Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 101. Restu



...Aku tak tahu mengapakah kau membenciku...


...Apa salahku katakanlah biar ku tahu...


...Andai saja aku bisa menemani dirimu di sana...


...Pasti akan ku jalani semua karna hanya dirimu yang aku sayang.....


...Ku berjanji takkan ku ulangi bila memang ku kecewakan mu.....


...Ku berjanji untuk tetap setia bila kita memang bersama.....


...Andai saja aku bisa menemani dirimu di sana...


...Pasti akan ku jalani semua karna...


...Hanya dirimu yang aku sayang.....


...🍀🍀🍀...


Perjanjian itu benar-benar ditandantangani oleh Juna secara sah di hadapan pengacara, Bryan dan Ken. Bahwa jika di masa depan Juna berselingkuh atau menikahi wanita lain selain Naina, maka anu nya akan di potong dan dia akan kehilangan semua hartanya.


"Heh! anak konyol, apa kamu gila? menyerahkan semua yang kamu punya demi seorang wanita?" tanya Ken tak percaya Juna akan melakukan hal yang menurutnya gila itu.


"Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain Naina, om.. hanya Naina yang saya miliki. Setelah opa saya meninggal, Alm. opa saya pernah berpesan pada saya untuk selalu menjaga Naina. Alm opa saya juga pernah bilang pada Naina untuk menjaga saya. Jadi kami harus saling menjaga" jelas Juna pada Bryan dan Ken.


Juna memang sudah kehilangan semuanya, orang tua yang mencintainya. Kakek yang mengasuhnya sejak kecil, jadi dia hanya mempunyai Naina sebagai cinta dan juga dunianya. Naina adalah segalanya bagi Juna, kesayangan Juna.


Hati Naina terhenyak mendengar nya, dia pikir karena sudah bertahun-tahun lamanya maka Juna akan lupa pesan dari pak Farid. Bahwa Naina dan Juna harus saling menjaga satu sama lain.


Ternyata kamu tidak lupa Jun..aku pikir kamu sudah melupakan ku selama ini. Naina melihat Juna dari layar monitor.


Bryan dan Ken terdiam, mereka seperti nya tersentuh dengan kegigihan Juna untuk mendapatkan restu. Bryan dan Ken saling melirik, lalu melemparkan senyuman.


"Apa kamu bawa?"Bryan menadahkan tangannya di depan Juna.


"Bawa apa om?" tanya Juna


"Cincin, bodoh!" celetuk Ken pada Juna yang tidak peka


"Apa jangan-jangan kamu tidak bawa?" tanya Bryan sambil mengernyitkan dahinya


"Saya mengerti om" Juna tersenyum lebar, dia merogoh saku celananya. Disana terlihat sebuah kotak cincin berwarna merah muda, warna kesukaan Naina.


Alma, Kelvin dan Naina terkejut melihat kotak cincin berbentuk love itu. "Ternyata dia sudah mempersiapkan segalanya, hebat juga" puji Kelvin pada Juna


"Apa dia selalu membawa cincinnya kemana-mana?" Alma tersenyum, dia tak percaya bahwa Juna akan membawa cincin itu kemana-mana. Pertanda bahwa dia siap melamar Naina kapan saja.


"Aku kan sudah bilang jangan buru-buru" gumam Naina pekan


Juna meletakan kotak cincin itu di meja. "Ini om cincinnya"


"Panggil papa" ucap Bryan tiba-tiba


"Ya, om?"


"Biasanya kamu kan memanggil ku papa mertua, kenapa kamu sekarang panggilnya om?" Bryan keheranan


"A-Apa maksud nya..."


"Selamat, kakak ku sudah menerima lamaran mu untuk putrinya"


"Se-serius om?"Juna tergagap dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Naina.


"Papa! kalau tidak panggil papa, aku mau cari menantu laki-laki lain untuk Naina" ancam Bryan pada Juna


GREP


"Ack!! hey anak gila?! apa yang kamu lakukan?!" Bryan terkejut mendapatkan pelukan yang erat dari Juna secara tiba-tiba.


"Makasih papa! makasih papa mertua, aku sayang papa mertua" saking bahagianya hati Juna seolah memiliki seisi dunia, Juna memeluk calon papa mertua nya itu dengan erat bahkan mencium pipinya.


"Kalau kamu melakukan ini lagi, aku tidak jadi memberikan restu!"seru Bryan yang kesal dengan tingkah Juna padanya.


"Tidak papa! ampun" Juna menciut


Dengan cepat Juna langsung melepaskan pelukannya dan menghindar. Juna memberikan hormat pada papa dan om nya Naina itu.


