Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Mengambil alih



Readers! harap Persiapkan mental kalian untuk konflik konflik terakhir dari novel ini untuk kisah Alma dan Bryan! mungkin agak sedikit mengesalkan, tapi tenang saja. Ending nya tidak akan menipu kalian.. πŸ€—


Don't forget untuk like seusai membaca ya, komen nya juga untuk support author β€οΈπŸ™πŸ˜Š makasih yang sudah setia membaca sampai sini.


....***...


.


.


Hati dan pikiran Alma tidak tenang, apalagi Bryan yang belum juga memberikan kabar padanya. Tidak ada satupun SMS atau telpon dari suaminya itu. Menambah kecemasan nya saja.


Melihat ibunya yang terluka, Naina dengan sigap membawa tas p3k nya dan segera membalut luka di jari Mama nya dengan obat merah lalu membalutnya dengan plester.


" Luka nya sudah di obati Ma " kata Naina sambil tersenyum


" Terimakasih Bu dokter " jawab Alma sambil tersenyum dan mengelus kepala anaknya


" Hehe.. iya Ma, cepat sembuh ya " Naina senang dipanggil Bu Dokter oleh Mama nya


Bu dokter? apa dia benar-benar mau jadi istrinya si Theo? dia juga kan bercita-cita menjadi dokter?. Batin Kelvin tidak senang


" Kakak, kenapa muka kakak kaya gitu?" tanya Naina yang heran melihat wajah kakaknya yang ditekuk itu


" Tidak apa-apa. Kamu tidak cocok jadi dokter"


" Apa? kenapa tidak cocok?" tanya Naina


" Kamu itu ceroboh, kalau kamu jadi dokter dan salah suntik pasien lalu pasien nya jadi gila. Bisa bahaya " Kelvin mengejek


" APA?! Kakak nyebelin?!' Naina kesal dan memukul pelan-pelan kakaknya itu. Mereka berdua berlari saling mengejar, Kelvin senang sekali melihat adiknya marah.


" Aduh, kalian ini. Sudah dong lari larian nya, yuk makan malam " ajak Alma sambil tersenyum melihat kedua anaknya itu


Setelah selesai memasak makan malam dan makan malam bersama. Alma merasakan sesuatu yang tidak nyaman lagi di hatinya. Ia memegang ponselnya dan mengirimi Bryan beberapa pesan menanyakan kabar.


" Katanya dia mau mengabari ku setelah sampai disana! apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Alma cemas


Bukan hanya Alma saja yang cemas dengan keadaan Bryan, tapi bayi yang ada di perutnya juga ikut merasa resah.


" Ya Allah semoga Bryan baik-baik saja dan urusannya lancar " Alma berdoa dengan kesungguhan hatinya


***


.


.


Di gedung yang kosong dan tampak sepi itu, Andre dan kedua bodyguard Bryan mencari keberadaan Bryan dan dua bodyguard yang pergi bersamanya. Mereka panik mendengar suara tembakan dari bagian gedung yang tampak menyeramkan itu.


DORR


DORR


" Pak Andre! ada suara tembakan!" ujar seorang bodyguard yang bersamanya, panik


" Benar! jangan-jangan terjadi sesuatu pada pak presdir ! ayo!" seru Andre yang juga panik setelah mendengar suara tembakan yang terdengar dua kali itu.


Pak presdir akan baik-baik saja! pasti, aku sudah menelpon polisi setempat untuk berjaga-jaga.


Andre dan kedua bodyguard itu berlari menuju ke arah suara tembakan dengan panik. Mereka melihat Bryan dan kedua bodyguard nya terluka dan tidak ada siapapun di ruangan itu selain mereka.


" Pak presdir! apa anda baik-baik saja?" tanya Andre cemas melihat tangan Bryan yang berdarah


" tanganku ditembak oleh Mr.K itu, dia sudah melarikan diri. Tapi aku sudah menembaknya " ucap Bryan sambil memegang tangannya yang bercucuran darah


" Saya sudah menelpon polisi jadi dia pasti akan segera ditangkap. Pak Presdir kita harus pergi ke rumah sakit !" ucap Andre cemas


" Iya baiklah Andre, kita ke rumah sakit " jawab Bryan setuju


Andre memapah Bryan yang terkena luka tembak, kedua bodyguard lainnya juga memapah bodyguard yang terluka dan mereka pun di larikan ke rumah sakit yang ada disana.


