
Mohon maaf buat yang bingung kenapa judulnya ganti lagiπ itu karena disarankan dari sana nya untuk kembali ke awal ππ mohon maaf atas ketidaknyamanan nya yaπ
Makasih dukungan dari kalian juga π₯° yang kasih vote dan gift nya minggu ini, makasih bangetπ author senang dengan respon kalian, apalagi kalau readers kasih like dan komentar jugaπ
...πππ...
Theo tidak tinggal diam begitu saja melihat Naina berdekatan dengan rival cintanya. Theo menarik tangan Naina, matanya menatap Juna dengan tajam.
"Kak Theo??" Naina kaget karena Theo tiba-tiba menarik tangannya.
Melihat pemandangan itu, teman-teman Juna malah semakin berantusias untuk menonton.
"Mar, cepet buruan! ambil yang bagus bagus gambarnya ya" Reza semangat melihat Naina, Juna dan Theo yang sedang berada dalam drama.
"Judulnya perang dunia ketiga!" seru Nando yang ikutan berapi-api melihat Juna dan Theo yang selalu berselisih paham.
"Judulnya berbagi cinta!" kata Bagas yang juga semangat melihat Juna, Naina dan Theo yang berada dalam lingkaran cinta segitiga.
"Woy! siapin semangka woy!" ujar Nando pada ketiga temannya itu.
Teman-teman Juna, termasuk Damar makan semangka bersama dan duduk dilantai kelas. Mereka menonton Theo, Juna dan Naina.
Theo dan Juna masih bertatapan dengan tajam.
Kenapa ya sama Juna dan kak Theo?. Naina melirik hati-hati ke arah Theo dan Juna yang tersenyum sambil menatap satu sama lain. Diam-diam Naina menepis tangan Theo yang masih menempel padanya.
"Maaf Nai, aku gak bermaksud apa-apa" kata Theo menyadari bahwa Naina menepis tangannya
"Gak ada maksud apa-apa? beneran?" tanya Juna dengan senyuman menyeringai nya pada Theo.
"Kalau gue ada maksud apa-apa, terus kenapa?" tanya Theo menantang Juna
Hari ini aku harus menyatakan perasaanku pada Naina, apapun yang terjadi. Aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi. batin Juna dan Theo penuh tekad
Mereka kenapa sih?. Naina keheranan melihat wajah kedua pria yang berada disisi kanan dan sisi kirinya itu.
"Nai, malam ini kita jalan yuk!" ajak Juna dan Theo yang kompak seperti biasanya
Sial! kok bisa barengan lagi? batin Juna kesal pada Theo
Ngapain si Juna ngikut ngikut?. Theo juga kesal pada Juna yang selalu bicara kompak dengannya.
"Musuh kok kompak?" bisik Bagas pada Damar
"Udah kita nonton aja dramanya, seru kan?" bisik Damar sambil memakan semangka dan menonton Theo, Juna, Naina.
"Jalan ya? gimana kalau kita jalan bertiga aja, atau biar lebih seru lagi. Nisha, Keira sama teman-teman yang lain juga ikut" usul Naina pada Juna dan Theo
"Berdua! bukan bertiga!" teriak Juna dan Theo bersamaan lagi. Naina kaget untuk ke sekalian kalinya, gadis itu tersenyum dengan kekompakan Juna dan Theo.
Mereka benar-benar sehati.
"Lo! gue udah sabar ya sama Lo selama ini" Theo menunjuk ke arah Juna dengan mata yang marah.
"Gue juga udah sabar sama Lo ! tapi, Lo selalu aja ngikutin gue!" seru Juna kesal pada Theo yang selalu bicara bersamaan dengannya
"Bukannya kebalik ya? Lo yang selalu ngikutin gue!!" Theo kesal pada Juna
Mereka pun mulai beradu mulut, teman-teman Juna bukannya melerai tapi malah menonton sambil makan semangka. Ckckck, benar-benar. Disisi lain ada Nisha yang terdiam seperti tidak dibutuhkan disana, ia cemburu melihat Theo yang masih menyukai Naina.
Naina pun menengahi Juna dan Theo agar berbaikan. Ajakan makan malam bersama dari Juna dan Theo, Naina menolaknya agar tidak menimbulkan masalah dalam persahabatan Juna dan Theo. Naina masih salah paham mengira kalau Juna dan Theo bersahabat dekat.
"Yahh.. gak seru oy! gak ada yang menang!" seru Bagas yang tidak senang karena Juna dan Theo cepat berbaikan tanpa ada nya baku hantam.
"Aduh kurang greget nih, masa damai gitu aja?" tanya Nando kecewa melihat pertunjukkan di depannya berakhir begitu saja dengan perdamaian.
"Seperti nya drama ini akan menjadi episode yang panjang" gumam Damar sambil memotret Naina, Juna dan Theo yang sedang bertiga.
"Jun, Lo jangan kalah dong! hajar hajar!" seru Reza sangat bersemangat
"Woy! bac*t Lo pada! Lo kira gue doger monyet?!!" Juna kesal pada teman-teman nya yang menonton nya itu. Juna menjitak kepala Reza.
