Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 44. Kamu jahat



...🍁🍁🍁...


Kali ini Alma tidak luluh pada Bryan seperti sebelumnya. Rayuan maut Bryan tidak membuat hatinya bergerak. Alma mengabaikan Bryan dan hanya mempedulikan anak-anak nya.


Bukan hanya Alma saja yang mengabaikan Bryan, tapi Kelvin juga sama. Alma dan Kelvin sibuk menelpon pada teman-teman Naina, mencari tau keberadaan Naina yang belum pulang juga. Naina juga tidak bilang mau pergi dengan siapa.


Kelvin juga sibuk menelpon teman-teman Naina yang lain termasuk Nisha. Nisha menjawab bahwa ia tak tau keberadaan Naina. Saat Kelvin menelpon Theo, pria itu tak kunjung mengangkat telponnya.


"Sayang, aku akan minta bantuan Ken untuk mencari Naina" ucap Bryan pada Alma, Bryan juga mencemaskan Naina yang belum pulang.


"Terserah" jawab Alma dingin


Naina kemana sih? telponnya juga gak diangkat. Batin Alma cemas pada putrinya itu


Alma masih marah padaku. batin Bryan merasa bersalah


"Vin, mama mau coba telpon ke rumah Theo" kata Alma sambil mengangkat gagang telpon rumahnya.


"Ya mah, aku mau telpon Juna" jawab Kelvin dengan wajah cemasnya.


Alma pun menelpon ke rumah Theo, dan yang mengangkat telponnya adalah Vera mama nya Theo.


"Halo, Bu Vera maaf menganggu malam-malam begini"


"Ya Bu Alma? ada apa?" tanya Vera sopan


"Apakah Theo ada di rumah?" tanya Alma


"Theo ada di kamarnya, dia lagi tidur kayanya. Ada apa ya bu Alma?" tanya Vera cemas mendengar suara Alma yang panik dan terburu-buru.


"Oh gitu ya.. saya pikir Theo sedang bersama Naina. Naina belum pulang sampai sekarang" jawab Alma cemas


"Apa? Naina belum pulang? tunggu Bu Alma, saya akan beritahu Theo siapa tau Theo tau dimana Naina dan dengan siapa Naina pergi" kata Vera yang ikut cemas


"Ya Bu Vera, tolong kabari saya kalau Theo tau dimana Naina"


"Baik Bu "


Bu Vera menutup telponnya, ia segera pergi ke kamar Theo. Theo sedang tidur pulas, Vera membangunkan anaknya itu. Terlihat banyak foto Naina dan Theo waktu kecil terpampang di kamar nya.


"Theo, bangun nak! Theo!" Vera menggoyang-goyangkan tubuh Theo yang terbaring di ranjang.


"Ada apa sih ma?" tanya Theo yang belum benar-benar membuka matanya.


"Kamu tau dimana Naina ga?" tanya Vera


"Mama melantur ya? masa nanyain Naina sama aku? emangnya aku mama nya? mama juga aneh-aneh aja ,nanyain Naina jam segini" gumam Theo sambil memeluk guling nya


"Theo mama serius, barusan mama dapat telpon dari Bu Alma. Katanya Naina hilang dan belum ketemu" kata Bu Vera yang ikut cemas


Theo yang tadinya sedang rebahan, tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan beranjak dari ranjangnya.


"Mama bilang apa?!! Naina hilang?!" tanya Theo tersentak mendengar nya.


"Giliran urusan Naina aja langsung bangun semangat. Kamu tau gak dimana Naina? Mama nya cemas tuh" Bu Vera menghela napas panjang.


"Naina, dia pasti sama si trouble maker itu! ma, dimana kunci mobil?" tanya Theo buru-buru memakai jaketnya.


"Ada di laci depan, tapi buat apa kamu..."


Sebelum ibunya menyelesaikan kata-kata nya, Theo sudah berlari keluar dari kamarnya, mengambil kunci mobil, mengambil payung, lalu ia berlari ke luar rumah.


