Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 108. Naina tidak mungkin..



...🍀🍀🍀...


Semua orang disana syok melihat Naina tiba-tiba jatuh pingsan setelah mulutnya mengeluarkan banyak darah. Para tamu undangan yang hadir disana juga terkejut melihatnya.


Juna menangkup tubuh Naina dengan kedua tangan kekarnya. Kini Naina yang tidak sadarkan diri itu di gendongnya. Wajah Juna tak kalah paniknya dengan semua orang disana. Terutama keluarga Naina.


Laura terdiam, dia teringat pada hari pernikahan nya dulu dengan Leon. Saat itu Bu Delia juga memuntahkan darah dan tidak sadarkan diri sama seperti Naina.


"Kelvin, Keira, kak Laura, kak Leon, Ken kalian disini saja. Aku dan Alma akan ke rumah sakit" ucap Bryan pada 5 orang itu dengan cepat dan buru-buru.


"Gak pa! aku mau ikut ke rumah sakit" ucap Kelvin mencemaskan saudara kembarnya.


"Kamu ini seorang pengantin, masih banyak para tamu undangan. Kamu disini saja bersama Keira"


"Gak ma, pa, aku sama Kelvin akan ikut ke rumah sakit" ucap Keira yang juga cemas dengan keadaan Naina.


Pada akhirnya, Kelvin, Keira, Alma dan Bryan yang ikut ke rumah sakit. Bersama dengan Juna, Theo dan Nisha. Sesampainya mereka di rumah sakit, Naina segera di larikan ke ruang UGD.


Tubuh sang ibu itu roboh, belum apa-apa di sudah menangis dan bersedih. Bryan dengan setia menemani Alma dan menguatkan nya.


"Bryan! apa yang terjadi pada Naina? kenapa Naina? dia baik-baik saja kan? Bry...Naina itu.. dia...hiks" Alma duduk di kursi sambil menangis tersedu-sedu


"Naina gak papa Al.. Naina gak papa" ucap Bryan yang mencoba menguatkan Alma walau dirinya sendiri cemas dengan keadaan putrinya.


"Maaf om, Tante, tapi sebenarnya Naina tidak baik-baik saja" ucap Juna memberanikan dirinya untuk memberitahukan kebenaran tentang Naina. Pria itu juga menangisi Naina.


Keira, Kelvin, dan Nisha juga melihat ke arah Juna dengan penuh pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang baru saja masuk ruang UGD itu?


"Apa maksud kamu? Naina kenapa??!" Alma beranjak dari kursinya dan langsung menghampiri Juna. Alma menatap tunangan putrinya nya dengan tajam.


"Om.. Tante.. Naina sakit kanker.." jawab Juna dengan suara berat, dan perasaan berat dihatinya.


DEG!


Semua orang disana tersentak kaget mendengar nya. Mereka melihat Juna dengan mata terbuka lebar alias terbelalak. Mereka sudah memasang kuping mereka baik-baik dan terdengar dari mulut Juna bahwa Naina sakit kanker.


Kanker? apa itu kanker darah? jika benar.. maka sama dengan penyakit Alm. nenek nya Naina dan Kelvin. Tangis Keira juga pecah saat mendengar fakta dari mulut Juna. Keira menutup mulutnya dengan tangan


Naina terkena kanker??. Nisha juga terkejut mendengar nya


"Apa kamu bilang? Naina itu sangat sehat! dia tidak mungkin sakit kanker!!" Alma tidak percaya, air matanya mengalir tanpa suara tangisan.


GREP


Kelvin menarik baju Juna dengan kasar, "Lo jangan main-main Jun! Lo gak bisa bercanda soal masalah serius kaya gini!" teriak Kelvin pada pria itu, matanya berkaca-kaca.


"Gue gak mungkin bercanda Vin! Ini faktanya kalau Naina sakit kanker darah, sudah menginjak stadium akhir..hiks" Juna menangis dan duduk di kursi yang ada di luar ruangan itu.


GLEK


Kelvin menelan ludahnya, tatapan matanya kosong. Kelvin merasa bahwa Juna tidak sedang bercanda. Pria itu mungkin bercanda dalam situasi seperti ini apalagi itu berkaitan dengan Naina, orang yang dia cintai.


"Vin.." Keira memegang tangan Kelvin


"Kelvin! jangan percaya! adik kamu itu gak mungkin terkena kanker, dia sangat sehat! dia yang paling sehat dan lincah dalam keluarga kita!" Alma memeluk suaminya sambil menangis


Ini gak benar, Naina tidak mungkin sakit. Naina ku baik-baik saja.


"Juna, apa kamu serius? Naina mengidap kanker dan kenapa kamu tidak memberitahu kami??!" tanya Bryan pada Juna dan mulai marah.


Dokter Firlan dan Theo keluar dari ruang UGD itu dengan wajah kurang menyenangkan. Alma lebih dulu memburu menghampiri kedua dokter itu.


