Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 116. Semangat Naina



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Theo, Juna dan Nisha yang sempat menohok itu langsung tertawa setelahnya. Mereka menertawakan Naina yang meminta banyak makanan pada Juna.


"Nai, aku tau kamu lapar. Tapi kamu gak bisa makan itu" ucap Juna memberi pengertian


"Tapi aku mau.. setidaknya bawakan salah satu nya, mie goreng, Boba, atau kwetiau goreng juga boleh" Naina menatap Juna dengan tatapan mata berkaca-kaca. Juna tidak tega melihat Naina yang ingin makan makanan yang baru saja dia sebutkan itu.


"Kamu tau kan kamu sakit? kamu gak boleh makan makanan yang seperti itu. Kamu harus makan sayur dan buah, tidak boleh mengandung gula dan apalagi garam. Penyakit kamu ini sensitif dan harus hati-hati terhadap makanan" jelas Theo pada Naina dengan tegas, dia menyarankan sebagai dokter


"Yahh..." Naina menghela napas, dia sungguh tidak suka sayuran dan buah. Malahan dua jenis makanan itu adalah makanan yang paling dia benci. Dan sekarang dia harus memakannya.


"Benar tuh apa kata Theo, kalau kamu sudah sembuh. Aku janji akan membelikan apapun yang kamu mau, ya Nai?" tanya Juna lembut


"Ya udah" jawab Naina sambil berbaring dengan wajah sedihnya. Dia sadar bahwa dia sakit dan sekarang dia harus patuh dengan saran dokter. Memang tubuhnya juga masih lemah.


"Jangan marah dong angry cat, nanti aku bawakan sayuran dan buah untuk kamu" ucap Juna membujuk


Juna pun pulang ke rumahnya lebih dulu untuk mandi dan melihat pekerjaan nya. Dia menitipkan Naina pada Nisha dan Theo. Theo pamit bekerja karena sip sore nya sudah di mulai.


"Nai, Nis, aku tinggal dulu ya. Jadwal jaga ku sudah mulai"


"Iya kak Theo, makasih ya" ucap Naina sambil tersenyum. Nisha juga tersenyum manis pada Theo.


"Nis, jangan lupa nanti malam" ucap Theo mengingatkan, dia menatap Nisha dengan tatapan berbeda.


"Iya kak, oke" jawab Nisha sambil tersenyum


Hem, seperti nya hubungan mereka berjalan baik. batin Naina senang melihat hubungan baik kedua sahabat nya.


CEKRET


Theo menutup kembali pintu ruangan itu dan sosoknya tidak terlihat lagi. Dengan tidak sabar Nisha menceritakan pada Naina tentang hubungan nya dan Theo yang sudah maju ke dalam hubungan pacaran meski belum ke arah yang serius.


"Alhamdulillah, apa aku bilang? tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha. Aku senang kalian sudah bersama dan kamu bahagia" kata Naina tulus


"Iya Nai kamu benar, tapi ini semua juga berkat kamu. Makasih Nai" Nisha memegang tangan Naina dengan lembut.


"Kenapa berkat aku? Lalu kenapa berterimakasih padaku?" tanya Naina polos


"Kalau kamu gak nolak kak Theo, aku gak mungkin bisa mendapatkan hati kak Theo dan berhubungan dengan nya"


"Nisha, kamu ngawur deh! kenapa jadi karena aku? apa kamu masih menganggap kak Theo masih suka sama aku dan hanya menganggap kamu pelampiasan?" tanya Naina kesal


"Iyah, aku masih menganggap begitu" jawab Nisha blak blakan


"Nisha, kamu gak lihat tatapan matanya padaku dan tatapan mata kak Theo sama kamu itu beda" ucap Naina menjelaskan


"Apa bedanya?"


"Dia cuma menganggap ku sekarang sebagai saudara dan tatapan matanya sama kamu adalah cinta yang mulai tumbuh. Aku harap kamu tetap percaya pada kak Theo dan perasaannya" Naina tersenyum dan meyakinkan Nisha tentang perasaan Theo padanya.


Nisha memutuskan untuk percaya bahwa dia bukanlah pelampiasan hati Theo dari Naina.