Beruntunglah luka tembak ditangan Bryan tidak parah dan menembus bagian dalam tubuhnya dan hanya dijahit beberapa jahitan. Segera setelah lukanya diberi perban oleh dokter rumah sakit, Bryan ingin segera pulang ke rumah nya.


" Siapkan tiket pesawat keberangkatan paling awal. Aku ingin segera pulang " ucap Bryan kepada Andre


" Tapi pak, luka anda masih belum sembuh total. Dokter bilang kalau anda masih harus beristirahat " ucap Andre mengingatkan dengan hati-hati


Masa bodoh ah aku mau dimarahi oleh Presdir juga, aku mengingatkan nya agar dia cepat sembuh. Karena kalau Presdir sakit, maka aku yang akan repot.


" Aku baik-baik saja Andre, aku ingin segera bertemu istri dan anak anak ku di rumah " Bryan tersenyum dan bicara dengan nada lembut


Andre merasa merinding melihat Bryan yang bersikap lembut dan mendengar Bryan yang lemah lembut juga tersenyum padanya. Tidak seperti Bryan yang biasanya marah-marah ketika diingatkan sesuatu, terutama tentang kesehatan nya.


Loh? kenapa pak presdir bicaranya jadi lembut? ini benar Presdir ku kan? apa beliau terbentur sesuatu saat di serang Mr.K itu?


" Pak Presdir, seperti nya kita harus kembali ke dalam " ucap Andre mengarah pada ruangan dokter


" Kenapa?"


" Mungkin saja kepala anda terbentur sesuatu tadi, anda bersikap tidak seperti biasanya" jawab Andre cemas


DEG!


Bryan sempat menghentikan langkahnya, diam-diam tersirat senyuman dingin di wajahnya. Secepat mungkin Bryan mengubah raut wajahnya menjadi ramah di depan sekretaris nya itu.


" Andre, kamu jangan cemas. Aku baik-baik saja kok. Lebih baik kamu siapkan tiket pesawat ya " Bryan tersenyum lembut


Dia tidak boleh curiga padaku. batin Bryan merasa terancam


Andre terpana lagi di buat oleh Bryan. Padahal biasanya dalam keadaan seperti ini Bryan akan marah-marah padanya, memanggilnya bodoh atau lamban. Tapi, Bryan tetap sabar menghadapi Andre dengan sikap lembut nya. Andre merasa aneh.


" Baik pak, saya akan segera menyiapkan tiketnya. Lebih baik kita kembali ke hotel dulu agar bapak bisa beristirahat " ucap Andre sopan


" Terimakasih Andre, kamu sekretaris yang baik " jawab Bryan memuji sekretaris nya itu.


Kenapa aku merasa Presdir seperti berubah menjadi orang lain? ah mungkin saja Presdir ingin berubah jadi lebih baik. ucap Andre di dalam hatinya mencoba berfikir positif.


Bryan berjalan menuju ke hotel tempatnya menginap, diikuti oleh ke empat bodyguard nya dan Andre dari belakang.


Sesampainya di hotel, Bryan segera membersihkan dirinya dengan hati-hati takut kalau luka bekas tembakannya agar terkena air. Setelah itu ia membuka ponselnya, dan melihat wallpaper di ponselnya itu.


" Konyol, apa dia benar-benar mencintai keluarga nya? sampai sampai memasang foto anak dan istrinya di dalam ponsel dan mobilnya. Pria playboy seperti dia bisa benar-benar mencintai wanita?" gumam seseorang dengan wajah yang mirip dengan Bryan itu.


Ternyata dia bukanlah Bryan, melainkan Mr.K alias Ken. Lalu dimanakah Bryan berada? Apa dia sudah mati?


Ken membuka ponsel Bryan dengan mudah, ia bahkan mengetahui password ponselnya. Bagi peretas handal seperti nya, hal seperti membuka dan membobol adalah keahlian nya. Wajah Ken benar-benar mirip dengan Bryan, sampai tidak ada bedanya. Tinggi dan gaya rambutnya pun sama, badannya yang berotot juga sama. Kemiripan yang sulit dibedakan jika orang luar melihat nya.


Ken melihat-lihat galeri yang ada ponsel Bryan, ia melihat banyak sekali foto-foto Alma dan si kembar di dalam sana.


