Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 55. Penjelasan dan maaf Juna



...🍁🍁🍁...


Mobil yang di kendarai Juna dan Naina sudah melaju menuju ke restoran milik Damar. Yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Naina.


"Kamu, apa apaan sih?!" tanya Naina mendengus kesal, Juna seenaknya membawa dan memaksa nya masuk ke dalam mobil.


"Apa apaan? aku cuma pengen kita cepet aja ke restoran Damar, lihat ini udah jam berapa? kita bisa telat" Juna tersenyum santai, tangannya memegang kemudi


Kamu tidak tahu betapa senangnya aku sekarang Nai, aku bisa melihat kamu lagi seperti ini. Kamu tidak tau betapa rindunya aku saat aku jauh darimu. Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku ketika rindu ini hampir membunuh ku. Ingin bertemu takut, aku akui aku pengecut. Tapi, sekarang aku akan mengutarakan semuanya.


Naina melihat ke arah ponselnya, ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.


"Gimana ini? acaranya mulai jam delapan!" Naina panik karena ia terlambat ke acara peresmian restoran Damar.


"Gak papa, aku bakalan ngebut" ucapnya menenangkan Juna


"Jangan ngebut juga bahaya dong! hati-hati aja ya" ucap Naina cemas


"Kamu sedang mencemaskan aku?" tanya Juna dengan senyuman menggoda pada Naina


"Hah? cemas sama kamu? eng-enggak tuh! aku cuma gak mau kamu ngebut, nanti kamu ditilang polisi" Naina menyangkal pertanyaan Juna, tangannya menyilang di dada


Kenapa Juna sangat tidak tahu malu? gerutu Naina dalam hatinya


"Ehem.. Nai, aku minta maaf" Juna memberanikan dirinya untuk bicara. Sebelumnya ia juga sudah merangkai kata dan nyali untuk menghadapi Naina. Tangannya gemetar saat meminta maaf pada Naina, begitu pula dengan bibirnya.


Naina menoleh ke arah Juna, menatap nya dengan heran."Maaf buat apa?"


"Saat kita janjian di taman itu, aku tidak datang" jawab Juna merasa bersalah


"Kenapa kamu minta maaf untuk masa lalu?" tanya Naina dengan suara yang sedih.


"Aku bersalah tentu aku harus minta maaf. Aku udah ninggalin kamu dan teman-teman yang lain tanpa kabar apapun. Aku bukannya sengaja melakukan itu"


"Jadi?" tanya Naina yang mengisyaratkan Juna untuk menjelaskan semua padanya, alasan ia pergi tanpa kabar apa-apa.


"Kamu mau dengar penjelasan ku, Nai?" tanya Juna sambil melihat ke arah Naina dengan penuh rasa bersalah.


"Aku mau dengar tapi kayanya gak sekarang, karena kita sudah sampai di dekat restoran nya Damar" ucap Naina pada Juna, nada bicara yang tegas dan ada rasa kecewa.


Kamu gak tau Jun, daripada marah aku lebih le rasa kecewa.


"Oke" jawab Juna sambil memarkirkan mobilnya di depan restoran itu.


Naina keluar lebih dulu, ia mengambil tas selempang nya. Hari itu pertama kali kalinya ia memakai rok dan berdandan feminim untuk acara peresmian restoran temannya. Namun sesampainya disana Naina keheranan karena tidak ada tanda-tanda ada pesta atau orang ramai disana.


Kenapa sepi ya? apa pesta peresmian nya udahan?


"Ayo masuk Nai" ajak Juna pada Naina yang masih berdiri mematung di bawah anak tangga menuju ke restoran Damar.


"Aku masuk duluan, kamu belakangan aja" perintah Naina pada Juna, ia tak mau berjalan bersamaan dengan Juna.


"Kenapa? kamu gak mau barengan sama aku?" tanya Juna pada Naina


"Menurut kamu kenapa?" tanya Naina menengadahkan kepalanya ke arah Juna, menatapnya dengan kesal.


