Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 84. Pembicaraan pernikahan



...🍀🍀🍀...


.


.


Malam itu tidak berakhir begitu saja, rupanya pembicaraan masih panjang untuk pasangan yang baru saja meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pertunangan yang disaksikan oleh keluarga dan teman-teman terdekat mereka.


"Jadi, kalian mau menikah kapan? sebulan setelah ini? atau seminggu setelah ini?" tanya Bryan tak sabar dengan pernikahan anaknya dengan Keira.


"Sayang, bukankah satu minggu terlalu cepat? banyak yang harus dipersiapkan untuk menikah" ucap Alma pada suaminya yang terkesan buru-buru padahal sebelumnya dia sempat menentang hubungan Kelvin dan Keira.


"Kei, gimana? kamu mau kita nikah kapan? kalau aku sih semuanya tergantung kamu" tanya Kelvin pada tunangan nya itu sambil tersenyum hangat.


Tidak disangka bahwa anakku yang seperti es batu itu sudah besar dan akan segera menikah. Dia bahkan bisa tunduk dan lembut pada calon istrinya. batin Bryan sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Menikah? gimana kalau satu tahun lagi..Vin?" tanya Keira sambil menatap ke arah Kelvin


Sontak saja pertanyaan Keira membuat Juna dan Kelvin tersedak makanan yang mereka makan. Mereka berdua terkejut dengan pertanyaan itu.


"Uhuk.. uhukk.."secara bersamaan kedua pria itu tersedak dan batuk-batuk


"Kamu gak papa?" tanya Keira dan Naina pada pasangan mereka dengan kompak.


"Aku gak papa" jawab Kelvin sambil mengambil air minum di gelasnya dan meneguknya.


"Aku gak papa Nai" jawab Juna pada Naina sambil mengusap makanan yang ada di mulutnya dengan tisu.


Hal yang sama di lakukan oleh Juna yang juga tersedak. Bryan dan Alma kompak tertawa melihat kedua pria itu tersedak secara bersamaan.


"Gak! setahun lagi? omong kosong apa itu?!" Kelvin marah, bibirnya mengerucut sebal pada gadis yang sudah menjadi tunangannya.


"Kan kamu bilang terserah aku mau nikahnya kapan" Keira menggaruk lehernya, dia mengernyitkan dahinya.


"PFut hahaha" Alma tertawa terbahak-bahak


"Haha.." Bryan juga ikut tertawa. "Gimana Vin, mau setahun lagi?" tanya Bryan pada putranya yang sudah kebelet nikah itu.


Satu tahun lagi? mampus aku, si Theo bisa curi kesempatan lagi. Gak, pokoknya Naina dan aku harus menikah tahun ini. Aku harus mengikat Naina, supaya makhluk bernama Theo itu sadar diri. Juna menatap Theo dengan tajam.


"Aduh Kei, kamu gimana sih? pernikahan itu lebih cepat dilakukan lebih baik, jangan ditunda-tunda" ucap Juna memberitahu Keira untuk mempercepat pernikahan nya


"Tuh Kei! kamu dengar kan kata si Juna? pernikahan itu lebih baik dipercepat, aku mau nikah bulan ini" kata Kelvin yang tidak mau diganggu gugat


"Loh? katanya gimana aku?" Keira keheranan mendengar ucapan Kelvin dengan suara yang kesal itu.


"Lebih baik terserah aku aja. Aku nyesel tanya sama kamu ah! Udah ma, pah, pokoknya akhir bulan ini aku dan Keira akan menikah" ucap Kelvin tegas


"Mama sama papa sih oke oke aja, terserah kalian. Yang penting kalian bahagia, ya kan sayang?" tanya Alma pada suaminya


"Iya, kalau gitu sekalian saja kita tentukan tanggalnya sekarang dan apa saja yang harus di persiapkan" ucap Bryan dengan senyuman ramahnya.


Bryan, Alma, Kelvin dan Keira berada dalam perbincangan tentang pernikahan. Mereka berempat terlihat serius bercampur santai, kadang mereka tertawa dan kadang mereka adu mulut. Pernikahan memang bukan hal yang sederhana, menyatukan dua hati dua keluarga menjadi satu.


Dua kepala dengan berbeda pemikiran, namun Kelvin dan Keira berani mengambil jalan itu di usia mereka yang sama-sama masih terbilang muda, yaitu 24 tahun. Pikir mereka setelah halal itu semua akan indah, dunia pernikahan adalah dunia orang dewasa dan tidak main-main.


Di dalam pembicaraan pernikahan itu, Alma lah yang terlihat paling heboh. Ini pertama kalinya dia mempersiapkan pernikahan, itu pun pernikahan anaknya.


"Kebetulan mama bawa kertas dan pulpen, kita langsung list disini saja ya keperluan pernikahan kalian" Alma tersenyum semangat melihat pulpen dan kertas kosong yang ada di meja.


"Iya Tante, ayo" Keira tersenyum pada calon mama mertuanya itu.


