
Pakaian Bryan dan pakaian Selina berserakan berantakan dimana-mana, di sekitar ranjang itu. Hati Alma sangat hancur saat melihat suaminya berpelukan dengan orang lain.
Hancur sudah harapan Alma untuk percaya pada Bryan, kepercayaan yang tinggal setengah itu kini mungkin sudah tak bersisa lagi.
Kedua orang itu tertidur sangat lelap sampai sampai tidak menyadari kehadiran Alma. Alma kembali menutup pintu kamar hotel nya. Gadis itu jatuh terduduk dan sempat menangis di depan kamar hotel.
" Kenapa kak Bryan? kenapa kamu menyakiti ku sampai seperti ini? hiks "
Seorang pria berpakaian cleaning servis berjalan di lorong lantai 5 hotel itu dan melihat Alma menangis.
" Mbak, mbak gak papa kan?" tanya Pria itu cemas melihat Alma yang duduk di lantai dan menangis.
Alih alih menjawab, Alma kembali berdiri menegakkan kembali badannya yang tadi sempat runtuh. Ia pun berlari pergi menuju ke dalam lift.
Pak Jeffry sudah menunggu Alma di depan hotel dengan cemas, ia tak tau apa yang terjadi dengan Bryan dan Alma. Beberapa saat kemudian, Alma keluar dari hotel itu. Matanya masih terlihat merah, meskipun ia sudah menyeka air matanya berkali-kali.
" Nona, ada apa nona? kenapa nona ..." pria paruh baya itu melihat Alma dengan cemas
" Jangan tanya lagi pak Jeffry, saya mohon. Kita kembali ke Jakarta sekarang !" seru Alma
" Ba-baik nona "
Pak Jeffry mengikuti perintah dari Alma untuk mengantar gadis itu kembali ke Jakarta. Ketika mobil sudah berangkat, di sepanjang perjalanan itu Alma hanya diam saja dan menangis sambil memandangi keluar jendela.
Pak Jeffry cemas melihat Alma yang menangis terus menerus selama di dalam mobil. Pria paruh baya itu merasa kasihan dengan Alma.
Ketika sudah sampai di Jakarta..
" Nona, apa nona haus? haruskah kita berhenti dulu di supermarket?" tanya Pak Jeffry cemas
Seperti nya aku membuat pak Jeffry cemas. Aku ingin berhenti menangis, tapi air mata ku tak kunjung berhenti. Hatiku sakit.
" Baiklah pak, berhenti dulu sebentar di supermarket ya. "
Srett..
Mobil itu diparkirkan oleh pak Jeffry di depan salah satu Supermarket. Alma turun dari mobilnya.
" Bapak tunggu saja disini, biar saya saja yang masuk ke supermarket nya "
" Biar saya saja non "
" Tidak perlu, bapak tunggu disini ya. Angin dini hari ini tidak baik untuk bapak " Alma tersenyum, dengan matanya yang terlihat sembab.
Alma masuk ke dalam Supermarket itu, membeli 2 botol minuman mineral, satu bungkus rokok, 2 roti, dan secangkir kopi hangat untuk pak Jeffry. Selagi beristirahat, Alma pergi ke mushola yang letaknya tak jauh dari supermarket itu, ia mengambil wudhu, lalu melaksanakan shalat subuh dan menenangkan hatinya.
****
Sambil meneguk kopi nya yang masih panas, pria paruh baya itu mengobrol dengan Alma di dalam mobil. Gadis itu meminta maaf pada pak Jeffry karena sudah menyusahkan nya mengikuti nya ke Bandung untuk menemui Bryan.
" Maaf ya pak, karena saya.. bapak hampir tidak tidur semalaman "
" Tidak papa nona, ini memang sudah tugas saya " Pak Jeffry terlihat ragu untuk bertanya apa yang terjadi pada Alma.
" Pak Jeffry, setelah ini mulai dari sekarang bapak tidak perlu mengawal saya lagi "
" Apa maksud nya? apa saya dipecat?!" tanya Pak Jeffry tercengang
" Ti-tidak pak, maksud saya bukan begitu. Seperti nya bapak harus melayani pak Bryan saja " kata Alma
" nona Alma.. " Pak Jeffry terlihat bingung
Alma terlihat melamun, ia sudah memantapkan hatinya untuk mengakhiri semua nya dengan Bryan. Sebelum perasaan Alma semakin dalam pada Bryan.
🍂🍂🍂
Pagi itu Bryan yang tanpa pakaian ditubuhnya, dan hanya ditutupi selimut itu, terbangun di kamar nya, dan ia kaget saat menyadari ada seseorang yang tidur di samping nya. Wanita berambut pendek yang wajahnya tidak asing bagi Bryan.
