Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Jawaban untuk Leon



*****


Kelvin dan Naina terlihat bahagia melihat kebersamaan kedua orang tua mereka. Saat ditanya mereka memilih Leon atau Bryan untuk menjadi papa mereka, mereka pasti akan kebingungan. Kedua pria itu sama-sama baik kepada Mama mereka.


" Nai, kamu lihat kan? Mama lebih menyukai papa Bryan daripada om Leon "


" Iya kak, aku juga baru nyadar. Selama ini Mama tidak pernah melihat om Leon dengan tatapan seperti itu. Lalu kenapa Mama malah pacaran sama om Leon ya kalau gak suka? dunia orang dewasa emang membingungkan deh " gerutu gadis kecil itu keheranan


" Ya, aku juga gak ngerti Nai. Aku cuma mau mama bahagia " Kelvin melihat kedua orang tuanya dengan penuh harapan


" aku juga mau Mama bahagia, kak !"


" Dan seperti nya kebahagiaan Mama ada pada papa Bryan "


" Lalu bagaimana dengan om Leon? dia suka sama Mama. Kalau Mama kembali sama papa Bryan pasti dia sedih kan?" tanya Naina merasa kasihan pada Leon.


Kelvin terdiam dan tak bisa menjawab apa-apa lagi. Dibelakang mereka ada Risya yang menatap tajam ke arah si kembar. Saat Kelvin dan Naina akan kembali ke dalam lingkungan sekolah. Dengan sengaja Risya mendorong Naina hingga jatuh.


" Ahh "


" Nai, kamu tidak apa-apa?" Kelvin membantu adiknya berdiri


" Makanya kalau jalan lihat-lihat dong !" ujar Risya ketus


Mau rebut papa aku? kalian gak akan bisa. Papa cuma milik aku.


" Bukannya minta maaf kamu malah marah-marah, kamu yang nabrak adik aku !" Kelvin emosi dan mendorong Risya


" Kamu benar-benar ya !" seru Risya kesal


" Kakak, udah aku gak papa " ucap Naina tak mempermasalahkan


" Tidak bisa begitu! dia sengaja dorong kamu Nai, apa maksud nya coba?" tanya Kelvin emosi


" Itu peringatan buat kalian ! anak haram yang tidak tau asal usulnya, jangan coba-coba rebut papa ku dari ku ya !"


" Papa Bryan itu papa kami ! dan jangan pernah kamu bilang kami anak haram ya ! kamu tuh yang anak haram " Kelvin tersenyum sinis dan membalikkan perkataan Risya. Bagaimana bisa seorang anak berusia 5 tahun kata-kata nya begitu pedas?


Risya tidak tinggal diam, ia mendorong Kelvin lebih dulu.


Lalu terjadilah saling dorong antara Kelvin dan Risya, sementara Naina yang sensitif hanya diam saja dan menangis dengan hinaan Risya pada nya dan juga kakaknya.


Beruntungnya ada Bryan dan Alma segera melerai keduanya agar tidak bertengkar lagi. Alma bertanya baik-baik apa masalahnya sehingga Kelvin dan Risya bertengkar. Alma keheranan karena Kelvin tidak biasanya emosi seperti itu.


Kelvin menjawab dengan jujur apa adanya, bahwa Risya mendorong Naina dengan sengaja dan mengatakan pada mereka. Bahwa mereka adalah anak haram. Alma tercengang mendengar nya, ia merasa sakit hati meskipun itu hanya perkataan yang ia dengar dari anak kecil. Pantas saja Naina menangis, dan Kelvin emosi pada Risya.


" Risya ! benar kamu bilang begitu? kamu bilang mereka anak haram?" tanya Bryan menatap tajam Risya, seperti nya emosi Bryan tergantung dari jawaban Risya


" Papa.. aku .." Risya terlihat bingung, ia baru pertama kali melihat Bryan marah


" Apa papa pernah ngajarin kamu bicara tidak sopan dan kasar pada orang lain, Risya?"


Suara Bryan yang sinis dan ketus itu membuat Risya menangis. Alma yang merasa kasihan, mendekati Risya dan membujuk anak itu agar berhenti menangis.


