
Kelvin dan Naina berjalan berdampingan di dalam mall, sementara Alma ada di belakang mereka. Tak melepaskan penjagaan nya dari kedua anak nya itu. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja dan mengajak anak-anak nya bermain.
π΅πΆπΆ
Ponsel yang Alma simpan di tasnya itu berdering dan bergetar. Segera ibu dari dua anak itu mengambil ponselnya.
" Kak Leon?" gumam Alma sambil melihat siapa yang menelpon nya.
" Anak anak, tunggu dulu sebentar " ujar Alma pada kedua anaknya.
Naina dan Kelvin menoleh ke arah ibunya, mereka pun duduk di sebuah bangku. Menunggu Alma yang sedang berbicara dengan Leon.
" Ya kak? ada apa?"
" Kamu udah makan siang? apa anak-anak udah makan siang?" tanya Leon ramah seperti biasanya
" Kami belum makan siang, kami sedang berbelanja untuk kebutuhan rumah "
" Mau aku temani? " tanya Leon
" tidak usah kak, aku tidak akan lama " jawab Alma
Aneh, sampai saat ini aku tidak merasakan apa-apa saat menerima telpon dari kak Leon. Padahal dulu aku senang sekali menerima telpon dari kak Bryan.
" Baiklah, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?" tanya Leon
" Iya, sepulang dari sini aku hubungi lagi kak "
" Ya, hati-hati. Salam buat si kembar "
Alma menutup telponnya. Wajahnya terlihat bingung, ternyata hatinya tidak bisa dibohongi. Sebaik apapun sikap Leon padanya, ia masih bisa membedakan perasaan nya pada Leon dan Bryan. Sama sekali berbeda.
Dimana ya si CEO Aditama itu? seharusnya dia sudah disini. Apa aku terlalu cepat kesini? lebih baik memperlama waktu disini dulu. Kelvin terlihat merenung
" Kelvin, kamu kecil-kecil suka melamun ya. Ayo kita berbelanja "
" Oke ma, Nai ayo "
Alma dan si kembar pergi berbelanja. Sementara itu Bryan dan Andre pergi ke lantai 3 gedung itu untuk menemui client penting Bryan.
πππ
Di rumah keluarga Aditama, terlihat Ny. Delia sedang bermain dengan kedua cucu perempuan nya. Risya dan Kayla. Sementara Laura sedang terlihat resah, mondar-mandir kesana kemari.
" Laura, sini main sama Risya dan Kayla. Kenapa kamu mondar-mandir terus dari tadi?" tanya Ny. Delia
" Mah, suamiku belum pulang dari tadi malam. Aku tidak tau kemana dia "
" Apa? apa mungkin dia kembali ke sifat lamanya?" tanya Ny. Delia curiga
" Tidak mungkin ma, Jason sudah berjanji padaku. Dia tidak mungkin mengkhianati ku lagi " kata Laura yakin
" Mama hanya takut, kalau kamu anak mama akan tersakiti lagi. Sudah cukup Bryan saja yang mama buat terluka. Kamu, tidak boleh mengalami nya Laura. " kata Ny. Delia tulus
Laura tersenyum, ternyata ibunya sudah benar-benar berubah. Mata hati nya mulai terbuka.
Baru saja di bicarakan, Jason pulang ke rumah diantar olah seorang pria. Dalam keadaan setengah tidak sadarkan diri dan di papah oleh pria itu. Laura dan Ny. Delia tampak cemas melihatnya.
Jason yang terluka itu di baringkan di sofa.
" Apa yang terjadi pada suami saya pak?" tanya Laura sambil membelai pipi suaminya dengan cemas.
Pria itu menjelaskan bahwa semalaman Jason tidak sadarkan diri karena menolong nya dari kecelakaan. Dan akhirnya malah Jason yang terluka.
" Sayang kamu gak papa? " tanya Laura cemas
" Papa, papa sakit ya?" tanya Kayla cemas
" Tenang aja sayang, aku gak papa kok. Cuma luka kecil. Papa gak papa kok Kay." jawab Jason sambil tersenyum melihat istri dan anaknya
Untunglah aku sempat memikirkan ide ini untuk menutupi kecurigaan Laura. Dan dia seperti nya percaya padaku.
Berbeda dengan Laura dan Kayla yang mencemaskan keadaan Jason, tatapan Ny. Delia pada menantu laki-laki nya itu penuh kecurigaan. Apalagi saat ia melihat tanda merah di leher Jason seperti bekas ciuman.
