Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Putus hubungan



πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Kelvin dan Naina berada di dalam mobil bersama Alma, Mike dan Sharla. Mereka menuju ke rumah sakit. Sementara pak Jeffry sedang mengurus pria yang sudah menabrak Alma, membawanya ke kantor polisi.


" Kakak, gimana ini? Mama belum bangun juga.." Naina menangis melihat ibunya berada dipangkuan nya, dan tidak sadarkan diri.


" De, kamu tenang dulu. Kita kan akan ke rumah sakit, mama pasti baik-baik saja. Sekarang kita telpon papa dulu " ucap Kelvin menenangkan adiknya dan mengambil ponsel di tas Alma.


Kelvin menghubungi Bryan, namun Bryan tak kunjung mengangkat telponnya.


" Di saat seperti ini, papa bodohku itu malah tidak bis dihubungi " gumam Kelvin kesal melihat ponsel ibunya, karena sang ayah tak kunjung mengangkat telpon darinya


" Aku sudah menghubungi Bryan dan mengirimkan nya pesan, namun dia belum membalas nya. Seperti nya Papa mu sibuk " jelas Mike sambil menyetir


" terimakasih atas pemberitahuan nya, om" jawab Kelvin ketus.


Apa aku hubungi saja sekretaris Papa?. Kelvin mencari cari nomor ponsel Andre, di hp Alma.


Sharla dan Mike merasa kalau Kelvin memusuhi Mike.


Ada apa dengan anak ini? aku merasakan aura permusuhan darinya? apa aku berbuat salah padanya sebelumnya? Mike tampak bingung, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Perlahan-lahan Alma membuka matanya, dan melihat kedua anak nya ada di sampingnya.


" Kakak, Mama sudah sadar !" seru Naina senang


" Mama, Mama gak papa?" tanya Kelvin cemas sambil memegang tangan mama nya.


" Kalian jangan khawatir, Mama baik-baik saja.. Uh.. " Alma memegang perutnya, wajahnya yang tadi segar berubah menjadi pucat.


Aku tidak ingin menunjukkan sisi lemah ku di depan anak-anak. Tapi, perutku sakit sekali. Rasanya seperti di peras, dan ditusuk-tusuk. Dan seperti ada sesuatu yang keluar dari bagian bawahku.


" Mama, wajah Mama pucat " Naina menangis


" Kalian tenang ya, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Bu Alma tolong bertahanlah " Kata Sharla sambil menengok Alma dan kedua anaknya yang ada di belakang mobil nya.


***


Rupanya Bryan sedang berada di kantornya, tepatnya ruang rapat. Disana Bryan sedang menyaksikan persentasi dari beberapa bawahannya, dan tampak serius. Bryan bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Di belakang Bryan, Andre sang sekretaris selalu menemani kemana pun Presdir nya pergi.


Rapat pun berakhir saat salah satu klien penting Bryan, datang ke kantor untuk mengurus masalah fashion. Klien yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka untuk Bryan.


" Selamat siang Pak Bryan " sapa Livia dengan senyuman ramah nya. Di belakang nya berdiri seorang wanita.


" Livia? ternyata kamu?" tanya Bryan kaget melihat Livia, teman sekelasnya saat SMA yang ternyata adalah Klien pentingnya.


" Iya pak Bryan, aku adalah direktur perencanaan di perusahaan Mony fashion " ucap Livia penuh percaya diri


" Oh begitu ya. Maaf, tapi bisakah anda berbicara formal?" tanya Bryan dengan wajah yang dingin


" Ya? kenapa?" tanya Livia tersenyum


" Tentu saja karena saya dan anda adalah rekan kerja. Kita tidak sedekat itu sampai harus bicara tidak formal, bukan?" kata Bryan sarkastik


Dia masih saja dingin, sama seperti saat SMA dulu. Tapi, inilah daya tariknya.


" Oke oke, maafkan aku. Maksudku saya." Kata Livia


" Kalau begitu bisakah kita mulai pembicaraan nya di ruangan saya, Bu Livia? Saya tidak suka membuang buang waktu " ujar Bryan tegas


" Baiklah " jawab Livia setuju


Padahal kita teman sekolah, tapi kamu bersikap seolah-olah tidak mengenalku. Dan kita tidak pernah saling kenal.


