Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 5. Lo lagi?



...Hai Readers, jangan lupa like komen nya ya sesudah membaca karyaku.😘❤️❤️ supaya novel ini tetap berlanjut dan kalau bisa crazy up juga....


...***...


Juna menepuk bahu Kelvin, pandangan Kelvin masih tertuju pada Naina dan Keira yang masuk ke dalam kelas itu.


"Genius cold man, Lo suka ya sama cewek itu?" tanya Juna sambil melihat ke arah Keira dan Naina yang duduk bersebelahan


"A-apa maksud Lo?" tanya Kelvin gugup


Apa si preman tengik ini tau kalau aku ngeliatin Keira?


"Gue saranin mending jangan deh, dia tuh kurang waras " Juna melihat ke arah Naina


"Apa Lo bilang? siapa yang gak waras?" tanya Kelvin sambil melotot ke arah Juna


"Itu tuh cewek yang Lo suka, si kuncir satu. Dia itu gila" bisik Juna pada Kelvin


Tunggu? kuncir satu? itu kan Naina?. Kelvin terlihat berfikir


"Kurang ajar! beraninya Lo bilang ad.." Kelvin terlihat marah


Hampir deh keceplosan, Naina bisa marah.


"Lo bilang apa genius cold man?" tanya Juna


"Kenapa Lo ngatain dia gila?dia itu cewek cantik, baik, dan paling normal yang pernah gue temuin. Lo kali yang gila" kata Kelvin tidak senang mendengar adiknya di ejek oleh Juna.


Tuh kan bener, Kelvin si genius cold man yang gak pernah belain orang lain. Hari ini turun tangan buat belain si cewek gila itu, aku yakin dia suka sama dia. Juna tersenyum tipis


"Tuh kan, Lo yang gila? awas Lo ya kalau gangguin kedua cewek itu, Lo bakal berurusan sama gue. Dasar trouble maker!" Kelvin mengancam


Juna memang sering di sebut trouble maker oleh teman-teman sekelasnya. Ya, alasannya karena memang ia selalu membuat masalah. Dulu ia sekelas dengan Kelvin dan Theo waktu kelas satu, akan tetapi Juna tidak naik kelas karena ia sering membuat masalah, bolos sekolah, bolos saat jam pelajaran, bahkan pernah ketahuan merokok di sekolah bersama teman-teman satu geng nya.


Trouble maker, adalah sebutan yang cocok untuk Juna. Para guru saja sudah kesal dengan Juna, apalagi om nya yang menjadi kepala sekolah disana. Hal itu tentu tidak terjadi begitu saja, setiap orang punya alasan kenapa bisa jadi menyimpang? Dan hanya Juna sendiri yang tau apa alasannya.


Setelah mengancam Juna, Kelvin pun pergi ke kelasnya dengan buru-buru. Raut wajahnya masih tampak kesal dengan kejadian tadi. Juna juga masuk ke dalam kelas, kelas yang sama dengan Naina dan Keira.


Juna berjalan mencari bangku kosong yang ada di barisan paling belakang, ia melihat salah satu temannya yang bernama Damar yang juga tidak naik kelas sama seperti dirinya. Juna tersenyum melihat temannya berada di kelas yang sama dengannya.


"Hei Jun!"


"Mar, Lo disini juga?" tanya Juna senang


Naina terperangah mendapati Juna sekelas dengannya. Dia tidak menyangka akan satu kelas dengan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.


"Eh ada si cewek gila" sapa Juna pada Naina yang duduk di tengah tengah, antara Keira dan Damar.


Apa yang menarik dari cewek gila ini? kenapa dia beruntung banget bisa di sukai dua cowok kutu buku di sekolah ini? Mereka berdua buta kali ya. Juna melihat wajah Naina, memperhatikan nya dari dekat.


"Siapa yang kamu panggil cewek gila? dasar cowok preman." gerutu Naina kesal


"Mode perkenalan yang bagus tuh" kata Damar sambil tersenyum mendengar temannya bersama Naina. Ia tak pernah melihat Juna berbicara pada seorang gadis, hal ini adalah langka baginya.


