
Nyatanya tidak semua orang merasa bahagia mendengar Alma dan Bryan akan kembali bersama. Ternyata Leon masih menyimpan rasa pada Alma, tidak mudah untuk melupakan wanita yang ia cintai itu.
Niatnya ingin memberi selamat pada Alma dan Bryan, namun hatinya tak memberi izin. Leon mengurungkan niatnya, terlebih lagi saat melihat tiket pesawat ditangannya.
Ternyata sulit ya mengubah perasaan.
Leon berjalan sendirian menuju ke pelaminan Mia dan Aldo untuk memberi nya selamat sebelum ia pergi ke luar negeri. Laura dan Kayla berjalan mendekati nya.
" Hai pak Leon " Laura menyapa pria tampan yang ada di depannya itu
" Hai om ganteng !" sapa Kayla
" Hai Bu Laura, hai juga Kayla cantik " Leon memaksakan dirinya untuk tersenyum
Dia pasti sudah dengar kalau Bryan dan Alma akan kembali bersama. Matanya terlihat sedih.
" Om mau kesana ya? yuk barengan !" Ajak Kayla
Leon menggandeng tangan Kayla, ia tersenyum hangat kepada anak itu. Bersamaan dengan Laura, Leon memberikan ucapan selamat pada Mia dan Aldo.
" Selamat ya untung pernikahan nya Mia dan pak Aldo " kata Leon
" Terimakasih pak Leon, saya tidak tau kalau pak Leon sudah punya anak dan istri " ucap Aldo sambil melihat ke arah Laura dan Kayla
" Seperti nya pak Aldo salah paham, saya dan mereka bukan keluarga " ucap Leon dingin
Laura dan Kayla tersentak mendengar nya. Terutama Laura, entah kenapa dirinya merasa ditolak oleh Leon. Perasaan nya menjadi tidak nyaman, apalagi nada bicara Leon yang dingin. Seolah menyatakan jarak dengan nya dan Kayla. Sebenarnya ada apa dengan Laura?
" Oh begitu, maaf saya pikir kalian keluarga. Kalian tampak serasi " Aldo tersenyum
" Sayang kamu tuh jangan ngomong sembarangan ah "
Iya juga ya, mereka kelihatan serasi. Bu Laura juga kelihatan nya suka sama pak Leon. Tapi pak Leon gimana ya perasaan nya?
" Aku cuma ngomong jujur kok Mia " Aldo memang selalu berkata jujur dan ceplas-ceplos, sama seperti Mia.
" Maaf ya pak Leon, Bu Laura " Mia memerhatikan eskpresi wajah Laura dan Leon.
" Iya gak papa kok " jawab Laura sambil tersenyum pahit
Padahal aku pikir kita sudah dekat. Bahkan akhir-akhir kita bertiga selalu makan bersama, ternyata aku cuma orang asing. Kenapa aku tidak nyaman seperti ini?
Mia dan Aldo yang hanya orang asing, sekilas saja bisa melihat bahwa Laura memiliki sedikit perasaan untuk Leon. Tapi, Leon masih bersikap dingin kepada wanita lain. Hanya pada Alma dan orang-orang terdekat nya saja Leon bersikap ramah.
Setelah memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin itu, Laura terlihat dingin sikapnya pada Leon, wanita itu membawa anaknya dan berjalan lebih dulu dari Leon. Ia bahkan melarang Kayla untuk tidak berdekatan dengan Leon, atau mengajak Leon untuk makan bersama lagi.
" Mulai sekarang kamu tidak boleh mengajak om Leon untuk makan atau main bersama kamu lagi ! "
" Loh kenapa Ma? Om Leon kan baik "
" Nanti ngerepotin dia " kata Laura
" Ngerepotin apa? saya tidak merasa direpotkan kok " ucap Leon sambil menghampiri Kayla dan tersenyum cerah
Seperti nya dia dengar ucapan ku barusan.
" Tuh, om Leon juga gak keberatan kok ma " Kayla terlihat santai, menatap Leon dengan wajah polosnya
" Kay, ayo pergi. Kita harus pulang, ini sudah sore " Laura mengabaikan pertanyaan Leon dan menarik tangan anaknya itu. Laura terlihat kesal, wajahnya terus saja ditekuk.
" Iya ma "
Apa aku ada berbuat salah ya sama Bu Laura?
Laura dan Kayla benar-benar pergi meninggalkan pesta pernikahan itu, sesampainya mereka di tempat parkir. Leon ternyata mengikuti mereka.
" Tunggu dulu Bu Laura !" seru Leon
Laura menyuruh Kayla masuk dulu ke dalam mobil. Leon menghampiri Laura dan menatapnya dengan bingung.
