Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 143. Akhirnya kita suami istri..



β€οΈβ€οΈπŸ‚πŸ‚


Deg


Deg


Juna mau ngapain ya?


Pertanyaan Juna yang belum usai itu membuat Naina berdebar-debar, menyiratkan sebuah kode. Juna tersenyum, dia membelai pipi Naina dengan lembut.


"Seperti nya gak usah mandi dulu" Juna membuka jas putih di tubuhnya yang tampak menyesakkan itu. Dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari istrinya yang sedang berdebar.


Kecupan kecupan lembut mendarat di wajahnya. Dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi, kemudian.


"Jun.. Juna.." Naina terkejut, tatkala mata suaminya menatap bibir miliknya.


Pria itu menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. Kemudian tak lama setelah itu, dia membenamkan bibir itu pada bibir Naina.


Segala nya telah sah dan halal untuk mereka berdua yang sudah menjadi sepasang suami-istri. Ciuman itu sangat dalam, berbeda dengan ciuman sebelumnya.


"Haahh...." Naina melenguh, menikmati ciuman penuh gairah itu, kedua tangannya meraih leher Juna. Seperti mengisyaratkan hal lebih dalam dari ciuman.


Juna bermain lidah dengan istrinya, menyesap, memilin, tangannya mulai bermain-main dengan dua buah gunung yang ditutupi gaun pengantin istrinya.


Manis, indah, nikmat, begitulah rasanya ketika Juna mencium bibir istrinya. Sampai dirinya melenguh dan berlama-lama di bibir cantik itu.


Pelan-pelan Naina mendorong suaminya dan otomatis ciuman itu juga terlepas. Naina langsung mengambil napas panjang..


"Haahh.. haaahh.. haahhh"


"Kamu harus bernapas Nai"


"Gimana aku bisa bernapas, bibir ku sedang sibuk" gumam nya dengan suara lembut, dia sedang sibuk berciuman.


"Bernapas pakai hidung" Juna tersenyum seksi, sebelum dia melahap kembali bibir itu.


"Akhph!!" Naina terkesiap menerima lahapnya ciuman Juna.


Dirinya sudah ikhlas, jika malam ini dia akan menunaikan kewajiban nya sebagai istri. Kini Juna sudah menjadi miliknya, dan Naina sudah menjadi milik Juna.


Pria itu menghentikan dulu ciuman nya sejenak, pelan-pelan Juna melepas kan tudung di kepala Naina. Dia melepas juga mahkota permata yang ada diatas sana.


"Kamu cantik sekali sayang" puji nya pada sang istri, tatapan mata nanar itu mengarah pada Naina.


"Juna" panggil Naina dengan suara lembut nya.


"Sayang, bukan Juna"


"Eh?"


"Kita sudah suami istri"


"Sa-sayang.." Naina menatap Juna. Hal itu dianggap Juna sebagai rayuan.


Juna menelan saliva nya, hasrat di dalam dirinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dia ingin menghabisi Naina malam itu juga. Panas ditubuhnya sudah mulai membuncah, tangannya mulai bergerak dengan hasrat membuka resleting gaun Naina.


Gadis itu terdiam, dia sudah tau suaminya mau berbuat apa. Naina tercengang, ketika melihat suaminya tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya. Entah kenapa Juna tiba-tiba saja menjadi diam.


Tidak, aku tidak boleh melakukan nya malam ini. Naina pasti lelah, aku harus menahannya. Ya, sebaiknya aku pergi mandi.


Pria itu beranjak dari ranjang nya, "Sayang, aku akan pergi mandi" pamit nya pada sang istri.


"Ke-kenapa?" Naina sedikit kecewa dengan sikap Juna yang tiba-tiba saja menghentikan suasana romantis diantara mereka.


"Maaf, malam ini aku tidak bisa melakukan nya" jawab Juna sambil melepaskan dasi yang terpasang di bajunya.


"Kenapa kamu tidak bisa? Apa karena aku tidak cantik? Atau karena kamu takut menyakitiku?" Naina ngambek dan kecewa.


"Sayang bukannya gitu, hanya saja malam ini tidak bisa. Aku lelah sayang, kamu juga pasti lelah.. jadi aku akan mandi. Malam ini kita hanya akan tidur bersama" Juna tersenyum sambil mengusap kepala Naina dengan lembut penuh kasih sayang


"Kamu takut aku lelah?" Naina sedih.


