Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 134. Maaf yang terlambat



...🍀🍀🍀...


Naina tersenyum mendengar nya, dia membisu. Tak tahu harus bagaimana lagi ia menjawab pernyataan cinta yang sudah Juna lontarkan berulang kali padanya.


"Nai.. kenapa kamu diam saja? Kamu tidak percaya padaku?" tanya Juna pada tunangan nya itu.


"Enggak.. aku diam aja bukan karena aku gak percaya sama kamu. Hanya saja ku kehabisan kata-kata untuk menjawab nya, aku gak tau harus ngomong apa lagi. Beraninya aku bertanya begitu, padahal kamu sudah banyak membuktikan perasaan kamu sama aku. Maafin aku Juna" jelas Naina sambil tersenyum, dia memohon maaf pada Juna karena selalu meragukan nya.


"Oh.. aku kira kamu tidak percaya lagi padaku, syukurlah kalau ternyata kamu percaya sama aku" Juna tersenyum lembut melihat ke arah Naina.


Deg!


Naina memegang dadanya, dia merasa seperti ada sesuatu disana yang menyesakkan dirinya. Melihat Naina seperti itu, tentu saja membuat Juna cemas.


"Nai! Kamu kenapa? Dada kamu sakit?" tanya Juna perhatian.


"Gak apa-apa, cuma agak sesak aja" jawab Naina sambil tersenyum tipis.


"Ya udah kamu istirahat ya, nanti aku hubungi kamu lagi. Makan dan istirahat!" ujar Juna mengingatkan tunangan nya untuk beristirahat.


"Kamu juga istirahat ya, jangan pulang malam-malam dan jangan lupa makan malam. Kita harus sehat, sebentar lagi kita kan akan menikah" Naina tersenyum lebar.


"Iya kamu juga. Dan aku gak sabar sampai hari itu tiba Nai" Juna berseri-seri, tak sabar untuk segera menikah dengan gadis yang ia cintai.


"Aku juga gak sabar" jawab Naina.


Setelah berbicara dan saling mengingatkan satu sama lain, Juna menutup telepon dan melanjutkan pekerjaan nya di kantor. Naina menyimpan ponselnya di meja.


UWEKKK.. UWEKKK..


"Eh? Kok seperti nya ada suara orang muntah? Itu pasti kak Keira" gumam Naina cemas pada kakak iparnya yang sedang mengalami morning sickness. Naina segera pergi keluar dari kamarnya dan berniat naik ke lantai atas, tempat di mana Kelvin dan Keira berada.


Malam itu di kamar Kelvin dan Keira, terdengar suara orang sedang muntah. Siapa lagi kalau bukan Keira? Kelvin sangat cemas karena istrinya terus muntah-muntah pada pagi dan malam hari. Keira memuntahkan makanan yang dia makan, sampai membuat wajahnya menjadi sangat pucat.


"Sayang..." Kelvin menghampiri Keira yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kelvin tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat istrinya merasa lebih baik.


"Urgh.." Keira memegang perutnya, dia menghela napas. Seperti dia sangat lelah karena terus bolak-balik ke kamar mandi. Wanita hamil itu berjalan gontai menuju ke ranjang nya. Kelvin dengan sigap, menggendong Keira kemudian mengantarnya ke ranjang.


Keira rebahan di ranjang itu, dia berusaha memposisikan dirinya supaya nyaman. Kelvin merasa kasihan dengan Keira yang tersiksa. Kelvin pun memutuskan untuk bicara pada anaknya, "Nak, kamu jangan rewel di dalam sana ya sayang.. kasihan mama kamu nak" Kelvin mengelus perut datar itu.


"Aku gak apa-apa kok sayang, mungkin ini nikmatnya jadi ibu. Kamu jangan khawatir, anak kita juga baik-baik saja" Keira tersenyum seraya menenangkan suaminya.


"Tetap saja aku cemas" Kelvin menghela napas, dia menyeka keringat di wajah istrinya dengan lembut. Tak tega dia melihat Keira seperti itu.


Tok, tok, tok


"Vin, Keira, ini mama sama Naina" kata Alma dari balik pintu kamar itu.


"Iya ma bentar" ucap Kelvin sambil beranjak dari ranjang itu. Dia berjalan ke arah pintu kamarnya, lalu membuka pintu itu.