Bryan, Andre, Livia dan sekretaris nya masuk ke dalam ruangan Presdir untuk berbincang soal pekerjaan. Namun, rencana itu harus dibatalkan karena Andre menerima sebuah telpon penting.


🎢🎢🎢


Ting Ting


" Andre, tidak sopan sekali kamu membunyikan ponsel mu saat bekerja!" ujar Bryan pada Andre, marah " Bu Livia, mohon maaf atas gangguan ini " kata Bryan pada Livia


" Santai saja pak Bryan " Livia tersenyum manis di depan Bryan


" Maaf pak Presdir, saya akan mematikan nya " Andre merogoh ponsel yang ada di saku celana nya, berniat mematikan telponnya. " Eh, bu Alma yang menelpon?"


" istriku? kemari kan ponselmu! biar aku yang angkat!" Bryan mengulurkan tangannya, lalu Andre langsung menyerahkan ponselnya pada Bryan.


Kenapa Alma menelpon Andre? ada apa dia sampai menelpon Andre dan tidak menghubungi ku? Bryan menatap tajam sekretaris nya itu.


Padahal itu ponselku, dan Bu Alma menelpon padaku. Tapi kenapa pak Presdir mengambilnya? tidak mungkin kan dia cemburu juga padaku?. Dan apa apaan dengan tatapan nya yang menusuk seperti pisau itu? batin Andre sedih dan heran


" Bu Livia, saya permisi sebentar "


Bryan beranjak dari kursi tempatnya duduk, lalu mengangkat telponnya di dekat pintu ruangannya. Ia terkejut saat mendengar suara Kelvin dan Naina.


" Pak Andre, dimana Papa ku? maksud ku dimana Presdir?" tanya Kelvin tajam


" Ini Papa, kenapa kamu menelpon pak Andre memakai ponsel Mama kamu? dan kenapa seperti nya papa mendengar suara Naina menangis?" tanya Bryan cemas


" Haruskah aku jelaskan itu sekarang? Pa, aku dan Naina dalam perjalanan ke rumah sakit. Mama baru saja kecelakaan " jelas Kelvin langsung pada intinya


" Apa??! Mama kalian kecelakaan? lalu kalian mau ke rumah sakit mana?" tanya Bryan yang tercengang mendengar istrinya kecelakaan


" Kami ke rumah sakit kota, ah ya dan kami diantar teman Papa, om Mike " jawab Kelvin


Mike lagi?? kenapa dia selalu ada disekitar Alma? tidak, ini bukan waktunya cemburu, Bryan. Bryan tampak kesal mendengar nama Mike disebutkan oleh putranya


" Papa akan segera kesana, kamu dan Naina pulanglah bersama pak Jeffry. Papa akan menelpon nya " kata Bryan berusaha menenangkan dirinya.


Setelah mendengar berita istrinya kecelakaan, Bryan segera menghentikan segala aktivitas nya di kantor. Menunda semua jadwalnya yang padat, dan bergegas menuju ke rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah sakit, Bryan melihat Sharla dan Mike ada di luar tempat Alma di rawat. Sharla dan Mike tampak sedang mengobrol, baju Mike berlumuran darahnya.


" Mike, kamu harus periksa ke dokter juga!" seru Sharla cemas


" Tidak, aku tidak apa-apa. Aku akan menunggu dulu disini " Mike melihat ke arah ruangan tempat Alma di rawat


Bryan menghampiri Mike dan Sharla, menatap kedua orang itu dengan tajam. " Dimana istriku?" tanya Bryan sinis


" Dia sedang diperiksa oleh dokter " jawab Mike


Bryan tampak kaget saat melihat darah berlumuran di baju Mike yang berwarna putih itu, ia mengira itu adalah darah Alma.


" Tenang saja, ini bukan darah istrimu. Ini darahku " kata Mike yang mengerti tatapan Bryan padanya


" Kenapa ya aku selalu melihatmu berada di sekitar ISTRIKU?" tanya Bryan sinis


" Aku hanya kebetulan lewat saja disana " Mike beralasan, matanya melirik kesana kemari dan tampak resah


" Kebetulan lewat? ha.. kamu pikir aku akan percaya itu. Mike jangan buat aku tidak percaya lagi padamu dan memutuskan hubungan persahabatan kita. Kamu masih sahabatku kan, Mike? " Bryan mengancam dengan nada yang tinggi.