" SELINA !" Bryan berteriak kencang saking kagetnya melihat Selina sedang tertidur di sampingnya.
Apa yang terjadi? kenapa aku bisa tidur dengan Selina? Bahkan aku tidak memakai sehelai benang pun.
" Bryan ! apa yang kamu lakukan?!!" tanya Selina kaget mendapati dirinya tidak memakai baju.
BRAK
Pintu kamar Bryan tiba-tiba terbuka, dan banyak orang orang yang mengambil foto Bryan dan Selina. Mereka adalah wartawan.
" Berita besar ! super model Selina, tidur dengan CEO Aditama Grup !
" Cepat ambil fotonya !" kata seorang wartawan
Bryan panik melihat orang-orang yang beramai-ramai mengambil fotonya bersama Selina sedang duduk di ranjang. Selina juga terlihat panik, ia menangis seolah ia adalah korban.
Andre, sekretaris Bryan dan beberapa orang bodyguard Bryan segera mengusir wartawan wartawan itu dari kamar Bryan.
" Andre ! dan kalian ! usir mereka ! " teriak Bryan
Pintu kamar pun tertutup setelah para bodyguard Bryan sedikit kesulitan mengusir para wartawan itu. Tinggal Bryan dan Selina berdua di dalam kamar itu.
Pria itu mengambil baju nya dan segera memakai bajunya. Ia terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan kepalanya pun terasa pusing.
" Apa yang sebenarnya terjadi?! apa yang kamu lakukan padaku, Selina?" tanya Bryan marah
" Kenapa sikap kamu seperti ini setelah apa yang kamu lakukan semalam? kamu jahat, Bryan !" tanya Selina sambil menangis
" Memangnya apa yang ku lakukan padamu?! aku tidak ingat apapun, dan aku tidak melakukan apapun " Bryan menyangkal semua tuduhan Selina yang mengarahkan bahwa mereka sudah tidur bersama
"Setelah melakukan nya padaku kamu berdalih pura-pura tidak ingat? Bryan kamu brengsek ! hiks " Selina menangis
" Aku tidak melakukan apapun padamu! tidak "
" Kamu mau menyangkal lagi setelah buktinya ada di depan mata! semalam kamu bilang cinta sama aku, dalam keadaan mabuk kamu paksa aku melakukan nya di kamar ini !" seru Selina
Pria itu seperti tidak peduli dengan Selina, ia hanya teringat Alma. Bagaimana jika Alma mengetahui semua ini dan salah paham padanya. Mungkin memang bukti yang terpampang nyata itu bisa membuat Alma salah paham jika melihatnya secara langsung, tapi ia yakin bahwa ia tidak menyentuh Selina malam itu.
Sebelum Alma dan Pak Hardi mengetahui berita tentang nya dan Selina, Bryan langsung menelpon Andre untuk memberitahukan pada semua surat kabar dan media untuk tutup mulut, agar tidak menyebarkan berita itu.
" Andre ! segera blokir semua surat kabar dan media yang ingin menyebarkan tentang ku ! bayar berapapun untuk membungkam mulut mereka, siapa pun yang berani menyebarkan tentang ini. Maka mereka harus gulung tikar !"
" Tapi pak, sebenarnya. " Andre terlihat bingung
Sebelum Bryan menahan berita itu agar tidak tersebar, semuanya sudah terlambat. Kini semua orang bahkan hampir semua media di televisi membicarakan skandal Bryan dan Selina.
Akhirnya Bryan pergi lebih dulu mengakhiri perjalanan bisnisnya itu, ia dan Andre segera pergi kembali ke Jakarta. Dengan hati yang cemas dan gelisah.
" Kamu ini lelet banget ! lebih cepat mengemudi nya, Andre !" teriak Bryan kesal
Aku harus jelaskan dari mana semua ini pada Alma. Tentang aku dan Selina yang semalaman di kamar. Aku juga masih ragu kalau aku benar-benar tidak tidur dengannya. Aku bingung. Alma pasti akan percaya padaku kan?
" Maaf pak, ini sudah kecepatan maksimal " jawab Andre takut
Pak presdir pasti cemas pada tuan besar dan nona Alma jika melihat atau mendengar berita ini. Semoga saja mereka belum melihat berita nya.
🍂🍂🍂
Di rumah keluarga Aditama...
Sambil menunggu korannya datang.