"Kamu harus tepati janjimu. Kalau kamu membuat anakku menangis, aku sendiri yang akan membunuh kamu" Bryan mengancam


"Dan aku yang akan memutilasi kamu, akan ku pastikan kamu jatuh pada neraka yang lebih buruk dari kematian kalau kamu menyakiti keponakan ku tersayang" Ancam Ken pada Juna dengan gaya tegasnya


"Saya tidak akan biarkan om dan papa mertua membunuh saya, saya akan bahagiakan Naina. Terimakasih om, papa mertua.. terimakasih sudah mempercayakan Naina pada saya"


"Walupun kamu bodoh, pecililan dan slengean, kamu pantas mendampingi Naina. Dan kamu mencintai nya, itu sudah cukup untuk kami para orang tua" Bryan tersenyum tipis


Kata-kata depannya pedas sekali, tapi aku suka bagian akhirnya. Abaikan saja kata-kata yang mengatakan kalau aku bodoh, slengean dan semacamnya. Yang penting aku sudah dapat restu, tinggal menikah.


Betapa bahagianya hati Juna mendapatkan restu dari keluarga Naina. Saat itu juga Naina, Alma dan Kelvin langsung menampakkan diri di ruangan itu. Naina tersenyum lembut menatap ke arah Juna, penuh rasa haru.


"Keren Lo Jun, kita udah dengar semua nya" Kelvin menepuk bahu Juna memberikan lampu hijau sepenuh pada Juna.


"Kalian dengar semuanya?" tanya Juna


Kelvin tersenyum lalu menunjukkan CCTV tersembunyi di ruangan itu. Juna pun akhirnya paham apa maksud Kelvin. Jadi mereka semua mendengar dan melihat apa yang di lakukan Juna di dalam sana.


Licik juga papa mertua dan om Ken. Mereka benar-benar mengujiku? tapi untunglah aku tidak tergoda.


"Ayo, sekarang tinggal kamu pasang cincin itu pada anak saya" titah Bryan pada Juna


"Sayang, kenapa buru-buru banget? santai aja dong" Alma menepuk tangan suaminya.


Aku memang ingin melamar Naina, aku sudah merancang lamaran yang indah untuknya. Tapi kenapa harus disini? di tempat seperti ini? tidak adakah tempat yang lebih bagus daripada ini?


Juna sudah merancang lamaran yang indah ala drama Korea yang selalu di tonton Naina. Lalu kenapa dia harus melamar Naina di ruangan penuh anggota mafia? lamaran macam apa ini? bahkan tidak ada bunga atau suasana romantis.


Tempat tidak masalah, yang penting kan niatnya. Baiklah, aku harus melakukan nya sekarang juga.


BRUGH!


Juna menjatuhkan dirinya di depan Naina, kini pria itu sudah duduk berlutut. Dan acara yang sudah dinantikan pun tiba.


"Nai.."


"Ya Jun?" jawab Naina sambil melihat ke arah Juna.


"Aku sudah dapat izin dari keluarga kamu, jadi ini cincinnya" Juna membuka kotak cincin itu dengan tangan yang gemetar. Tiba-tiba saja Juna yang percaya diri itu jadi grogi di depan Naina dan semua keluarga yang ada disana.


"PFut.. masa ada yang melamar gitu" Kelvin dan Ken menertawakan Juna.


"A-aku.."


"Bukannya kamu harus mengucapkan cinta dulu terus memakaikan cincin itu padaku? begitu saja tidak bisa, lalu aku akan menikah dengan orang lain saja" Naina ngambek dan melangkah pergi


Pria itu melawan rasa grogi nya lalu memegang tangan Naina, menahannya agar jangan pergi dari sana.


"Angry cat... aku sayang sama kamu, kau cinta sama kamu.. sejak pertemuan pertama kita aku sudah jatuh hati padamu, kamu ingat kan saat itu kamu jatuh diatas tubuhku? kamu bilang kalau kamu mendengar jantungku berdetak dengan kencang. Taukah kamu kenapa aku begitu? itu karena kamu..aku berdebar karena kamu. Setiap saat aku berdebar karena kamu, wanita pemarah yang berbeda dari wanita lainnya. Kamu... satu satunya wanita yang memotivasi ku untuk menjadi lebih baik. Kamu..aku hanya memiliki mu.. aku mencintaimu. Ninaina.. maukah kamu menikah dengan denganku? seumur hidup bersamaku, menemani hari-hari ku, aku ingin di setiap pagi ku, aku bisa melihat senyuman kamu. Aku ingin menikah denganmu"


Naina menangis terharu dengan sikap dan perkataan Juna. Sahabat jadi cinta itu apakah akan terwujud?


"Jun, aku gak bisa" jawab Naina singkat


Juna terperangah dan langsung berdiri tegap dengan wajah panik.


"Apa maksudnya gak bisa?!! apa kamu menolak ku? kenapa?!"


"Juna, maksud ku adalah.. aku gak bisa nolak kamu, aku cinta kamu" Naina tersenyum lembut, tadinya dia ingin menerima Juna saat sudah sembuh tapi lamaran terjadi begitu cepat.


Dengan wajah bahagia, Juna memakaikan cincin berlian yang bertuliskan nama Junai di dalamnya. Keduanya sama-sama tersenyum lalu berpelukan. Keluarga Naina yang ada disana juga bertepuk tangan untuk kebahagiaan mereka, diikuti oleh para anggota mafia yang mengabadikan momen itu.


...---***---...