
...🍀🍀🍀...
Naina berhasil mengantar Keira sampai ke rumah sakit. Dia dan Bi Ijah memapah Keira menuju ke ruang persalinan. Ditemani seorang suster dan petugas medis, ibu yang akan melahirkan itu di baringkan diatas ranjang beroda.
"Uhhh... Aahhhh....,"
"Kak Keira tenang saja, kak Kelvin akan segera datang. Ada aku disini yang akan menemani kakak dulu," Naina memegang tangan Keira dan menguatkannya.
"I-iyahhh...," jawab Keira dengan napas terengah-engah, tubuhnya sudah dibanjiri keringat.
Petugas medis dan suster membawa Keira masuk ke dalam ruangan persalinan. Sementara Naina menunggu di depan ruangan itu, dia tersenyum pahit sambil menangis. Entah apa yang dia tangis.
"Non Naina? Kenapa non Naina nangis?" tanya Bi Ijah heran melihat wanita itu menangis.
"Saya gak apa-apa bi. Bibi tolong tunggu kak Keira bentar ya, aku mau bayar administrasi dulu," ucap Naina sambil menyeka air matanya, dia memandang ke dalam ruangan itu.
Semoga semuanya berjalan lancar. Kak Keira dan keponakan pertamaku baik-baik saja.
Naina membayar biaya rumah sakit Keira di loket pembayaran. Tak lama setelah itu, Kelvin dan Alma baru saja datang. Mereka terlihat panik dan segera menanyakan keberadaan Keira.
"Nai, dimana Keira?" tanya Kelvin panik.
"Kak Keira lagi ada di ruang persalinan," jawab Naina.
Kelvin langsung berlari ke ruang persalinan, diikuti oleh Alma dan Naina. Ketika sampai disana, seorang dokter keluar dari ruangan itu dan mengatakan kalau ada masalah dengan proses kelahiran Keira.
"Masalah apa dok? Istri dan anak saya tidak apa-apa kan?" tanya Kelvin cemas.
"Bayi yang ada di dalam kandungan Bu Keira terlilit oleh tali pusar, dan ini menganggu proses kelahiran," dokter menjelaskan kondisi Keira dan anaknya.
"Lalu apa yang harus dilakukan dok?" tanya Alma pada dokter itu. Dia mencemaskan menantu dan calon cucu pertama nya.
"Terpaksa kami harus mengambil jalan ini untuk keselamatan ibu dan bayi, yaitu dengan operasi sesar,"
"Baiklah dokter, asal istri dan anak saya selamat! Lakukan apa saja!" jawab Kelvin dengan cemas.
"Iya pak, mohon bapak menandatangani persetujuan dan prosedur operasi sesar nya," ucap Dokter.
"Ya," jawab Kelvin dengan wajah yang cemas.
Kelvin ikut dengan dokter dan suster untuk menandatangani surat persetujuan operasi sesar untuk Keira. Kelvin cemas karena istrinya sedang berjuang di dalam sana untuk anak pertama mereka.
Naina dan Alma menunggu di depan ruangan itu, sementara Kelvin masuk ke dalam sebelum operasi Keira akan dilakukan.
"Kelvin.. kamu sudah datang?" sambut Keira kepada suaminya, dengan wajah yang pucat.
Calon ayah itu menghampiri istrinya, dia memegang tangan Keira dan menciumnya. "Sayang, kamu dan anak kita pasti baik-baik saja! Kamu tenang saja, aku ada disini. Junior ku, papa ada disini.. lancar ya sayang, jangan buat mama mu kesulitan," Kelvin memegang perut istrinya dengan lembut, seraya berbicara pada bayi di dalam kandungan istrinya.
"Iya, aku pasti akan baik-baik saja karena ada kamu," ucap Keira sambil tersenyum di wajah pucat nya.
Cup
Ciuman mendarat di kening Keira dengan lembut. "Aku akan tunggu di luar sayang," ucap Kelvin sambil tersenyum pada istrinya.
Keira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Kelvin keluar dari ruang operasi, dia menunggu Keira disana dengan cemas. Tak hentinya dia mondar-mandir kesana kemari, gelisah tak menentu.
Lampu ruang operasi menyala, menyatakan bahwa operasi sedang berlangsung di dalam sana.
"Vin, kamu tenang saja.. Keira dan anak kalian pasti akan baik-baik saja," Alma menepuk bahu Kelvin seraya menenangkan nya.