" Bu Laura, apa saya ada salah? " tanya Leon
" Tidak, kenapa pertanyaan anda aneh ya ?" tanya Laura sinis
" Sikap anda tiba-tiba berubah pada saya, anda juga secara terang-terangan melarang saya bertemu lagi dengan Kayla. Sebenarnya kenapa?" tanya Leon bingung, dan tak paham.
Kenapa aku merasa sikapnya ini mirip dengan Bryan?
Leon adalah orang yang tidak suka kesalahpahaman, sama seperti Bryan. Jika ada kesalahpahaman Leon akan langsung bertanya pada intinya dan menyelesaikan nya.
" Tidak ada apa-apa, bapak tidak salah apa-apa " jawab Laura sambil menyenderkan badannya di mobil nya.
" Mana mungkin tidak ada, padahal sebelumnya kita berbicara informal. Tiba-tiba saja anda berubah Bu Laura, ku pikir kita sudah jadi teman " kata Leon keheranan
" Iya, saya juga sempat berpikir bahwa kita sudah dekat. Tapi rupanya saya salah, anda membatasi hubungan kita. " Laura terlihat kecewa
" Apa maksud anda Bu Laura?" tanya Leon tak mengerti
" Anda tidak sadar? atau tidak tahu? seperti nya hanya saya yang terlalu berharap. Untuk apa saya bicara dengan orang yang akan pergi jauh seperti pengecut! " Laura menatap pria yang ada di depannya itu dengan tatapan kecewa, matanya menyimpan harapan pada Leon.
Seperti nya aku benar-benar menyukai nya. Ini sebabnya aku kecewa seperti ini. Laura, sadarkan dirimu. Kamu tidak boleh melewati batas, mana mungkin pria sesempurna Leonardo Maxton mau menjalin hubungan dengan seorang janda anak satu. Gila kamu Laura! Laura memaki dirinya di dalam hati, merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus memiliki perasaan yang tidak seharusnya pada Leon.
Leon semakin tidak mengerti apa yang ada di pikiran Laura dan apa maksud membatasi hubungan? dan apa maksudnya berlari seperti pengecut?
" Apa maksud nya? apa dia tau kalau aku akan pergi keluar negeri?" tanya Leon bingung
Laura pulang ke rumahnya bersama Kayla. Alma, Bryan, si kembar dan Ny. Delia juga menyusul untuk pulang.
" Bryan kamu pikir kamu mau kemana bawa Alma dan anak-anak kamu?" tanya Ny. Delia
" Ya bawa mereka ke rumah kita lah " kata Bryan
" Kalian belum halal. Belum boleh tinggal serumah "
" Iya ibu benar Bry, aku juga punya rumah sendiri. " Alma tersenyum
" Nenek benar pah, kalau papa sama Mama menikah baru kita bisa tinggal bersama " ucap Naina
Bryan merengek seperti anak kecil, ia ingin Alma dan kedua anaknya tinggal bersama nya.
Aku ingin nya sih menikah dengan Alma sekarang juga, tapi aku juga ingin Alma merasakan momen pernikahan yang sebenarnya. Pernikahan yang semua wanita impikan. Aish.. aku harus sabar dulu.
Bryan dan Ny. Delia mengantar Alma dan kedua anaknya sampai ke tempat parkir. Sekalian mereka juga akan pulang.
" Kamu hati-hati nyetirnya ya " Bryan mengingatkan
" Iya kamu juga "
" Rasanya aku tidak mau berpisah denganmu, tapi mau bagaimana lagi " gerutu Bryan sebal
" Ternyata seorang Bryan bisa mengeluh juga, bersabarlah. Bukankah kita sudah lebih dekat selangkah menuju kebahagiaan? "
" Untukmu dan anak-anak kita. Aku akan selalu bersabar " Bryan tersenyum
" Aku pergi ya " Alma membuka pintu mobilnya
Kelvin dan Naina hanya senyum senyum melihat kemesraan kedua orang tua mereka. Terlebih lagi tingkah Bryan yang seperti anak kecil di depan Alma.
Alma masuk ke dalam mobil nya, ia bersiap untuk menyalakan pedal gas mobilnya. Bryan melambaikan tangan nya pada Alma dan si kembar.
" Dadah ! sampai ketemu besok Kelvin, Naina "
Sial! aku ingin sekali menikah hari ini juga.
" Iya papa !" jawab Naina semangat
" Huu.. dasar papa bucin " gumam Kelvin pelan
Dasar Bryan. gumam Alma di dalam hatinya
Alma mengendarai mobilnya dengan hati-hati, di sepanjang perjalanan ia terus senyum-senyum.
" Wah, aku seperti melihat bunga bunga disini " Kelvin melihat ke arah ibunya itu dan tersenyum cerah
" Bunga? dimana kak? aku gak lihat ada bunga " Naina dengan wajah polosnya melihat lihat ke arah sekitar nya dan mencari bunga yang di maksud oleh kakak nya itu.
