
Mr. K duduk dan menyaksikan konferensi pers Bryan di televisi. Ia tersenyum sinis menatap Bryan dilayar datar itu dengan penuh kebencian.
" Dia sampai menurunkan egonya, dan sikap keras kepalanya hanya demi istrinya? orang seperti apa istrinya itu? tampaknya dia sangat berharga untukmu Bryan. Membuatku semakin tertarik ingin menghancurkan nya " gumam Mr. K sambil melempari pisau pada foto Bryan dan keluarga Aditama yang terpasang di dinding nya.
Mr. K memanggil seseorang ke ruangan rahasia nya, terlihat seorang pria berpakaian serba hitam dengan tato naga di lehernya menghadap pada Mr. K.
" Ya pak, ada apa anda memanggil saya?" tanya pria tato naga itu
" Cari informasi tentang istri Bryan Aditama, setiap detailnya tanpa terlewat. "
" Baik pak, akan saya laksanakan " pria itu memberi hormat pada Mr. K
Mr. K memberikan isyarat pada pria itu untuk pergi dari ruangan nya. Lalu pria bertopeng itu menatap foto keluarga Aditama dengan tatapan tajam.
" Kenapa? kenapa kalian semua jahat padaku? jangan salahkan aku yang akan menghancurkan kalian! kalian yang memaksaku ! terutama kamu Bryan, kamu harus merasakan penderitaan sebelum mati " sekilas terlihat kesedihan di mata Mr. K.
Mr. K mengambil pisau dan merobek-robek foto Bryan dengan penuh kemarahan, tak lama kemudian ia mulai menangis dan tertawa tawa seperti orang gila.
****
Setelah menyelesaikan konferensi pers nya, Bryan berbicara dengan Nico dan Livia di belakang layar.
" Pak Bryan, tolong jangan batalkan kerjasama nya. Saya harap kita masih bekerja sama " kata Nico memohon
" Tenang saja, aku adalah orang yang menepati janji. Kita masih bekerjasama, tapi tolong lain kali jangan paksa saya melakukan sesuatu yang tidak saya inginkan. Atau semua kerjasama kita akan batal " ucap Bryan mengancam
" Ya saya mengerti pak, sekali lagi saya minta maaf karena kecerobohan saya sudah menimbulkan kegaduhan " ucap Nico sambil menunduk memohon maaf di depan Bryan " Livia, ayo kamu juga minta maaf pada pak Bryan! " ujarnya pada Livia yang sedari tadi hanya berdiri dan diam saja dengan wajah bingung bercampur resah
" I-iya pak Nico. Pak Bryan saya minta maaf sudah berlaku kurang ajar pada anda " Livia menunduk meminta maaf pada Bryan
Sialan! karena Mr.K aku harus mengalami semua ini. Rencana gagal, dan aku malah di marahi oleh Bryan. Semua orang juga memanggilku pelakor.
" Bukan padaku kamu harus meminta maaf, tapi pada istriku. " jawab Bryan dingin
" Ya pak, saya akan meminta maaf pada istri bapak " Livia mengepal tangannya menahan kesal
" Ya sudah, ikut aku dan kita temui istriku " kata Bryan
Tanpa banyak basa-basi, Bryan membawa Livia untuk meminta maaf pada Alma secara langsung. Ditemani oleh Andre dan Nico juga, agar tidak menimbulkan fitnah lagi. Mereka berempat sampai di rumah Bryan.
" Kakak, Alma dimana?" tanya Bryan pada kakak nya yang sedang menonton TV di ruang tengah
" Dia ada di kamar, aku akan panggilkan " jawab Laura
Kenapa Bryan membawa orang-orang ini kemari? Laura melihat ke arah Nico dan Livia yang berada di belakang Bryan
" Iya kak, tolong panggilkan " ucap Bryan pada kakak perempuan nya itu
Jika aku yang memanggilnya mungkin dia tidak akan mau keluar.
" Tunggu sebentar " Laura beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ke kamar Alma.
Tak berselang lama, Laura datang membawa Alma kehadapan semua orang yang dibawa suaminya itu. Alma menatap Livia dengan penuh kemarahan dan cemburu. Sementara itu Laura mengamankan kedua anak anak yang sedang bermain membawa mereka ke lantai atas rumah itu.