" Bi Inah, apa koran ku belum datang?" tanya pak Hardi pada asisten rumah tangga nya itu
" Seperti nya belum tuan besar " jawab Bi Inah
" Coba kamu nyalakan tv saja kalau begitu " kata Pak Hardi pada Bi Inah
" Baik tuan, saya akan nyalakan " jawab Bi Inah sambil mengambil remote tv yang ada di meja
Tiba-tiba saja Alma yang berlari itu datang dan langsung mengambil remote dari tangan bi Inah. Wajah Alma terlihat resah dan pucat.
" Syukurlah, kakek belum lihat. " batin nya lega
" Eh, Alma? kamu ada apa pagi-pagi udah kesini? dan kamu masih pakai baju tidur?" tanya Pak Hardi heran
" Kakek ! jangan liat tv dulu "
Gawat kalau sampe kakek tau, penyakit jantungnya nanti kambuh.
" Eh?" Pak Hardi dan Bi Inah melihat Alma dengan bingung
" Tidak ada yang seru kok di TV, mending kakek tunggu koran aja " Alma tersenyum canggung
Beberapa detik kemudian, supir keluarga Aditama datang mengantarkan koran untuk Pak Hardi. Dengan cepat Alma mengambil koran itu, wajahnya masih terlihat takut dan panik. Pak Hardi bahkan sampai mengira bahwa Alma sedang sakit.
Ny. Delia datang memarahi Alma dan langsung merebut koran itu dari Alma, lalu diberikan lah koran itu pada Pak Hardi
" Ma, jangan !" seru Alma panik saat Ny. Delia merebut remot tv dari tangannya
" Kamu tuh kenapa sih pagi-pagi udah bikin rusuh?!" Ny. Delia mendelik sinis pada Alma yang melarangnya menyalakan TV
KRET
TV di depan mereka pun menyala. Sebuah suara muncul di layar besar dan datar itu, seorang pembawa berita memaparkan tentang CEO Aditama grup bermalam bersama super model dari perusahaan nya bernama Selina.
" Tidak disangka sangka CEO Bryan Aditama dan Selina Sheryl Amaira menghabiskan malam bersama saat dalam perjalanan bisnis mereka dan kepergok oleh salah satu wartawan yang juga sedang bermalam di hotel itu, dikatakan juga bahwa mereka adalah pasangan kekasih..."
DEG !
Pak Hardi sangat terkejut melihat foto Bryan dan Selina yang tanpa busana di sebuah kamar hotel. Ny. Delia juga terlihat kaget melihatnya, Laura dan Jason yang baru turun dari kamar mereka juga ikut melihat televisi.
" Dasar cucu sialan ! keterlaluan !" Pak Hardi murka, ia memegang dadanya dan tampak kesakitan. " Aaaahhhh!"
" Ka..kakek !" Alma menghampiri Pak Hardi dan memegangi nya dengan panik
" Kakek !" teriak Laura dan Jason yang juga menghampiri Pak Hardi dengan panik
" Papa !" Ny. Delia juga ikut panik melihat Pak Hardi yang kesakitan. Di usianya yang tidak muda lagi, ia harus melihat berita tidak menyenangkan dari cucu nya. Ia sangat syok.
" Kakek, kakek tenang dulu ya ! tarik napas dalam-dalam, tenang kek.. tenang " kata Alma sambil menangis melihat Pak Hardi yang napasnya tersengal sengal. Ia seperti melihat kakeknya sendiri yang sakit
" Ke.. keterlaluan... Alma harus dengan Bryan, tidak boleh dengan wanita lain !" ujar Pak Hardi sambil menahan sakit di dadanya
" Ma, kita harus bawa kakek ke rumah sakit !" ujar Laura cemas
" Kamu benar, Laura " jawab Ny. Delia
" Aku akan siapkan mobil " kata Jason sambil berlari pergi.
Akhirnya Ny. Delia, Laura, Jason dan Alma membawa Pak Hardi yang sudah tidak sadarkan diri itu ke rumah sakit terdekat. Sesampainya disana, Pak Hardi langsung dibawa ke ruang UGD karena keadaan nya yang tidak sadarkan diri.
Ny. Delia, Laura, Jason dan Alma kotar katir di depan ruangan UGD dan mencemaskan keadaan Pak Hardi.
" Bagaimana bisa ini terjadi? kenapa Bryan bisa melakukan itu ?!!" tanya Laura sambil menangis dan kecewa pada adiknya itu.
Bagaimana bisa Bryan membuat wanita sebaik Alma bersedih? Alma tidak terlihat kaget, apa dia sudah tau sebelum nya.
" Sayang, kamu tenang dulu ya. Kakek pasti baik-baik saja " Jason memeluk Laura, berusaha menenangkan istrinya itu. Ia sempat melirik Alma yang sedang terdiam dan tidak berekspresi dengan wajah pucat nya.