Inilah sikap Naina yang membuat Juna sulit untuk mendapatkan maaf darinya. Sebelum semuanya jelas, Naina akan tetap marah padanya. Tapi Juna bersyukur karena Naina masih mau bicara padanya.


"Oke, aku ngerti dan aku akan jalan dibelakang" ucap Juna sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.


"Aku masuk duluan, terus beberapa menit kemudian kamu boleh masuk" ucap Naina seraya menunjuk ke arah Juna untuk mengingatkan nya.


Naina berjalan menaiki anak tangga dengan sepatu high heels yang tidak biasa ia pakai. Naina berjalan agak kaku mengenakan heels yang bahkan tidak terlalu tinggi itu. Juna mengikuti Naina dari belakang, ia takut kalau Naina akan jatuh.


Kenapa dia pake sepatu kaya gitu? kan bahaya.. batin Juna cemas melihat ke arah Naina.


"Aku bilang kamu jangan ikuti aku!" seru Naina sambil melirik ke arah yang berdiri hanya berbeda satu anak tangga darinya.


"Kamu gak bilang gitu tuh, kamu cuma bilang kalau aku harus jalan dibelakang kamu. Apa ini juga bisa disebut ngikutin?" goda Juna pada Naina


"Kamu masih tengil ya! ngeles terus kaya tukang las!" gerutu Naina sebal pada Juna yang menggodanya.


Dia masih sama, suka godain aku dan buat kesal. Walaupun sekarang dia semakin tampan. Naina mengalihkan pandangannya dari Juna setelah ia sadar bahwa ia terpesona oleh ketampanan Juna mode rapi dengan setelan jas berwarna abu nya itu.


"Biarin. Mending kamu hati-hati aja deh sama anak tangganya" ucap Juna mengingatkan Naina agar berjalan hati-hati.


"Gak usah ngomong lagi! kamu jauh jauh deh, turun lebih jauh dari anak tangganya" Naina memperingatkan Juna untuk turun dari anak tangga dan lebih menjauh darinya.


"Naina, kamu jangan keras kepala deh" ucap Juna yang tak mau turun


Juna menahan tawa melihat Naina yang masih bersikap seperti anak berusia belasan tahun. Polos, murni, galak, menggemaskan, ceria, itulah Naina di mata Juna.


"Oke, aku turun. Tapi buka sepatu mu dulu" Juna merasa sepatu Naina berbahaya


"Ini bukan urusan kamu, mau aku pake.."


Baru saja di peringatkan oleh Juna, Naina terpeleset oleh sepatunya sendiri dan tubuhnya oleng. "KYAA!!"


Beruntungnya Juna menangkap tubuh mungil Naina, tangannya menangkup tubuh Naina. Dan Naina berakhir di pelukan nya.


GREP


Deg Deg Deg


Suara apa ini? kenapa suara jantung Juna bisa sekencang ini? batin Naina yang mendengar jelas suara jantung Juna berdebar kencang.


Sial! lagi-lagi penyakit jantung yang tidak bisa dikendalikan saat ini dekat dengannya. Ternyata aku sesuka ini pada Naina. batin Juna sambil memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Naina lagi.


KLAK


"Eh Juna... Lo..." Damar membuka pintu restoran nya, ia terkejut melihat Juna dan sedang berpelukan


Atmosfer macam apa ini? apa mereka udah baikan?. Damar tersenyum melihat kemesraan yang ada di depannya itu.


Naina terkejut mendengar suara Damar, lalu ia pun mendorong Juna menjauh darinya. Naina menendang kaki Juna dan kali ini berhasil.


"Mesum! kenapa kamu curi-curi kesempatan kaya gitu?!" Naina kesal pada Juna


"Aduh sakit Nai.." Juna memegang kaki nya yang baru saja ditendang oleh Naina dengan sepatu heels nya.


Damar, kamu perusak suasana! gerutu Juna dalam hatinya pada Damar yang tiba-tiba muncul disana mengacaukan suasana.