"Eh, salah! kok masih manggil Tante sih. Panggil mama dong" Alma tersenyum senang, tak lama lagi anak perempuan nya akan bertambah satu.


"Mama.." panggil Keira pada Alma dengan wajah malu-malu.


"Bagus, Kei.. mulai sekarang anggaplah mama sebagai orang tua kamu sendiri ya" Alma tersenyum tulus pada Keira


"Makasih ma.. makasih om" ucap Keira sopan


"Kamu tuh ngiri aja deh!" Alma tertawa kecil dengan ucapan kekanakan suaminya itu


"Ayo dong Kei, panggil papa juga" Bryan merengek seperti anak kecil


Kok aku merasa om Bryan seperti Kelvin kalau sedang merengek begini? hehe


"Hehe iya papa, mama" Keira memanggil Bryan dan Alma dengan sebutan papa dan mama.


Keira merasa bahagia karena dia di anugerahi mertua yang baik sebaik Alma dan Bryan. Keira merasa bahwa dia akan mempunyai keluarga yang lengkap, bersama Kelvin dia akan berkeluarga. Kelvin tersenyum pada Keira, senyum yang bahagia.


****


Sementara itu di meja yang satunya, Naina, Theo, Juna dan Nisha baru saja menyelesaikan makan malam mereka.


"Alhamdulillah, kenyang nya" Naina tersenyum bahagia setelah menyantap makanan yang ada di piringnya sampai habis


"Nai, kamu mau dessert lagi?" tanya Juna perhatian


"Enggak, udah kenyang" jawab Naina sambil tersenyum lebar. "Aku mau pergi dulu ya" Naina beranjak dari tempat duduknya


"Mau kemana Nai?" tanya Juna, "Ikut!"


"Mau ke toilet masa mau ikut?" Naina tertawa kecil mendengar Juna yang main asal ikut saja. Juna terdiam dan tidak berkomentar lagi.


"Aku ikut juga Nai" kata Nisha sambil beranjak dari kursi nya. "Kak Theo, aku ke toilet dulu" pamit Nisha pada Theo


"Ya" jawab nya dikit dan singkat


Nisha dan Naina berjalan bersama ke arah toilet yang letaknya ada di lantai bawah gedung perusahaan A-Tech. Mereka sama-sama masuk ke dalam toilet yang sepi itu, karena semua karyawan yang bekerja sudah pulang pada jam segitu.


Zrashhh...


Naina memutar keran, lalu mencuci tangannya dengan air mengalir itu setelah dia menuntaskan urusannya di toilet. Nisha ada di sebelahnya dan terlihat sedang bercermin.


"Nai.." panggil Nisha pada Naina


"Ya, Nis?" tanya Naina sembari mengelap tangannya yang basah dengan tisu basah disana.


"Nai, apa kamu akan menikah sama Juna?" tanya Nisha sambil menatap Naina yang ada disebelahnya.


"Insyaallah aku akan menikah dengannya Nis" jawab Naina bersungguh-sungguh


Apa Nisha menanyakan ini karena takut kak Theo masih memiliki perasaan padaku?


"Kamu cinta sama Juna, kan?" tanya Nisha lagi


"Kalau aku gak cinta sama dia, mana mungkin aku setuju menjalin hubungan dengannya, Nis. Apakah kamu bertanya seperti ini karena khawatir sama kak Theo?" tanya Naina yang bisa merasakan keraguan pada diri Nisha.


"Sebenarnya aku.."


"Nisha, kamu tenang aja. Aku benaran gak ada apa-apa sama kak Theo. Aku cuma sahabatan sama dia" ucap Naina pada Nisha


Benar Nis, Naina gak bersalah. Kak Theo yang mencintai nya, kamu tidak boleh menyalahkan Naina.


"Ya, aku percaya"Nisha tersenyum pahit mengingat Theo yang masih bersikap dingin padanya bahkan setelah 1 Minggu mereka resmi pacaran pura-pura.


"Aku yakin kak Theo juga akan memiliki perasaan yang sama seperti kamu, walau belum sepenuhnya. Nisha semangat ya" Naina tersenyum menyemangati sahabat nya


Kenapa kepalaku pusing sekali?. batin Naina


"Makasih Nai, aku memang sedang butuh itu" Nisha meraih tubuh Naina dan memeluknya dengan lembut, "Maafkan aku atas sikapku waktu itu Nai, aku sudah salah paham sama kamu.. aku berharap kamu sama Juna langgeng dan bahagia" ucapnya pada Naina tulus mendoakan sepenuh hati


Naina tidak menjawab kata-kata Nisha. Lama kelamaan tubuh Nisha semakin berat menopang tubuh Naina. "Nai? kamu dengar aku?" tanya Nisha heran karena Naina diam saja.


Tubuh Naina ambruk ke lantai, Nisha menopangnya. Kini Naina berada di pangkuan Nisha."Nai! Nai kamu kenapa Nai? Nai bangun, Nai?!" Nisha panik melihat sahabatnya tiba-tiba jatuh pingsan.


...---***---...