Mike diam saja, dan terlihat sedih. Hatinya bukanlah sesuatu yang bisa ia kendalikan dengan mudah.


" Pak Mike yang sudah menyelamatkan Bu Alma. Tolong, jangan seperti ini padanya " Sharla merasa kasihan pada Mike yang mendapatkan perlakuan dingin dari Bryan


" Kalau begitu bukankah kamu harusnya mengobati lukamu? istriku biar aku yang mengurus nya " kata Bryan sinis, seperti nya Bryan mulai menyadari perasaan Mike pada istrinya.


Sharla pun mengantar Mike untuk ke mendapatkan perawatan dari dokter. Dan Bryan menunggu Alma di luar ruangan nya, tak berselang lama Ian keluar dari ruangan itu.


" Ternyata kamu yang menangani istriku, bagaimana keadaan nya? dia baik-baik saja kan?" tanya Bryan cemas


" Untunglah pendarahan nya tidak terlalu parah, hampir saja istrimu mengalami keguguran, tapi syukurlah kandungan nya masih bisa terselamatkan. Aku sudah memberikan nya suntikan penguat kandungan, dia akan baik-baik saja setelah beristirahat, oh ya dan jangan biarkan istrimu terlalu lelah. Kandungan nya masih muda. " jelas Ian pada sahabat nya itu


" Tu-tunggu! apa kamu bilang kandungan? kandungan nya masih muda??!' " Bryan terpana, ia masih menerka apa yang dijelaskan oleh sahabatnya itu


" Apa apaan dengan wajahmu itu?"


" Katakan yang jelas, Ian! istriku kenapa? kandungan? apa maksudnya kandungan?"


" Istrimu sedang hamil, kamu tidak tau?" tanya balik Ian


" Hei ! aku belum selesai menjelaskan kondisi istrimu? dasar si bucin istri ini " Ian tertawa kecil melihat kelakuan temannya itu.


Ian melihat Mike keluar dari ruangan salah satu dokter umum disana, tangan kanan Mike di gips dan memakai penyangga. Ia ditemani oleh Sharla.


" Mike, kamu tidak apa-apa?" tanya Ian


" Iya, hanya patah tulang saja. " jawab Mike santai


" Patah tulang? ya ampun, kamu sampai patah tulang seperti ini? " Ian kaget mengetahui temannya yang patah tulang karena menyelam istri Bryan.


" Tidak apa-apa, dokter bilang 1 Minggu juga akan sembuh. Oh ya bagaimana keadaan Alma? maksudku.. Bu Alma?" tanya Mike cemas


" Berkat mu yang gerak cepat dan membawanya kemari, dia tidak kehilangan bayinya walaupun hampir kehilangan bayinya. Tenang saja, dia baik-baik saja " jelas Ian pada temannya itu


" Tunggu, maksud mu apa? bayi? " Mike terpana mendengar nya


" Ya, istri Bryan sedang hamil. " jawab Ian


Mike tampak syok mendengar nya, hatinya seperti tertusuk tusuk. Sharla dan Ian melihat wajah Mike yang kurang menyenangkan dilihat itu.


" Oh ya, Mike kita harus menjenguk dulu Bu Alma dan melihat keadaan nya "


" Aku rasa tidak perlu, kita pulang saja " Mike tersenyum pahit dan melangkah pergi dengan kaki yang gontai


" Mike.. hey tunggu!" ujar Sharla cemas pada sahabatnya itu


Sudah tau akan begini endingnya, kenapa kamu masih berharap pada istri orang Mike?


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di ruangan yang bercat putih bersih itu, Alma terbangun di ranjang tempat nya terbaring.Ada satu selang infus terpasang ditangannya, perlahan ia membuka matanya dan melihat sang suami berada disampingnya dan menggenggam tangannya.


" Bryan?"


Seperti nya aku sudah di rumah sakit? Alma melihat ke arah sekitar nya.