" Apa cantiknya wanita ini sampai kamu tergila-gila padanya? dia lebih jelek dari mantan mu si Selina itu. Bahkan si Livia lebih cantik juga darinya. Dia hanya wanita sederhana dan terlihat bodoh. Haa.. kenapa juga aku peduli padamu? " gumam Ken saat melihat foto Alma di dalam ponsel Bryan.


Ia menggeser lagi galeri foto Bryan, dan ia langsung terhenti saat melihat foto Bu Delia di dalam sana. Hatinya berdegup kencang saat melihat foto itu, matanya mulai berkaca-kaca.


" Kuatkan hatimu Ken! mereka adalah orang-orang jahat yang sudah menghancurkan hidupmu, membuang mu dengan kejam! kamu tidak boleh ada hati dengan mereka. " gumam Ken kesal.


Tring Tring..


🎢🎢🎢


Ponsel yang dipegang Ken berbunyi dan bergetar. Bertuliskan di ponselnya " Istriku sayang "


" Ini pasti si wanita bodoh itu, cih " Ken mengangkat telpon dari Alma.


Tit..


" Halo Bry.. kenapa kamu baru angkat telpon ku? aku sangat cemas padamu, aku sudah menelpon mu berkali-kali! apa Mr. K sudah tertangkap? apa kamu baik-baik saja?" Alma langsung memburu pria itu dengan banyak pertanyaan


Dia cerewet sekali, aku pikir dia wanita yang pendiam. batin Ken sambil mengorek telinga nya mendengar kan kecerewetan Alma.


" Tanya nya bisa satu satu gak? kupingku sakit mendengar mu bicara seperti itu. " ucap Ken sinis


" Bry.. Bryan kamu kenapa marah padaku? apa aku menganggu mu? apa kamu sakit?" tanya Alma sedih dengan ucapan Ken yang sinis padanya, biasanya se lelah apapun Bryan ia tidak akan sampai bicara sinis pada nya.


" Sayang maafkan aku, tadi aku sedang tidak fokus " ucap Ken


" Kamu pasti lelah, aku akan tanya nanti saja. Maaf menganggu mu, aku hanya mencemaskan mu. Tapi sepertinya kamu baik-baik saja. Setidaknya balas lah pesan ku, kami cemas padamu " jelas Alma dengan suara yang lembut dan sabar


Ken terpana dengan perhatian Alma padanya, selama ini ia tak pernah mendapatkan perhatian dari seseorang. Ia mengira Alma akan marah karena ia bersikap sinis padanya, tapi wanita itu tetap mengkhawatirkan nya meski Ken bersikap buruk padanya.


Sial! Bryan bagaimana bisa kamu beruntung mendapatkan perhatian seperti ini? kenapa semua perhatian harus kamu dapatkan? kenapa aku tidak?. Batin Ken merasa iri pada Bryan


" Sayang? kamu dengar aku kan? kamu baik-baik saja kan?" tanya Alma cemas, karena Ken tidak kunjung menjawab panggilannya


Entah kenapa aku merasa suara Bryan terdengar dingin?. Batin Alma cemas


" Iya aku baik-baik saja, semua masalah disini sudah selesai. Aku akan segera kembali " ucap Ken datar


" Syukurlah kalau sudah selesai. Aku dan anak-anak nunggu kamu di rumah, aku kangen kamu " ucap Alma penuh perhatian


Tit..


Ken memutus begitu saja telponnya dengan Alma, ia tak mau mendengar lagi ocehan dari wanita hamil itu. Dia pun merebahkan dirinya di ranjang empuk kamar hotel.


" Jangan lemah Ken! jangan lemah dan luluh. Cinta dan kasih sayang adalah hal yang bisa membuat seseorang menjadi lemah, kamu tidak boleh terlena olehnya. Tujuan mu hanya balas dendam pada keluarga Aditama ! " gumam Ken penuh kemarahan, ia sampai melempar bantal yang ada di ranjangnya dengan kesal.


.


.


...****...


Sementara itu Alma sedang di kamarnya, ia terlihat bingung dengan sikap suaminya yang tidak biasanya itu.


" Apa Bryan terlalu lelah makanya dia sampai memutuskan telpon dariku? atau mungkin saja baterai ponselnya habis saat bicara denganku. Mana mungkin di sampai memutuskan telpon dariku begitu saja. Tapi syukurlah Bryan baik-baik saja, Albry kecil.. Papa mu baik-baik saja dan akan segera pulang "


Alma selalu mencoba berfikir positif di dalam semua keadaan, asalkan Bryan baik-baik saja itu sudah cukup baginya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pagi itu Ken, Andre dan ke empat Bodyguard Bryan sudah sampai di Jakarta. Urusan Mr. K dianggap sudah selesai saat seseorang yang mengaku sebagai Mr. K di masukkan ke dalam penjara di Singapura.