Juna, Bryan, Kelvin, Nisha dan Keira melihat ke arah dokter dan memperhatikan raut wajahnya. Dengan deg degan, hati yang was-was mereka menyiapkan mental untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Dokter! bagaimana keadaan anak saya?!" tanya Alma lebih dulu dengan wajah panik nya yang belum mereda.


"Maafkan saya, keadaan anak ibu sekarang dalam masa kritis. Bu Ninaina, koma.." jawab dokter Firlan dengan berat hati menyampaikan berita kurang menyenangkan. Begitulah tugasnya sebagai seorang dokter spesialis kanker darah.


Setiap Minggu bahkan setiap harinya dia telah menyelamatkan nyawa pasiennya dan juga menyampaikan berita duka pada keluarga pasien nya. Sebenarnya dia tidak ingin menyampaikan berita duka kepada keluarga Naina, karena Naina adalah salah satu pasiennya yang memiliki kekuatan semangat untuk sembuh. Namun takdir Allah berbeda dengan apa yang diharapkan manusia, Naina kini berada di dalam titik batasnya. Koma, itulah keadaan Naina sekarang. Berada di ambang kematian.


Deg!


Lagi-lagi semua orang dibuat terkejut dengan berita buruk ini, tak sempat bicara lagi. Alma sudah jatuh pingsan karena tak kuasa menahan kesedihan. Ibu mana yang tidak akan sakit hatinya, melihat anaknya yang baik-baik saja tiba-tiba batuk darah, pingsan dan langsung koma. Alma syok, syok yang parah dan bukan main-main. Mungkin rasa sakitnya sama dengan apa yang dirasakan saat dia kehilangan Albry.


BRUGH!


"Mamaahh!!" teriak Keira menghampiri ibu mertuanya dengan cemas, wanita itu masih memakai gaun pengantin nya.


Bryan menopang tubuh istrinya yang roboh itu. "Sayang!! Al.. Alma..." panggil Bryan pada istrinya itu. Dengan hati yang sedih, Bryan membawa istrinya ke ruang perawatan di rumah sakit itu. Bryan meminta agar Kelvin dan Keira menunggu Naina di depan ruangan itu, karena Bryan akan menjaga Alma dulu.


Kelvin berdiri mematung dengan pandangan kosong, disisi lain ada Nisha, Juna dan Nisha yang terlihat syok mendengar Naina koma.


Mereka kehabisan kata-kata, walau sudah tau Naina sakit. Tapi Juna tetap syok dengan kondisi Naina. Koma? apa itu artinya harapan Naina tipis untuk sadar kembali?


"Vin.. Naina Vin.. Naina..." Keira menangis, dia tak percaya adik ipar sekaligus sahabat nya itu sedang berada dalam koma.


Kelvin memeluk Keira, mereka saling menguatkan satu sama lain. Mereka duduk di kursi sambil mendengarkan penjelasan dokter Firlan tentang kondisi Naina.


Naina seperti ini karena dia tidak merespon dengan baik kemoterapi yang kedua. Keadaan nya drop, menjadi lemah dan membuatnya koma. Belum lagi dokter Firlan mengatakan bahwa Naina sudah tau penyakit nya satu bulan yang lalu.


Hati Kelvin terhenyak mendengar nya, bagaimana bisa dia sebagai saudara kembarnya tidak bisa merasakan keadaan Naina.


"Gimana bisa aku gak tau? aku keluarganya dan hidup satu rumah sama dia, tapi aku gak tau dia


Dalam emosi dan kesedihan, Kelvin memukul Juna yang sudah tau kondisi Naina namun tidak memberitahukannya kepada semua orang.


BUK


BUK


Juna jatuh tersungkur ke lantai, dia tak melawan pukulan Kelvin padanya. Dengan mata kosongnya, dia hanya diam saja.


"Brengsek Lo! Lo udah tau Naina sakit, tapi Lo gak ngasih tau sama kita semua!!!" teriak Kelvin murka, wajahnya merah, dia menangis.


"Kelvin! jangan salahin Juna, Naina yang minta dia rahasiakan ini dari semua orang!" Theo membela Juna karena ini memang keinginan Naina merahasiakan penyakit nya.


"Jadi Lo juga tau kalau Naina sakit?! Lo tau dan lo gak kasih tau gue!!" teriak Kelvin histeris


"Vin, tenanglah.. ini rumah sakit, Vin.." Keira berusaha meredakan emosi suaminya dan memegang tangannya.


"Maafin gue Vin, Naina mengancam dengan hidupnya. Dan gue terpaksa berjanji, bukan gue aja yang terpaksa.. tapi juga Juna, kita juga baru tau kemarin tentang penyakit Naina" jelas Theo jujur, dia juga merasa bersalah karena dia merahasiakan penyakit Naina dari keluarga nya.


"Aku seperti orang bodoh! aku orang bodoh yang gak tau apa-apa!! aku bahkan gak tau adikku sakit selama itu!!" Kelvin jatuh terduduk, dia menangis histeris di depan ruang perawatan Naina. Tempat dimana gadis itu terbaring koma.


Juna kehilangan kata-kata, tubuhnya lemas, kaku, tidak bisa beranjak dari bawah lantai.


...---***---...