πππ
1 jam kemudian di mall Giant.
" Sayang, kamu tuh mau beli apa sih? kita sampe keliling-keliling udah 1 jam loh?" tanya Alma pada anak laki-laki nya itu
Tidak biasanya, Kelvin mau belanja lama lama seperti ini. Dulu, biasanya dia merengek mau pulang saat ikut belanja denganku.
" Benda yang aku mau belum ketemu ma " jawab Kelvin sambil celingukan kesana kemari
Dimana sih si CEO itu? kenapa tidak kelihatan?
" Kamu mau nyari apa sih?" tanya Alma keheranan
Saat ibu dan anak laki-laki itu sedang sibuk melihat ke arah lain, Naina sangat kebelet ingin pergi ke kamar kecil. Ia pun berlari menuju ke toilet seorang diri.
Disisi lain, Bryan, Andre dan para bodyguard nya, baru turun dari liftnya. Mereka sampai di lantai bawah.
" Apa jadwal ku hari ini Andre?" tanya Bryan Alvaro Aditama, CEO Aditama Grup.
" Siang ini bapak ada pertemuan dengan Ceo Pardian Grup, sore ini bapak ada pertemuan dengan fashion desainer dari Amerika "
" kosongkan jadwalku malam ini "
" Baik presdir "
DUK
" Aduh "
Seorang anak perempuan yang berlari tiba-tiba menabrak Bryan dan terjatuh.
" Kenapa bisa ada anak kecil sendirian disini?" tanya Bryan heran melihat ada anak perempuan di depannya. Dan dia adalah Naina.
" Seperti nya aku menabrak tembok, keras sekali " keluh Naina sambil memegang keningnya.
" Kamu sembarangan bicara, aku bukan tembok! " Bryan kesal ketika anak perempuan itu mengatai nya tembok.
Kenapa anak ini terlihat tidak asing? apa aku pernah bertemu dengannya.
Bryan melihat anak perempuan yang ada di depannya itu dengan seksama. Dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.
Andre sekretaris Bryan membantu Naina untuk berdiri. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita dewasa yang tak asing bagi Bryan menggandeng tangan seorang anak laki-laki. Mereka terlihat cemas tengah mencari sesuatu.
" Mama?" Naina segera berlari menghampiri Alma dan Kelvin.
" Naina ! kamu anak nakal, kemana saja kamu? mama dan aku sudah mencari mu dari tadi " Kelvin cemas dan kesal sambil memukul pelan Naina.
Seperti nya CEO Aditama itu tidak ada disini deh. Sia-sia saja aku kemari.
GREP
" Kakak, mama !" Naina memeluk ibu dan kakak nya itu, dengan memasang senyum ceria.
" Kamu dari mana saja sayang, mama nyari kamu dari tadi " Alma memeluk anak perempuan nya itu dengan cemas.
Deg, Bryan tersentak melihat wanita yang sedang menggandeng kedua anak kecil itu.
Alma?
" Andre, apa yang aku lihat ini bukan mimpi?" tanya Bryan tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya.
" Tidak pak, saya juga melihatnya " Andre terpana melihat pemandangan yang ada di depannya. Itu benar-benar Bu Alma.
Dia benar-benar Alma? Alma-ku? kenapa dia membawa 2 anak? siapa anak-anak itu?
" Pak, kalau saya boleh berkomentar sedikit. Anak laki-laki yang sedang bersama Bu Alma, sangat mirip dengan bapak " Andre melihat ke arah Kelvin yang ada disebelah Alma.
" Kamu benar Andre " Bryan membenarkan perkataan sekretaris nya itu.
Wanita yang meninggalkan ku selama 6 tahun, yang kucari selama ini. Dia, muncul di depanku hari ini dan membawa dua orang anak.
Bryan berlari menghampiri Alma dan kedua anak itu. Hatinya berdebar-debar saat melihat wanita yang ia cintai ada di hadapan nya. Bryan memegang tangan Alma dan menatap Alma dengan penuh kerinduan.
" Almahyra !"
" Bryan?"
Alma juga tidak kalah kagetnya dengan Bryan yang melihatnya. Wanita itu tercengang melihat pria yang ada di depannya itu. Matanya membulat, ada kebencian dan cinta disana.
Mereka saling bertatapan, kedua anak itu melihat Alma dan Bryan dengan penuh kebingungan dan rasa heran.
Dia mirip banget sama kak Kelvin. Apa dia papa ku?