"Minggir Lo"


"Ini tempat duduk ku, aku tidak mau minggir" kata Naina sinis


"Minggir gak? gue mau duduk disini" Juna mengambil tas gendong milik Naina dengan paksa dan melempar nya ke lantai.


BRUK


"Hey kamu!" Naina beranjak dari kursinya dan mengambil tas nya di lantai.


Setelah mengambil tas nya, Juna segera menempati tempat duduk itu. Juna tampak puas melihat Naina yang kesal padanya.


Kok jadi senang ya gangguin dia. Apalagi lihat wajahnya yang lagi marah itu, haha.


Keira pun menghibur Naina, dan memintanya duduk di bangku kosong saja. Dengan hati yang masih kesal pada Juna, gadis itu duduk tepat di bangku kosong yang ada di depan Juna karena tidak ada bangku kosong lagi.


Juna yang jahil terus membuat masalah dan menganggu Naina. Tampaknya pria itu menikmati wajah Naina yang sedang kesal.


"Apaan sih kamu sentuh sentuh aku terus?" tanya Naina kesal sambil melihat ke arah bangku belakang nya


"Gr banget sih Lo, siapa juga yang nyentuh nyentuh Lo? dasar cewek gila" gumam Juna sebal


"Kalau kamu nyentuh aku sekali lagi, aku akan menendang kaki mu yang satu nya!" Naina mengepalkan tangannya dan mengancam pria yang duduk di belakang nya itu.


Jelas-jelas dia menyentuh nyentuh punggungku, awas saja kalau dia menyentuhku lagi. Naina mendengus kesal.


"Gue gak akan biarin itu terjadi" kata Juna kesal


"Aku benci kamu, huh!"


"Gue lebih benci sama Lo!" Juna tak mau kalah dan membalas perkataan Naina.


Keira melihat pertengkaran kedua orang itu dan merasa kalau mereka berdua sangat lucu.


Kenapa ya mereka bertengkar seperti pasangan?. Keira tersenyum sendiri


Seorang wanita berseragam guru, masuk ke dalam kelas X-A. Guru wanita itu menyapa semua murid baru yang ada disana dengan ramah. Guru wanita itu juga memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas mereka.


Entah kenapa Damar dan Juna langsung tidak tenang melihat guru itu. Mereka seperti berusaha menyembunyikan diri mereka. Hal itu terlihat saat Juna memegang kedua bahu Naina dan Naina disuruh menghalangi nya.


"Nama saya Febby Darwati, saya adalah wali kelas kalian sekaligus guru matematika kalian juga. Kalian bisa memanggil saya dengan bu Febby " kata wanita paruh baya yang berdiri di depan kelas dengan wajah ramahnya itu


"Ya Bu Febby" kata anak-anak kelas itu serempak


"Oke, hari ini kita mulai dengan perkenalan dulu ya. Saya ingin tau nama kalian, agar bisa mengenal nama kalian lebih dulu. Saya akan mengabsen nama kalian, lalu kalian berdiri dan memperkenalkan diri secara singkat." jelas Bu Febby kepada anak-anak kelas X-A


Bu Febby mengambil buku absen, ia memanggil nama anak-anak murid nya satu persatu. Dan satu persatu dari mereka berdiri memperkenalkan diri mereka masing-masing secara singkat. Hanya nama dan tempat tinggal saja yang disebutkan, karena jika di sebutkan semua akan memakan banyak waktu.


"Berikut nya Keira Saraswati.."


"Saya Bu," ucap Keira sambil berdiri dari kursinya" perkenalkan teman-teman, nama saya Keira Saraswati, saya tinggal di jalan kenanga " jelas Keira singkat.


Semua temannya bertepuk tangan, menanggapi perkenalan itu.


Setelah Keira kembali duduk, Bu Febby melanjutkan kembali absen nya. Lalu sampailah absen itu pada nama yang dimulai dari inisial N.


Bu Febby terkejut karena ia mendapati nama yang tidak biasa di dalam buku absennya itu. Bu Febby tersenyum dan tidak menyangka bahwa seseorang dengan nama keluarga besar dan terkenal itu akan berada di kelasnya.