" Apa maksud kakak? emang bunganya dimana kak?" tanya Naina
" Bunga nya ada di hati Mama " jawab Kelvin
" Apa?"
" Kelvin apaan sih, kamu jadi kaya Papa kamu deh " Alma tertawa kecil dengan jawaban anaknya yang terdengar seperti gombalan itu
" Ma, jangan samain aku sama Papa. Aku gak bucin " Kelvin langsung cemberut, menahan senyumnya
" Jelas-jelas kamu mirip Papa mu " Alma tertawa melihat kelakuan kedua anaknya yang lucu itu.
🍂🍂🍂
Keesokan harinya, siang itu Leon bersiap-siap untuk keberangkatan nya ke luar negeri. Ia melihat koper berisi barang-barang nya. Tak lupa, ia juga membawa foto Alma, Mia dan dirinya saat berada di Australia.
" Pak, semuanya sudah siap !" seru seorang pria pada Leon
" Ya, kita berangkat " jawab Leon malas
Mungkin satu-satunya cara agar aku bisa melupakan semuanya. Tapi sebelum itu aku harus bicara dulu dengan Bu Laura. Aku tidak mau meninggalkan kesan buruk selama disini, mungkin aku tidak akan pernah kembali kesini lagi. Entah kenapa aku harus pamit padanya.
Leon menemui Laura di depan sekolah TK, ia tau bahwa setiap pagi dan siang hari Laura akan mengantar dan menjemput Kayla di sekolah. Mereka pun bertemu, bersamaan dengan itu Alma dan Bryan yang menjemput si kembar juga melihat Leon dan Laura.
Alma dan Bryan merasakan atmosfer yang aneh antara Leon dan Laura. Seperti ada perasaan diantara dua orang itu. Diam-diam Alma dan Bryan menguping pembicaraan Leon dan Laura di depan TK .
" Pak Leon, kenapa anda ada disini?" tanya Laura
" eh, ada om Leon " sapa Kayla
Leon tersenyum ramah pada Kayla.
" Saya minta maaf Bu Laura, jika saya ada salah pada anda. Mungkin ini terakhir kalinya saya bertemu dengan Bu Laura "
Apa maksud nya? apa tiket pesawat itu.. apa dia benar-benar akan pergi.
" kamu mau kemana pak Leon?" tanya Laura penasaran
" Aku akan meninggalkan negara ini, dan mengurus bisnis ku di luar negeri " jawab Leon dengan bahasa yang tidak formal
" Bukannya kamu mau kabur? bisnis hanya alasan kan?" tanya Laura sedih
" Kabur? kenapa aku harus kabur?" tanya Leon heran
" Melarikan diri bukanlah pilihan yang tepat pak Leon. Kamu sendiri yang pernah bilang padaku saat aku bercerai dari mantan suamiku, bahwa aku harus menghadapi nya. Menjalani hidupku sesuai alur yang berputar, bukannya kabur. Masih banyak orang yang menyayangi kamu! hidup tidak berhenti disitu saja ! " Laura menatap Leon dengan kecewa
Leon tidak bisa membantah apa yang dikatakan Laura. Ia memang pernah mengatakan itu sebelum nya saat menghibur Laura. Leon berdalih lagi mengatakan bahwa ia benar-benar pergi untuk urusan bisnis. Tapi, Laura tau benar kalau Leon berusaha melarikan diri dari Alma dan Bryan. Dari perasaan nya pada Alma yang belum sirna sepenuhnya dari dalam hatinya.
Laura terlihat kecewa pada Leon, pada akhirnya Leon memutuskan untuk pergi meninggalkan negara itu. Bahkan si kecil Kayla pun bisa merasakan kalau Laura sedih dengan kepergian Leon.
" Ma, mama kenapa gak cegah om Leon pergi?"
" Kenapa Mama harus mencegah nya pergi? memangnya dia siapa nya Mama?!" kata Laura sedih
Kenapa aku harus mencegah mu pergi? kenapa aku sedih.
" Karena Mama terlihat sedih, kalau Mama sama om Leon mama selalu terlihat senang. Kayla gak mau mama sedih lagi, Kayla juga sedih kalau om Leon pergi !" Kayla menatap ibunya dengan berkaca-kaca
" Kak, pergilah. Kakak harus mencegahnya pergi, karena kakak tidak akan tau berapa lama dia akan kembali " ucap Bryan mengingatkan
" Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Laura heran
" Jangan membodohi diri sendiri kak, kakak menyukainya. Itu terlihat jelas "
" Bryan.. kamu, tapi aku tidak cocok untuknya " Laura tidak menyangkalnya, ia memang ada rasa pada Leon.