"Iya ma," jawab Kelvin masih resah.
"Iya kak, kak Keira dan keponakan pertamaku pasti akan baik-baik saja. Dan setelah ini akan ada berita bahagia untuk kita semua," Naina tersenyum menyemangati kakaknya yang sedang resah menanti istri dan anak nya.
"Iya Nai, makasih ya," Kelvin tersenyum pada adiknya.
1 jam kemudian..
Owaaaa.. Owaaaa..!!
Kelvin, Naina, Alma, Bryan dan Juna yang ada disana terperangah mendengar suara tangisan bayi itu.
"Anakku?! Ma, pa, anakku!" Kelvin tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca karena haru.
Kelvin langsung berlari dan masuk ke dalam ruangan itu meski dokter dan suster belum memperbolehkan nya. Tapi, dia sudah tidak sabar ingin segera melihat anak dan istrinya.
Naina dan Juna tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Kelvin dan Keira. Mereka ikut masuk ke dalam bersama kedua orang tua juga.
Alangkah bahagianya hati Kelvin, dia melihat seorang bayi sedang digendong oleh suster. Dia juga melihat sang istri dalam keadaan setengah tidak sadar karena obat bius.
"Selamat pak, Bu, anaknya laki-laki sangat tampan," ucap suster memberikan selamat pada Kelvin dan Keira.
Kelvin menoleh ke arah anak pertamanya. Bayi itu terlihat menggemaskan dan tampan. Alma dan Bryan juga tersenyum bahagia melihat cucu pertama mereka yang tampan.
"Sayang, terimakasih...anak kita lahir dengan selamat tanpa kekurangan, terimakasih karena kamu baik-baik saja," Kelvin menangis haru, dia mencium kening istrinya. Tak hentinya Kelvin bersyukur, berterimakasih pada istrinya dan yang kuasa."Terimakasih ya Allah, alhamdulillah..,"
"Iya sayang, anak kita sangat mirip denganmu," Keira tersenyum pada suaminya. Kemudian dia menutup mata nya.
"Sayang, kamu kenapa sayang?" Kelvin kaget melihat istrinya tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Jangan khawatir pak, istri bapak hanya tertidur. Karena efek obat bius," ucap dokter pada Kelvin.
"Haihh..." Kelvin menghela napas lega.
"Bapak, apa bapak mau mengendong anaknya?" tanya suster yang memegang bayi kecil mungil itu.
Owa.. owaa...
Bayi itu masih menangis di pelukan suster. "Maaf, tapi saya belum bisa menggendong bayi," jawab Kelvin takut untuk menggendong bayinya.
"Kelvin, cobalah sayang.. itu anak pertama kamu, kamu pasti bisa!" Seru Bryan pada putranya.
"Baiklah pa," jawab Kelvin ragu-ragu.
Owaaaa.. Owaaaa!!
Suster itu memberikan bayi mungil yang di bedong kain itu dengan hati-hati pada Kelvin. Kelvin terlihat kaku menggendong nya, dia berusaha untuk memposisikan diri nya pada anaknya.
Bahagia nya hati Kelvin, dia menggeleng putranya sendiri.
Anakku, dia adalah anakku dan Keira.
"Woah, langsung berhenti nangisnya," Naina takjub melihat bayi itu di gendong oleh kakaknya dan tangisan nya langsung berhenti.
Kapan aku bisa seperti ini?
"Seperti nya dia mengenali papa nya," ucap Alma sambil tersenyum.
Bryan melihat cucu pertama nya, dia mengatakan kalau cucu nya mirip sekali dengan dirinya. "Sayang, bukankah cucu pertama kita mirip denganku? Tampannya juga kan?"
"Apa apaan sih kamu? Pede banget!" Alma tertawa kecil mendengar ocehan Bryan.
"Kalau masalah tampan kayanya menurun dari aku papa nya," kata Kelvin percaya diri.
"Kamu tampan karena kamu anak papa, cucu papa juga tampan menurun dari kakeknya," ucap Bryan bahagia dengan kehadiran cucu pertama nya.
Ketika semua orang sedang tertawa bahagia, Juna tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia memberikan selamat dengan senyum pahit dan wajah datarnya. Begitu pula Naina yang juga merasakan hal sama dengan Juna. Ada kesedihan di balik kebahagiaan itu.
...---****---...
Sambil nunggu novelku up lagi, mampir dulu ke karya author kece badai ini yuk 😍😍🙏