Vera mengejarnya tapi anaknya itu sudah ngebut membawa mobil malam-malam.


"Hey! Theo, mama belum selesai ngomong! Theo!!" teriak Vera pada anaknya yang sudah tancap gas bersama mobilnya itu. "Ckckck, anak itu kalau soal urusan Naina aja pasti garcep" Vera menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Theo yang selalu buru-buru jika menyangkut urusan Naina.


Theo menyetir mobilnya, ia mendapat telpon dari Kelvin. Kelvin marah karena Theo tidak mengangkat telponnya. Theo mengatakan maaf pada Kelvin karena tidak mengangkat telponnya. Kelvin dan Theo mulai membagi tugas, Kelvin akan pergi ke rumah Juna dan teman-teman Juna, sementara Theo akan pergi ke tempat biasanya Naina jalan-jalan.


Setelah 30 menit melakukan pencarian, Theo menemukan Naina sedang menangis sendirian di taman membiarkan tubuhnya di guyur air hujan.


"Hiks.. hiks..kamu jahat.. kamu bilang mau datang.." Naina menangis tersedu-sedu ditaman yang sepi itu sendirian. Tubuhnya gemetar kedinginan, sudah 3 jam lebih ia menunggu Juna disana.


Theo melihat Naina, ia memayungi Naina yang sedang duduk di kursi.


Ternyata Naina suka sama Juna. Theo merasa kepahitan di dalam hatinya, ia tau dari cara Naina memperhatikan Juna berbeda dengan cara Naina memperhatikan dirinya. Bahkan Naina menangis untuk Juna.


Loh? kenapa hujannya berhenti? Naina keheranan melihat tubuhnya tidak terguyur lagi oleh air hujan. Naina sadar kalau ada payung berwarna transparan yang memayungi nya, Naina mulai tersenyum, "Apa Juna datang?" gumam Naina dalam hatinya.


Kekecewaan di rasakan Naina, karena yang datang dan memayungi dirinya bukanlah Juna tapi Theo. Senyuman itu menghilang dari bibirnya, matanya menatap sedih ke arah Theo.


Bukan Juna?


Naina pasti berharap Juna yang datang, wajahnya terlihat kecewa. batin Theo sakit hati melihat wajah Naina tampak kecewa melihat dirinya


"Kak Theo? kenapa kakak ada disini?" tanya Naina keheranan


"Menurut kamu ngapain aku ada disini Nai?" tanya Theo balik. Theo memakaikan jaket nya pada tubuh Naina yang dingin.


PLUK


Kalau orang itu aku dan bukan Juna, apa kamu akan menungguku sampai seperti ini Nai? batin Theo bertanya-tanya penuh harapan dalam hatinya.


"Kak Theo..hiks" Naina tidak bisa menahan air matanya lagi, ia menangis tersedu-sedu. Theo memeluk Naina dengan lembut, menjadikan dirinya sandaran untuk Naina.


"Gak papa kalau kamu mau nangis, nangis aja. Tapi aku gak mau tau kenapa kamu nangis, jadi jangan bilang sama aku" Theo tersenyum pahit, tangannya mendekap tubuh Naina yang terasa dingin.


"Juna jahat.. Juna jahat kak, aku.. aku suka sama Juna.. hiks" Naina mengatakan perasan nya pada Theo.


DEG!


Saat seperti itu, Theo menahan rasa sakit hati nya dari fakta bahwa Naina menyukai Juna.


"Aku udah bilang, aku gak mau tau kenapa kamu nangis.. aku gak mau tau" Mata Theo mulai berkaca-kaca.


"Aku.. aku suka Juna.. tapi kakak jangan bilang sama siapa siapa ya ini rahasia... huhu.." Naina masih menangis dipelukan Theo seolah sedang menangis di pelukan Kelvin kakak nya.