Pasti semua guru akan iri padaku, karena tahun ini aku mendapatkan lagi murid dengan nama belakang Aditama. Bu Febby cekikikan sendiri.


Di belakang kelas, Juna dan Damar masih tampak menyembunyikan mereka menggunakan tas yang mereka bawa.


"Mar, gimana nih?"tanya Juna berbisik pada teman yang duduk di sebelah nya.


"Mampus kita Jun! gak nyangka kita dapat wali kelas si Bu killer lagi." Damar terlihat ketakutan melihat sosok guru yang sedang berdiri di depan kelas itu.


"Ya ampun, kita bisa K.O dua kali nih" bisik Juna pada Damar, tampaknya si trouble maker itu juga ketakutan.


Bu Febby tersenyum lalu mulai memanggil nama yang berinisial dari N itu.


"Ninaina Alyssa Ad..


"Ninaina Alyssa saja bu.. hadir Bu!!" teriak Naina heboh, ia takut ketahuan nama belakang nya adalah Aditama. Naina langsung memotong kata-kata gurunya itu.


Semua anak-anak yang ada di kelas itu melihat ke arah Naina dengan tatapan bingung, mereka seperti ingin menertawakan kehebohan Naina, termasuk Juna dan Damar yang sedang bersembunyi.


Jadi namanya Ninaina?. batin Juna


"PFut.. apa-apaan tuh si cewek gila itu?" Juna menahan tawanya.


Aku mendengar kamu dasar cowok preman, awas aja ya. Naina melirik kesal pada Juna yang duduk di belakang nya. Juna langsung menyembunyikan dirinya lagi menggunakan tas.


"Haha, teman-teman maafkan aku.. aku terlalu bersemangat" Naina mengatupkan tangannya, ia meminta maaf kepada teman-teman nya dengan senyum canggung.


Ini memalukan. Aku ingin bersembunyi di lubang, melihat orang-orang menatapku seperti itu.. hiks. gadis itu menggerutu di dalam hatinya.


Keira juga melihat ke arah sahabatnya itu, ia tersenyum. Sudah ia duga kalau Naina akan menyembunyikan jati dirinya sebagai adik Kelvin.


Kenapa ya Ninaina terlihat ingin menyembunyikan hubungan nya dengan Kelvin? mereka pasti saudara kan? nama belakang mereka juga sama. Apa itu karena Ninaina orangnya tidak sombong dan tidak pamer punya kakak genius seperti Kelvin?


Begitulah pikir Bu Febby pada Naina. Wali kelas X-A itu pun kembali melanjutkan absen sampai abjad terakhir. Setelah yakin semuanya sudah terabsen olehnya, Bu Febby mulai melirik ke arah dua orang anak laki-laki yang berada di belakang Naina.


"Kalian berdua! berdiri" ucapnya pada Damar dan Juna yang masih bersembunyi


DEG!


Semua siswa-siswi disana melihat ke arah Juna dan Damar. Naina juga melirik ke arah teman yang ada di belakang nya itu, ia tersenyum licik melihat Juna yang bersembunyi. Dengan jahilnya, Naina mengambil tas yang sedang di pakai Juna untuk menutupi dirinya.


"Bu, ibu manggil dia? ayo cowok preman, berdiri. Dipanggil Bu Guru tuh " tanya Naina sambil tersenyum ramah pada Juna


Sialan! Juna kesal.


Terlambat sudah!


Dirinya dan sahabatnya Damar sudah terlihat oleh Bu Febby. Di wajah kedua pria itu tertulis MATI AKU!


Naina tertawa kecil setelah ia menjahili Juna. Bu Febby menghampiri kedua murid spesial nya itu. Entah keberuntungan atau kesialan untuk Bu Febby harus menjadi wali kelas Juna dan Damar untuk kedua kalinya. Diantara sekian banyak kelas, kenapa juga harus dirinya yang menjadi wali kelas dua anak bermasalah itu.