Andre tampak senang karena akhirnya masalah Mr. K sudah terselesaikan, namun satu hal yang tidak ia tau kalau Mr. K sedang berada di hadapan nya dan ia tidak menyadari nya.


" Bapak mau pulang naik taksi? atau saya panggil pak Angga saja untuk menjemput kemari?" tanya Andre menawarkan


" Aku naik taksi saja, dan kamu juga segera pulanglah ke rumah. Hari ini kamu beristirahat saja di rumah " ucap Ken perhatian


" Pak-pak presdir serius? maksud bapak libur?" tanya Andre kaget dan tercengang


" Ya, kalau beristirahat di rumah artinya libur. Beristirahat lah di rumah sebanyak 2 hari, karena kamu sudah banyak bekerja keras, Andre " Ken tersenyum ramah


Ya ampun! apa aku sedang bermimpi? pak Presdir menyuruhku libur? selama 2 hari lagi? padahal biasanya pak Presdir hanya memberi libur 1 hari saja. Beliau kan pelit kalau ngasih liburan. Apa beliau benar-benar terbentur saat di serang Mr.K?


Andre tercengang oleh Ken yang perhatian padanya. Apalagi tersenyum ramah padanya, hal yang tidak biasa dilakukan Bryan pada nya sebelum nya.


" Bapak serius?" tanya Andre


" Tentu saja, aku akan pulang dengan taksi. Dan kalian berempat tidak usah mengawal ku hari ini " ucap Ken kepada ke empat Bodyguard yang mengawal Bryan


" Baik pak! anda bisa memanggil kami kapan saja " ucap salah satu bodyguard itu patuh


" Ya, terimakasih atas bantuan kalian " ucap Ken pada ke empat Bodyguard itu.


Ke empat Bodyguard itu langsung bengong saat Ken yang dianggap mereka sebagai Bryan mengucapkan terimakasih dan bersikap ramah pada mereka. Disisi lain Ken sudah naik taksi dan pergi menuju ke rumah Bryan.


" apa aku bermimpi? Presdir baru saja mengucapkan terimakasih dengan wajah lembut dan nada suara yang ramah?"


" Ya aku juga dengar kok, dan aku masih tidak percaya "


" Sebenarnya apa yang terjadi pada Presdir?" tanya salah satu bodyguard kebingungan


" Pak Presdir seperti orang lain saja ya "


" Eh, jelas-jelas beliau adalah pak Presdir. Lihat saja wajahnya kan tidak berubah?" ucap seorang bodyguard lainnya


***


Ken sampai di depan rumah Bryan, ia menatap tajam rumah itu. Bersumpah akan menghancurkan semua orang yang ada di dalamnya, dan mengambil alih semua harta keluarga Aditama ke tangannya. Ken melangkah pelan-pelan berjalan masuk ke dalam rumah berlantaikan 2 itu, ia disambut oleh pak Jeffry yang sudah siap mengantar si kembar pergi ke sekolah.


" Pak Presdir, anda sudah kembali?" tanya Pak Jeffry ramah dan menyambut Ken yang ia pikir adalah Bryan.


" Hm.. iya pak Jeffry " jawab Ken singkat dan canggung


Benar kan dia pak Jeffry? orang yang selalu mengantar jemput istri dan kedua anak Bryan. Ken melirik ke arah Pak Jeffry, mengamati pria tua itu dengan hati-hati.


" Bu Alma, tuan muda dan nona muda pasti senang karena bapak sudah kembali. Tapi kenapa tangan bapak di perban begitu?" tanya Pak Jeffry yang cemas melihat tangan kiri Ken yang diperban.


" Saya baik-baik saja pak, ini hanya luka kecil " jawab Ken santai " Kalau begitu saya masuk dulu ke dalam ya " Ken masuk ke dalam rumah itu.


Pak Jeffry melihatnya dengan tatapan aneh, kenapa tiba-tiba Bryan bicara dengan formal padanya? padahal biasanya tidak begitu. Pikirnya dalam hati.