" Sayang, kamu sudah bangun? bagaimana perasaan mu? apa perut mu masih sakit?" tanya Bryan cemas


" Aku baik-baik saja " jawab Alma " Maaf sudah membuatmu dan anak-anak cemas "


" Sayang, terimakasih banyak. " Bryan memeluk Alma dengan penuh haru bahagia


" Eh, kenapa tiba-tiba kamu memelukku? terimakasih apa?" tanya Alma polos


" Terimakasih karena sudah ada bayi kecil kita di dalam perut mu " Bryan tersenyum bahagia pada istrinya itu, lalu melepas pelukannya.


" Bayi? jadi aku benar-benar hamil lagi?" Alma terpana mendengar nya, ia juga tampak bahagia


" Benar, si kembar akan punya adik. Dan aku akan menjadi ayah lagi. Sayang, kamu harus menjaga anak kita baik-baik di dalam rahim mu " bibir Bryan mendarat di kening Alma memberinya kedipan hangat, tak hentinya Bryan tersenyum mengetahui kehamilan istrinya


Aku akan jadi ayah, dan kali ini aku akan menemani kehamilan Alma dari awal sampai akhir. Aku juga bisa melihat bayiku yang baru lahir nanti, aku tidak akan melewatkan masa-masa itu seperti melewatkan masa-masa si kembar tumbuh besar. Kali ini aku akan berusaha jadi ayah yang baik dari awal sampai akhir.


" Aku akan menjadi ibu lagi?" Alma memegang perutnya, ia tersenyum bahagia dan memandangi perutnya itu.


Ternyata benar-benar ada bayi di dalam perutku?


Pasangan suami istri itu sangat bahagia karena kehamilan Alma. Mereka berpelukan, dan membayangkan betapa bahagianya si kembar saat mengetahui kalau mereka akan punya adik. Alma dan Bryan juga tiba-tiba teringat dengan Bu Delia yang sangat ingin melihat Alma hamil lagi.


Ma, aku akan menjaga kandungan ku baik-baik. Aku sedang mengandung cucu Mama. Mama senang kan? Alma mengelus perutnya penuh kasih sayang


Mengetahui istrinya yang sedang hamil, Bryan langsung membeli makanan kesukaan istrinya dan membawanya ke hadapan Alma.


Makanan itu menumpuk di meja yang ada di sebelah tempat tidur Alma.


" Bryan kamu apa apaan sih? kenapa kamu makanan beli sebanyak ini? kamu mau ngerampok ya?" tanya Alma kaget melihat tumpukan camilan berbagai jenis ada di depannya


" Aku dengar ibu hamil harus banyak makan dan ngemil, jadi aku bawakan saja semua makanan kesukaan mu "


" Ya ampun Bryan! apa kamu pikir aku ini kingkong yang akan menghabiskan semua nya?" tanya Alma sambil tertawa kecil


" Pokoknya kamu harus makan banyak, tidak masalah kalau tidak habis semua. Bayi kita harus mendapatkan asupan makanan terbaik " ucap Bryan tegas


Alma memakan cemilan yang dibawakan oleh Bryan, ia merasa lebih nyaman memakai cemilan dan tidak merasa mual ketimbang makan nasi, daging atau sayuran. Padahal dulu waktu hamil si kembar, Alma tidak mual separah ini dan semua makanan akan masuk kecuali daging.


" Uwekk.. uwekk..."


Bau apa ini? parfumnya membuatku mual. Alma mencium bau parfum menyengat dan asing dari tubuh suaminya.


" Kenapa sayang? " tanya Bryan cemas


Alma turun dari ranjang nya dan berjalan buru-buru menuju ke kamar mandi. Ia memuntahkan kembali cemilan yang sudah ia makan ke wastafel. Bryan yang panik segera memanggil Ian untuk memeriksa kondisi Alma.