Ah, kayanya mereka belum benar-benar baikan. batin Damar


"Mar, acaranya udah selesai ya? kenapa aku gak lihat ada banyak orang?" tanya Naina heran


"Ahaha.. iya Nai acaranya baru aja selesai"


Sebenarnya acara peresmian itu udah seminggu yang lalu, tapi demi si Juna.. aku jadi bohong sama si Naina buat buat alasan supaya dia dan Juna ketemuan disini. batin Damar merasa bersalah pada Naina


Damar mempersilahkan Naina dan Juna masuk ke dalam restoran nya, disana kosong melompong tidak ada satu pelanggan pun atau teman-teman yang hadir. Damar beralasan kalau mereka sudah pulang karena Naina dan Juna terlambat. Dan karena hari itu adalah peresmian restorannya jadi restorannya masih tutup.


Lalu dengan sengaja Damar meninggalkan Juna dan Naina agar bisa bicara berdua di restoran lantai atas yang view nya indah.


"Damar sudah sukses, restorannya bagus banget. Pemandangannya juga indah" ucap gadis itu sambil melihat-lihat ke arah pepohonan disana dan gemerlap bintang malam itu.


"Nai, bisa kita bicara sekarang?" tanya Juna pada Naina. Kini suasana diantara mereka mulai serius.


"Bicara lah Jun" Naina mempersilahkan Juna untuk bicara. Sejujurnya ia juga menantikan Juna untuk menjelaskan semua padanya.


"Pertama tama.. makasih karena kamu udah mau dengerin aku" ucap Juna bersyukur


Pria itu menceritakan dari hari dimana Juna tidak datang ke tempat janjian nya dan Naina. Hari itu kakeknya tiba-tiba sakit parah, jantungnya kumat karena masalah yang ditimbulkan oleh ibu dan adik tiri Juna di luar negeri berkaitan dengan perusahaan. Saat itulah Juna pergi ke rumah sakit, ia tidak memegang ponselnya sama sekali karena panik. Setelah itu ia mengurus perusahaan dan menjadi Presdir muda, ia mulai belajar dan sibuk membangun perusahaan nya kembali.


"Tiba-tiba dokter mengatakan kalau Opa harus dibawa ke luar negeri untuk pengobatan. Aku pun pergi kesana dan menemaninya. Tak lama setelah koma di rumah sakit, Opa meninggal.." Juna menceritakan nya dengan mata berkaca-kaca.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un.. Opa meninggal? kenapa kamu gak kasih tau aku, Jun?" Naina menangis mendengar bahwa Pak Farid meninggal dunia dan ia tidak tahu apa-apa.


"Saat itu aku ingin memberitahu kamu Nai, tapi aku takut kamu akan marah dan membenciku karena aku pergi tanpa kabar. Aku tidak berani Nai.."


"Takut? tidak berani? atau kamu memang tidak menganggap ku penting dalam hidup kamu, Jun??" tanya Naina kecewa, ia berurai air mata.


"Please Nai.. bukan kaya gitu" tangan Juna menyeka air mata Naina, hatinya sakit melihat Naina menangis.


"Lalu kenapa kamu gak cerita? Juna kamu tau kenapa aku marah? aku marah karena aku kecewa sama kamu!" Naina menangis tersedu-sedu


"Ini yang aku takutkan Nai, kalau aku cerita ini sama kamu. Kamu akan nangis dan sedih, aku gak mau kamu sedih" Juna masih menyeka air mata Naina.


"Kenapa.. kenapa kamu menyimpannya seorang diri Jun.. kenapa...hiks.. aku bahkan gak tau apa yang kamu alami.. aku berfikir macam-macam dan mulai membenci kamu!" wajah cantik Naina kini basah oleh air mata, mata nya merah karena terlalu banyak menangis.


"Aku minta maaf Naina.. aku minta maaf" Juna semakin merasa bersalah


Juna memeluk Naina untuk menghiburnya, tangannya menepuk-nepuk punggung Naina dengan lembut.


...---***---...