Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 140. Wedding day (Junai) 1



...🍀🍀🍀...


Setelah selesai di infus, Naina kembali pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Tinggal satu hari menuju pernikahan nya, dia harus menjaga kesehatan nya. Tapi, malam sebelum pernikahan nya gadis itu malah tidak bisa tidur.


"Uh.. aku ini kenapa sih? Mata mau merem kok susah banget" Naina memeluk boneka stoberi pemberian Alm. Albry dengan hangat, dia berusaha memejamkan mata. Namun, entah kenapa sulit sekali baginya untuk tidur.


Besok aku akan menikah, besok adalah hari pernikahan ku. Aku harus tidur agar wajahku segar, tapi aku tidak bisa tidur sama sekali. Ya Allah, ini sudah jam dua pagi. Naina melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 02.10.


Alma membuka pintu kamar anaknya pelan-pelan, dia tersenyum melihat anaknya masih belum tidur. "Mama mendengar suara berisik, ternyata itu kamu yang belum tidur"


"Mama? Maaf ya ma aku ganggu tidur mama" Naina tersenyum dan duduk di ranjang nya.


"Pasti anak mama ini lagi gugup untuk menghadapi hari esok" Alma memegang bahu putrinya.


"Hehe, gak tau kenapa nih ma aku gak bisa tidur" Naina menjawab dengan bingung.


"Itu karena kamu nervous sayang, mama juga dulu gitu pas mau menikah sama papa kamu. Mama sangat nervous sampai kesulitan untuk tidur. Besok kamu akan menjadi istri seseorang, jadilah istri yang baik dan patuh pada suami mu ya. Jangan lupakan mama dan papa" Alma tersenyum dan membelai lembut wajah Naina. Dia tidak menyangka, putri kecilnya kini sudah dewasa dan akan segera menikah.


"Kenapa mama bilang gitu? Masa aku lupa sama papa dan mama?" Naina tersenyum lebar.


"Ya siapa tau kamu melupakan mama dan papa, kan?" tanya Alma dengan bibir yang mengerucut.


"Haha.. apa mamah ngambek karena aku dan Juna memutuskan untuk tinggal berdua? Kalau mama tidak mau aku tinggal di luar, aku dan Juna akan tinggal disini sama mama dan papa" Naina tidak keberatan jika dia dan Juna harus tinggal di rumah bersama papa dan mama nya.


"Sayang maafkan mama, mama terlalu berlebihan sama kamu ya? Mama hanya cemas dengan keadaan kamu, kamu kan belum sehat" Alma cemas, sejujurnya dia tidak rela jika harus tinggal terpisah dengan Naina. Tapi mau bagaimana lagi? Seorang istri pasti akan ikut kemana pun suaminya pergi.


"Aku yakin Juna bisa menjaga ku ma, mama harus percaya sama dia. Dan aku juga akan menjaga Juna, menjadi istri yang baik untuk nya, mama jangan khawatir ya" Naina tersenyum lembut suara yang menenangkan mamanya.


"Baiklah sayang, mama akan mendukung semua keputusan kamu asalkan kamu bahagia" Alma tersenyum pada putrinya, air matanya mengalir tanpa sengaja.


"Eh, Kenapa mama malah nangis?" tanya Naina menatap Alma dengan khawatir.


"Mama gak apa-apa, mama cuma merasa senang dan terharu. Putri mama, ternyata sudah dewasa dan besok akan menjadi istri orang lain" Alma menyeka air matanya dengan kedua tangan.


GREP


Naina memeluk mamanya dengan lembut penuh kasih sayang. "Aku akan bahagia ma, Mama jangan khawatir.. walaupun kita tidak tinggal satu rumah lagi, rumah ku dan rumah mama papa kan tidak jauh. Mama bisa berkunjung ke rumahku, dan aku juga bisa berkunjung ke rumah ini" Naina tersenyum bahagia.


"Ya mama tau sayang, ya sudah kamu cepatlah tidur ya. Besok adalah hari pernikahan kamu, kamu harus terlihat cantik dan segar" Alma tersenyum dan membelai pipi Naina.


"Iya mama juga ya, mungkin sekarang aku sudah bisa tidur" Naina berbaring di ranjang nya.


"Mama juga mau tidur ya" Alma meninggalkan Naina di kamarnya, dia mematikan lampu kamar itu.


Namun setelah mama nya pergi pun, Naina masih belum bisa menutup matanya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan, tak sabar tapi juga takut menghadapi hari esok.


"Besok aku akan menikah, besok aku akan menikah!" gumam Naina gemas sambil memeluk boneka beruang nya.


