikah cepat-cepat, aku tidak rela" Bryan menatap Juna dan Naina dari balik jendela, matanya berkaca-kaca.


Hari pun sudah berganti malam, Juna tiba di tempat bermain Ken. Sebuah tempat dimana banyak orang-orang bertubuh tinggi dan kekar disana.


"Tempat macam ini? terlihat seperti kumpulan mafia" gumam Juna sambil melihat-lihat tempat itu dipenuhi orang-orang berwajah garang.


"Kamu sudah datang?" sambut Ken pada Juna sambil mengisap sebuah rokok di bibirnya, dibelakang nya ada pria-pria bertubuh besar.


"Iya om" jawab Juna dengan sopan, dia tak gemetar melihat pria bertubuh besar itu. Hanya saja dia heran, apakah dia datang kesana untuk bertanding catur atau ada tempat yang lainnya.


Mau tanding catur apa tanding gulat sih?


...---***----...