Terlihat Naina dan mama nya berada di sana, Alma membawa sesuatu di nampan, ada mangkuk dan cangkir yang entah apa isinya. Disisi lain, Naina membawakan kaset DVD di tangannya.


"Kakak!" Naina langsung masuk ke dalam kamar itu dan menghampiri Keira. Dia duduk di sudut ranjang di sampingnya.


"Vin, Keira mual-mual terus ya? Mama bawakan sesuatu supaya mual muntahnya gak terlalu parah" Alma perhatian pada menantunya.


"Iya ma, makasih" Kelvin tersenyum pada sang mama. Kelvin bingung apa yang harus dilakukan pada Keira disaat seperti ini.


Alma membawa nampan itu masuk ke dalam kamar, dia meletakkan nya di meja yang ada di samping tempat tidur Keira. "Untuk meredakan mual-mual kakak ipar! Aku bawakan drama Korea, mari kita nonton bersama" kata Naina sambil tersenyum lebar, mengajak kakak iparnya menonton drama Korea.


"Naina kamu tuh apaan sih? Masa orang lagi mual-mual malah disuruh nonton drakor" Alma tersenyum heran, sambil membuka penutup mangkuk yang ada di atas nampan itu.


"Siapa tau kan, dengan nonton drakor.. mual nya kak Keira bisa mendingan hehe" Naina nyengir.


"Haha, boleh deh. Kita nonton bareng ya Nai, tolong nyalain DVD nya" Keira setuju dengan saran Naina untuk menonton drakor bersama.


"Asyik! Aku nyalakan ya!" Naina beranjak dari ranjang, dengan semangat dia membawa kaset DVD itu dan menyalakan tv juga DVD nya.


Kelvin dan Alma menggeleng-geleng melihat kelakuan Naina. Tapi mereka senang karena Naina sudah kembali ceria, setelah sekian lama Naina berada dalam keadaan galau. Kembalinya Naina ke rumah, membuat suasana hati gadis itu menjadi lebih baik.


"Kei, makan ini dulu ya biar kamu sedikit santai dan meredakan mual-mual kamu" Alma bersiap untuk menyuapi Keira yang sedang duduk di ranjang nya.


"Ini apa ma?" tanya Keira sambil melihat mangkuk yang ada di pegang oleh Alma.


"Ini sup ayam pakai jahe, bagus untuk meredakan mual-mual kamu. Terus, di cangkir itu ada teh madu.. mama sengaja buatkan untuk kamu" Alma menatap Keira dengan penuh kasih sayang, seolah Keira adalah putrinya sendiri.


"Makasih banyak ma, tapi Keira bisa makan sendiri kok" Keira merasa tidak nyaman dengan perhatian Alma padanya.


"Gak apa-apa, kamu duduk aja kaya gitu. Mama mau suapi kamu"


"Ehm..." Keira menatap Alma dengan bingung. Dia menoleh ke arah suaminya, Kelvin hanya mengangguk dan tersenyum. Mempersilahkan Keira untuk disuapi Alma.


Mama Alma baik banget.


"Udah ah, mama suapin aja ya" kata Alma sambil tersenyum tulus. Dia mengangkat sendok berisi sup ayam, bersiap menyuapi Keira.


"Kakak keluar aja, kerjakan pekerjaan kakak! Biar kakak ipar sama mama dan aku disini" kata Naina pada kakak nya.


"Ya udah, Kei.. gak apa-apa kan aku tinggal sebentar ke ruang kerja?" tanya Kelvin pada istrinya.


"Hm.. iya, gak apa-apa. Ada mama sama Naina disini kok" jawab Keira tidak keberatan.


"Oke, baik-baik ya. Mama, Nai, aku titip Keira"pesannya pada ibu dan adiknya.


Naina menjawab dengan jempolnya. Ketiga wanita itu berada di kamar Keira, mereka nonton drakor bersama. Sementara Kelvin pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya.


Keadaan Keira membaik ketika dia dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dirinya. Mual dan muntah nya juga mereda.


***


Malam itu Kayla baru pulang dari pemotretan, sepulang nya dari sana dia berniat pergi ke restoran Damar untuk nongkrong dan melihat Damar. Pelanggan cafe itu ramai seperti biasanya, Kayla mengambil tempat duduk kosong di lantai bawah.