Bahkan Alma menasehati Risya dengan lemah lembut, akhirnya anak itu luluh dan mau meminta maaf pada Kelvin dan Naina. Kelvin juga meminta maaf pada Risya yang sudah mendorongnya. Bryan semakin kagum saja pada kebesaran hati Alma. Setelah 6 tahun lamanya tak bertemu, Alma semakin dewasa dalam bersikap. Meskipun ia tau kalau Risya adalah anak dari Selina, orang yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Bukan berarti Alma harus membenci Risya, anaknya yang tidak bersalah.


Hari orang tua pun di mulai, Alma dan Bryan duduk bersampingan sebagai orang tua Kelvin dan Naina. Naina tampak bahagia, akhirnya ia bisa memamerkan bahwa ia punya papa yang tampan dan kaya pada teman-teman nya.


Namun, disisi lain Risya terlihat kesepian dan sedih. Ternyata Bryan papa nya, menjadi perwakilan orang tua si kembar dan bukan dirinya.


Mama tidak ada, papa juga ternyata bukan papa ku. Benar kata Tante Laura, aku bukan anak kandung papa. Tidak ada yang sayang sama aku.


" Risya, papa sama Mama ku bisa kok jadi papa sama Mama kamu juga " Naina mengulurkan tangannya pada Risya yang duduk berlutut bersandar di tembok.


" Apa kamu bilang? apa boleh?" tanya Risya dengan matanya yang berkaca-kaca


" Mama ku pasti gak keberatan. Mama ku kan baik. Kakak juga gak keberatan kan?" tanya Naina


" Iya iya " jawab Kelvin malas


Risya pun mulai tersenyum dan bergandengan tangan dengan Naina. Hari itu, Alma dan Bryan menjadi orang tua untuk si kembar dan juga Risya. Mereka melihat pertunjukan Naina, Kelvin dan Risya di hari orang tua itu di atas panggung.


" Aku tidak tau kalau Naina berbakat memainkan alat musik, aku akan memberikan nya guru musik terbaik di negeri ini untuk mengajarinya " Bryan bangga melihat anak perempuan nya bisa bermain piano.


" Atas dasar apa kamu mau memberikan nya guru musik?"


" Atas dasar aku papa nya, apa lagi?" Bryan tersenyum, ia merasa kalau Alma sedikit demi sedikit mulai membuka hati nya kembali. Cepat atau lambat Alma akan segera menerima nya.


Benar juga. Bagaimana pun juga kak Bryan adalah papa kandung Naina dan Kelvin. Aku tidak bisa mengelak kalau untuk yang satu ini.


" Baiklah, kamu papa nya "


" Dan aku akan benar-benar jadi papa mereka, kalau kamu mau menikah denganku " Bryan menatap Alma dengan serius


" Jangan bicara sembarangan !" Alma menepuk bahu Bryan dengan kesal


" Auw sakit ! kamu galak sekali "


Dalam hatinya Alma merasa berdebar, memang hati tidak bisa dibohongi. Rasa bersalah nya pada Leon semakin besar saja.


Ternyata aku masih mencintai kak Bryan. Tidak bisa begini, aku tidak boleh menyakiti hati kak Leon. Aku harus bicara dengannya secara baik-baik dan memutuskan hubungan kami. Itulah yang terbaik. Aku tidak bisa berhubungan dengan seseorang hanya karena aku ingin melupakan kak Bryan, itu sungguh egois dan tidak adil untuk kak Leon.


Setelah acaranya selesai, Bryan mengantar Alma kembali ke kantornya. Alma heran karena biasanya Bryan bersama Andre. Bryan mengatakan kalau ia tidak mau waktunya berduaan dengan Alma terganggu oleh siapapun. Dan tugas menjemput Alma hanya bisa dilakukan olehnya.


Alma terkesan dengan sikap Bryan, padahal dulu sewaktu mereka menikah ia tidak pernah bersikap begitu padanya.


" Ternyata waktu bisa merubah dirimu " Alma tersenyum tipis


" Apa?"