Kamu bilang ini rahasia? lalu kenapa kamu bilang sama aku Nai? harusnya kamu merahasiakan nya dari ku juga? kenapa kamu menyakiti aku seperti ini, bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku? Theo merasa bahwa ia sudah kalah walau belum berperang. Ternyata Juna adalah orang yang disukai oleh Naina.


Lalu dengan polosnya Naina mengatakan perasaan nya pada Theo. Hati siapa yang tidak akan terluka?


Theo membawa Naina masuk ke dalam mobil, Naina sudah berhenti menangis. Meski sudah berhenti menangis, Naina terus menggerutu dan mengatakan betapa jahatnya Juna karena membuatnya menunggu sangat lama. Theo berusaha menghibur Naina dengan kata-kata, walaupun hatinya sendiri juga terluka karena Naina.


"Udah dong nangisnya, jelek tau" Theo tersenyum lalu memberikan segelas susu hangat yang ia beli dari warung di dekat sana yang masih buka.


"Ma-makasih kak Theo..BRRrrr..."Naina menggigil kedinginan, ia memegang gelas itu dengan gemetar.


"Udah berapa lama kamu kehujanan sampai menggigil seperti ini?" tanya Theo sambil menatap Naina dengan cemas


"Aku gak tau, aku disana dari jam setengah delapan malam. Aku juga gak tau ini udah jam berapa" gumam Naina dengan suara yang gemetar


"APA?! dari jam setengah delapan malam kamu duduk disana dan kehujanan?! si Juna itu benar-benar deh.." Theo mendengus kesal mendengar Naina yang sudah menunggu Juna sangat lama bahkan tanpa kabar darinya.


"Jangan marah, mungkin dia ada urusan sampai dia gak bisa datang" Naina membela Juna


"Kamu masih membela dia?? mau dia ada urusan atau apapun itu, harusnya dia mengabari kamu dan jangan membuat kamu menunggu!" Theo emosi pada Juna yang sudah membuat Naina menunggu sampai kehujanan


Tunggu saja, aku akan memberinya pelajaran!


"Udah, aku antar kamu pulang ya. Ini udah malam banget, aku udah telpon Kelvin kalau aku udah nemuin kamu. Mama sama papa kamu juga cemas" jelas Theo


"Makasih kak Theo.. udah nyari aku"


"Jangan bilang makasih, kamu menyakiti hatiku" gumam Theo pelan


"Kakak bilang apa??" tanya Naina yang tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Theo.


"Aku bilang ayo pulang" jawab Theo mengalihkan pembicaraan.


Theo mengantar Naina pulang. Sesampainya di depan rumah keluarga Aditama, Bryan, Alma dan Kelvin langsung menyambut Naina dengan cemas.


"Naina kamu dari mana saja sih?! sampai basah kuyup begini" Alma memeluk putrinya dengan cemas dan perasaan yang lega.


"Makasih Theo udah nemuin Naina" ucap Kelvin pada temannya itu


"Santai aja Bro" Theo tersenyum pada Kelvin


"Theo makasih ya udah anterin Naina pulang" kata Bryan merasa lega anaknya sudah pulang


"Iya om, kalau begitu saya pamit dulu ya om"


"Eh, ini udah tengah malam loh. Kamu nginep aja disini, baju kamu juga basah kan?" tanya Alma yang cemas melihat baju Theo yang basah. Alma takut Theo akan masuk angin, apalagi menyetir dalam keadaan hujan di waktu tengah malam sangat tidak baik.


Tadi kan aku meluk kak Theo, pasti bajunya basah gara-gara aku. Naina juga baru ngeh kalau baju Theo basah.


"Gak papa kok Tante, Theo bisa ganti baju di rumah nanti" jawab Theo sopan


"Besok kalian masih libur kan? udah nginep aja disini, om yang akan bicara sama papa dan mama kamu" ucap Bryan pada anak sahabatnya itu.


"Gak papa nginep aja sini, bahaya loh nyetir malem-malem" kata Kelvin yang juga setuju kalau Theo menginap di rumah Kelvin.