" Ada apa ini?" tanya Alma dengan nada suara yang ketus
Bryan menatap tajam Livia dan Nico yang sedang berdiri dengan penuh rasa tegang itu.
" Bu Alma kami kemari ingin meminta maaf pada Bu Alma tentang apa yang terjadi semalam. Sebenarnya saya yang memaksa pak Bryan untuk mampir ke club saya " ucap Nico mendahului, terlihat rasa penyesalan di mata nya.
Benar-benar sial! tidak ku sangka akan berakhir seperti ini, lain kali aku tidak boleh mengusik pak Bryan. Bisnisku bisa hancur, aku harus baik-baik padanya dan keluarga nya.
" Hm.." begitulah Alma menanggapi nya, ia sedang mendengar kan penjelasan dari kedua orang itu. Tak lama kemudian Alma bicara " Saya tidak begitu menyalahkan bapak Nico, karena suami saya juga tidak tegas menolak pak Nico. Tapi disini ada yang lebih bersalah " Alma menatap tajam ke arah Livia.
Beraninya dia menyentuh suamiku! meskipun dalam keadaan tidak sadar, tapi dia seharusnya tidak begitu. Dan dia juga memanggil manggil nama Bryan saat mabuk, pasti dia punya rasa pada Bryan.
Apa dia menyindir ku? sombong sekali istri Bryan ini? Livia sempat melirik kesal pada Alma
Merasa terancam dan kesal, Livia terpaksa menunduk di depan Alma demi kelancaran bisnisnya. Livia membatu saat Alma menatapnya dengan tatapan tajam.
" Livia, kenapa kamu diam saja? cepat minta maaf " bisik Nico pada Livia
" Bu Alma saya minta ma.. "
Belum sempat melanjutkan kata-kata nya, tamparan dari Alma sudah mendarat di pipi Livia. Livia tersentak, sontak saja gadis itu memegang pipinya yang baru saja di tampar. Bukan hanya Livia yang merasa tersentak, tapi Bryan, Andre, Nico juga tersentak dengan sikap Alma.
Alma marah?. Bryan takjub melihat istrinya berani menampar orang lain.
Ternyata bu Alma bisa marah juga? wow.. apa ini kekuatan dari cemburu nya wanita?
Andre terpana melihat Alma yang biasanya bersikap lemah lembut dan tenang dalam keadaan apapun, berubah menjadi garang dalam sekejap mata. Ia tak percaya.
" Bu Alma kenapa anda menampar saya?" tanya Livia yang tidak terima di tampar oleh Alma
" Kenapa? kamu masih tanya kenapa? berani menyentuh suami orang, kamu pantas mendapatkan nya. " Alma tersenyum tipis, tatapan tajam nya tidak lepas dari wanita yang bernama Livia itu.
" Tapi saya kan tidak sengaja, saat itu saya tidak sadarkan diri " Livia membela diri
" Mau sengaja atau tidak, tapi kamu menyentuh suami orang. Dan aku juga dengar kamu memanggil manggil nama suamiku. Dengar baik-baik, pria ini milik ku! kamu sama sekali tidak ada tempat untuk masuk ke dalam kehidupan kami !" Alma berbicara tanpa gentar dan rasa takut, ia berani melotot bahkan menunjuk wanita yang sudah mencium dan memeluk suaminya.
Livia kalah telak, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Mentalnya udah menciut dengan kata-kata Alma, sekali lagi ia meminta maaf pada Alma disertai dengan janji bahwa ia tidak akan mendekati Bryan lagi selain urusan bisnis. Begitu pula dengan Bryan, ia berjanji tidak akan dekat dengan wanita manapun selain urusan bisnis.
Permintaan maaf pun telah usai, Livia, Nico dan Andre pun pergi meninggalkan rumah Bryan. Disana lah Bryan dan Alma hanya tinggal berdua di lantai bawah rumah mereka. Alma mulai mengatur napasnya, ternyata marah bisa membuat nya tidak nyaman.
Tanganku sakit, ternyata pipi si pelakor itu keras juga ya. Apa dia memang memiliki kulit yang tebal? gumam Alma di dalam hatinya, ia melihat tangannya yang merah karena habis menampar Livia.
" Aku baru tau kamu bisa marah seperti barusan " ucap Bryan sambil tersenyum pada istrinya
" Hmph. " Alma memalingkan wajahnya, dan melangkah pergi.