Bu Febby menghela napas panjang, ia tak banyak bicara lagi setelah menasehati kedua muridnya itu agar semangat belajar, dan semangat ke sekolah, intinya jangan membolos. Bagaimana pun juga Bu Febby adalah seorang guru dan wali kelas mereka, mulai sekarang Bu Febby akan menunjukkan jalan yang lurus untuk kedua trouble maker itu. Sudah kewajiban nya sebagai seorang guru untuk membimbing kedua anak muridnya itu.


Hari itu Bu Febby mengadakan pengocokan nomor untuk tempat duduk. Bagi murid yang mendapatkan nomor yang sama ,akan duduk satu bangku atau duduk berdekatan. Semua murid mengambil satu kertas berisi nomor yang sudah di sediakan oleh Bu Febby.


"Kalian yang sudah dapat nomornya, dan sudah ada rekan yang mendapat nomor yang sama. Segera pindah ke tempat duduknya masing-masing, termasuk kamu Juna dan Damar"


"Loh Bu? kita gak bebas milih mau duduk dimana? saya mau duduk sebelahan sama Damar, Bu" gerutu Juna


"Tidak, kalau kalian duduk berdua atau berdekatan. Hanya akan menjadi masalah, cepat ambil nomor!!" Bu Febby terlihat galak dan tegas pada kedua murid nya yang spesial itu.


Dengan langkah yang malas, Juna dan Damar beranjak dari tempat duduk mereka lalu pergi ke depan kelas dan mengambil nomor undian yang ada di dalam kotak.


"Lo nomor berapa?" tanya Juna


"Gue 20.. Lo?" tanya Damar balik


"Haa.. sialan" gumam Juna sambil melihat kertas nomor nya yang menunjukkan angka 5.


Damar terlihat senang dengan angka yang di dapatkan nya, mendapatkan angka 20 berarti ia duduk tidak terlalu depan. Bahkan ia mendapatkan bangku yang paling belakang


"Hem Hem, Arjuna jangan bicara kasar!" Bu Febby menatap tajam Juna.


"Ya Bu, maaf" jawab Juna langsung menciut. " Woy woy siapa yang dapat angka 5??" tanya Juna setengah berteriak


DEG!


Naina langsung ternganga melihat nomor yang ia dapat, ditambah teriakan Juna tentang angka nomor 5.


Juna mendekati ke arah Naina, gadis itu dengan wajah cemberut nya menggandeng tas gendongnya, seperti nya ia bergegas pindah dari tempat duduknya. Tak sengaja Juna melihat angka nomor 5 yang ada di kertas milik Naina.


"Hah? angka 5? sialan! Lo lagi Lo lagi" Juna tersenyum tipis, ia merasa tidak beruntung karena harus satu bangku dengan Naina


"Memangnya aku mau duduk sama kamu? kamu juga sial tau gak?" Naina tidak kalah kesalnya dengan Juna. Mereka merasa sama-sama tidak beruntung sejak awal pertemuan sampai sekarang.


"Woy, siapa yang mau tukeran nomor sama gue? gue gak mau duduk sama cewek gila" teriak Juna pada semua temannya yang ada di kelas.


"Aku juga gak mau duduk sama cowok preman kaya kamu! huh!" Naina terlihat kesal


"Yang mau tukeran nomor sama gue, gue traktir hari ini di kantin makan sepuasnya!" teriak Juna menawarkan.


Bu Febby mendekati kedua muridnya yang terlihat seperti kucing dan tikus itu. Ia mengatakan dengan jelas bahwa nomor nya tidak bisa ditukar.


Akhirnya, Naina dan Juna duduk satu meja. Keduanya sama-sama tidak senang. Naina bahkan memasang pembatas meja dengan menggunakan buku-buku.


"Lewatin batasan ini! awas ya kamu!"


PUK


PUK


Dengan sengaja Juna menjatuhkan pembatas yang sudah di susun oleh Naina, ia pun tidur bersandar di bangku itu. Seakan-akan semua meja itu adalah miliknya.


"Hey kamu nyebelin banget!" Naina tidak mau kalah, ia berusaha menyingkirkan tangan Juna dari batasan yang sudah di lewati oleh pria itu.