Aku pikir Bryan kali ini benar-benar mencintai kamu, ternyata kamu sama saja seperti wanita yang lainnya baginya. Dia hanya mencintai Selina. Kasihan. Jason mengejek Alma di dalam hatinya.
Ny. Delia bukannya marah pada Selina, tapi ia malah memaki Alma dan menyalahkan Alma atas kejadian yang menimpa Pak Hardi. Laura membela Alma dan memarahi ibunya, padahal ini bukan kesalahan Alma tapi kesalahan Bryan dan Selina. Kenapa Alma yang harus disalahkan atas skandal suaminya? Alma tidak bergeming melawan mertua nya, tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Sekuat tenaga ia menahan tangis nya. Hatinya seolah olah menjadi beku saat itu.
" Kalau saja kamu tidak datang ke dalam kehidupan Bryan dan Selina ! Papa tidak akan dalam kondisi seperti ini, seharusnya kamu lenyap aja ! pergilah dari kehidupan anakku dan kehidupan kami selamanya " Ny. Delia memukuli Alma dengan marah. Laura dan Jason berusaha melerai mereka.
" Ini bukan salah Alma ma, cukup!! kakek lagi di rawat, mama masih sempat sempatnya kaya gini " teriak Laura sedih
Laura tidak habis pikir pada ibunya itu, kenapa dia menyalahkan Alma yang tidak ada sangkut-pautnya di dalam kejadian ini. Normalnya, harusnya ibunya itu marah pada Selina dan Bryan yang sudah mencoreng nama keluarga Aditama.
KLAK
Dokter pun keluar dari ruangan UGD dengan wajah yang muram. Ny. Delia segera menghampiri dokter itu " Dok, bagaimana keadaan papa saya?" tanya Ny. Delia cemas
" Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, saat dibawa ke rumah sakit detak jantung Pak Hardi sudah berhenti. " jelas Dokter
" Tidak ! Papa ! papa !" Ny. Delia menangis meraung-raung, jatuh terduduk di lantai depan ruang UGD.
Begitu pula dengan Laura dan Alma. Mereka tak henti-hentinya menangis. Ny. Delia jatuh pingsan dan ditemani oleh Laura di ruang rawat. Saat itulah Alma pergi ke ruang UGD, dan melihat mayat pria tua yang terbujur kaku dengan wajah pucat, sudah tidak bernyawa di depannya.
" Kakek.. kakek maafkan Alma. Maaf kek..hiks " Alma memegang tangan dingin pria tua yang sudah tiada itu dan menggenggam nya.
Hati Alma terasa sakit, ia tak bisa menanggung beban yang lebih berat lagi. Kepalanya serasa akan meledak. Hari itu ia mendapati serangan hati yang bertubi-tubi, sebuah pedang menancap dihatinya dan telah membuat lubang besar penuh luka dihatinya.
Salah satu orang yang bersikap sangat baik padanya selain Laura adalah Pak Hardi. Ia sangat menyayangi pak Hardi layaknya kakeknya sendiri. Meskipun pertemuan mereka terbilang singkat, hanya 4 bulan.
" Maaf kek, aku tidak bisa bersama kak Bryan lagi. Semuanya sudah berakhir kek, maafkan Alma kek hiks.. " Air mata nya tak berhenti mengalir di depan jenazah yang tidak bernyawa itu.
Setelah lama di ruang UGD, Alma keluar dari ruangan itu dan menyeka air matanya.
" Ayo Alma, kamu kuat. Kamu harus kuat" gumam gadis itu pada dirinya sendiri
Saat ia melangkah, tak sengaja sesosok pria bertubuh kekar berdiri di depannya dan membuat nya terjatuh ke lantai.
" Seperti nya aku menabrak tembok, keras sekali " gerutu Alma
" Aku bukan tembok " jawab Bryan sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Alma berdiri.
Alma menepis tangan Bryan dan berdiri sendiri. Wajahnya terlihat sedih, dan dingin. Bryan terluka dengan sikap dingin Alma padanya.
" Apa kakek benar-benar sudah meninggal?" tanya Bryan
" Iya, itu benar. Dengan begitu kita juga berakhir pak Bryan " kata Alma dingin
" Apa maksud kamu?" tanya Bryan
" Kamu sudah mendapatkan semua yang kamu mau, tenang saja aku sudah menandatangani surat cerai nya. " Alma menatap tajam pada Bryan
" Cerai? apa maksud mu?!" Bryan memegang tangan Alma, sekali lagi Alma menepisnya.
" Its over pak Bryan "
Alma melangkah pergi meninggalkan Bryan yang termenung sedih di depan ruang UGD rumah sakit itu.
...---***---...