
🍀🍀🍀
Setelah selesai pameran lukisan, Naina merasa kepalanya sangat penat. Naina duduk di sebuah kursi panjang di depan gedung tempat pameran itu bersama Caroline.
"Bu, ibu gak papa?" tanya Caroline cemas melihat wajah Naina yang pucat dan tubuhnya yang berkeringat
Daritadi Bu Naina keliatan tidak baik, bahkan dari kemarin.
Apa ini karena aku mimisan terus ya? makanya badanku jadi lemas. Aku ke rumah sakit sekarang saja. batin Naina
"Carol, kita ke rumah sakit saja sekarang. Seperti nya ada yang beres dengan tubuhku" pinta Naina pada Carol untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tadinya dia ingin ke rumah sakit saat sudah pulang dari Maldives, namun seperti nya tidak bisa ditunda lagi.
"Ya Bu, saya kan sudah bilang untuk segera ke rumah sakit dari waktu itu. Kalau begitu saya akan kasih tau pak presdir sama pak Ardi dulu ya" ucap Carol
"Tidak perlu, kita langsung pergi saja. Mereka kelihatan sibuk dan masih menyambut tamu. Kita berdua saja" Naina melihat ke arah Juna dan Ardi yang masih bicara dengan beberapa pria bule di dalam gedung. Kelihatan nya mereka sedang sibuk dengan pembicaraan nya.
"Tapi Bu, kita harus pamit dulu sama pak presdir" Carol mengingatkan
"Aku akan telpon dia nanti, ayo Carol kita pergi" Naina memegang tangan Carol dengan erat.
Dia pasti akan bereaksi berlebihan saat melihat keadaan ku seperti ini. Haah.. lebih baik setelah dari rumah sakit saja baru kabari dia. Naina melihat ke arah Juna sebelum dia dan Carol akan pergi ke rumah sakit.
"Iya baiklah Bu, kalau itu mau ibu" Carol membantu Naina berdiri.
Kedua wanita itu masuk ke dalam mobil Taksi,mereka menuju ke rumah sakit. Napas Naina mulai tidak teratur, Carol mengecek suhu tubuhnya tidak ada gejala demam. Tapi tubuh Naina berkeringat.
30 menit berlalu,Juna dan Ardi baru saja selesai bicara dengan para tamu dan kolega bisnis mereka.
"Akhirnya acara berakhir dengan lancar, tapi dimana pemeran utamanya? dia tidak terlihat disini" Juna celingukan kesana kemari mencari-cari sosok Naina yang tidak terlihat disana.
"Ngomong-ngomong soal Bu Ninaina, saya juga tidak melihatnya sejak bapak mengobrol dengan para tamu" jelas Ardi
"Benarkah? apa dia masih marah? padahal semalam aku kan sudah minta maaf dan dia bilang juga memaafkan ku" gumam Juna berfikiran negatif kalau Naina pergi begitu saja karena masih marah padanya.
"Pak, asisten nya juga tidak ada disini. Mungkin kah mereka pergi berdua?" tanya Ardi yang tidak melihat Caroline ada disana.
"Apa dia sakit lagi?" tanya Juna dengan wajah cemas, pria itu mengambil ponsel yang ada di saku jas nya. Dia segera menekan tombol untuk menghubungi Naina.
Namun sebelum menelpon Naina, sebuah nomor tidak dikenal menelepon nya. Juna segera mengangkat nya karena siapa tau itu telpon penting.
"Halo" jawab Juna sambil menyimpan ponsel itu di telinganya.
"Pak!" seru wanita di dalam telpon itu dengan suara yang parau
"Kamu kan asisten nya Naina?" tanya Juna mengenali pemilik suara itu.
"Iya pak benar, saya ingin mengabarkan kalau mobil taksi yang kami naiki mengalami kecelakaan" jelas Carol gelisah
"APA?? Kecelakaan??! apa kamu sama Naina disana? dimana kalian sekarang?" Juna terkejut, suara nya yang mulai meninggi, ia khawatir pada Naina.
Deg!
Naina kecelakaan? Astagfirullah..
Ardi terperangah mendengar nya.
"Kami ada di RS xxxx" jawab Carol cepat
Tut..
Juna menutup telponnya, dia dan Ardi bergegas menuju ke rumah sakit yang dikatakan oleh Carol. Wajah Juna terlihat panik, sama seperti terakhir kali melihat Naina pingsan. Hatinya tidak tenang mencemaskan keadaan gadis yang sangat ia cintai.
"Ardi! kenapa menyetir mu lambat sekali?!" bentak nya pada Ardi yang sedang menyetir itu
"Pak, ini sudah kecepatan maksimal. Kita bisa ditilang kalau melaju lebih cepat lagi" Ardi menyetir dengan hati gelisah
"Bodoh amat! cepat menyetir nya, aku ingin sampai ke rumah sakit segera!" teriak Juna marah bercampur panik pada Ardi.