"Beneran tidak berfikir seperti itu, aku yang lelah. Dan malam ini aku..."


Naina menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, kemudian dia mengecup pipi Juna.


Cup


"Naina.." Juna memegang pipinya.


"Terimakasih Jun, kamu sangat pengertian. Aku tau kamu menahan diri demi aku.. aku benar-benar minta maaf Jun.. tapi kalau kamu mau kita melakukan nya malam ini, aku baik-baik saja. Aku memang sedikit lelah, tapi aku bisa melakukan nya!"


"Enggak sayang, enggak malam ini...aku ingin kita melakukan nya disaat keadaan kita tenang dan tidak dalam keadaan lelah. Sungguh, ini bukan karena kamu..nanti saja ya" bujuk Juna pada istrinya.


Gadis itu akhirnya mengangguk patuh. Mereka tidak jadi melakukan malam pertama itu. Juna masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya, sementara Naina sibuk menyiapkan baju tidur pertama kalinya untuk Juna yang sudah jadi suaminya.


Zrasshhh~~~


Suara air mengalir terdengar di dalam kamar mandi tempat Juna berada. Naina baru saja selesai menyiapkan baju untuk suaminya.


"Nah, baju tidur untuk Juna sudah siap! Terus aku ngapain lagi ya? Makan malam udah tersedia dari hotel.. oh ya, aku juga harus ganti baju" Naina tersenyum ceria, dia senang dengan hari pernikahan nya. Kini dia dan Juna tidak akan berjauhan lagi karena mereka sudah menikah.


Malam ini Naina tidak akan tidur sendiri lagi, walau dia agak sedikit takut. Tapi, dia sangat bahagia bisa bersatu dengan orang yang ia cintai.


"Ya Allah, aku sangat bersyukur.. masih diberikan umur sampai saat ini.. semoga aku bisa menemani Juna untuk waktu yang cukup lama" Naina berdoa agar dia bisa hidup cukup lama untuk menemani Juna.


Cekret...


Pria tampan itu keluar dari kamar mandinya dengan kondisi telanjang dada. Juna hanya memakai handuk di bagian bawahnya saja.


Sontak Naina menutup matanya karena mu, "Juna! Kenapa kamu telanjang kaya gitu?! Kenapa gak pakai handuk kimono mu?!"


"Aku lupa bawa handuk itu, jadi pakai handuk yang ada aja deh" jawab Juna, "Tapi, kenapa kamu kaya gitu? Kamu malu?" Juna tersenyum melihat istrinya menutup mata di depannya.


"Ka-kamu.. pakai baju kamu yang benar!" Naina masih menutup mata dengan tangannya.


Pria itu berjalan mendekati Naina dengan senyum jahilnya, dia sengaja menunjukkan otot-otot dada miliknya dengan cara memeluk Naina. "Juna! Kamu masih telanjang dada, gak mau pakai baju mu?!"


"Kenapa harus dipakai? Ini kan kamar ku"


"Tapi aku ada disini"


"Terus kenapa? Kamu kan istriku, gak apa-apa kan kalau kita saling melihat satu sama lain?" goda Juna pada Naina.


Tangan Naina memegang otot-otot sixpack Juna tanpa disengaja. "Juna..apa kamu rajin olahraga? Setahuku kamu jarang berolahraga?"


"Gimana? Kamu suka otot-otot dadaku ini?" Juna sengaja memamerkan keindahan otot dadanya.


"Juna jangan mesum deh" Naina membuka matanya perlahan-lahan melihat otot otot dada milik suaminya. Wajahnya langsung memerah, dia masih malu-malu.


"Mesum apanya? Kita sudah suami istri Nai"


"Kamu yang terlalu malu-malu" Juna mencubit hidung Naina dengan gemas.


"Ish! Juna!" Naina menunjukkan wajah imutnya.


Aku harus menahan diri dari wajah imut ini, kasihan Naina. Kalau aku melakukan nya malam ini, entah dia bisa bangun besok pagi atau tidak. Dokter Firlan mengatakannya kalau kondisi tubuhnya lemah dan dia tidak boleh lelah.


"Aku sudah siapkan air panas buat kamu, mandinya jangan lama-lama. Udah malam, udara semakin dingin" kata pria itu perhatian.