" Kenapa istriku bisa mual-mual? apa kamu tidak memeriksa nya dengan benar?" tanya Bryan marah-marah


" Bryan, kamu ini tidak tahu atau pura-pura tidak tau? wanita hamil muda biasa mengalami hal seperti ini "


" Maksudmu? istriku harus selalu mual-mual seperti ini, memuntahkan makanan nya??!" Bryan tampak kaget, seperti nya pria itu memang buta tentang hal hal berbau kehamilan dan wanita hamil. " Tapi dulu kak Laura tidak begini saat dia hamil Kayla?" Bryan tampak bingung


" Keadaan bisa berbeda pada setiap ibu hamil, mereka mengalami gejala yang berbeda-beda Bryan. " Ian tersenyum melihat gelagat temannya itu


" Bryan sudah cukup, kenapa kamu memarahi dokter Ian? waktu aku hamil Naina dan Kelvin, aku juga mengalami gejala yang hampir sama seperti ini kok. Kamu tenang saja. " Alma tersenyum menyudahi perdebatan suaminya dan dokter yang merawat nya itu


" Apakah dulu kamu seperti ini juga saat hamil si kembar?" tanya Bryan sedih


Mendadak Bryan menjadi sedih, mendengar bahwa Alma mengalami gejala mual dan muntah saat hamil si kembar. Pria itu merasa bersalah karena tidak ada dirinya saat Alma sedang kesulitan sendirian mengandung anak mereka.


Alma menghibur suaminya, bahwa sekarang semua keadaan sudah berubah karena Bryan ada disisi nya dan akan menemani nya di saat saat Alma paling membutuhkan nya.


Wah, hebat sekali wanita ini bisa membuat kemarahan Bryan mencair hanya dengan satu kata darinya. Bryan langsung menurut seperti kucing manis.


Ian yang melihat kemesraan yang tidak sengaja itu, terpana melihat Alma yang sudah berhasil πŸ’― persen menaklukkan sang Playboy cassanova Bryan Aditama, sahabatnya.


Saat Alma dan Bryan akan pulang dari rumah sakit, mereka mendapatkan nasihat dari Ian tentang kondisi Alma.


" Saya sudah meresepkan obat dan vitamin untuk Bu Alma. Jangan lupa meminum nya secara teratur ya. Jangan lupa juga untuk banyak istirahat, jangan stress, dan jangan lakukan pekerjaan berat. Bryan kamu dengar aku?" tanya Ian pada sahabat nya yang sangat antusias memperhatikan penjelasan dari nya.


" Baik, akan aku ingat. Lalu bagaimana dengan makanan nya? apa saja yang boleh dan tidak boleh dia makan?" tanya Bryan


Ian pusing mendengar banyak pertanyaan dari Bryan, akhirnya ia memberikan catatan dan buku ibu hamil untuk Bryan baca. Dengan semangat Bryan membawa buku itu dan akan mempelajari nya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sesampainya di rumah, Bryan tidak membiarkan Alma berjalan dan menggendong nya.


" Bryan, kamu tidak usah melakukan ini! aku bisa berjalan kok " kata Alma


" Kamu hampir saja keguguran, pendarahan itu bisa sangat berbahaya dan menyakitkan. Aku tidak akan membiarkan mu berjalan dulu " Bryan tersenyum perhatian pada Alma


Alma tersenyum melihat kebucinan suaminya padanya, ia senang bisa diperhatikan oleh Bryan. Kehamilan nya kali ini, akan ditemani oleh seorang suami yang sangat ia cintai di sampingnya.


Anak-anak sudah tidur malam itu, Alma dan Bryan segera ke kamar mereka diam-diam. Alma tiba-tiba teringat pada Mike yang terluka karena menyelamatkan nya dan menanyakan tentang Mike pada Bryan.


" Kamu baru pulang dari rumah sakit dan dia yang kamu tanyakan?" tanya Bryan tidak senang


" Bryan, dia terluka karena menolong ku bagaimana aku bisa diam saja. "


" Mulai hari ini jangan dekat dekat lagi dengannya " ucap Bryan sambil membuka bajunya, hendak berganti baju


" Kenapa? "


" Segera putus hubungan dengannya, mau itu hubungan pekerjaan atau pertemanan. Aku tidak suka kamu dekat dengannya " ucap Bryan tegas


Alma tampak kaget mendengar kata-kata suaminya yang serius itu. Ada apa dengan Bryan dan Mike? bukankah mereka bersahabat baik? kenapa Bryan terlihat tidak senang saat membicarakan Mike, malah sampai menyuruhnya menjauhi Mike?


...---***---...


Hai Readers! jangan lupa ya udah baca komennya, like, gift dan vote nya juga boleh kok.πŸ˜—


...---***---...