Malam pun tiba, kini Alma dan Kelvin yang menjaga Naina di ruangan nya. Alma berusaha membujuk anaknya untuk makan sayur dan buah.


"Ayo sayang, makan ya sayur nya. Dikit lagi aja sayang.." Alma menyodorkan sayuran di sendok untuk Naina. Sayuran kukus, brokoli, wortel dan tomat.


"Gak enak ma, gak mau..pahit.. gak ada rasanya" Naina menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak tahan lagi memakan sayuran yang dia benci dan terasa pahit di lidahnya.


"Memang gak pakai garam kok, makanya gak ada rasanya" kata Kelvin pada adiknya.


Naina pasti benci banget harus makan makanan yang dia tidak suka.Tapi mau gimana lagi.


"Pantesan gak enak banget...ma, aku udah makannya. Aku mau tidur aja, aku ngantuk" Naina menolak memakan sayuran itu lagi.


"Sayang, ayo dong! kamu bahkan belum makan seperempat nya" bujuk Alma pada putrinya


"Nai, makan dulu ya. Kamu mau mati kelaparan? kamu harus makan biar keadaan kamu bisa stabil, dan cepat melakukan operasi. Kamu lupa apa kata dokter Firlan? aku tau kamu gak suka, tapi kamu harus paksain" Kelvin mengambil sendok dan mangkuk berisi sayur itu dari tangan Alma. Dia membujuk adiknya untuk makan sayuran


"Iya deh, aku makan. Tapi udah ini aku gak mau makan buahnya banyak-banyak, aku gak kuat" pinta Naina pada kakaknya


"Ya, tapi kamu makan dulu ini ya. Yuk, aku suapin" ucap Kelvin perhatian pada adiknya. Alma senang melihat kedua anaknya akur dan saling sayang satu sama lain.


"Aku sendiri aja kak" ucap Naina tidak mau disuapi Kelvin.


"Udah sama aku aja Nai, cepetan!" seru Kelvin sambil menyodorkan sendok berisi sayur itu pada Naina.


Pelan-pelan Naina mengunyah sayuran itu, dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka nya. Sesekali Naina mual-mual memuntahkan kembali makanannya, dia tidak mengeluh walau sebenarnya tubuhnya itu merasa sakit. Kelvin juga tidak menyerah dan terus membujuk Naina untuk makan makanannya sedikit demi sedikit sampai habis.


Sebenarnya hati aku sakit Nai, melihat keadaan kami seperti ini. Kamu pasti sakit, tapi kamu gak ngeluh sama sekali. Kelvin menatap matanya dengan berkaca-kaca. Dia melihat tubuh adiknya yang tampak tidak sehat, kurus, wajah pucat dan kulit yang kering.


Sakit hati Kelvin juga dirasakan oleh Alma dan Bryan. Hati orang tua mana yang tidak terluka melihat anaknya sakit parah, penyakit itu juga merusak tubuh Naina. Bryan dan Alma tidak tega, ada rasa di hati ingin menggantikan rasa sakit Naina.


Namun melihat senyuman dan semangat Naina. Bryan dan Alma menyembuhkan luka hati mereka untuk menyemangati anak mereka.


Setelah Naina sadar dari koma nya, 3 hari kemudian dia kembali menjalani pengobatan kemoterapi nya yang belum usai sebelum dia menjalani operasi sumsum tulang belakang.


Dan setiap akan menjalani kemoterapi dia merasa takut, walau takut itu tidak terucap di bibirnya.


"Hari ini jadwal kemoterapi kamu, semangat ya" ucap dokter Firlan sambil mengelus kepala Naina dan tersenyum.


Juna cemburu dan menyingkirkan tangan dokter Firlan dari tubuh Naina. Ditambah lagi tatapan Juna sangat tajam padanya.


"Gak usah pegang-pegang juga, dok!" kata Juna sinis pada dokter yang merawat tunangan nya itu.


Dokter Firlan sendiri seperti menikmati pria yang cemburu itu. Dia merasa lucu dengan sikap Juna.