Naina tersenyum lebar, "Iya, kamu pakai baju tidurnya ya. Aku mau mandi dulu, gak pake lama kok"


Setelah selesai mandi, Juna membantu Naina melepas rambut palsunya. Naina menolak, karena dia malu harus menunjukkan rambut tipisnya yang masih terlihat botak.


Dengan bujukan Juna, Naina akhirnya mau melepaskan wig itu. Mereka makan malam bersama di dekat balkon kamar, kemudian mereka pergi tidur sambil berpelukan.


"Juna.."


"Sayang!" Juna ingin dipanggil sayang.


"Haha, iya baiklah.. sayang" Naina tertawa.


"Ya, apa?"


"Sayang, apa kamu sudah memikirkan tenaga kita mau punya anak berapa?" tanya Naina sambil berbalik ke arah Juna, dia ingin melihat wajah suaminya.


Ya Allah, boleh kah aku berangan-angan dulu? Walau aku tau umurku mungkin tidak panjang jika aku tidak cukup kuat untuk bertahan, tapi aku ingin hidup lama bersama Juna.


"Anak? Sebenarnya aku sudah memikirkan nya" Juna menatap wanita di dalam dekapannya itu dengan cinta.


"Benarkah? Jadi kamu mau punya berapa anak?" Naina berbinar-binar ketika membicarakan soal anak.


"Aku ingin punya 3 anak, ah tidak.. terlalu sedikit, gimana kalau 5?" Juna berfikir keras.


"Kamu serius? Tidak dua anak saja?"tanya gadis itu dengan wajah polos nya.


"Rumah terlalu sepi kalau hanya dua anak, kamu tau kan aku anak tunggal. Aku kesepian banget gak punya saudara,jadi aku sudah memiliki mimpi untuk mempunyai banyak anak" ucap Juna sambil tersenyum memikirkan mimpi indah masa depannya bersama Naina. B Harapan memiliki banyak anak.


"Semoga aku bisa mewujudkan mimpi kamu Jun, aku akan berusaha untuk memberikan 5 anak untuk kamu. Tapi, aku gak janji... itu pun kalau aku panjang umur" Naina menatap suaminya, dia merasa bersalah.


"Eh.. eh eh, kenapa kamu ngomong kaya gitu? Aku udah bilang, kamu gak boleh bicara seperti itu lagi! Aku gak suka Nai, aku akan benar-benar marah kalau kamu melantur lagi" Juna melarang Naina untuk membicarakan soal kematian atau umur, dia tidak suka Naina mengungkit hal itu, "Berfikir positif dan semangat! Aku yakin kamu akan sembuh. Kamu sendiri loh yang selalu bilang, gak ada yang gak mungkin di dunia ini kalau kita berusaha, berdoa, dan semangat. Ya kan?"


Naina jadi teringat pada jaman SMA.


#Flashback


Saat itu akan diadakan ujian kenaikan menuju ke kelas 3. Juna sedang melihat nilai hariannya yang kembali hancur karena dia sibuk dengan teman-teman nya.


"Tuh kan! Aku bilang apa, seimbangkan antara belajar dan bermain! Kamu sih kebanyakan main, jadi nilainya anjlok lagi kan?" tegur Naina pada Juna, dia menggelengkan kepalanya dengan kesal.


Juna tidak bicara saat dimarahi oleh Naina, memang salahnya karena nilai nya jelek. Dia kebanyakan bermain.


"Wah, ada Bu guru ngambek tuh" kata Reza sambil cekikikan melihat Juna dimarahi oleh Naina.


"Rasain, ditegur Mak Lampir" kata Bagas menambahkan.


PLETAK!


Sebuah buku mendarat diatas kepala Reza dan Bagas "Kalian juga belajar! Nilai kalian juga gak beda jauh dari Juna! Itulah sebabnya kalian gak naik kelas" Naina terlihat kesal kepada Juna dan ketiga temannya yang tidak naik kelas itu.


"Haha rasain, gue gak kena marah tuh" Damar merasa bangga dirinya karena dia tidak kena tegur oleh Naina.


"Diem Lo mar!" Reza, Bagas dan Juna langsung menyentak temannya itu dengan kesal.


