
...🍂🍂🍂...
Juna berada di ruangan Naina, dia menunggu tunangan nya dengan setia. Dia berharap harapan yang sama dengan orang-orang yang berada di sekitar Naina. Bahwa gadis itu akan segera sadar, melakukan operasi tulang sumsum belakang dan sembuh seperti sedia kala.
Namun saat mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi Naina, seperti nya semua itu tidak akan mudah dijalani. Bahkan dokter saja tidak bisa memprediksi kapan Naina akan sadar, apalagi untuk melakukan operasi.
Dokter Firlan juga banyak menjelaskan bagaimana efek dari kemoterapi dan pengobatan pengobatan yang sudah dijalani Naina selama ini secara diam-diam. Hati Juna semakin sakit, karena saat Naina kesakitan tidak ada dirinya disisinya. Naina selalu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
"Kenapa kamu selalu begini Nai? kenapa kamu selalu bilang kamu baik-baik saja dan memendam semua sendirian? apa kamu gak mau aku sedih? justru aku lebih sedih dan hatiku lebih sakit karena kamu tidak berkata jujur sejak awal, karena aku tidak tahu apapun.. aku tidak menemani kamu saat kamu sakit. Kamu jahat angry cat, kamu jahat padaku.. kamu anggap aku apa?? aku ini tunangan kamu, calon suami kamu Nai.." Juna menangis, dia menggenggam tangan Naina dengan erat. Bibirnya mencium tangan itu.
Theo dan Nisha melihat Juna dari balik jendela kamar itu. Mereka merasakan kesedihan Juna, betapa sayangnya Juna pada tunangan nya itu. Melihat nya seperti itu, membuat Theo sadar bahwa dirinya memang sudah tidak boleh ikut campur terlalu jauh dalam hubungan mereka. Bahwa dia hanyalah kakak dan sahabat untuk Naina, tidak lebih.
"Kak Theo, Juna terlihat sangat sedih ya" Nisha memandang Juna menangis di depan Naina.
"Itu karena cinta nya pada Naina begitu besar. Makanya dia bisa sedih seperti itu, rasa sakit itu bisa tercipta oleh orang yang kita sayangi sendiri" Theo menghela napas
"Jadi, hati kakak juga sakit melihat Naina seperti ini? karena kakak sayang sama dia?" tanya Nisha sambil menatap Theo dengan mata yang berkaca-kaca
"Tentu saja" jawab Theo tanpa ragu
"Oh.. jadi ini jawaban kakak? apa yang kakak katakan tadi pagi itu bohong?" tanya Nisha dengan wajah yang kecewa
"Tuh kan, kamu salah paham lagi. Kamu orang nya emang kaya gini ya? mudah salah paham, gak mau dengerin orang sampai selesai bicara?"tanya Theo sambil memegang tangan Nisha, dengan tatapan membujuk.
"Memangnya kakak belum selesai bicara?" tanya Nisha dengan wajah cemberut
"Belum, makanya kamu dengarkan dulu. Nisha, ketika aku sudah memutuskan sesuatu aku pasti akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjalin hubungan dengan kamu, mencoba memberi kesempatan pada hatiku dan juga pada hubungan kita"
"Benarkah ini bukan karena terpaksa?" tanya Nisha masih meragukan Theo.
"Nisha, katanya kamu tau semua tentangku? tapi kenapa kamu bertanya seolah tidak percaya padaku?" tanya Theo kecewa
"Gak! bukannya aku gak percaya, tapi...aku takut kakak masih ada perasaan sama Naina"
"Nish, aku memang ada rasa pada Naina tapi rasa itu mungkin hanya sekedar kakak pada adiknya. Karena ada kamu disini, maka bantulah aku melupakan nya. Aku yakin bersama kamu, aku bisa" kata Theo mencoba untuk memulai hubungan baru dengan Nisha.
"Terimakasih kak Theo" jawab Nisha dengan senyum tipis di bibirnya
"Kamu puas dengan jawabanku, kan? kalau begitu.. kamu jangan mudah salah paham, biasakan mendengarkan penjelasan" jelas Theo menasehati Nisha yang selalu mengutamakan marah dan salah paham, daripada mendengarkan penjelasan.
"Iya, maafkan aku ya. Aku orangnya gampang emosi"
"Dimaafkan, tapi sebagai gantinya kita makan bersama" ucap Theo dengan santai
"Eh, tapi ini kan sudah tidak siang lagi?" tanya Nisha bingung.
"Makan siangnya terlambat, ayo kita makan keluar. Biarlah Juna berdua dengan Naina" Theo melihat ke arah pintu ruangan Naina.
Semoga kamu bisa membuat Naina bahagia Jun, semoga dengan adanya kamu disisinya bisa membuat Naina semangat untuk hidup.