"Don, pesen yang biasa ya" ucap Kayla sambil duduk di kursi.


Doni pergi meninggalkan Kayla disana. Tanpa sadar Kayla terus memandang ke arah Damar yang sedang melihat-lihat pengunjung yang datang. Hati Kayla berdebar saat melihat Damar, sudah satu Minggu lamanya dia bekerja disana untuk membantu Damar. Rupanya mereka menjadi semakin dekat.


Kalau dilihat-lihat, si cowok rese itu ganteng juga ya. batin Kayla sambil menatap Damar.


"Lo lagi lihatin gue?" tanya Damar yang ternyata sudah ada di belakang nya.


"Astagfirullah!" Kayla memegang dadanya dia tercengang saat menyadari bahwa pria yang ia lihat dari tadi ternyata sudah ada di belakang nya. Sejak kapan Damar ada disana? Apa dia menyadari kalau Kayla melihatnya?


"Udah jelas nih, Lo lagi ngelamunin gue kan?" tanya Damar dengan percaya diri.


"Cih! Kepedean banget loh! Siapa juga yang ngelamunin Lo?"


"Terus ngapain Lo ngelihatin gue kaya gitu?" tanya Damar sambil tersenyum menggoda Kayla.


"Siapa juga yang ngelihatin Lo? Jangan halu deh" Kayla menyangkal bahwa dia memperhatikan Damar.


"Ngaku aja kali, gue gak akan rugi kok" Goda pria itu kepada Kayla.


"hmph!" Kayla memalingkan wajahnya dari Damar, dia menyembunyikan wajah malu nya dari Damar.


Deg


Deg


Deg


Ya ampun jantungku, semakin kencang saja berdetak nya. Damar.. please jangan deket-deket, aku mau meledak. batin Kayla berdebar-debar.


"Bule nyasar, mau gue temenin gak? Mumpung gue lagi gak ada kerjaan" tanya Damar pada Kayla. Dia bermaksud untuk menemani Kayla minum kopi.


"Yakin gak ada kerjaan? Bukannya pelanggan nya lagi banyak ya?" tanya Kayla sambil melihat ke arah sekitar, disana banyak pelanggan yang baru saja pergi dan baru saja datang.


"Beneran, hari ini gue free khusus buat nemenin Lo minum kopi" kata Damar sambil tersenyum.


"Kalau Lo bilang gitu, gue juga gak bisa bilang enggak. Gue gak maksa Lo buat nemenin gue" Kayla tersenyum lembut, dia mempersilakan Damar untuk duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan tempatnya duduk.


Damar tersenyum dan duduk di depan gadis cantik dengan kulit putih bersih dan warna rambut coklat itu. Seperti nya Damar juga merasakan perasaan sama dengan apa yang Kayla rasakan padanya.


Hubungan yang semula bermusuhan seperti kucing dan tikus, kini berubah menjadi dekat. Persis seperti hubungan Naina dan Juna saat SMA dulu. Mereka sering berseteru, berdebat, tapi akhirnya mereka saling rindu lalu timbulah cinta.


Disisi lain ada hubungan yang sedang berkembang maju, Theo dan Nisha yang berawal dari cinta sepihak. Keira dan Kelvin yang diawali dari persahabatan dan ada Kayla dan Damar yang berawal dari pertemuan tidak disengaja. Namun, apakah mereka akan selalu berjodoh?


Damar dan Kayla meminum kopi bersama sambil mengobrol dengan nyaman. Tak lama setelah mereka mengobrol, seorang pria paruh baya datang menghampiri Kayla yang sedang duduk sendirian. Gadis itu berniat untuk pulang ke rumahnya, dan dia menunggu Damar yang sedang pergi ke kamar mandi. Damar berniat mengantar nya.


"Kay..."


Kayla terpana melihat pria paruh baya itu, dia kehabisan kata-kata. Tanpa sadar, matanya jadi berkaca-kaca.


Mengapa dia ada disini?. Batin Kayla yang perasaan nya menjadi campur aduk.


Dengan buru-buru Kayla mengambil tas selempang nya, dia melangkah pergi meninggalkan pria paruh baya itu disana. "Kay! Kay tunggu papa nak!"


