
Sebuah kalajengking berukuran kecil terlihat keluar dari sepatu itu. Dengan marah, Juna langsung menginjak kalajengking berwarna hitam itu tanpa ampun. Risya tersentak karena hewan peliharaan nya yang bernama blackey itu mati ditangan Juna.
Kematian saja tidak cukup untuk kamu yang sudah menyakiti Naina. Juna menatap hewan yang sudah mati itu dengan marah.
Sial! blackey ku. Hati Risya hancur melihat hewan kecil itu mati di depannya.
Semua orang disana heran, bagaimana bisa hewan langka seperti kalajengking itu bisa ada di sepatu Naina? mereka kebingungan. Damar dan teman-teman Juna yang lain bisa melihat Juna yang sangat mencemaskan Naina.
Pak Joseph segera menyiapkan mobil untuk membawa Naina ke rumah sakit, Juna dengan paniknya menggendong Naina sambil menunggu mobil yang datang. Hatinya sangat takut, kalau akan terjadi sesuatu pada Naina.
Nai, please. Kamu jangan kenapa-napa, jangan menakuti ku. Juna melihat Naina yang tidak sadarkan diri di gendongan nya dengan cemas.
"Ayo Jun, bawa Naina masuk!" ujar pak Joseph yang sudah ada di dalam mobil.
"Baik pak" Juna membopong Naina masuk ke dalam mobil.
Nisha juga ikut ke rumah sakit bersama Juna untuk menemani Juna dan Naina. Sementara itu Keira pergi ke kelas Kelvin, saat itu sedang jam pelajaran kedua.
"Permisi Bu, maaf saya boleh bicara sama kak Kelvin sebentar" ucap Keira dengan mata berkaca-kaca.
"Silahkan " ucap guru perempuan yang sedang mengajar di kelas itu.
Kelvin menghampiri Keira yang berdiri di dekat pintu ruang kelas XI IPA 1 itu. Kelvin melihat Keira yang hampir menangis, pria itu pun merasa cemas.
"Ada apa Kei?" tanya Kelvin
"Vin, Naina.. naina tiba-tiba pingsan..sekarang.. Naina.."
"Apa? apa maksud kamu? Naina pingsan?!" suara Kelvin yang meninggi membuatnya terdengar oleh Theo dan beberapa siswa yang ada di kelas.
"Naina dibawa ke rumah sakit, dia digigit kalajengking beracun" jelas Keira sambil menangis
"Apa??!" teriak Kelvin kaget "Sama siapa dia ke rumah sakit? dan di rumah sakit mana?!" tanya nya panik
"Dia dibawa sama pak Joseph, Juna, dan Nisha.." jawab Keira
Kelvin langsung meminta izin pada guru piket nya untuk pulang lebih awal dan pergi ke rumah sakit. Kelvin cemas mengetahui kalau adiknya pingsan sampai masuk rumah sakit. Theo dan Keira juga berusaha meminta izin pulang lebih dulu, tapi tidak diberi izin oleh guru piket nya. Kecuali saat jam istirahat, mereka boleh pergi melihat Naina sebentar dirumah sakit.
Theo dan Keira sangat ingin melihat keadaan Naina, tapi mereka tidak bisa sebelum jam istirahat. Saat Keira akan pergi ke dalam kelas, ia melihat Risya sedang duduk bersedih di lapangan melihat bangkai kalajengking.
"Blackey, maafkan aku. Kamu harus berkorban sampai mati demi tujuanku. Nasibmu sungguh malang seperti orang itu, tapi tenang saja. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mu. Jika dia dalam keadaan kritis, lumpuh atau bahkan sampai mati, aku akan menguburkan mu dengan layak dan memberimu hadiah" ucap nya pada kalajengking yang mati itu. Risya tersenyum menyeringai.
"Risya!" Keira menepuk bahu Risya, dan membuat Risya kaget setengah mati sampai mendorong Keira.
Kenapa dia sekaget ini?