"Ya udah, kita makan di restoran dekat sini ya"
"Hem.. iya, besok kamu ada penerbangan kan? jadi seharian ini aku harus melihat kamu" ucap Theo meminta pada Nisha untuk menemaninya.
Deg!
Nisha memegang dadanya, jantungnya berdebar kencang. Dia senang karena akhirnya Theo mau membuka hati untuknya. Kesabaran pahit Nisha menunggu Theo, mulai berbuah hasil yang manis.
Keira dan Kelvin pulang ke rumah, mereka pergi ke kamar yang sebelumnya sudah dihiasi sedemikian rupa oleh Naina. Itulah kamar pengantin Keira dan Kelvin. Hati Kelvin kembali terluka mengingat adiknya yang dalam keadaan koma di rumah sakit.
"Vin, kamu mau teh? atau mau susu hangat?" tanya Keira melihat suaminya yang terlihat lelah. Keira masih menggunakan sanggul dan kebaya pengantin nya.
"Sayang, aku mau mandi dan ganti baju dulu" Kelvin tersenyum pahit lalu mengelus kepala istrinya.
"Sa-sayang?" Keira terpana mendengar panggilan itu dari mulut Kelvin, di geli mendengar nya.
"Kenapa kamu kaget gitu? bukannya kita suami istri, masa mau panggil nama terus?" tanya Kelvin sambil melepas jas nya dan melonggarkan dasi yang dipakai nya.
"I-iya.."
"Panggil aku sayang" pinta Kelvin
"Ehm??"
"Aku lagi sedih loh, dan kamu juga gak mau nurutin apa mau ku?" tanya Kelvin sedikit manja pada istrinya.
Tidak enak menolak permintaan suaminya, demi menyenangkan hati Kelvin walau hanya sedikit, Keira menurut pada Kelvin dan memanggil suaminya dengan panggilan sayang.
"Sayang" ucap Keira malu-malu.
"Mulai sekarang biasakan lah memanggilku sayang dan maafkan aku Kei.. seperti nya bulan madu kita harus ditunda" Kelvin meminta maaf pada istrinya karena bulan madu mereka seperti nya harus ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.
Tentu saja Keira sama sekali tidak merasa keberatan, karena keadaan Naina juga sangat penting baginya. Naina sekarang bukan hanya sahabatnya, tapi juga keluarga, adik iparnya.
"Gak papa Vin, masa kita mau bulan madu di dalam keadaan seperti ini. Naina juga tidak tahu kapan akan sadar, bulan madu bisa kita lakukan nanti" ucap Keira pengertian
"Makasih sayang, aku mandi dulu. Terus nanti aku mau ke rumah sakit" ucap Kelvin sambil membuka kancing bajunya. Keira membantu Kelvin membukanya, seperti seorang istri sedang membantu suaminya.
"Iya Vin" jawab Keira
"Hem.." Kelvin berdehem kesal
"Sa-sayang..." Keira mengerti suaminya
"Nah gitu dong" Kelvin tersenyum
"Nanti aku ikut ke rumah sakit ya, sayang?" tanya Keira
"Enggak, kamu jaga mama disini aja ya. Aku sama papa yang akan di rumah sakit, aku takut kalau mama kenapa-napa sendirian di rumah. Mama pasti syok" jelas Kelvin pada istrinya
"Iya sayang, aku di rumah aja sama mama"
"Jangan khawatir, malam ini tante Viona sama Sonya juga menginap disini. Jadi kamu gak akan sendirian sama mama. Maafkan aku sayang, aku jadi merepotkan kamu"
"Vin, kita udah jadi keluarga dan tidak perlu berterimakasih pada keluarga. Ini sudah kewajiban ku untuk menjaga keluarga ku, kamu sudah memberiku keluarga..dan aku sangat bersyukur untuk itu" Keira tersenyum pengertian
Kelvin pergi ke kamar mandi, sementara Keira melepaskan hiasan yang ada di rambutnya dan dia membuka kebayanya, mengganti baju nya menjadi baju handuk karena dia juga bersiap untuk pergi mandi. Hari pernikahan itu harusnya menjadi hari bahagia dalam hidup mereka dan malam itu seharusnya menjadi malam pertama mereka. Namun seperti nya semua harus ditunda lebih dulu.
Sesudah berganti baju, Keira menyiapkan baju suaminya dan diletakkan lah baju itu diatas ranjang bertaburkan kelopak bunga. Keira menghela napas melihat hiasan di kamar pengantin nya.
"Nai.. cepat lah sadar Nai, semua orang sedih dan galau karena kamu" Keira berharap adik iparnya agar cepat siuman dari koma nya.
...---***---...