"Juna, kamu apa-apaan sih?" tanya Naina heran


"Ngasih semangat sih boleh tapi jangan pegang-pegang juga, jangan modus!" Juna mendelik sinis pada dokter itu


"Oke" jawab Dokter Firlan patuh, kemudian dia memakai stetoskop nya, tangannya menyentuh tangan Naina.


"Eh? dokter mau ngapain, saya baru bilang kan jangan pegang-pegang Naina!" Juna menahan tangan dokter Firlan yang akan menyentuh Naina untuk memeriksa kondisi nya.


"Saya kan dokter nya Naina, jadi saya harus menyentuh Naina untuk memeriksanya apa tidak boleh?"


Dokter Firlan yang sudah menganggap Naina seperti adiknya sendiri, dia memanggil Naina dengan namanya.


"Kalau tidak boleh menyentuh Naina, bagaimana saya akan memeriksa nya?" tanya dokter Firlan bingung


"Juna.. kamu jangan marah dong. Kak Firlan kan cuma mau meriksa aku aja" kata Naina


"Kak Firlan? kamu panggil dia kak Firlan?" Juna cemburu.


"Juna.. jangan mulai deh" Naina cemberut.


"Huh! terserah kamu aja, kalau kamu memang mau disentuh sentuh sama dia ya udah" Juna ngambek


Dasar, mereka kekanakan banget. batin Dokter Firlan sambil tersenyum menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua orang itu.


Naina mencium pipi Juna dengan lembut.


CUP


Dokter Firlan terpana melihatnya, dia mesem mesem sendiri.


"Jangan marah ya, Junjun" ucap Naina lembut. Juna memegang pipinya, dia terdiam mendapatkan ciuman dari tunangannya.


"Ehem! hormati orang jomblo di sini dong" dokter Firlan iri dengan kemesraan pasangan itu.


Malunya, aku lupa ada kak Firlan disini. Naina malu karena dia melupakan Firlan yang ada disana dan mencium Juna.


"Ka-kamu boleh diperiksa, tapi jangan lama-lama" Juna gelagapan, dia salah tingkah.


"Jadi saya sudah boleh memeriksa Naina kan?" tanya dokter Firlan pada Juna


"I-iya" jawab Juna setuju


Dokter Firlan tersenyum, dia memeriksa Naina dengan hati-hati dan lembut. Naina mengingatkan Naina pada adik perempuan nya yang meninggal karena kanker yang sama, dia ingat semangat adiknya saat masih hidup berjuang melawan kanker. Dan Naina juga semangat melawan penyakitnya, alasan Firlan menjadi dokter spesialis kanker adalah karena adiknya yang sudah tiada itu.


Di dalam sebuah ruangan tertutup, Firlan melakukan pengobatan kemoterapi ditemani suster. Semua keluarga hanya diperbolehkan melihat Naina dari kaca jendela.


Firlan menyuntikkan obat kemoterapi pada Naina. Gadis itu menahan rasa sakit nya, dia sampai menggigit bibirnya hingga berdarah. Semua keluarga Naina sedih dan ngeri melihat apa yang terjadi dengan Naina di ruangan itu.


Mereka tidak tahan ingin menemani Naina di dalam sana.


"Nai.. kamu pasti bisa. Jangan gigit bibirmu, gigit saja ini. Kalau kamu mau menjerit, menjerit saja tidak apa-apa" kata Firlan menyemangati Naina.


"A-aku gak apa-apa.. kak Firlan..ughh" jawab Naina sambil menahan rasa sakit ditubuhnya karena obat yang disuntikkan itu. Wajahnya banjir oleh keringat dingin. Jantung Naina berdebar kencang, bagian dalam tubuhnya merasakan sakit yang hebat.


Tahan Nai, nanti mereka yang ada disana akan cemas. Naina memegang sudut ranjang nya.


"Gak papa Nai, bilang saja kalau kalau sakit" Firlan tidak tega melihat kondisi Naina seperti itu, dia jadi teringat adiknya dulu.


"A-aku...ughh" rintih nya pelan. Naina menahan suara nya.


Ya Allah.. ini sakit sekali.. sakit..


