Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 127. Kena mental



...🍀🍀🍀...


"Gak apa-apa kok, kalau aku botak aku tinggal pakai rambut palsu atau topi" Naina berusaha tegar di dalam senyuman dan kata-kata yang terdengar santai itu mengandung luka.


Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Aku bisa melewati nya.


"Iya, kak Naina benar! nanti aku belikan rambut palsu ya buat Kak Naina" kata Kayla sambil tersenyum dan menyemangati Naina


"Tapi untuk sementara waktu kamu pakai topi dulu ya" Keira tersenyum, dia memberikan topi rajutan untuk menutupi kepala Naina yang terlihat botak.


Naina memakainya, dia tetap tersenyum dan merasa keadaan nya sudah lebih baik. Dia tidak ingin orang orang di sekitar nya menangis karena dirinya.


Walaupun anaknya begitu tegar, tapi hati ibu mana yang tidak sakit ketika melihat putrinya satu satunya sedang dalam keadaan sakit parah. Setelah kepergian Naina, bersama Kayla dan Keira ke restoran Damar, Alma menangis sendirian di ruang rawat Naina.


"Kenapa bukan mama saja yang sakit? Kenapa mama tidak bisa setegar kamu sayang? kenapa mama masih aja nangis...hiks " Alma menangis sambil memegang rambut Naina yang rontok dalam jumlah banyak seperti habis di potong rambut.


KLAK


Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Bryan sedang bersama dengan seorang pria yang tidak asing.


"Makasih ya Mike, udah mau jenguk Naina" ucap Bryan pada Mike, sahabat lamanya yang dulu sempat pernah ada rasa pada Alma.


"Santai aja Bryan, kangen banget aku sama anak-anak kamu" Mike tersenyum, pria itu sudah tampak menua tapi wajahnya masih tetap tampan.


Mike dan Bryan terkejut ketika mereka masuk ke dalam ruangan Naina. Hanya ada Alma yang sedang menangis sambil memegang sisir dan rambut tergulung ditangannya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bryan sambil berjalan menghampiri istrinya yang sedang menangis itu.


Alma buru-buru menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Mata nya tampak merah dan sembab, dia segera berdiri dari kursinya seraya menyambut suaminya.


"Aku gak apa-apa" jawab Alma dengan suara yang sedikit parau


"Sayang.."Bryan menepuk bahu istrinya, menatap cemas ke arah Alma


"Aku sungguh baik-baik saja" Alma masih berusaha menahan air matanya


"Maaf, harusnya aku datang lain kali" ucap Mike merasa tidak nyaman dengan suasana disana. Niat Mike adalah menjenguk putri sahabat nya yang sedang sakit.


Alma meminta maaf pada Mike karena suasana jadi tidak nyaman karena dirinya yang menangis. Bryan menanyakan keberadaan Naina, karena anaknya itu tidak ada disana. Alma menjawab kalau Naina sedang pergi bersama Kayla dan Keira ke restoran Damar untuk jalan-jalan.


"Memangnya Naina boleh jalan-jalan?" tanya Bryan heran dan cemas dengan keadaan Naina.


"Dokter Firlan bilang boleh kok, asalkan jangan sampai kecapean aja. Kasihan juga Naina kalau terus menerus di dalam kamar ini, dia bisa stress nantinya. Dan kamu tau Bry, begitu Kayla dan Keira mengajaknya jalan-jalan, Naina sangat senang" jelas Alma pada suaminya


"Oh ya, aku bawa ini untuk Naina. Aku berharap kalau Naina cepat sembuh" ucap Mike sambil menyerahkan sebuah kantung besar berwarna merah yang entah apa isinya


"Thanks ya Mike, udah datang kemari" ucap Bryan


"Makasih pak Mike" kata Alma sambil tersenyum dan menyimpan kantung itu di meja.


"Sama-sama" Mike tersenyum


"Oh ya, bukannya kamu kesini sama anak kamu? Dimana dia? kok gak dibawa kesini?" tanya Bryan yang tau kalau Mike datang ke kota itu dengan putranya yang berusia 17 tahun dan baru lulus SMA.