"Kamu? aku kira siapa!" seru Risya sambil memegang dadanya
"Kamu lagi ngapain disini? anak anak yang lain udah ke kelas loh" tanya Keira dengan tatapan curiga
"Aku lagi lihat kalajengking ini, dia jahat banget ya udah buat Naina celaka. Kalau sampaikan Naina kenapa-napa, aku akan langsung kirim dia ke neraka!" kata Risya sedih
"Oh gitu ya, ya udah masuk kelas yuk. Udah jam pelajaran ke dua tuh" kata Keira cuek, ia sama sekali tak tergerak dengan akting Risya.
Benar kata Kelvin, Risya ini mencurigakan. Beberapa kali Naina hampir celaka, apa ini ada hubungannya sama dia? aku harus waspada.
Risya heran melihat Keira yang biasa saja saat melihat aktingnya. Padahal jika Naina yang melihatnya menangis, Naina akan langsung iba padanya. Tapi aktingnya sama sekali tidak mempan pada Keira. Risya pun jadi semakin yakin kalau Keira curiga padanya.
Keira memunguti sepatu yang dipakai oleh Naina sebelumnya, ia melihat sebuah manik-manik berwarna pink ada di dalam sana.
"Loh? ini kan manik-manik yang sama dengan gelang miliknya?" Keira melihat ke arah Risya yang sedang berjalan menjauh dari lapangan itu.
Kelvin benar, dia benar-benar berbahaya. Aku harus mengatakan nya pada Naina dan Kelvin.
...***...
Han dan satu bawahan Ken, mengantar Kelvin ke rumah sakit tempat Naina di rawat. Kelvin berlari dengan buru-buru, ia melihat Juna dan Nisha sedang berdiri di depan salah satu ruangan ICU.
Hosh
Hosh
Hosh
"Kak Kelvin?" tanya Nisha
"Nisha, gimana keadaan Naina?" tanya Kelvin
"Belum tau kak, Naina masih diperiksa dokter. Dan dokternya belum keluar" jelas Nisha dengan wajah cemasnya.
"Pak Joseph dimana?" tanya Kelvin
"Pak Joseph lagi ngurus adminitrasi, kak" jawab Nisha
Juna juga tak kalah cemasnya dengan kedua orang itu. Tubuhnya masih gemetaran, wajahnya panik, memikirkan gadis yang sedang diperiksa oleh dokter di dalam ruangan ICU. Kelvin duduk di kursi, tepat di samping Juna. Ia sangat khawatir dengan kondisi saudara kembarnya.
"Tuan muda, kami sudah melaporkan nya pada bos Ken. Sekarang boss Ken sedang rapat, sebentar lagi beliau sampai" ucap Han melapor pada Kelvin.
"Baiklah, pak Han tolong beritahu om juga agar jangan dulu memberitahukan pada papa dan mama ku, mereka bisa cemas" ucap Kelvin dengan nada yang tenang, padahal dalam hatinya ia sangat panik.
"Ya tuan muda" jawab Han sambil mengambil ponsel di saku jaketnya. Ia segera menghubungi Ken. Memberitahunya agar Ken tidak mengatakan keadaan Naina pada kedua orang tua nya.
Nai, kamu gak boleh kenapa-napa Nai..gak boleh.. Kelvin tidak tenang, wajahnya resah gelisah. Ia sudah menunggu hampir 20 menit di luar sana.
KLAK
Seorang dokter wanita keluar dari ruang ICU itu, Juna, Kelvin dan Nisha segera memburu dokter itu dengan banyak pertanyaan.
"Kalian tenang saja, pasien sudah melewati masa kritis nya. Saya sudah memberinya penawar racun, untunglah kamu cepat membawanya kemari. Jika tidak , mungkin nyawanya tidak akan selamat atau mungkin mengalami kelumpuhan. " jelas Dokter itu sambil menepuk bahu Juna.
Kelumpuhan? tidak selamat? apa keadaan nya separah itu sampai Naina sempat kritis? dan aku tidak ada di sisi nya saat itu? kakak macam apa aku ini?. Kelvin merasa lega, ia sudah deg degan setengah mati karena tau adiknya masuk rumah sakit.
