Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 62. Siapa friendzone?



πŸ€πŸ€πŸ€


🏹Juna vs Theo part 1πŸ˜¨πŸ‘»


Theo terus menatap Juna dengan tajam dan sinis. Sementara Juna, bibirnya tersenyum tapi mata nya menatap Theo dengan dingin.


"Ngapain Lo ngajak gue bicara berdua?" tanya Juna langsung pada intinya, ia menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Sebenarnya gue punya banyak pertanyaan buat Lo, tapi kayanya gue gak punya waktu banyak buat nanya semuanya. Gue gak suka kata-kata Lo barusan sama Kelvin" Theo mengutarakan ketidaksukaan nya pada Juna tentang perkataan pria itu pada Kelvin dan Naina.


"Kata-kata yang mana? yang gue bilang si Kelvin kakak ipar gue, atau yang gue bilang Naina calon istri gue?" Juna tersenyum santai, ia suka sekali melihat Theo cemburu dan kesal padanya.


"Dua duanya, gue gak suka" jawab Theo singkat, padat dan jelas


"Terus kalau Lo gak suka, gue harus gimana?" tanya Juna masih dengan senyuman santainya menanggapi Theo.


"Gue mau Lo jaga kata-kata Lo, jangan sembarangan bicara! karena gue gak suka" ucap Theo sambil menunjuk nunjuk dan mendorong-dorong tubuh Juna seolah memancing pertengkaran.


"Kalau gue gak mau, gimana?"


Juna tidak mau kalah, ia juga mendorong-dorong Theo dengan jari telunjuknya. Dengan seringai nya, ia berusaha menunjukkan kalau ia tidak akan menyerah pada gadis yang bernama Ninaina.


"Berarti Lo berhadapan sama gue, gue gak suka Lo deket-deket sama Naina apalagi keluarganya" Theo memudalkan semua emosinya


"Siapa Lo ngelarang gue deket deket sama Naina dan keluarganya? cuma temen aja belagu Lo" ucapnya sambil tersenyum sinis memandang ke arah Theo.


"Terus Lo? Lo siapanya dia pake bilang kakak ipar dan calon istri segala! gue bilang, jauhin Naina dan keluarganya!" Theo emosi, menegaskan kepada Juna bahwa ia harus menjauhi Naina


"Ckckck..gue gak nyangka, ternyata begini sifat asli Lo. Di luar lembut.. eh dalamnya emosian juga" Juna tersenyum santai


"Gak usah banyak omong, dengerin aja apa yang gue bilang" ucap Theo ketus


Si Juna ini benar-benar menyebalkan, gak tau malu, muka tembok. Theo merutuki Juna di dalam hatinya.


"Kenapa Lo mau gue jauhin dia? kasih gue alasan yang jelas!" ujar Juna tegas


Selama ini aku tidak tau bagaimana jelasnya perasaan Theo pada Naina. Kalau dia memang suka pada Naina melebihi teman, aku siap bersaing.


"Gue suka sama Naina, gue cinta sama dia. Apa alasan itu belum cukup?" jawab Theo tanpa ragu, sekaligus bertanya pada Juna.


"Cukup sih, tapi gue gak peduli gimana perasaan Lo sama dia. Karena gue juga suka sama Naina, gue cinta dan sayang sama dia" Juna mengaku, ia tersenyum santai.


"Mending Lo mundur aja, Lo gak akan dapat apa-apa. Naina gak suka sama Lo sebagai cowok, Lo cuma friendzone nya!" Theo berusaha meruntuhkan kepercayaan diri dan mental Juna, di dalam hatinya ia takut kalau Juna akan mendapatkan hati Naina.


Aku yang selalu ada untuk Naina, aku lebih dulu mengenal Naina dari si trouble maker ini. Aku pasti gak akan kalah.


"Cih, pede banget Lo. Gue yakin Lo yang friendzone disini, gue mah enggak" Juna tersenyum menyeringai, ia percaya diri kalau Naina menyukainya lebih dari teman.


Aku spesial di hati Naina, aku yakin itu.


"Jadi Lo gak akan mundur? Lo mau bersaing sama gue walaupun Lo bakal kalah nantinya?" tanya Theo sombong merasa akan menang


Orang tua Naina, om nya Naina, Kelvin semua keluarga juga pasti lebih setuju aku yang bersama Naina. Bukan bocah tengil ini.


"Keputusan final nya bukan Lo yang menentukan, kalah atau menang itu ada di tangan Naina dan keluarganya. Sombong banget Lo, ngerasa bakal menang. Lo cuma sahabatnya doang" Juna tak mau kalah beradu argumen dengan Theo, saingan cintanya


"Bukan cuma sahabat, tapi gue adalah keluarga nya. Gue dekat sama Naina dari kecil dan gue optimis gue bakal menang" Theo menunjukkan senyum percaya diri nya di depan Juna


"Perasaan Naina bukan kompetisi, kita lihat aja nanti Naina bakalan milih siapa. Lo, apa gue yang lebih dari teman buat dia. Siapa yang friendzone, Lo bakal ngerasain nya sendiri!" Juna tersenyum tipis memandang tajam ke arah Theo.


"Oke, dan saat Naina udah memilih salah satu diantara kita. Salah seorang harus mundur dan jauhi Naina" Theo menantang Juna.