"Anak itu? Katanya dia sedang nongkrong bersama teman-teman nya, kamu tau lah anak-anak zaman sekarang" Mike tersenyum menceritakan tentang putranya.


Sekarang Mike adalah seorang duda ditinggal mati istrinya dan hanya memiliki seorang anak. Mendiang istrinya adalah seorang desainer ternama bernama Haylin.


...🍀🍀🍀...


Di restoran Damar, Kayla, Keira dan Naina baru sampai disana. Mereka melihat keadaan restoran yang ramai dengan pengunjung, para pelayan juga terlihat kesana kemari untuk mengantarkan pesanan dan melayani pelanggan.


"Woah.. Alhamdulillah.. rame banget ya restoran nya Damar" ucap Naina sambil melihat-lihat ke setiap sudut restoran itu yang dipenuhi pelanggan. Dia tersenyum


"Restorannya hari ini laris manis nih, untung deh hari ini aku minta cuti libur" kata Kayla, merasa beruntung karena dia meminta cuti membantu Damar pada hari itu.


"Emang makanan yang ada disini kan enak-enak" kata Keira sambil mengangguk dan tersenyum. Dia mengakui kemampuan memasak Damar juga koki lainya disana.


Seorang pelayan cafe itu menyambut mereka dengan sopan. Dia menyarankan meja yang masih kosong pada Naina, Kayla dan Keira. Mereka bertiga mendapatkan meja di luar dekat kolam ikan kecil.


"Gak apa-apa kan Nai kita duduk disini?" tanya Keira pada Naina yang takut akan kepanasan


"Tenang aja, aku suka kok disini. Soalnya aku bisa lihat danau sama ikan-ikan" jawab Naina sambil duduk di dekat kolam ikan kecil itu dan menikmati pemandangan disana.


Wajah Naina dibalut dengan make up supaya tidak terlihat pucat. Rambutnya ditutupi oleh topi kupluk berwarna putih. Gadis itu menikmati pemandangan di restoran Damar.


"Fik, kemana si cowok rese itu? Maksud gue si Damar?" tanya Kayla pada Fika, salah satu karyawan di cafe itu yang sudah lumayan akrab dengannya.


"Bos lagi gak enak badan, hari ini bos diem di ruang istirahat" jawab Fika


"Si cowok rese itu bisa sakit juga?" gumam Kayla sedikit cemas dengan keadaan Damar


"Iya dari tadi bos keringetan, terus dia ngeluh tangannya sakit" jelas Fika singkat dan jelas


Mendengar penjelasan Fika, Kayla merasa bersalah pada Damar. Kayla akhirnya pamit pada Keira dan Naina kalau dia akan melihat keadaan Damar lebih dulu.


Selagi menunggu pesanan, Naina dan Keira duduk di meja sambil mengobrol. Tak lama kemudian di restoran itu kedatangan Juna dan kolega bisnisnya.


"Eh Nai! bukannya itu Juna?" tanya Keira sambil melirik ke arah Juna yang baru saja masuk di depan pintu restoran Damar.


Naina tersenyum, kemudian dia beranjak dari kursi nya dan melihat ke arah Juna. Juna sedang bersama dengan Ardi, dua orang pria berjas dan seorang wanita cantik berambut ikal berwarna coklat.


Juna, sama siapa ya?


"Ayo Nai, samperin Juna tuh!" titah Keira pada adik iparnya itu


Awalnya Naina tersenyum, dia berjalan menghampiri Juna. Namun senyuman nya seketika menghilang ketika melihat wanita itu dengan sengaja terjatuh untuk memeluk Juna di depan umum. Naina menggigit bagian bawah bibirnya, mengepalkan tangannya dengan kesal. Naina cemburu melihat Juna di peluk oleh wanita lain di depan matanya, apalagi wanita itu lebih cantik dan lebih sehat dari dirinya.