" Kamu bisa mengatakan hal hal yang tidak terduga, sekarang. Dulu kamu selalu mengandalkan Andre dan pak Jeffry untuk menjemput ku. Dulu kita bahkan tidak bisa saling bicara seperti ini "


" Syukurlah kalau kamu sadar aku sudah berubah. Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika bertemu denganmu lagi, untuk memperlakukan mu dengan sangat baik. "


" Kamu jangan bersikap baik padaku, bersikap baiklah pada anak-anak kita "


" Kalau aku tidak baik pada ibu mereka, bagaimana bisa mereka baik padaku? Alma, apakah benar di hatimu tidak ada aku lagi?"


Alma kaget mendengar pertanyaan Bryan, biasanya Bryan selalu tampak percaya diri di depannya. Kali ini kenapa Bryan tampak putus asa?


" Sudah sampai, turunkan aku di depan !" ujar Alma sambil melihat jalan yang ada di depannya


Pertanyaan itu sulit untuk dijawab kak Bryan.


Bryan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan kantor Alma. Alma seger keluar dari mobil itu terburu-buru. Bryan ikut keluar dari mobilnya dan menyusul Alma yang tampak gugup.


GREP


Tangan Bryan menahan tangan Alma, dan menyeretnya kembali masuk ke dalam mobil.


" Aku tidak akan biarkan kamu pergi sebelum kamu menjawab pertanyaan ku! kamu selalu saja menghindar dan mengalihkan perhatian setiap kali aku bertanya "


" Aku.. aku tidak "


" Baik, kalau tidak mau jawab. Aku punya cara lain untuk menemukan jawaban nya " Bryan tersenyum dan tangannya menyentuh pipi Alma dengan lembut.


" Apa-apa yang mau kak Bryan lakukan?" tanya Alma kebingungan


" Jika kamu tidak suka, kamu bisa menggigit ku, memukulku, aku tidak peduli. Tapi, aku menginginkan jawaban nya sekarang "


Tak peduli dimana tempatnya, Bryan memeluk dan membenamkan bibirnya pada bibir cantik milik Alma. Wanita itu terkejut, tangannya sampai terkulai lemas.


Alma tidak menolak, ada perasaan rindu yang tersirat di dalam ciuman itu. Bryan memperlakukan Alma dengan lembut. Perlahan Alma membuka mulutnya, menerima ciuman dari Bryan. Lidah mereka bertemu dan saling berpagutan, bibir mereka sudah sama-sama basah. Tanpa sadar, bulir air mata jatuh membasahi pipi Alma.


" Kamu.." Alma kebingungan


" Kamu masih mencintai ku, aku tau itu." Bryan tersenyum puas, tangannya menyeka air mata Alma dengan lembut.


" Aku tidak mencintaimu!" sangkal nya


" Gadis bodoh! kamu mencintai ku, sangat mencintai ku. Waktu memang sudah berlalu, tapi perasaan mu masih sama padaku. Dan aku juga sama, akuilah itu "


" Aku..."


" Lagi-lagi dia kabur, baiklah yang penting aku sudah tau kalau dia masih mencintai ku. Kali ini kami bisa kamu, tapi nanti kamu tidak akan bisa kabur lagi dariku. Kamu akan di sisiku selama nya " Kata Bryan penuh keyakinan


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah ciuman nya dengan Bryan tadi, Alma semakin yakin bahwa ia masih sangat mencintai Bryan. Hatinya semakin yakin juga untuk memutuskan hubungan nya dengan Leon, tapi bagaimana caranya agar Leon tidak terluka dengan penolakan nya?


Di saat kebingungan melanda hatinya, Leon menghubungi nya dan mengajak nya makan malam bersama di luar. Alma merasa makan malam itu adalah kesempatan bagus untuknya mengatakannya kebenaran, perasaan nya sendiri.


" Aku harus bisa mengatakannya semua pada kak Leon..Aku tidak bisa menyakiti nya lebih dalam lagi, aku tidak bisa membohongi hatiku lagi..Ini harus diakhiri " ucap Alma penuh tekad


Di kantor Leon.


Pria itu tampak sedang tersenyum senang, ajakannya untuk makan malam bersama langsung diterima oleh Alma.