" Naina, kamu jangan bicara sembarangan. Mana ada di dunia ini yang setampan aku " kata Kelvin pura-pura kaget seolah baru pertama kali melihat Bryan
Ternyata dilihat dari dekat, om ini memang sangat mirip denganku. Apa dia memang papa ku dan Naina? orang yang Mama cintai?
" Seperti nya banyak yang harus kita bicarakan Alma." ucap Bryan tegas
" Saya tidak ada yang perlu dibicarakan dengan anda. Saya juga tidak kenal dengan anda " ucap Alma formal dengan nada yang sedikit sarkastik, pandangan matanya di alihkan ke arah yang lain.
Kelvin memerhatikan Bryan, ia mengakui bahwa Bryan memang sedikit mirip dengannya. Tapi, bagaimana bisa?
Wanita itu menepis tangan Bryan dengan mata yang penuh kekesalan. Kedua anak yang ada disisi mereka bingung melihatnya. Alma terlihat membenci Bryan.
Pria ini, yang sudah menodai kesetiaan dan kesucian ku. Kenapa bisa muncul di depanku? kenapa kita harus bertemu lagi? seharusnya aku tidak pernah memberikan hatiku padamu, karena pada akhirnya aku lah yang terluka.
" Anak anak ayo kita pergi !" seru Alma sambil menggandeng tangan kedua anaknya.
Alma melangkah pergi membawa kedua anaknya itu, Bryan mengejar Alma dan si kembar sampai ke parkiran. Alma
" Anda sangat tidak sopan pak Bryan !" seru Alma kesal karena Bryan mengikutinya.
" Aku punya banyak pertanyaan yang harus kamu jawab. Kamu tidak bisa melarikan diri lagi " kata Bryan sambil memegang tangan Alma dengan erat.
Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, setelah sekian lama. Aku sangat merindukanmu.
" Lepaskan aku ! apa kamu akan memaksaku lagi?" tanya Alma dengan mata yang berkaca-kaca. Bryan pun melepaskan pegangan tangannya.
" Aku tidak akan melakukan nya lagi, aku hanya ingin bicara dengan mu. Kumohon, mari kita bicara "
" Tapi aku tidak mau !" seru Alma
" Alma, kumohon.."
" Aku bilang aku tidak mau, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi kak Bryan " Alma menunduk, ia hampir menangis. Menahan air matanya agar tidak jatuh.
Si kembar melihat Alma dan Bryan dari dalam mobil.
" Kak, seperti nya mama dan om itu bertengkar. " kata
" Aku juga tau " jawab Kelvin cuek
Tidak ku sangka, mama terlihat membenci nya..Tapi, mama seringkali menangis untuknya..
" Mama kelihatannya tidak suka sama om yang mirip dengan kakak itu " gumam Naina
" Apa aku salah ya membuat mereka bertemu? " gumam Kelvin bingung
π΅πΆπΆ Ponsel Kelvin berdering, dan itu adalah telpon dari Leon. Naina langsung mengangkatnya.
" Naina ! kenapa diangkat?" tanya Kelvin berbisik
" Emangnya kenapa kak?" tanya Naina polos
" Ya udah bicara " jawab Kelvin
" Halo! Kelvin?" tanya Leon
" Ini Naina om. "
" Nai? Nai, kalian baik-baik saja kan? kalian ada dimana? om telpon mama kamu tapi tidak diangkat " Leon terdengar cemas
" Mama.. mama gak apa-apa kok. "
" Jawab aja lagi nyetir.." bisik Kelvin pada adiknya.
Kenapa Kaka nyuruh aku bohong?
" Mama lagi nyetir om " jawab Naina
" Oh gitu, ya sudah. Hati-hati ya "
Telpon itu pun terputus. Kelvin segera menjelaskan pada adiknya alasan kenapa ia harus berbohong pada Leon. Kelvin ingin tau hubungan Bryan dan ibunya lebih detail. Dengan memberikan waktu untuk mereka bicara, jika Leon tau mungkin Leon akan menghentikan nya. Kelvin ternyata cukup peka dengan perasaan Leon pada Alma.
Alma masuk ke dalam mobil, Bryan mengetuk kaca mobilnya. Memohon agar wanita itu mau bicara dengannya. Bryan tidak menyerah, ia tidak mau kehilangan Alma sekali lagi.
Tok,tok,tok.