"Gak usah Kei, aku mau lihat Juna dulu" ucap Naina menahan kakak ipar nya untuk bertindak.


Terlihat dari kejauhan, Juna mendorong wanita yang genit padanya. Dia menjaga jarak dan menjauhi wanita itu. Kemudian dia dan para koleganya duduk di sebuah meja yang sudah di reservasi sebelumnya.


Diam-diam Naina bersandar dibalik tembok, dia ingin mendengar percakapan Juna dan para koleganya terutama wanita itu.


"Bapak Juna ini hebat sekali, masih muda dan sangat berprestasi" kata seorang pria paruh baya berkacamata sambil tersenyum ramah


"Bapak bisa saja" Juna hanya tersenyum ketika pria itu memujinya


"Ngomong-ngomong, apa pak Juna sudah punya pacar?" tanya seorang pria tua berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna abu, pria itu duduk di samping wanita yang sebelumnya memeluk Juna.


"Maaf, tapi saya sudah bertunangan" Juna tersenyum dengan bangga dia menunjukkan cincin di hatinya.


"Sayang sekali, padahal kalau pak Juna masih jomblo. Saya mau jodohkan pak Juna dengan anak saya, kebetulan dia masih jomblo" ucap pria tua bernama Arman itu


"Papa, apaan sih" gadis itu menepuk tangan papa nya, tak hentinya dia menatap Juna dengan tatapan terpesona layaknya seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Naina melihat wanita itu dari balik jendela, hatinya sakit melihat ada wanita lain yang dekat dengan Juna.


Bapak itu mau menjodohkan anaknya sama Juna?


Deg!


Perasaan Naina benar-benar tidak nyaman mendengarnya.


"Haha, saya rasa anak bapak bisa mencari pria diluar sana yang tentunya jauh lebih baik daripada saya" Juna memasang senyum manis profesional nya.


"Sayang sekali ya, padahal anak saya ini sempurna loh. Dia cantik, berpendidikan dan dia juga sangat sehat tidak penyakitan" kata Arman dengan senyum ramahnya.


Deg!


Juna dan Naina yang mendengar ucapan pak Arman merasa sangat tidak nyaman. Terutama Naina, dia seperti disindir sebagai wanita yang penyakitan. Disisi lain Keira ikut menguping sama hal nya dengan Naina. Keira kesal dan ingin melabrak pria itu, tapi Naina menahannya.


Ardi yang ada disana terkejut melihat raut wajah Juna yang ramah tiba-tiba berubah menjadi dingin dan tajam. Dia sudah tau, ini pasti karena kata-kata Arman.


"Apa maksud bapak bicara seperti ini? Apa bapak sedang menghina tunangan saya?!" tanya Juna sambil menatap tajam pria itu dengan wajah dinginnya.


"Saya tidak menghina, saya hanya bicara fakta nya saja. Bukankah tunangan bapak Juna sedang sakit kanker? Penyakit yang mematikan juga bisa mempengaruhi keturunan. Untuk apa bapak berhubungan dengan wanita yang mungkin sebentar lagi akan mati. Saya kasihan sama bapak yang sehat dan masih muda ini, karena harus berhubungan dengan wanita jelek seperti itu.. masa depan bapak masih panjang, kalau bapak mau bersama anak saya" Arman tersenyum dengan santai setelah mengatakan penghinaan terhadap Naina.


Naina menahan tangis mendengar nya, Keira memegang bahu Naina seraya menenangkan nya. Kemarahan Juna juga sudah memuncak, dia tidak tahan ketika ada yang menghina Naina.


"Hiks..hiks.." Naina menangis dan memeluk Keira. "Nai.." Keira sakit hati mendengar perkataan yang ditujukan untuk Naina itu.


Tanpa bicara, Juna melemparkan air di dalam gelas pada wajah pak Arman, rekan bisnis nya itu. "Pak! sabar pak!" seru Ardi menahan tubuh Juna yang akan menghampiri Arman. Juna berniat memukul pria tua itu.