"Aduh sakit bos!" gerutu Reza
Tunggu aja, pokoknya malam ini aku harus bisa mengajak Naina keluar! harus! batin Juna berencana menyatakan cintanya pada Naina
πππ
Siang itu setelah hari kelulusan Kelvin. Keira dan Kelvin makan siang bersama di cafe tempat Keira bekerja berdua saja. Kelvin merasa heran karena Keira terlihat cemberut sejak di acara kelulusan nya itu.
"Ada apa Kei?" tanya Kelvin sambil menyeruput jus jeruk melalui sedotan. Matanya menatap pacarnya yang cemberut.
"Ada apa, apanya Vin?" tanya balik Keira pada Kelvin
"Dari tadi kamu diam aja, sekarang kamu malah cemberut. Bilang, ada masalah apa?" tanya Kelvin yang perhatian pada Keira
"Gak ada apa-apa" jawab Keira dengan muka masamnya
"Kei.. aku gak suka mengulangi pertanyaan ku. Ada apa? aku tau ada sesuatu yang menganggu mu" Kelvin menatap tajam pada pacarnya itu, intuisinya memang sangat tajam. Keira juga selalu kalah karena Kelvin selalu peka dengan apa yang terjadi padanya.
"Kelvin.. kamu kuliah saja ke luar negeri" ucap Keira pada Kelvin dengan wajah yang sedih
DEG!
Kelvin menghentikan aktivitas makan nya, ia melihat lagi ke arah Keira dengan mata penuh pertanyaan.
"Jadi kamu dengar semuanya.. aku tau apa yang mau kamu bicarakan. Kei, aku tidak mengambil kuliah keluar negeri itu bukan hanya karena kamu saja " Kelvin langsung mengerti situasi Keira yang sedih karena mengira dirinya lah penyebab Kelvin tidak mengambil tawaran untuk kuliah di luar negeri.
"Jadi benar memang alasannya termasuk aku?" tanya Keira sedih
"Benar, tapi ini bukan karena kamu sepenuhnya. Aku memang ingin kuliah di sini" jawab Kelvin jujur dan setengah berbohong pada Keira.
"Kelvin, kamu kan ingin membangun perusahaan teknologi. Tentu saja kamu harus mengambil tawaran kuliah di luar negeri, masa depan mu juga akan bagus disana" saran Keira dengan hati yang sedih
Meskipun sebenarnya aku gak mau kalau kamu pergi, tapi aku gak mau kamu melepaskan kesempatan emas yang kamu miliki hanya karena aku. Keira tersenyum pahit
"Kamu kenapa sih? apa kamu gak senang kalau aku kuliah disini dan terus bersama kamu? apa kamu pikir janjiku itu hanya omong kosong?!" Kelvin beranjak dari tempat duduknya dan tampak kesal.
Keira terkejut dengan reaksi Kelvin yang begitu marah padanya.
"Kelvin.. maksud aku bukan gitu" Keira mencoba menenangkan kemarahan Kelvin.
"Bukan gitu gimana?! kamu nyuruh aku pergi dan mengingkari janji yang sudah kita buat? kamu gak percaya sama aku Kei?" tanya Kelvin emosi pada kata-kata Keira yang tak sepaham dengannya.
"Kelvin kamu dengarkan aku dulu! Bukannya aku tidak percaya sama kamu, aku cuma ingin kamu menggapai mimpi kamu!" seru Keira menjelaskan maksudnya
"Aku pulang dulu, nanti kamu telpon saja aku kalau sudah pulang kerja. Nanti aku jemput" Kelvin melangkah pergi meninggalkan Keira di restoran itu.
Keira menyusul Kelvin yang sudah keluar dari restoran." Kelvin!! tunggu Kelvin!! aku belum selesai bicara!!" teriak Keira pada pacarnya yang akan naik ke motornya.
Kelvin masih marah, ia memakai helmnya dan bersiap untuk menyalakan mesin motornya. Keira menghadang jalan nya, meminta agar Kelvin mendengarkan nya untuk bicara.
"Vin, aku mohon dengerin aku dulu.." lirih Keira memohon
Kelvin menyerah, ia luluh melihat wajah Keira yang sedih. Dia pun turun dari motornya lalu menghampiri Keira.
"Apa lagi?" tanya Kelvin dengan suara yang dingin
"Aku ingin kamu bahagia Vin, dengan mewujudkan mimpi kamu kuliah di luar negeri. Kalau kamu menolak tawaran itu karena khawatir sama aku, aku gak akan bahagia" jelas Keira dengan mata yang berkaca-kaca.
Kelvin menghampiri Keira dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Keira membalas pelukan Kelvin, sambil tersenyum pahit.
"Tau apa kamu soal yang membuatku bahagia, Kei? aku pikir kamu tau segalanya tentangku. Tapi ternyata kamu gak tau. Apa kamu pikir aku akan bahagia tanpa melihat kamu di sisiku? kebahagiaan ku itu adalah kamu Kei.."
Kelvin memeluk erat pacarnya itu, tanpa peduli ada orang yang lewat disana.
...---***---...