" Urusan cocok dan tidak cocok bisa di bicarakan nanti, sekarang yang terpenting kakak susul dulu cinta kakak. Sebelum kakak menyesal " ujar Bryan menyemangati
Karena saat aku kehilangan Alma waktu itu, aku sangat sedih dan menyesal. Jangan sampai kakak merasakan hal yang sama.
" Iya kak Laura, pergilah dan cegah kak Leon !" ujar Alma
Kak Leon, kak Laura, semoga kalian menemukan kebahagiaan kalian.
" Ma, ayo kita susul om Leon. Ayo Ma !" Ajak Kayla pada ibunya
Benar juga, daripada menyesal. Aku harus mencoba dulu.
Laura sempat terdiam dan berfikir, ia dan Kayla segera pergi ke bandara mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. 5 menit kemudian Laura dan Kayla sampai di bandara, mereka bergandengan tangan sambil berlari mencari Leon di dalam kawasan bandara itu. Berharap bahwa mereka berdua tidak terlambat, karena jadwal penerbangan Leon sudah mulai take off.
" Ma, om Leon gak keliatan. Dimana ya?" tanya Kayla cemas
Apa dia sudah masuk ke dalam pesawat? aku terlambat? Leon kumohon jangan pergi.
Laura dan Kayla berlari menuju ke arah ruang tunggu, tanpa melihat-lihat jalan. Laura menabrak orang yang ada di depannya. Orang itu menangkap Laura agar tidak terjatuh.
" Maaf, saya tidak sengaja " Laura berada di dalam pelukan pria yang menangkapnya.
" Mama ! itu om Leon !" Kayla terlihat senang melihat Leon berada di dekat Mama nya.
Laura mendorong pelan tubuh Leon yang memeluknya, kepalanya menengadah dan melihat ke arah Leon. Laura menatap Leon dengan wajah sedih. Ibu dan anak itu memeluk Leon sambil menangis harus.
" Om Leon ! syukurlah om belum pergi..hiks "
" Leon syukurlah kamu belum pergi..hu..."
Mereka menyusul ku kemari?
Leon pun membalas pelukan ibu dan anak itu dengan lembut, senyuman terlihat di wajahnya. Leon tidak jadi pergi ke luar negeri, ia bahkan turun dari pesawat karena teringat kata-kata Laura.
Mereka berdua duduk di kursi ruang tunggu yang ada di bandara. Ibu dan anak itu meminum minuman yang ada di dalam botol setelah menangis dan berlari karena menyusul Leon ke bandara.
" Aku tidak menduga loh, kalian akan datang menyusul ku kemari. Jadi, kalian berdua harus bertanggungjawab "
" Apa? memangnya karena kami ya kamu tidak jadi naik pesawat? bukan nya kamu yang turun sendiri dan memutuskan untuk tidak pergi?" tanya Laura
"' Aku mau tanggungjawab kok Om, asal om tidak pergi. Aku suka banget sama om " Kayla memeluk Leon dengan erat.
Tampaknya Kayla sangat menyukai Leon. Padahal dia biasanya gak akrab sama orang asing, tapi sama Leon. Dia akrab banget.
" Aku memutuskan untuk tidak pergi, karena kamu Laura "
" Aku?"
" Aku mengingat kata-kata kamu, memang benar kepergian ku ini adalah alasan untuk kabur. Tapi, saat kamu bilang kalau disini masih banyak orang yang menyayangi ku. Aku tidak jadi pergi deh " Leon tersenyum
" Apa? cuma karena kata-kata ku yang itu, kami tidak jadi pergi?"
" Karena kamu dan Kayla sudah menahan ku disini, kalian harus bertanggungjawab ya. Aku tidak akan pernah meninggalkan negara ini "
Laura dan terpana mendengar kata-kata Leon, namun mereka senang karena Leon tidak akan pergi.
" Kami harus bertanggungjawab apa, om?" tanya Kayla polos
" Katanya kan ada orang yang menyayangi ku disini, aku ingin tau siapa kah yang menyayangi ku itu " Leon tersenyum manis
Dia ternyata masih ingat kata-kata ku sebelumnya. Apa dia sedang menyindir ku?
" Aku sayang om Leon, Mama juga sayang om Leon !!" kata Kayla dengan senyuman polosnya. Leon menggendong Kayla dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
" Ka-Kayla!!" teriak Laura malu
" Kamu juga Laura, disinilah kamu yang paling bertanggung jawab. " Leon tersenyum memandangi Laura.
" Aku ..." Laura malu dengan tatapan Leon padanya, ia pun memilih pergi lebih dulu. Sambil membawa koper Leon. " Ayo, kita segera pulang !" ajak Laura
" Terimakasih sudah menghentikan ku Laura, seperti nya aku tidak akan menyesal sudah kembali kemari "
Cinta yang lama mulai bersatu, cinta yang baru mulai bersemi.
...---***---...