Kayla terlihat kesal, dia berjalan buru-buru keluar dari restoran itu tanpa mengindahkan Jason yang memanggil nya. Ya, dia adalah Jason Macmille, ayah kandung Kayla yang telah berselingkuh dari mama nya dan meninggalkan nya begitu saja. Orang yang sudah lama tidak dia lihat batang hidungnya semenjak perceraian kedua orang tuanya.


Mereka berdua sampai di depan restoran, Jason menghadang jalan Kayla. Dia menunjukkan wajah memelas, memohon kepada putrinya agar mau bicara padanya.


"Sayang! Kayla.. anak papa" Jason meraih tangan Kayla. Tapi anak itu menepisnya dengan kasar.


"Tidak! Jangan katakan itu, saya bukan anak bapak!" Kayla menoleh ke arah Jason dengan mata berkaca-kaca dan penuh emosi.


Jason menatap Kayla dengan mata yang berkaca-kaca. Dia memegang tangan Kayla lagi. Damar bermaksud menghampiri Kayla, namun dia mengurungkan niatnya dan membiarkan ayah dan anak itu berbicara lebih dulu.


"Maafkan papa nak, maafkan papa baru menemui kamu sekarang" Jason menangis dan mencium tangan putrinya.


"Apa yang bapak lakukan?! Saya bukan anak bapak! Bapak salah orang!" Kayla menepis tangan itu.


"Maafkan papa, selama ini papa mengabaikan kamu... selama ini papa tidak peduli pada kamu, papa sudah lama mencari kamu. Dan papa ingin minta maaf sama kamu Kay" Jason menangis, dia menatap putrinya penuh penyesalan.


"Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang bapak meminta maaf? Kenapa baru sekarang bapak mengakui saya sebagai anak bapak?!" teriak Kayla sambil menangis dan emosi. Bayangan masa lalu setelah perceraian kedua orang tuanya kembali teringat di dalam ingatannya.


Damar merasa sedih melihat Kayla yang menangis dari kejauhan, dia juga penasaran dengan siapa pria yang ada di samping Kayla.


#FLASHBACK


Kayla kecil melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Saat itu adalah hari perceraian Laura dan Jason. Mereka bertengkar hebat untuk hak asuh Kayla, namun sayangnya Laura yang menang.


"Silahkan saja kamu ambil Kayla! Lagipula aku sudah punya Risya dan Selina" kata Jason sambil membawa koper besar dan meninggalkan rumah keluarga Aditama.


"Sudah aku duga, kamu tidak peduli pada Kayla! Kamu tidak sayang pada Kayla! Kamu tidak punya hati Jason!" seru Laura sambil menangis. Disana Kayla hanya diam, saat itu dia tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya bertengkar.


"Ya! Aku memang tidak peduli, aku tidak mau berdebat dengan mu soal hak asuh anak lagi. Silahkan saja kamu hidup bahagia bersama si Leon dan Kayla!" seru Jason tak peduli pada Laura dan Kayla.


Setelah itu Jason meninggalkan rumah keluarga Aditama untuk selamanya, tanpa kabar. Bahkan tanpa menanyakan keadaan Kayla anak kandungnya dengan Laura.


Kini Kayla mengerti kalau papa kandungnya tidak pernah peduli kepada dirinya.


#ENDFLASHBACK


"Maafkan papa nak, saat itu papa khilaf! Papa tidak bermaksud untuk mengabaikan kamu! Papa hanya ingin kamu tau, kalau papa sayang sama kamu dan papa ingin meminta maaf sama kamu atas kesalahan papa di masa lalu" Jason menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


"Kalau saya sudah memaafkan bapak, terus bapak mau apa?" tanya Kayla sinis.


"Papa tidak meminta apa-apa lagi, papa hanya ingin kamu memaafkan papa. Papa sudah berdosa sama kamu" Jason menangis mencium tangan anaknya.


"Saya memaafkan anda pak Jason, tapi tolong jangan panggil anda sebagai papa saya. Papa saya hanyalah Leonard Maxton, bukan anda"


Deg!


Jason tersentak kaget, dia sudah mendapatkan karma dari semua perbuatan nya. Kini dia tidak punya siapa-siapa lagi. Jason menyadari bahwa maaf nya ini sangatlah terlambat.


...---***---...