Di luar ruangan itu, Alma menangis tidak kuasa melihat Naina kesakitan. Dia tau Naina tidak mengatakan apa-apa karena dia selalu menahan sakitnya.


"Aku gak kuat Bry, aku gak kuat..biar aku yang sakit, biar aku saja yang mati.."Alma menangis dan duduk di kursi.


"Al, sabar ya.. kamu harus kuat demi Naina" Laura berusaha menghibur Alma yang galau.


"Hiks.. hiks.. aku gak bisa kak.." Alma memeluk Laura, dia menumpahkan semua air matanya pada kakak iparnya itu. Kelvin, Keira dan Kayla juga sedih melihat Naina.


"Lihat, Naina berusaha untuk kuat demi kita semua. Walau dia sakit dia gak bilang apa-apa kamu juga harus memberikan semangat buat Naina, Al.." kata Laura sambil memeluk Alma seraya memenangkan nya


"Pasti Naina kesakitan banget...aku jadi inget nenek, kak Kelvin" Kayla tidak bisa menahan air matanya melihat sepupu nya di dalam sana.


"Iya, dia pasti kesakitan" jawab Kelvin dengan bibir yang gemetar.


Aku tidak bisa diam disini terus, aku harus menemani Naina di saat saat seperti ini. Juna menatap Naina dari balik jendela dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian pria itu berlari menerobos masuk masuk ke dalam ruangan isolasi Naina. Semua orang kaget melihat nya.


"Jun! mau kemana lo?!" tanya Kelvin pada Juna yang sudah masuk ke dalam ruangan itu.


"Anak gila itu benar benar nekad, tapi aku salut" gumam Ken sambil melihat Juna. Viona ada disamping Ken, dia juga sedih dengan keadaan Naina.


Suster menghalangi Juna untuk masuk ke dalam, tapi Juna tak menggubris semua larangan itu dan tetap maju ke arah Naina. Dia menghampiri Naina, menunjukkan senyuman semangat.


"Jun...Jun.." ucap Naina terbata-bata


"Aku ada disini Nai, kamu akan baik-baik saja" Juna memegang tangan Naina sambil tersenyum, dia menunjukkan wajah tegar dan tabah.


"Juna.." lirih Naina


"Kamu memang tidak bisa di hentikan" Firlan menggeleng-geleng dengan kelakuan Juna, dia tak habis pikir.


Juna tidak mempedulikan omongan Firlan karena dia hanya fokus pada Naina, "Kalau kamu sakit, kamu pegang aja tanganku..atau kamu boleh gigit tubuhku"


Anak ini? apa dia mengabaikan ku?. Firlan heran dengan sikap Juna itu


"Ma..na bisa aku.. menggigit kamu.." Naina bicara dengan napas yang terengah-engah.


"Gak apa-apa, gigit saja Nai" Juna tersenyum lembut, dia terlihat sayang sekali pada Naina. Naina tersenyum, kedatangan Juna disisinya membuat Naina semakin semangat.


Tidak apa Nai, kamu mau menggigit tanganku atau bagian tubuh ku yang lain. Karena rasa sakit ini mungkin gak seberapa dengan rasa sakit yang kamu rasakan Nai, karena aku gak bisa menggantikan rasa sakit itu. Juna tak tega melihat Naina terluka karena menggigit bibir nya sendiri, dia lebih rela dirinya yang terluka.


"Arghh..." Naina gemas, dia menahan rasa sakitnya. Tak sengaja dia menggigit tangan Juna, dan Juna dengan sengaja membiarkan tangannya digigit oleh Naina.


Auww! pekiknya dalam hati.


"Ma-maaf Juna.." Naina menyadari bahwa dia menggigit tangan Juna.


"Gak apa-apa Nai, aku gak apa-apa" Juna masih tersenyum lembut dan santai ketika tangannya sudah berdarah akibat ulah Naina, "Gimana? udah gak sakit?" tanya Juna perhatian


Naina menggeleng-geleng, dia menangis dan terharu dengan perhatian Juna padanya.


...---***---...


Maaf ya readers! hari ini up nya terlambat, karena hari ini hari Senin.. author boleh gak minta gift atau vote nya??β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ€οΈπŸ™


jangan lupa like komen nya ya