Bu Naina, semoga ibu gak kenapa-napa. Lihatlah wajah pak Presdir, sangat seram. batin Ardi yang tak berani melihat wajah Juna yang duduk di kursi belakang.
Wajah yang panik, marah, gelisah, galau, bercampur di wajah nya yang tampan itu. Matanya menampilkan keresahan hatinya untuk wanita bernama Ninaina.
Nai.. semoga kamu gak apa-apa. harap harap cemas Juna.
****
Di rumah sakit, Naina sedang berada di ruangan dokter. Kepalanya di perban, dia sedang mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan nya dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Jadi bagaimana hasil pemeriksaan saya, dok?" tanya Naina pada dokter bule itu.
"Ibu hanya mengalami luka ringan saja, tapi ada sesuatu yang harus sangat diperhatikan oleh ibu. Saya menemukan ada kelainan di dalam tes darah yang saya ambil saat ibu tidak sadarkan diri. Saya mohon maaf karena saya tidak meminta izin lebih dulu" jelas dokter itu pada Naina
"Tidak apa-apa, sesuatu yang harus sangat diperhatikan? saya memang sedang akhir akhir ini dok, dan saya memang berniat memeriksa diri saya ke rumah sakit. Bisa dokter katakan pada saya apa yang terjadi dengan tubuh saya?" tanya Naina penasaran dengan sesuatu yang aneh di tubuhnya itu.
"Ibu, silahkan baca ini" dokter itu memberikan hasil tes darah milik Naina, dengan wajah yang kurang menyenangkan.
Gadis itu langsung membaca hasil tes nya, beberapa detik kemudian ia tercengang. Sampai kertas yang dipegangnya jatuh ke lantai, kedua mata nya membulat, begitu pula dengan mulutnya yang ikut membulat.
Tidak, ini tidak mungkin.. tidak!. batin Naina menjerit setelah membaca hasil pemeriksaan nya.
"Bu? apa ibu baik-baik saja?" tanya Dokter itu cemas melihat wajah Naina yang terkejut.
"Apa ini benar dok? saya terkena penyakit ini?!" tanya nya dengan suara yang menyentak, matanya berkaca-kaca.
"Saya yakin 99,9 persen Bu. Bahwa ibu mengalami penyakit kanker darah" jawab Dokter itu tegas
Nenek? aku punya penyakit yang sama seperti nenek?. Naina kembali duduk di kursi nya dengan hati yang terkejut bukan main.
Perasaan nya saat itu, bagai tersambar petir yang dahsyat. Hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya, malah dia alami. Pikiran Naina melayang kemana-mana, disaat seperti itu dia malah memikirkan bagaimana reaksi orang-orang bila mereka tau kalau dia sedang sakit. Apalagi mama nya yang selalu mencemaskan nya. Bukannya memikirkan dirinya sendiri.
Tenang Nai, kamu akan baik-baik saja. Ini cuma kanker, cuma kanker. Tidak semua orang mati karena kanker, masih ada kemungkinan besar untuk sembuh. batin Naina berusaha berfikir positif dan menenangkan dirinya.
"Dok, kanker ini.. stadium berapa? ada kemungkinan untuk sembuh, kan?" tanya Naina sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan cemas.
"Stadium tiga Bu, masih ada kemungkinan untuk sembuh. Asalkan ibu mendapatkan perawatan secepatnya" jelas Dokter itu jujur
Naina terdiam dan terlihat berfikir keras, tangannya memegang kepala yang terasa pusing itu.
Stadium 3? apa masih belum terlambat baginya untuk sembuh?
*****
Tap, tap, Tap
Terlihat dua pria yang sedang berlari di lorong rumah sakit. Mereka adalah Ardi dan Juna,
yang baru saja sampai di rumah sakit, Juna dengan panik segera mencari Naina di ruang rawat. Namun kedua pria itu hanya menemukan Caroline duduk di luar ruangan dokter.
"Caroline, dimana Naina??!!" tanya Juna pada asisten Naina itu.
"Bu Naina lagi bicara sama dokter" jawab Carol sambil berdiri dari kursinya.
CEKRET
Pintu ruangan dokter itu terbuka lebar, Naina keluar dengan membawa map berwarna coklat di tangannya.
"Nai.. kamu gak apa-apa?"Juna menghampiri Naina dengan wajah cemas dan memeluk Naina.
"Aku gak papa kok, dokter bilang cuma luka ringan aja" jawab Naina sambil tersenyum pada Juna seolah tak terjadi apa-apa.
Haruskah aku berterimakasih pada kecelakaan ini? karena jika bukan karena kecelakaan ini, mungkin aku gak akan tau apa penyakit ku. Ninaina bodoh, seharusnya aku memeriksa kan diriku sejak dulu. Naina mengutuk dirinya sendiri.
...---***---...