"hmphh.." Theo hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Juna yang terdengar seperti ultimatum itu.


Mereka mengakhiri percakapan mereka dengan jabatan tangan. Bukan tanda perdamaian, tapi tanda persaingan mereka mendapatkan hati Naina dan keluarganya.


Saingan ku, cuma kamu seorang saja? itu sih tidak masalah. Juna meremehkan saingan cinta nya itu.


Lihat aja kamu trouble maker, kamu bakalan kalah. ucap Theo tetap percaya diri, padahal sebelumnya ia sudah pernah ditolak oleh Naina.


****


Acara pameran galeri itu telah resmi di buka, semua pengunjung yang hadir disana mulai melihat lihat lukisan yang di pajang disana. Disana juga ada karya seni rupa, berupa patung dan lain-lain.


Teman-teman Naina memberikan ucapan selamat dan hadiah pada Naina atas kesuksesan nya di bidang seni. Theo dan Juna lah yang membawa buket bunga paling besar untuk Naina sebagai hadiah. Bahkan Juna membawakan Naina berpuluh-puluh kue coklat untuk Naina.


Keira juga memberikan buket bunga pada Naina sebagai hadiah atas pembukaan galeri seni nya.


"Nai selamat ya" ucap Keira sambil memeluk temannya itu penuh kerinduan


"Kei.. kamu jahat banget sih, kenapa kamu pergi begitu aja tanpa pamit? apa kamu tidak tau betapa galaunya kak Kelvin saat itu? dia sampai sakit karena mikirin kamu, Kei" omel Naina pada Keira


"Naina.. sstt!!" Kelvin menepuk tangan Naina, meminta adiknya itu berhenti mengomel.


"Apaan sih kak? aku jujur tau," ucap Naina sambil menatap kesal ke arah Kelvin


Setelah acara pameran berakhir, Naina Keira dan Nisha berbicara bertiga. Keira menceritakan semua hal yang sudah terjadi padanya, Nisha dan Naina kesal karena Keira selalu saja tertutup kalau ada masalah. Keira pun berjanji kalau dia tidak akan menghilang lagi dan akan selalu bersama teman-teman nya.


"Oh ya, gimana hubungan kamu sama Juna dan kak Theo? jadi, kamu milih siapa?" tanya Keira mengalihkan pembicaraan, "Kak Theo dan kak Juna kayanya menganggap kamu lebih dari teman Nai. Mereka kayanya saingan buat dapatin hati kamu"


DEG!


Nisha terlihat tidak nyaman saat nama Theo disebut. Wajahnya langsung berubah menjadi sinis dan kesal. Keira yang tidak tau apa yang terjadi sebelumnya, keheranan melihat wajah Nisha yang bete tidak enak dipandang itu. Hati Nisha memanas.


"Apaan sih Kei, aku sama mereka gak ada apa-apa kok" jawab Naina sambil melirik ke arah Nisha yang memalingkan mata darinya. Naina merasa tidak nyaman dengan sikap Nisha dan gelagat nya.


Kayanya Nisha masih marah, padahal aku udah jelaskan sama dia.Tapi cemburu sudah menutup hatinya.


"Jawab aja Nai, kamu pilih siapa? Juna atau kak Theo?" tanya Nisha ketus pada Naina


Ada apa ini? apa ini perasaanku aja? dari tadi aku ngerasain kalau ada yang beda dari sikap Nisha ke Naina? apa yang aku gak tau?. Keira kebingungan berada ditengah-tengah kedua sahabatnya yang kini seperti sedang berseteru.


"Pertanyaan macam apa itu, mereka berdua itu adalah teman ku. Gak ada pilihan diantara mereka" jawab Naina tegas


"Oh gitu ya? kasihan dong ya mereka digantung terus sama cewek sok polos kaya kamu, Nai. Kamu harus milih dong salah satu, jangan dua duanya, jangan serakah" ucap Nisha dengan kata-kata nya yang tajam.


"Nisha! kamu kenapa sih sama Naina? aku perhatikan dari tadi ada yang gak beres sama kalian berdua! kalian ada masalah apa? Nisha, kamu ada masalah apa?" Keira akhirnya angkat bicara, ia tak senang melihat kedua sahabatnya itu berseteru.


"Masalah? oh.. aku sih gak ada masalah apa-apa, tapi dia nih yang bermasalah. Udah munafik, muka dua pula" Nisha ketus dan menunjukkan wajah sinis nya itu pada Keira juga Naina.


"Nisha, aku udah jelasin sama kamu kalau aku gak ada hubungan apa-apa sama kak Theo. Jadi jangan kaya gini lagi, aku dan Theo gak ada hubungan yang seperti itu" jelas Naina sekali lagi pada Nisha, matanya mulai berkaca-kaca.


"Kak Theo? jadi masalah ini ada hubungannya sama kak Theo? kamu marah sama Naina karena kak Theo?" tanya Keira pada Nisha, ia ingin tau apa masalahnya.


"Kamu tanya aja sama dia, dari dulu kan kamu memang lebih percaya sama dia daripada sama aku" ucap Nisha sambil melangkah pergi meninggalkan Naina dan Keira begitu saja.


Naina dan Keira melihat Nisha dengan keheranan dan sedih.


...---***---...