****


Kegalauan yang sama juga melanda Juna, esok dia akan menikahi wanita pujaan hatinya. Pria itu berusaha memejamkan matanya namun dia tidak bisa.


"Arghh!! Kenapa mataku tidak bisa terpejam sama sekali?!" Juna berteriak sendiri, dia melempar guling yang di peluknya itu ke lantai. Juna pun memutuskan untuk pergi mengambil air minum ke lantai bawah, karena air minum di lantai atas sudah habis.


Dia berjalan menuruni tangga, rumah yang tampak megah itu hanya dia dan beberapa pelayan saja yang menempatinya. Setelah kakeknya meninggal, Juna merasa kesepian. Dia hanya sibuk dengan perusahaan dan menyingkirkan ibu juga saudara tirinya yang berusaha merebut harta kekayaan peninggalan ayah dan kakeknya.


Juna melihat foto pak Farid yang terpampang besar di dinding. Juna tersenyum melihat foto itu, ada rasa sedih juga di dalam hatinya.


"Kakek, besok aku akan menikah sama Naina. Kakek pasti bahagia kan? Seandainya kakek masih ada disini dan melihat pernikahan ku...tapi aku tau pasti kakak mendoakan ku dari atas sana, kan? Doakan aku ya kek" Juna tersenyum sambil mengusap foto kakeknya. Kini tatapan Juna beralih pada foto ayah dan ibunya, dia meminta doa yang sama.


Meminta agar pernikahan dan kehidupan nya setelah pernikahan dilancarkan, dia juga berharap kalau Naina bisa sembuh dari penyakit kankernya.


"Tuan, tuan belum tidur?" tanya Pak Kusno yang kebetulan sedang lewat disana.


"Iya pak, saya belum bisa tidur" jawab Juna sambil meneguk air di dalam gelas.


"Tuan pasti sedang gugup menghadapi hari besok. Bismillah tuan.. tuan harus segera tidur biar besok wajahnya cerah" Pria tua yang sudah lama bekerja di rumah keluarga ardiwinata itu, tersenyum dan mengingatkan Juna agar segera tidur.


"Bapak benar, tapi saya belum bisa tidur. Saya tidak menyangka besok saya akan menikah dengan wanita yang saya cintai" Tak perlu ditanyakan lagi betapa bahagianya Juna yang akan segera mempersunting Naina dalam hitungan jam.


"Alm. tuan besar juga pasti akan sangat senang jika beliau melihat tuan akan menikah dengan nona Naina" Pak Kusno yakin itu, karena semasa pak Farid masih hidup, dia sangat menyukai Naina dan berharap Naina menjadi cucu menantunya.


Juna kembali ke kamarnya setelah obrolan singkat itu, dia membaca sebuah tulisan yang ada di secarik kertas. "Saya terima nikahnya.. saya terima nikahnya Ninaina.." Juna mengucapkan kata-kata itu berulang kali, rupanya dia sedang latihan bagaimana mengucap ijab kabul. Hatinya berdebar tak sabar menunggu besok pagi, dimana dia akan menikahi Naina.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya adalah pagi yang sibuk bagi semua anggota keluarga Aditama. Terutama Naina yang akan menjalani pernikahan, gadis itu masih tidur lelap ketika semua orang sudah berdandan dan bersiap-siap.


"Nai, ayo bangun Nai! Kamu akan menikah hari ini" kata Keira membangunkan adik iparnya itu.


"Loh? Ini udah pagi ya? Hah! kak Keira kenapa udah dandan?" tanya Naina dengan mata yang terbelalak melihat Keira sudah memakai kebaya dan memakai make up di wajahnya.


"Semua orang udah dandan dari tadi, gimana sih ini calon pengantin! " Keira menggelengkan kepalanya.


Naina langsung beranjak dari ranjang nya, dengan buru-buru dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Alma, dan Keira menggeleng-geleng melihat Naina.


"Mama tidak mencoba membangunkannya?" tanya Keira pada mama mertuanya itu.


"Kamu pikir mama tidak coba lakukan? Sudah 4 kali mama membangunkan nya" jawab Alma kesal karena Naina bangun terlambat.


"Ya ampun ma.." Keira menghela napas.


Segera setelah mandi, seorang perias pengantin merias wajah Naina. Rambutnya juga memakai rambut palsu agar terlihat lebih panjang. Wajah itu sudah dirias dan dia langsung mengenakan gaun pengantin itu.


Naina dan rombongan nya segera pergi ke tempat acara akan dilaksanakan, yaitu gedung yang sudah disewa oleh Alma.