Senyuman Bryan lenyap ketika melihat istrinya masih menunjukkan raut wajah yang kurang menyenangkan, tanpa senyuman, dingin , dan datar. Bryan pun menduga bahwa Alma masih marah padanya. Alma mengabaikan Bryan yang bicara padanya.
" Sayang, hey sayang " Bryan menghadang Alma yang sedang berjalan menuju ke kamarnya, dan memegang tangan istrinya.
" Apaan sih?" tanya Alma sinis
" Sayang kamu masih marah? semuanya cuma salah paham.." Bryan menatap istrinya yang sedang cemberut itu.
" Iya semuanya memang salah paham, tapi tetap saja kamu salah "
" Ya aku salah sayang, aku minta maaf. Aku tidak mengulangi nya lagi. Tidak ada lain kali "
" Apanya yang tidak akan mengulangi nya lagi?" tanya Alma sambil duduk di ranjang nya.
" Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, berbohong juga tidak akan pernah " Bryan mengangkat tangannya dan bersumpah di depan istrinya, Bryan terlihat sangat menyesal
" Kamu bersumpah seperti ini karena terpaksa? atau karena sudah sepenuhnya percaya padaku?" tanya Alma tegas
" Sama sekali tidak terpaksa, aku bersumpah karena aku percaya padamu Al" jawab Bryan yakin
" Haa.. tapi entah kenapa aku belum bisa percaya sepenuhnya dengan kata-kata mu " Alma merebahkan tubuhnya di ranjang, entah kenapa ia merasa sangat lelah.
" Lalu, aku harus gimana biar kamu percaya?" tanya Bryan bingung
" Mana aku tahu " jawab Alma cuek sambil memalingkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan Bryan.
Selama ini aku selalu memaafkan Bryan terlalu mudah, kali ini aku tidak bisa mentolerir nya lagi. Bisa bisa dia berbuat hal yang sama di masa depan. Alma memegang kepalanya yang terasa sakit
Gawat, Alma masih marah. Wajar saja sih, jika aku jadi dia aku juga akan marah. Mana ada istri yang mau suaminya disentuh oleh wanita lain?
" Kenapa? apa kamu pusing? atau kepalamu sakit?" tanya Bryan cemas melihat istrinya yang memegang kepalanya
" Kalau begitu mau aku pijat atau perlukah kita ke rumah sakit?" tanya Bryan khawatir
" Tidak usah. Penyebab pusingku ada di depan mataku !" seru Alma pada suaminya itu
" Al, sudah dong marahnya. Aku kan sudah minta maaf "
Rasanya Alma masih belum cukup menghukum Bryan. Ia tidak melihat Bryan benar-benar menyesal dengan perilaku nya yang tidak tegas dan tidak bisa menjaga dirinya dari berdekatan dengan wanita ini. Kali ini Alma berniat menghukum Bryan dengan caranya agar pria itu merasakan apa yang namanya kapok.
Tidak cukup pagi, siang dan sore hari diabaikan oleh Alma. Bryan masih diabaikan oleh Alma sampai keesokan harinya. Di depan anak-anak Alma berusaha terlihat tetap akur dengan suaminya, namun di belakang anak-anak nya ,ia kembali mengacuhkan Bryan.
Namun, itu tak membuat Alma melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri. Menyiapkan sarapan untuk keluarga, menyiapkan baju yang akan dipakai suaminya ke kantor, baju si kembar, bekal makan, dan lain lain.
" Mamah, kami berangkat dulu ya. " ucap Naina sambil mencium tangan ibunya. " Papa juga " beralih ke tangan Papa nya dan memberi salam. Hal yang sama dilakukan oleh Kelvin, sang kakak sebelum berangkat sekolah.
" Iya kalian hati-hati ya, yang fokus belajar nya " Alma tersenyum pada kedua anaknya
" Iya Ma, pa. Dah adik bayi " Naina memeluk ibunya sambil mencium perut Alma, seolah berbicara dengan adiknya. Alma tersenyum dan mengelus kepala anak perempuan nya itu.
" Iya, dadah kakak Naina " jawab Bryan sambil tersenyum pada putrinya itu
" Kakak? aku? kakak ! " Naina seperti sudah tidak sabar menantikan hari dimana dirinya akan menjadi seorang kakak, ia tampak senang mendengar kata kakak
" Iya kamu akan segera jadi Kakak, benar kan istriku? " tanya Bryan pada Alma.