Malam itu Theo menginap di rumah Kelvin. Alma dan Bryan tidur di kamar terpisah karena Alma masih sangat marah pada suaminya. Kelvin dan Naina tidur di kamar masing-masing. Theo sendiri tidur di kamar tamu yang tak jauh dari kamar Naina.


🍀🍀🍀


Saat semua orang sudah tertidur lelap, Theo yang haus pergi ke dapur untuk mengambil segelas minuman. Dalam hatinya Theo masih marah pada Juna yang membuat Naina menunggu sampai kehujanan.


"Lihat saja! besok aku akan menghajar mu habis-habisan Arjuna Ardiwinata!" gerutu Theo kesal, Theo mencari gelas di sekitar dapur.


Theo mengambil gelas itu di laci, saat ia menutup lacinya kembali. Theo tercengang melihat Naina dengan wajah pucat dan rambut panjang nya sudah berdiri di depannya.


"Astagfirullah!! setan!!" seru Theo sambil melangkah mundur saat melihat rambut panjang Naina yang tergerai.


"Ini aku kak, masa dibilang setan??" tanya Naina pada Theo.


"Naina? oh kamu?" Theo merasa lega karena yang ada di depannya itu adalah Naina.


Syukurlah bukan kuntilanak!.


"Iya kak...huuhhh hoshh" napas Naina terengah-engah, tidak teratur. Naina mengambil gelas di laci.


"Nai kamu mau ngambil minum ya? aku ambilkan ya" ucap Theo sambil mengambil gelas ditangan Naina yang gemetar.


Tangan Naina gemetaran?


"Ma..kasih kak" jawab Naina lemas, Naina memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Kepalaku pusing banget.


BRUGH


PRANG!


Tubuh Naina ambruk, Theo menahan tubuh Naina agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. Theo bahkan menjatuhkan gelas yang sedang di pegang nya hingga jatuh ke lantai dan pecah.


"Nai.. Nai kamu gak papa kan Nai?!" Theo menggoyangkan tubuh Naina yang panas."Nai, bangun Nai?!!" Theo cemas memegangi Naina yang tidak sadarkan diri di pangkuannya.


Mendengar suara benda pecah, Alma, Bryan dan Kelvin langsung terbangun dari tidur lelap mereka. Alma, Bryan dan Kelvin secara bersamaan berlari ke arah dapur. Mereka terkejut melihat Theo yang sedang memegangi Naina yang tidak sadarkan diri.


Hampir semalaman Naina demam tinggi, sampai Bryan memanggil dokter Haris ke rumahnya. Semalaman itu juga Alma dan Bryan menjaga Naina dengan penuh kasih sayang. Theo juga merasa cemas dengan kondisi Naina.


Bryan dan Kelvin marah besar pada Juna yang sudah membuat Naina menunggu sampai sakit.


Pagi itu, teman-teman Juna mendatangi rumah Naina dengan wajah yang panik. Mereka mencari Naina.


"Ngapain kalian kesini?" tanya Kelvin pada teman-teman Juna


"Naina dimana? kita mau ngomong sama dia, soal Juna!" seru Damar


"Ya, ini soal Juna" kata Bagas dengan wajah panik


"Pergi kalian dari sini! dan gue gak mau dengar nama si Juna sialan itu lagi!" Kelvin menatap pada teman-teman Juna dengan kemarahan.


Mendengar nama Juna di sebut, Naina langsung beranjak dari tempat tidur nya. Dalam keadaan lemas, ia pergi ke luar rumahnya dan menemui teman-teman Juna.


Juna? ada apa sama Juna?


"Nai sayang, kamu masih sakit! Nai.." ucap Alma cemas melihat anaknya yang pergi keluar rumah.


"Sebentar aja mah, Naina gak papa" kata Naina pada ibunya menenangkan. Dia tak peduli pada tubuhnya yang gemetar karena suhu panas tubuhnya.