" Alma ! Alma dengarkan aku ! kita harus bicara !" seru Bryan
" Ma, kasihan om itu. Kayanya om itu mau bicara sama mama " kata Naina menatap Bryan dengan kasihan
" Tidak sayang, mama tidak kenal dia " Alma memasukan kunci mobilnya dan bersiap menyetir.
Mama bilang tidak kenal dia. Padahal jelas-jelas ada rasa. Aku harus tau kenapa mama sama papa berpisah.
" Ma, jangan berangkat dulu. Aku mau keluar sebentar "
" Kamu mau apa Kelvin?" tanya Alma heran
" Aku akan usir om itu, mama sama Nai tenang aja. "
" Kelvin, kamu.. "
BRAK
Kelvin sudah membuka pintu mobil itu dan menutup nya kembali. Ia berjalan mendekati Bryan dan Andre.
Gaya cuek dan tenangnya itu, tidak mencerminkan bahwa Kelvin baru berusia 5 tahun. Andre bahkan sampai terpana melihat nya, Kelvin terlihat seperti Bryan versi junior.
" Nak.."
" Om, pergilah dari sini! Mama saya tidak mau bicara dengan om "
Mau dilihat dari sisi manapun juga, anak ini sangat mirip denganku? dan dia bilang Alma adalah mama nya? mungkinkah dia anakku dan Alma?
" Jadi Alma adalah Mama mu?" tanya Bryan dengan mata yang menatap penuh curiga
" Benar. Sekarang om pergilah dulu "
" Setelah tidak bertemu selama 6 tahun, aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja. "
" Apa om cinta sama Mama ku?" tanya Kelvin langsung pada inti utamanya
Anak ini sangat blak-blakan, sifatnya agak mirip dengan pak presdir. Andre tersenyum
" Aku mencintai nya "
" Tanpa persetujuan ku dan adikku, om tidak bisa mengejar mamaku. Jadi, ambil ini "
Selama ini aku dan Naina selalu ingin tau ayah kandung kami. Jika dia orang baik, aku akan menerimanya sebagai ayah kandungku. Tapi, ini harus dipastikan dulu.
Kelvin dengan wajah tenangnya, memberikan 2 rambut di dalam plastik pada Bryan, bertuliskan Naina dan Kelvin. Bryan mengambilnya dan tertegun seperti berfikir.
" Rahasiakan ini dari mama ku dan adikku, jika hasilnya benar bahwa kita memiliki ikatan darah. Aku tidak akan menghentikan om, bertemu dengan Mama ku "
" Kamu? apa maksud nya kamu ..." Bryan tergagap di depan anak kecil yang cerdik itu. Bryan tak percaya kalau Kelvin memikirkan hal yang sama dengannya.
" Bagaimana bisa anak sekecil ini..." Andre bahkan sampai tergagap dengan sikap Kelvin. Logikanya, bagaimana seorang anak usia 5 tahun bisa memikirkan hal rumit seperti ini.
" Sudahlah, jangan banyak bicara. Namaku Kelvin, dan jangan temui mama ku sampai hasil tes DNA nya keluar. Paham?" kata Kelvin dengan sedikit senyum di wajahnya.
Kelvin masuk kembali ke dalam mobilnya. Alma dan kedua anaknya pun pergi dari mall itu menaiki mobil. Bryan dan Andre tidak menghadang nya lagi. Bryan menyuruh bodyguard nya untuk mengikuti mobil yang dikendarai Alma dan kedua anaknya.
" Andre, apa aku baru saja di kalahkan oleh anak kecil?" tanya Bryan keheranan
" Seperti nya betul pak " Andre tersenyum dan tertawa kecil
Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Alma setelah 6 tahun tidak bertemu. Hatinya sangat senang, dan ingin memeluk Alma. Namun, ia tak bisa memaksanya seperti dulu lagi. Ia takut Alma akan pergi lagi darinya jika ia memaksanya.
" Jika mereka benar-benar anakku.. Maka.." gumam Bryan yang memikirkan ingin mengejar mantan istri nya kembali.
Namun Bryan langsung terdiam, saat ditampar oleh kenyataan kalau ia dan Selina masih dalam proses perceraian. Belum lagi ia mempunyai anak dengan Selina, yang bernama Risya.
Bagaimana ia bisa menjelaskan nya pada Alma tentang hal itu?
...---***---...
Hai Readers ! terimakasih banyak untuk vote, gift dan like yang kalian berikan pada karya ku ini.
Jangan lupa kalau udah baca, like dan komen nya ya π
Biar author nya makin semangat π