Bukannya merespon Bryan, wanita itu malah mengalihkan perhatian ke arah lain. Kelvin melihat kedua orang tuannya yang masih perang dingin.
Ternyata Mama masih belum memaafkan papa sepenuhnya. Papa gimana sih? gumam Kelvin dalam hatinya
Alma dan Bryan menyuruh kedua anaknya untuk segera berangkat ke sekolah dengan pak Jeffry. Hari itu Alma tidak mengantar mereka karena ada pekerjaan di rumah.
Bryan yang sedih karena diabaikan, bukannya berangkat bekerja malah duduk di sofa dengan santai. Padahal pria itu sudah bersiap memakai setelan kerjanya. Alma yang sedang menyiram tanaman di halaman tidak bergeming saat melihat suaminya yang masih duduk di sofa.
Sesekali Alma menengok ke arah suaminya dengan tatapan penuh pertanyaan. Saat Bryan melihatnya, Alma kembali memalingkan wajahnya seolah-olah tidak melihatnya.
Kenapa dia belum berangkat dan malah duduk disana? apa dia tidak akan pergi bekerja? sudahlah, ngapain juga aku pusing memikirkan nya.
Disisi lain Bryan menatap tajam istrinya yang sedang berada di halaman, wajah pria itu cemberut tanpa senyuman sedikit pun.
Kenapa Alma belum kesini dan memarahiku? apa dia akan membiarkan ku tidak bekerja? dia marahnya ternyata diam. Ini lebih memusingkan ku, lebih baik dia marah dan meledak seperti kemarin saja. Jadi aku bisa tau apa yang dia inginkan dan apa saja yang harus aku perbaiki?
Tiba-tiba Bryan terpikirkan sesuatu yang brilian, ia mengambil ponselnya dan tersenyum senyum sendiri. Entah apa yang ia lakukan dengan ponselnya itu.
Tak lama setelah Bryan bermain dengan ponselnya, ponsel Alma berdering dan ia menerima panggilan dari Andre. Setelah menerima panggilan dari Andre, Alma langsung masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bryan dengan wajah masam.
" Kenapa kamu tidak berangkat bekerja? ini sudah siang " tanya Alma
" Hem jadi sekarang akhirnya kamu bicara padaku?" tanya Bryan senang
" Bryan aku tidak bercanda! pak Andre menelpon ku katanya kamu ada rapat dengan klien penting dari Singapura. Cepat pergi kerja sana!" ujar Alma menyuruh suaminya pergi bekerja.
" Aku tidak mau pergi " Bryan sengaja merebahkan dirinya di sofa dan bersantai, ia mengendurkan sedikit dasi yang ia pakai. Lalu menutup matanya, seperti akan tiduran.
" Hey! Bryan kamu benar-benar ya, bangun lah dan cepat sana pergi kerja " Alma memegang dan menarik tangan Bryan
" Aku tidak akan pergi sebelum melihat satu senyuman di wajahmu, dan sebelum kamu memaafkan ku " ucap Bryan keras kepala
" Bryan! " teriak Alma mulai kesal
" Alma sayang, aku akan tetap disini " kata Bryan santai
" Bryan kamu benar-benar !" Alma gemas dengan sikap suaminya itu. " KYAAKK!"
Tangan Bryan menarik tubuh Alma sehingga ia jatuh dan bersandar ke atas tubuh Bryan. Bryan memeluk gadis itu.
" Hey! apa yang kamu lakukan? lepaskan aku "
" Tidak mau "
" Bryan! kamu bisa terlambat kerja"
" Aku gak peduli " jawab Bryan sambil memeluk erat istrinya.
" Aku berat, kamu tidak mau melepaskan ku?" tanya Alma
Mereka berdua pun saling bertatapan, dengan lembut Bryan mencium bibir Alma.
MUACH
" Bry.. Bryan ka-kamu.. " Alma terlihat malu dan gugup saat suaminya mencium nya. Ia takut kalau Bi Asih yang sedang berada di dapur akan melihat mereka dalam posisi mesra seperti itu.