Saat sudah sampai di ambang pintu, Ken melihat kedua anak yang sedang sarapan pagi bersama wanita hamil dan mereka terlihat sangat rukun.


Naina melirik ke arah Ken dan tersenyum lebar, berlari menyambut pria yang ia pikir adalah Papa nya itu.


" Papa, papa sudah pulang?" sambut gadis kecil itu sambil memeluk Papa nya dengan gembira


" Iya sayang " jawab Ken ragu-ragu.


Pandangan Alma dan Kelvin tertuju pada tangan Ken yang diperban. Mereka tampak cemas dan menanyakan keadaan Ken, bagaimana pria itu bisa terluka?. Mendapat perhatian seperti itu dari Alma dan si kembar membuat Ken terdiam dan tidak bicara apa-apa.


" Kamu bilang waktu di telpon kamu baik-baik saja! lalu apa ini? kamu tidak menceritakan hal seperti ini padaku?" tanya Alma sambil melihat tangan Ken yang diperban


" Ini bukan apa-apa, hanya luka kecil saja " jawab Ken santai


Kenapa wanita ini sangat mencemaskan Bryan? apa wanita bodoh ini benar-benar mencintai Bryan? tidak mungkin dia mencintai Bryan yang sering berselingkuh darinya?. Ken tidak percaya kalau Alma benar-benar mencintai Bryan yang di juluki playboy.


Apa wanita ini hanya berpura-pura mencintai nya hanya karena ia adalah seseorang yang memiliki darah konglomerat Aditama?. Ken menatap tajam Alma yang sedang fokus mensterilkan luka di tangan Ken yang mengeluarkan darah.


" Luka kecil apanya? kamu tertembak begini, kamu sebut luka kecil? Bryan kamu tuh benar-benar " gerutu Alma yang didalam kata-kata nya terdengar kekhawatiran pada pria yang ada di depannya itu.


Terakhir, Alma kembali membalutkan perban di tangan Ken dengan hati-hati.


Entah kenapa aku merasa wanita cerewet ini cukup perhatian. Apa dia tidak berpura-pura? dalam setiap kata-kata nya aku mendengar kekhawatiran dan kecemasan.


" Hari ini kamu tidak boleh pergi bekerja dulu, tidurlah dan beristirahat. Aku akan memanggil dokter Ian kemari untuk memeriksa mu nanti. " Alma mendorong Ken dan merebahkan pria itu ke ranjang tempat tidur nya dan Bryan.


" Ya, aku hanya akan tidur " jawab Ken patuh


" Tumben kamu sangat patuh, biasanya kamu sangat keras kepala " Alma tersenyum " Kamu mau tidur atau mau makan dulu? kamu pasti belum sempat sarapan kan?" tanya Alma perhatian


" Aku mau tidur saja. Kamu keluar lah " ucap Ken dingin


" Kamu tidak mau makan dulu? apa kamu mau aku temani disini?" tanya Alma sambil duduk di samping Ken yang sedang rebahan


Dia pasti mau aku temani disini, dan dia pasti merindukan tendangan Albry kecil. Alma sudah senyum-senyum mengharapkan pelukan dari suaminya.


" Aku bilang keluar! itu artinya aku mau sendirian ! jadi kamu keluar saja! kamu berisik tau gak !" teriak Ken membentak wanita hamil itu dengan kesal


wanita ini sangat cerewet, bodoh. Aku tidak terbiasa dengan kecerewetan seorang wanita, aku tidak suka.


Alma tersentak dan sedih dengan sikap Ken padanya, ia menelan saliva nya dan tanpa bicara lagi ia keluar dari kamar itu meninggalkan Ken sendirian disana.


Bukan pelukan lembut, atau kata-kata manis yang ia dapatkan dari pria yang ia sangka sebagai suaminya itu, tapi teriakan kesal dan penuh amarah. Seolah ia adalah gangguan untuknya. Ditambah lagi hatinya sedang sensitif, membuat Alma menangis setelah dibentak oleh Ken. Padahal biasanya ia tidak akan menangis, apalagi karena hal sepele.


" Sayang.. Papa mu cuma lelah makanya dia marah, dia tidak bermaksud membentak Mama dan kamu. hiks hiks.. kenapa aku menangis? aku cengeng sekali.. "


Alma menangis, lalu berjalan pergi ke dapur menyiapkan air minum dan makanan untuk suaminya itu.


Hati Alma sedikit terluka dengan sikap Ken padanya.


...---***---...