Juna dan Nisha juga merasa lega, karena Naina baik-baik saja.
"Lalu apa dia sudah siuman dok?" tanya Kelvin.
"Pasien sudah baik-baik saja, hanya saja butuh banyak istirahat karena tubuhnya yang lemas dan masih perlu dipantau. Jika saat bangun dia mengalami gejala yang aneh, maka perlu di periksa lebih lanjut. Oh ya, untuk sementara sebelah kakinya tidak bisa berjalan dulu" jelas Dokter. "Kerja bagus nak, kamu menyelamatkan pacar kamu" Dokter itu tersenyum pada Juna
"Pa-pacar?" Juna terkejut sekaligus senang dalam hatinya.
"Gak semudah itu ya jadi pacar adik gue. But, thanks Lo udah menyelamatkan Naina.. budi baik Lo gak akan pernah gue lupain" jelas Kelvin pada Juna
Asyik, apa ini nilai plus? apa akhirnya aku tidak minus lagi dimata si Kelvin?. Juna senang karena sikap Kelvin mulai baik padanya.
Kelvin membuka pintu ruangan Naina, lalu Juna dan Nisha pun mengekori Kelvin yang sama-sama ingin melihat keadaan Naina.
Naina masih tidak sadarkan diri, selang infus terpasang di jarinya. Bibirnya yang sebelumnya berwarna ungu, hampir kembali menjadi seperti semula. Wajahnya masih pucat, terlihat kaki kiri nya dibalut oleh perban.
Kelvin duduk di kursi,tepat di samping ranjang tempat adiknya beranting. Pria itu menatap adiknya dengan iba, tangannya mengelus kepala Naina. Tak hentinya ia mengucap syukur pada Allah di dalam hati nya, ia takut kehilangan adiknya lagi. Jantungnya tadi hampir berhenti berdetak, jika terjadi sesuatu pada Naina entah apa yang akan di lakukan Kelvin.
"Syukurlah, Naina gak papa" ucap Nisha lega
"Makasih ya kalian udah bawa Naina kemari, jika bukan karena kalian Naina mungkin tidak bisa selamat" jelas Kelvin pada Nisha dan Juna
"Sudah kewajiban kami sebagai teman untuk saling membantu kak, tidak usah sungkan" jawab Nisha
Kenapa aku merasa tidak berguna? di saat dia sedang membutuhkan ku, aku tidak ada disana. Nai, maafkan kakak mu ini. Kelvin memegang tangan Naina dengan lembut.
Syukurlah Nai, kamu gak kenapa-napa.. aku hampir mati jantungan lihat keadaan kamu tadi. Juna menatap Naina dengan perasaan lega di wajahnya.
Setelah yakin bahwa Naina ada yang menjaga dan kondisinya sudah stabil. Juna dan Nisha kembali ke sekolah. Pak Joseph yang baru saja kembali dari bagian resepsionis segera menemui anak muridnya yang sudah dipindahkan ke ruang rawat.
"Tidak.. jangan berterimakasih pada bapak, justru bapak merasa tidak enak. Kejadian ini terjadi saat jam pelajaran bapak, semua orang sangat panik tadi saat melihat Naina pingsan" kata pak Joseph sambil melihat ke arah Naina dengan lega
"Ini bukan salah bapak, kalau bukan karena bapak.. Naina tidak akan sampai tepat waktu ke rumah sakit dan mendapat perawatan. Terimakasih sekali lagi pak" kata Kelvin
"Tidak apa-apa Vin" jawab Pak Joseph
"Pak saya ingin mengusut pelaku yang sudah mencelakakan adik saya pak, saya mohon dukungan dari bapak" jelas Kelvin
"Pelaku apa maksud kamu? apa kamu pikir ada yang sengaja melakukan ini?"tanya Pak Joseph tak mengerti
Kelvin menunjukkan sebuah foto kalajengking yang menggigit Naina, dan ia juga menunjukkan foto sebuah manik manik berwarna pink yang di fotokan oleh Keira sebagai bukti bahwa kalajengking yang ada di sepatu Naina bukanlah kebetulan.