" Al, aku gak akan lepasin kamu "
" Kamu harus kerja, jadi lepasin aku ya?" bujuk Alma
Kenapa dia malah memelukku semakin erat?
" Sebelum kamu memaafkan ku dan memberikan mu senyuman aku gak mau lepasin kamu. Aku tidak akan fokus kalau harus bekerja dan masih ada yang mengganjal di hatiku " jelas Bryan sambil duduk dan mendudukkan Alma di pangkuannya
" Apa maaf ku itu penting?" tanya Alma
" Tentu saja! tanpa maaf dari istriku, aku tidak bisa fokus bekerja. Jadi buat apa aku pergi bekerja kalau kamu nya masih marah. " Bryan menatap istrinya dengan sedih
" Aku sudah memaafkan mu kok, jadi lepaskan aku ya " Alma memalingkan wajahnya
" Tidak, kamu masih marah " Bryan memegang dagu istrinya, membuat wajah nya mengarah ke arahnya. " Alma aku menyesal, aku minta maaf atas ketidaktegasan ku. Aku janji padamu tidak akan melakukan nya lagi. Aku akan menjauhi wanita-wanita yang mendekatiku, dan aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Semua hal akan aku katakan padamu "
Penyesalan dan kesedihan mendalam terlihat di mata Bryan, membuat Alma tidak tega untuk marah terlalu lama padanya. Alma pun mulai sedikit tersenyum dan membelai pipi suaminya.
" Pastikan tubuhmu tidak tersentuh oleh wanita lain selain diriku, kalau aku tau kamu menyentuh wanita lain. Aku tidak akan memaafkan mu lagi. Ini yang terakhir Bry, kesempatan untukmu "
DEG!
Hati Bryan diantara berdebar dan senang mendengar kata-kata istrinya yang seperti ancaman itu. Bryan pun tersenyum pada Alma dan mengatakan bahwa ia akan mengambil kesempatan itu sekali lagi.
" Kamu juga, jika ada pria lain menyentuhmu atau mendekatimu. Kamu harus menjauh darinya, tubuhmu hanya boleh tersentuh olehku. Paham?" tangan Bryan menelusuri rambut Alma yang tergerai panjang.
" Iya aku mengerti. Jadi sekarang masalah sudah selesai kan? Ayo cepat pergi bekerja. Kamu sudah terlambat Bry " Alma beranjak dari pangkuan Bryan dan mengikat rambutnya.
Lagi-lagi Bryan menarik tangan Alma, lalu ia mencium bibir istrinya dengan mesra. Tak lupa Bryan memberi ciuman juga untuk bayi yang ada di perut istrinya, mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
" Sayang, papa berangkat dulu ya. Kamu baik-baik sama Mama jangan rewel didalam sana " ucap Bryan lembut, mengarah pada perut istrinya " Kapan ya kamu besar? papa tidak sabar ingin melihat kamu dan perut Mama mu buncit " Bryan tersenyum membayangkan kalau Alma akan gendut dalam beberapa bulan lagi. Usia kandungan Alma baru saja memasuki 2 bulan.
" Sekarang masih belum kelihatan Bry, mungkin 3 atau 4 bulan lagi " jawab Alma
" Aku sangat menantikan hari itu, dimana keberadaan anak kita akan benar-benar terlihat di perutmu. Karena dulu aku tidak melihat kamu saat hamil si kembar, jadi aku tidak boleh melewatkan nya kali ini. " jelas Bryan lembut
" Iya Bry, cepat berangkat sana!" ujar Alma sambil tersenyum
" Iya iya. Kamu mau titip apa saat aku pulang kerja nanti? mau makan sesuatu?" tanya Bryan
" Hem.. aku belum memikirkan nya. " jawab Alma
" Kalau anakku mau sesuatu bilang padaku !"
" Iya, aku pasti bilang kok " jawab Alma
Bryan berpamitan pada istrinya, Alma mencium tangan suaminya seraya mendoakan keselamatan suaminya. Bryan terlihat sangat senang sudah berdamai dengannya. Dan kali ini ia memiliki kesempatan terakhir dari istrinya. Berhasilkah ia menjaga kepercayaan Alma sekali lagi dengan baik dan kokoh tanpa goyah sedikit pun? Bryan sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan berpaling atau berbelok ke arah wanita lain, karena di hatinya hanya ada sang istri saja.
...---***---...