Seorang pria yang datang bersama pak Arman juga kaget melihat Juna yang marah. Dia juga tidak menyalahkan Juna, karena Arman yang sudah memancing emosi.


"Diam kamu Ardi! Jangan menghalangiku! biar aku pukul si tua bangka itu!" teriak Juna emosi,tangannya sudah mendidih ingin memukul pria tua itu. Namun, Ardi terus menahan Juna agar jangan bertindak gegabah.


"Apa-apaan ini pak Juna? Sikap anda sudah keterlaluan! Saya ini lebih tua dari anda!" Arman naik darah, dia beranjak dari tempat duduknya dan menunjuk nunjuk ke arah Juna dengan marah.


"Anda memang lebih tua dari saya! Tapi saya tidak peduli, karena siapapun yang menghina wanita yang saya cintai! Saya tidak akan tinggal diam sekalipun anda adalah orang tua!" teriak Juna marah dan sakit hati karena Naina dihina seperti itu oleh orang yang akan menjadi rekan bisnisnya.


Kemarahan Juna sudah di ambang batasnya, dia meminta pada Ardi untuk mengambil surat perjanjian kontrak antara perusahaan Ardiwinata dan perusahaan milik Arman. Dengan emosi Juna langsung merobek surat itu dan melempar nya ke wajah Arman. Anak gadisnya juga tampak ketakutan melihat kemarahan Juna.


Semua orang disana memperhatikan ke arah Juna dan orang yang ada di sekeliling nya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Kenapa kamu merobek surat kerjasama nya?!" tanya Arman marah


"Saya tidak sudi bekerjasama dengan orang yang tidak bisa menjaga perkataan nya! Kerjasama kita batal!" Juna melepaskan dirinya dari Ardi, pria itu masih mendengus kesal.


"Kamu yakin akan membatalkan kerjasama kita yang bernilai milyaran rupiah??!" tanya Arman tegas


"Saya yakin, bahkan saya bisa melepaskan seluruh dunia dan apapun milik saya, untuk wanita yang sayang cintai" kata Juna tegas pada Arman. Arman mendengus kesal dia tertawa sinis mendengar keputusan Juna, dia tak percaya kalau Juna akan membatalkan kerjasama nya hanya untuk tunangan nya.


Tidak boleh ada yang menghina Naina!


Pak Presdir pasti sudah gila! Proyek ini bernilai miliaran rupiah! Dan beliau membatalkan kontrak kerjasama nya begitu saja. batin Ardi sambil menggelengkan kepalanya.


"Ardi! Ayo!" teriak Juna mengajak Ardi pergi dari sana.


Juna beranjak pergi dari tempat itu dengan wajah kesal, kemudian dia tak sengaja melihat


Naina sedang berlari keluar dari restoran itu sambil menangis, Keira mengejarnya.


"Pak, itu kan..." Ardi melirik ke arah gadis yang berlari


"Nai!!" Juna ikut mengejar Naina bersama dengan Keira.


Naina berlari keluar dari restoran itu, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria bertubuh tinggi di depannya dan membuat topi yang dia pakai terlepas.


Seperti nya pria-pria itu adalah anak remaja. Mereka melihat Naina yang kepalanya dengan tatapan jijik.


"Ma-maaf, saya gak sengaja" ucap Naina sambil mengambil topi di lantai.


"Jelek banget nih cewek, botak, kurus, kering" ucap seorang pria dengan tatapan sinis nya, dia berbisik pada temannya. Namun, tetap terdengar oleh Naina


Mereka bukannya membantu Naina, tapi malah menghina Naina. Menatapnya dengan sinis, seperti nya Naina sudah kena mental karena dirinya dihina seperti itu oleh orang-orang di sekitarnya.


Naina segera mengambil topinya, dia menahan air matanya. Salah satu dari anak remaja itu menatap Naina dengan tatapan kasihan berbeda dari pria-pria lain yang menghinanya.


Aku gak mau! Aku gak mau jalan-jalan keluar lagi!. Gadis itu memakai kembali topinya lalu berlari dengan terburu-buru.


...---***---...