Pak Joseph terkejut dengan bukti dan teori yang dijelaskan oleh si genius Kelvin. Bahwa memang tidak masuk akal ada kalajengking yang berasal dari wilayah timur tengah bisa di sekolah apalagi masuk ke dalam sepatu Naina jika bukan karena seseorang yang membawa hewan itu ke sekolah?
Kelvin menjelaskan dengan detail tentang kalajengking itu pada Pak Joseph, Arabian Fat-tailed scorpion yang termasuk kalajengking ukuran sedang dan asli dari Timur Tengah, di mana banyak terdapat di Arab Saudi, Kuwait, Iraq, Iran dan Turki. Kalajengking ini memiliki ukuran panjang mencapai 10 cm dengan warna coklat tua hingga hitam legam.
Kalajengking ini memiliki sengatan yang sangat menyakitkan dan tergolong sangat agresif apabila terancam. Memiliki racun yang mematikan, bisa membuat orang yang terkena sengatannya akan mati lemas, mengalami kelumpuhan, atau mungkin meninggal.
"Ya, bapak sudah mengerti penjelasan dari kamu yang sangat detail itu."
Memang benar, anak ini genius. Pak Joseph tersenyum kagum dengan kecerdasan Kelvin.
"Jadi pak?"
"Jelas ada orang yang sengaja mencelakai adik kamu, tenang saja. Bapak akan bantu kamu menemukan pelaku nya. Bapak akan pergi ke sekolah dan mencarinya."
"Iya pak, bukannya saya memperpanjang masalah. Tapi ini bukan masalah kecil, adik saya hampir meninggal atau mengalami lumpuh jika saja dia terlambat sedikit di bawa ke rumah sakit" jelas Kelvin cemas
"Ya, bapak akan tegakan keadilan untuk adik kamu. Pemilik manik manik itu akan bapak temukan"
"Ya, tolong ya pak" Kelvin tersenyum
Pak Joseph segera kembali ke sekolah, mumpung kejadian nya masih hangat. Pak Joseph berencana mengumpulkan semua guru dan siswa untuk mencari si pelaku dan saksi yang menemukan bukti itu.
...***...
3 jam kemudian..
Naina baru sadar dan mulai membuka matanya, samar-samar ia melihat ruangan bercat putih bersih itu. Tangannya merasakan pegangan hangat dari seseorang. Naina melirik ke sampingnya, ia melihat Kelvin, Viona, Sonya dan om nya Ken ada disana.
"Kakak.. om..Tante.. Sonya?" panggil Naina dengan suara yang lemas
"Naina!!" Kelvin, Ken, Viona tersentak kaget melihat Naina sudah sadarkan diri. Mereka menghampiri Naina dengan cemas.
"Kak Naina!" seru Sonya khawatir
"Aku dimana?" tanya Naina lemas
"Kamu di rumah sakit Nai, apa ada yang sakit? aku panggil dokter ya Nai" tanya Kelvin cemas
"Biar tante aja yang panggil" kata Viona sambil berlari keluar dari ruangan itu.
Naina masih lemas, rasanya tenaganya terkuras habis tanpa sebab. "Nai, kamu gak papa sayang?" tanya Ken lembut
"Iya om, Naina cuma lemes aja" jawab Naina sambil tersenyum
"Kamu mau sesuatu, Nai?" tanya Kelvin
"Em.. aku haus kak" jawab Naina
Dengan cepat, Kelvin segera mengambilkan gelas berisi air minum. Ia membantu adiknya untuk duduk dan meminum airnya.
"Haahh.. akhirnya tenggorokan ku tidak kering lagi. Ngomong ngomong kenapa aku ada di rumah sakit? bukannya tadi aku di sekolah?" tanya Naina polos
"Kamu tidak ingat? kamu pingsan Nai" ucap Kelvin
"Oh ya, aku baru ingat tadi aku merasa ada sesuatu yang menusuk kakiku. Lalu aku tidak ingat lagi deh" kata Naina
"Kamu digigit kalajengking"
"Bagaimana bisa ada kalajengking di sepatu ku kak?" tanya Naina
"Entahlah, apa kamu tau kenapa?" tanya Kelvin yang terdengar seperti sindiran.