"Gue mau tidur, diem gak loh!" Juna mulai kesal karena Naina berusaha menyingkirkan tangannya dan berdekap di meja.


Entah bagaimana caranya, tangan Juna dan tangan Naina jadi berpegangan. Kedua mata mereka juga, bertemu tanpa sengaja. Tangan Juna memegang tangan Naina yang terus menganggu nya.


Sialan! jantungku seperti ini lagi. ucap Juna dalam hatinya.


Damar dan teman-teman yang lain senyum senyum melihat pertengkaran teman sebangku itu.


"Cie .. cie jodoh ni yeh.. yuhuy.." kata seorang siswa, sambil melihat Juna dan Naina yang sedang bertengkar.


"Cie cie.. jodoh emang gak kemana ya. " goda seorang siswa pada Naina dan Juna.


"Bilangnya saling benci, nanti jadi cinta loh" ucap Damar yang ikut ikutan menggoda sahabatnya itu.


"PJ nya mana dong, udah ada yang jadian aja nih baru hari pertama sekolah juga" goda seorang teman pada Naina dan Juna.


Naina dan Juna segera melepaskan tangan mereka masing-masing. Mereka berdua sama-sama malu oleh para siswa di kelas itu yang menggoda mereka.


...***...


Setelah menulis jadwal pelajaran, semua murid kelas X pulang lebih dulu daripada anak anak kelas sebelas dan kelas dua belas. Naina bergegas untuk pulang karena ia ingin segera menjemput Albry di sekolah. Saat itu ia berpapasan dengan kakak nya dan Theo, karena kebetulan pulangnya anak-anak kelas X bertepatan dengan jam istirahat.


"Kak Theo, Kak Kelvin" sapa Keira dan Naina bersamaan, pada dua pria tampan itu.


"Kalian udah mau pulang?" tanya Theo ramah


Kenapa aku sedih ya gak sekelas sama Naina? haah.. harusnya aku tinggal kelas saja supaya bisa lihat Naina tiap hari.


"Iya, kebetulan kegiatan belajar nya belum mulai efektif. Oh ya, kak Theo sama kak Kelvin mau kemana?" tanya Naina penasaran


"Kami mau ke perpus. Kamu mau jemput Albry?" tanya Kelvin


"Iya kak " jawab Naina sambil tersenyum


"Maaf aku tidak bisa mengantar kamu hari ini" kata Theo yang ingin mengantar Naina pulang, tapi ia masih ada kelas.


"Gak papa kak, makasih ya kemarin." jawab Naina ramah.


"Oh ya aku juga lupa bilang makasih sama kak Kelvin" kata Keira terlihat ragu-ragu


Kok rasanya aneh ya manggil Kelvin pake kata kak.


"Biasanya juga panggil nama tanpa kata kak" ucap Kelvin sebal


"Apa? ta-tapi ini kan di sekolah"


"Terserahlah " jawab Kelvin terlihat kesal


Loh? kenapa Kelvin marah?. Keira terlihat bingung melihat Kelvin.


Kenapa aku marah ya? apa karena dipanggil kakak, oleh Keira? tapi kenapa? perasaan tidak jelas macam apa ini. batin Kelvin bingung.


Naina dan Keira pun berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Kelvin dan Theo. Kelvin tak sengaja menepuk kepala Naina, ia juga mengatakan pada adiknya itu agar berhati-hati di jalan. Dengan cepat, Naina menepis tangan kakak nya itu dan ia tampak cemas.


Tanpa mereka sadari ada beberapa mata yang melihat pemandangan itu dan mulai berfikir yang tidak-tidak.


"Tuh kan! apa gue bilang, tuh anak baru pasti ada hubungannya sama Kelvin." kata Ghina sebal melihat ke arah Naina


"Apa mereka pacaran? mereka kelihatan deket banget " kata seorang temannya mengompori Ghina yang selama ini merasa dekat dengan Kelvin.


"Ghin, anak baru ini gak boleh dibiarin. Mesti di kasih pelajaran"


"Sialan! gue pastiin tuh si anak baru tau diri" Ghina tampak kesal melirik ke arah Naina dengan tatapan tidak senang.


...--***--...