" Malam ini, aku akan membuatmu menjadi milikku Alma. "


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sepulang dari tempat kerja, Alma langsung bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Leon. Mia keheranan melihat Alma yang terlihat resah sejak pulang bekerja tadi.


Alma pun curhat kepada sahabatnya itu dan mengatakan keresahan nya.


" Kalau kamu menerima kak Leon karena balas budi atau rasa kasihan, seharusnya sejak awal kamu jangan jadian sama dia. Sekarang udah kaya gini, susah kan jadinya?" gerutu Mia


" Iya, aku baru sadar perasaan ku sama kak Bryan ternyata tidak pernah berubah. "


" Beneran kamu tidak ada perasaan apapun sama kak Leon? walaupun dia adalah orang yang sudah menunggu kamu selama ini? yang selalu ada di samping kamu selama 6 tahun ini?" tanya Mia serius


" Iya, selain sebagai kakak aku tidak pernah menganggap nya sebagai yang lain " jawab Alma


" Alma kamu tuh ya ! ya sudah kalau itu memang yang terbaik buat kamu, malam ini semoga kamu berhasil mengatakan semuanya."


" Makasih udah dukung aku Mi "


" Aku masih tetap kesal Al, sama kamu karena sikap kamu yang PHP sama kak Leon, tapi kalau itu yang bisa bikin kamu bahagia ya apa boleh buat "


Kasihan banget kak Leon.


Alma memeluk Mia sahabatnya itu, memantapkan hatinya untuk menolak pertunangan yang ditawarkan oleh Leon sebelum nya. Lebih tepatnya memutuskan hubungan kekasih diantara mereka.


Si kembar curiga melihat ibunya berdandan sangat cantik berbeda dari biasanya dan mengatakan akan makan malam dengan Leon. Kelvin terlihat berfikir, ia seperti punya firasat kuat tentang ibunya.


" Mama, berangkat dulu ya sayang. Maaf ya mama harus ninggalin kalian sama Tante Mia "


" Tidak apa-apa kok Ma " jawab Naina santai


Aku harus kasih tau papa, kalau mama mau pacaran sama om Leon.


" Kamu tenang aja, anak-anak akan kok sama aku "


" Aku percaya kamu Mi "


Alma menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Si kembar langsung menelpon papa mereka.


" Halo? ada apa sayang menelpon papa jam segini?" tanya Bryan yang sedang rebahan di ranjangnya


" Papa kenapa santai banget? papa mau tidak jadi papa ku?" tanya Naina kesal


" Tentu saja sayang, papa kan memang papa mu "


" Seperti nya setelah malam ini berlalu, mungkin aku dan kakak harus memanggil om Leon sebagai papa ku " kata Naina


" Apa maksud kamu nak? papa mu itu cuma aku !"


" Lalu apa yang papa lakukan? malam ini mama dan om Leon pergi keluar bersama. Dan aku dengar om Leon mau melamar mama. " jelas Naina


" APA?! melamar?! tidak bisa dibiarkan! " Bryan panik dan langsung berdiri dari mode santainya


Ini salahku. Seharusnya aku menyuruh orang untuk mengawasi Alma juga dan bukan mengawasi anak-anak saja. Sialan!


Telpon pun terputus. Si kembar langsung tersenyum senang, mereka seperti nya sudah tau kalau papa mereka akan bertindak.


Bryan yang masih memakai piyama tidurnya berlari keluar rumah, Laura melihatnya kelimpungan.


" eh, ada apa Bryan? kamu mau keluar pakai baju kaya gitu?" tanya Laura, yang memegang gelas ditangannya.


" Aku mau mengejar cinta ku, kak !"


Bryan dengan cepat mengambil kunci mobilnya, ia menyetir dengan kecepatan tinggi. Menuju ke tempat Alma dan Leon akan makan malam. Berharap tidak terlambat!


Alma sudah sampai ditempat yang sudah di reservasi oleh Leon. Tempat itu terlihat seperti makan malam yang romantis. Bahkan ada orang yang memainkan alat musik biola disana.