"Oke" jawab Damar langsung memalingkan wajahnya dari ketiga temannya yang berwajah masam itu, sambil menahan tawa dan menyembunyikan senyumnya di balik buku yang sedang dia pegang.


"Oke khusus hari ini, aku yang bakal ajarin kalian! Paham!" Kata Naina dengan semangat mengajar yang membara.


Juna, Reza dan Bagas hanya patuh mendengarkan Naina. Dari mulai hari itu sampai ujian kenaikan kelas, dengan semangat Naina mengajari ketiga pria itu.


"Angry cat! Soalnya susah banget.. ini sih mustahil, gak mungkin bisa dipecahkan! Gue nyerah ah" Juna menyilangkan kedua tangannya di dada, dia menyerah pada soal matematika yang ada di depannya.


"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, kalau kita berusaha, berdoa dan semangat. Kamu pasti bisa mendapatkan nilai bagus Jun! Hwaiting!!" Naina menyemangati Juna dan tersenyum lebar.


Gila! senyuman Naina membuatku tidak bisa bilang tidak. Juna menatap Naina dengan tatapan terpesona penuh kekaguman.


"Ah ya udah, gue coba lagi"


"Nah gitu dong, semangat! Reza sama Bagas juga ya! Berfikir positif, berusaha, semangat dan berdoa. Sisanya, serahkan kepada Allah.." Naina tersenyum menyemangati semua orang.


"Ocehh Bu guyuu" jawab Reza dan Bagas patuh, mereka juga mengerjakan soal yang sama dengan Juna.


#End Flashback.


"Aku pernah ngomong gitu ya?" Naina menengadahkan kepala nya ke arah Juna dan menatapnya.


"Kamu lupa? Aku belajar semangat dan berfikir positif dari kamu Nai. Aku bisa seperti itu karena ucapan kamu saat itu, aku yang lemah dalam matematika.. kamu selalu menyemangati ku, akhirnya nilai ku jadi lumayan dan aku tidak tinggal kelas lagi"' Juna tersenyum teringat masa lalu nya bersama Naina di jaman SMA.


"Bukan lumayan lagi, tapi kamu dapat nilai yang bagus Jun.. Nilai 8 kan bagus untuk matematika" Naina tersenyum, kenangan manis diantara mereka teringat kembali olehnya. Tangan Naina melingkar di tubuh Juna. Begitu pula sebaliknya.


"Iya kan? Sampai saat ini aku gak pernah lupa kata-kata kamu Nai, aku selalu menerapkan nya di dalam pikiran dan hatiku. Karena kamu yang selalu membuat ku semangat, ketika aku berada dalam masa sulit mengurus perusahaan di usia yang sangat muda, dengan teringat kamu saja aku sudah semangat," kata Juna dengan senyuman dibibir nya.


"Gimana saat itu kamu bisa semangat? Aku kan gak ada disana sama kamu?" Naina bingung.


"Karena kamu selalu ada di dalam ingatan aku yang paling penting kamu selalu ada di hatiku" jawab Juna.


Gadis itu tersipu malu mendengar ucapan suaminya, dia sangat bahagia walau hanya dengan kata-kata itu.


"Kamu juga selalu ada di hatiku Juna" Tangan Naina meraih pipi Juna.


"Nai, kamu harus semangat berfikir. Berusaha, semangat dan berdoa...lalu serahkan hasilnya pada Allah. Kamu akan sembuh Nai, kita kan sudah janji untuk sama-sama sampai tua, "kecupan lembut mendarat di kening Naina.


"Iyah, aku akan semangat demi kamu dan semua orang yang mencintaiku"


"Nah gitu dong! Itu baru Ninaina yang aku kenal" Juna tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat, "Aku gak percaya, akhirnya kamu menjadi istriku Nai"


"Aku juga gak percaya, aku pikir ini mimpi. Tapi, pelukan kamu terasa sangat nyata"


Setelah itu Juna langsung membicarakan masalah pengobatan ke Singapura pada Naina.


"Singapura?"


"Iya sayang, disana ada rumah sakit kanker terbaik. Kita harus mencoba nya ya?"


Naina langsung beranjak duduk, wajahnya terlihat ketakutan dan bingung.


...---***---...


Hai Readers! Jangan lupa Like komen nya ya 😍😍❀️❀️☺️


Mau lanjut? Komen dulu yuk ❀️❀️❀️