"Nai, akhirnya Lo keluar juga!" kata Damar lega


"Ada apa kalian kemari?" tanya Naina pada teman-teman Juna yang wajahnya cemas.


"Nai, Juna katanya mau pergi ke luar negri" jawab Reza


"A-Apa?" Naina terpana mendengar nya.


Teman-teman Juna tak bisa menjelaskan panjang lebar pada Naina. Katanya Juna akan pergi ke luar negri dan sedang ada di bandara bersama kakek nya juga, entah apa yang terjadi pada Juna.


Walaupun dalam perasaan kecewa, dalam keadaan sakit. Naina meminta kakaknya untuk mengantar nya ke bandara dan berniat menyusul Juna. Naina berharap kalau ia belum terlambat. Naina ingin menanyakan apa yang terjadi pada Juna yang mengingkari janji semalam, lalu tiba-tiba pergi keluar negeri.


Naina sempat berdebat dengan saudara kembarnya, namun akhirnya Kelvin mengikuti keinginan Naina. Naina, Kelvin dan teman-teman Juna pergi dengan buru-buru ke bandara.


Setibanya di bandara, Naina yang masih memakai baju tidurnya itu berlari masuk ke arah bandara. Kelvin kaget dengan Naina yang sangat terburu-buru.


"Nai tunggu! Nai pelan-pelan aja! kamu masih sakit Nai!" ujar Kelvin yang cemas pada adiknya itu.


Kelvin menyusul Naina, begitu pula dengan teman-teman Juna yang berlarian mencari Juna di bandara. Naina berlari, matanya mengarah kesana kemari mencari sosok Juna.


"Juna sebenarnya apa sih yang terjadi? kamu dimana, Junjun?" tanya Naina yang mulai putus asa mencari Juna karena tubuhnya yang melemah.


"Nai, pelan-pelan dong! kamu masih sakit!" Kelvin memegang tangan Naina yang masih terasa panas.


Si Juna itu, awas kalau dia ketemu!. Kelvin emosi pada Juna yang membuat adiknya jatuh sakit dan masih mengejarnya ke bandara.


"Si Juna dimana ya? kita berpencar aja!" seru Nando pada ketiga temannya itu


"Ok!"


Nando, Reza, Bagas dan Damar bergegas berpencar mencari Juna ke setiap sudut bandara itu. Naina dan Kelvin juga mencari Juna, lalu mereka melihat dari kejauhan Juna yang akan masuk ke dalam pesawat.


"Kakak, itu Juna! kak itu Juna!" tunjuk Naina pada sosok Juna yang akan naik pesawat, berada diantara penumpang lainnya.


Terlambat sudah, saat Naina, Kelvin dan teman-teman Juna akan mengejar nya. Juna sudah naik ke dalam pesawat. Tubuh Naina lemas seketika melihat Juna sudah pergi menaiki pesawat.


Naina menangis menatap pesawat yang baru saja lepas landas itu. Reza, Nando, Damar dan Bagas juga terlihat galau dengan kepergian Juna yang mendadak itu.


Kenapa Juna? kenapa kamu pergi tanpa bilang apa-apa padaku? apa aku memang tidak penting untuk kamu? Juna kamu jahat.. kamu jahat Juna.. Batin Naina sedih memikirkan Juna yang pergi tanpa pamit dan meninggalkan hutang janji padanya.


"Nai, aku akan cari tau pesawat itu berangkat kemana dan kita akan tau kemana Juna pergi" Kelvin menghibur adiknya yang terlihat sedih dengan kepergian Juna.


"Gak usah kak, kita pulang aja" ajak Naina pada kakaknya itu, wajahnya tampak kecewa.


"Tapi Nai.."Kelvin menatap Naina dengan cemas


"Aku gak mau tau lagi, kita pulang aja kak" ajak Naina pada Kelvin, dengan senyum pahit di bibirnya yang pucat itu.


"Juna brengsek!" gerutu Kelvin yang marah pada Juna, karena sudah membuat adiknya menangis.


...---***---...