Leon sudah menunggu nya, dengan senyuman manis. Namun, wajah Alma tampak serius dan bingung. Membuat wajah Leon yang tadinya ceria menjadi cemas.


Alunan musik romantis terdengar disana. Alma semakin tidak tega untuk menolak Leon.


🎢🎢🎢


" Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi? kamu sakit Al?" tanya Leon cemas


Alma menggeleng lemah, kedua matanya tampak bingung. Ia berada di dalam dilema yang berat. Menyakiti Leon yang sangat baik padanya, akan membuatnya sangat bersalah. Tapi jika tidak ia lakukan, maka hatinya akan makin sakit.


" Kak, aku mau ngomong sesuatu sama Kakak."


" Aku juga, tapi kamu duduk dulu ya " kata Leon lembut


" Tidak kak. Aku akan katakan sekarang. Kak, aku akan jawab pertanyaan kakak tentang pertunangan itu. " butuh keberanian besar bagi Alma untuk mengatakan nya.


Kenapa dia terdengar serius dan resah? apa dia mau menolak ku?


" Kamu tidak perlu buru-buru menjawabnya, aku masih bisa menunggu kok " kedua mata Leon mulai menatap curiga pada gadis yang ada di depannya itu. Hatinya mulai takut.


" Tidak kak. Aku tidak bisa membuat kakak menunggu lagi. Aku menolak pertunangan itu, dan aku ingin memutuskan hubungan kita !" Alma berkata dengan cepat


JLEB, penolakan yang sangat menusuk dari Alma untuk Leon. Jelas saja Leon sangat terkejut, ia tak bisa menerima penolakan itu begitu saja.


" Aku kan sudah bilang jangan buru-buru menjawabnya ! kamu bisa pikir pikir dulu " kata Leon setengah membentak, tangan nya memegang tangan Alma.


" Maafkan aku kak, ini jawaban aku. Keputusan akhir ku terhadap hubungan ini, selama ini aku hanya menganggap kakak sebagai saudara ku tidak lebih. Aku tidak bisa menyakiti kakak lebih dalam lagi .. maafkan aku kak "


Air mata rasa bersalah mengalir, dari mata Alma.


Leon tidak percaya, hatinya dihancurkan begitu mudahnya oleh tajam nya kata-kata. Bahkan kata maaf saja tak mampu mengobati luka hatinya, perasaan nya malah semakin hancur oleh kata maaf itu. Selama 6 tahun penantiannya tidak membuahkan hasil, cinta nya selama ini pada Alma hanya cinta sepihak.


Mereka berdua sama-sama menangis, yang satunya terluka karena rasa bersalah. Yang satunya lagi terluka karena patah hati.


" Kak Leon maafkan aku, maafkan aku sudah mempermainkan perasaan kakak ... hiks "


" Jadi inilah jawaban mu? setelah 6 tahun aku hanya debu bagimu?" Leon menatap Alma dengan penuh rasa kekecewaan


" Tidak kak, kakak tidak seperti itu ! kakak sangat penting bagiku" Alma berusaha menenangkan Leon yang sedih.


" Apa ini semua karena kamu masih mencintai Bryan? " tanya Leon


" Iya kak " jawab Alma jujur


" Baiklah, kamu boleh pergi sekarang " ucap Leon ketus


" Kak..." lirih Alma


" Aku tidak ingin melihatmu sekarang! " ujar Leon emosi


Tidak ku sangka, aku orang yang selalu ada untukmu akan kalah dengan orang yang kamu cintai di masa lalu. Aku pikir waktu akan membuatmu mencintai ku. Aku benar-benar bodoh.. bodoh. Leon memaki dirinya sendiri di dalam hati.


Tidak pernah sekalipun Alma melihat Leon begitu emosi sampai membuatnya menangis. Alma berjalan sambil menangis merasa bersalah, meninggalkan tempat itu. Leon duduk di kursi sendirian dan masih tampak sedih. Hatinya jelas sangat terluka dengan sikap Alma.


" Maaf kak.. maaf ...hanya dengan begini kamu tidak akan menunggu ku lagi " gumam Alma sedih


...---***---...