Risya, kalau benar kamu yang melakukan nya. Aku akan menghabisi mu. ucap Kelvin dalam hatinya
Maksud kakak apa ya? dan kenapa ekspresi kakak menyeramkan begitu?. Naina keheranan melihat kakaknya yang terlihat marah
"Udah, kamu jangan banyak pikirkan ya Nai. Kamu istirahat aja, biar om sama kakak kamu yang urus pelakunya" kata Ken yakin
"Pelaku? maksudnya?" tanya Naina bingung
Dokter memeriksa keadaan Naina, syukurlah karena Naina baik-baik saia. Racun yang ada ditubuhnya juga sudah di netralisir, meski imbasnya hanya pada sebelah kaki Naina yang lemas dan belum bisa berjalan. Dokter itu juga menyarankan agar Naina tetap dalam pemantauan selama 2 hari di rumah sakit. Jaga jaga kalau terjadi reaksi lain dari tubuh Naina karena racun itu.
Mendengar kata menginap di rumah sakit, Naina sebal dan menggerutu ingin cepat pulang saja. Ia benci rumah sakit, rumah sakit hanya mengingatkan Naina dan kejadian yang buruk saja. Ya, salah satu kejadian buruk itu adalah kematian Albry.
Drett..
Drett..
π΅π΅π΅
Ponsel Viona terus berbunyi dan Viona resah harus bagaimana menjawabnya. Viona kebingungan dengan orang yang menelpon nya itu.
"Tante ,kenapa telpon nya gak dijawab?" tanya Naina
"Ini dari Mama kamu" jawab Viona bingung
"Apa Tante kasih tau Mama kalau aku masuk rumah sakit?!" tanya Naina tercengang
"Iya.. Tante ga sengaja kasih tau Mama kamu, maaf ya" jawab Viona sambil melihat layar ponselnya.
"Ya ampun Tante" gumam Kelvin dan Naina bersamaan
Mama pasti panik deh!
Sudah bisa ditebak, bagaimana reaksi Alma dan Bryan. Setelah mendengar anak mereka masuk rumah sakit, Alma dan Bryan yang sedang liburan di Bali segera bersiap untuk pulang.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Naina? Bry! ayo kemasi barangmu jangan diam saja!" seru Alma sambil buru-buru mengemasi bajunya ke dalam koper
"Al, sayang tenang dulu ya.. kamu jangan panik" Bryan mencoba menenangkan istrinya yang terlihat panik.
"Bagaimana aku tidak panik?! Naina tiba-tiba pingsan Bry dan sampai masuk rumah sakit! itu pasti bukan pingsan biasa, Naina itu anak yang kuat! dia juga suka olahraga" Alma menangis sambil mengepak barang-barang nya ke koper
"Sayang, hei.. sayang jangan panik. Kita hubungi Kelvin dulu ya, dan tanyakan keadaan nya. Kamu harus berfikir positif dulu, bukankah Alma ku selalu berfikir positif?" Bryan memegang tangan istrinya, lalu mendudukkan Alma di ranjang kamar.
"Tapi.. mereka tidak mengangkat nya, bagaimana aku tidak cemas!" seru Alma panik
"Aku akan telpon lagi, kamu tenang dulu ya"
Dulu Alma selalu berfikir positif dan tenang dalam setiap keadaan, sekarang dia menjadi orang yang mudah panik. Aku jadi khawatir dengan nya, keputusan yang benar membawanya liburan kemari.
Bryan menghubungi Kelvin, terdengar nada sambung dari ponselnya.
...---***---...
Huhu.. hai Readers, maaf ya belum bisa crazy up buat novel iniπ₯°π₯° makasih dukungannya buat karyaku, jangan lupa komen dan like nya ya biar author tambah semangat π₯°π