"Ayo Nai cepat, nanti terlambat!" seru Kelvin pada adiknya yang sedang berjalan buru-buru mengenakan gaun pengantin nya menuju ke arah mobil.


Tubuh Naina oleng dan menimpa kakak nya, "Kamu ini! Hati-hati dong!" kata Kelvin sambil memegang tangan Naina.


"I-iya kak, maaf" Naina meminta maaf atas kecerobohan nya.


Kelvin melihat ke bawah gaun Naina, adiknya itu tidak memakai sepatu karena lupa. Akhirnya Kelvin memakaikan sepatu untuk adiknya.


"Kamu ini ada-ada saja" Kelvin tersenyum dengan kecerobohan adiknya.


"Aku seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya" Naina melihat kakaknya memakaikan sepatu heels berwarna putih kepadanya, dia jadi teringat Cinderella.


"Baiklah Cinderella, seperti ini dulu ya biar cepat" Kelvin terpaksa menggendong adiknya, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil dengan cepat.


Jam sudah menunjuk pukul 8 pagi, rombongan Naina sampai di tempat acara pukul setengah 9 pagi. Dan mereka terkejut karena rombongan pengantin pria belum ada disana.


"Ternyata rombongan pengantin pria nya juga belum datang"Bryan cemas karena Juna belum muncul disana.


"Katanya butuh lima belas menit lagi" ucap Kelvin memberitahu ayahnya tentang Juna.


"Haah.. anak itu, katanya dia mau menikahi putri ku tapi malah terlambat. Dia serius gak sih?" Bryan marah-marah dan menggerutu karena Juna yang terlambat.


Sementara itu Naina sedang berada di ruang pengantin wanita, bersama Kayla, Keira, Viona, Laura, Sonya dan Alma.


"Wah, pengantin wanita kita ini sangat cantik" Laura memuji keponakan nya.


"Benar kan ma? Kak Naina sangat cantik" Kayla melihat Naina dengan tatapan terpesona.


Gadis yang memakai gaun pengantin itu hanya tersenyum, dia menunjukkan senyum yang bahagia. Tapi dia tampak gugup sampai tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya.


"Sayang, kamu udah minum obat kan?" tanya Alma pada anaknya.


"Udah ma, aku juga udah sarapan tadi bareng sama kak Keira" jawab Naina dengan suara yang gemetar.


"Kamu jangan gugup sayang, semangat ya" Alma menyemangati putrinya yang akan segera menikah itu. Dia memberikan Naina sebuah permen untuk merilekskan perasaan nya.


Para wanita di keluarga Aditama, sudah memberikan pesan dan selamat pada Naina. Kini giliran para pria yaitu Bryan, Ken, Leon, Alex, dan Kelvin yang memberikan ucapan selamat pada Naina.


"Selamat ya keponakan om, akhirnya sudah menemukan tambatan hati" Leon memberikan selamat pada keponakan nya itu.


"Langgeng ya Nai.. kalau si Juna macam-macam, bilang aja sama Om. Biar om kasih pelajaran sama dia" Ken tersenyum menyemangati Naina.


Gadis itu tersenyum dan mengiyakan perkataan para pria di dalam keluarga nya. Betapa sayangnya mereka kepada Naina.


"Kak Naina, selamat ya. Semoga kakak selalu bahagia" kata Alex, putra kedua Leon yang juga adiknya Kayla.


"Makasih banyak om Leon, Alex, om Ken, aku pasti akan bahagia sama Juna. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah" Naina tersenyum lembut, menjawab semua ucapan selamat dari keluarga nya.


"Anak papa tersayang, kamu harus selalu bahagia" Bryan memeluk putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya pa, papa doakan aku ya.." Naina tersenyum haru dan membalas memeluk papanya.


"Kalau Juna menyakiti kamu, atau melalukan KDRT, kamu harus bilang sama papa, sama om atau sama kakak kamu"


"Juna gak akan melakukan itu pa, dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat ku terluka" kata Naina yakin dan sangat percaya sama Juna.


"Baiklah, papa akan percaya pada pilihan anak papa" Bryan mengelus lembut kepala Naina.


"Makasih papa" kata Naina senang.


"Pengantin pria nya sudah datang, dia lagi merapikan bajunya di ruang sebelah" kata Kelvin sambil tersenyum tipis.


Mata Naina membulat, dia senang karena Juna sudah datang tapi dia juga merasa gugup. Setelah tau Juna sudah datang, Bryan, Ken, Leon dan Kelvin langsung ke tempat dimana Juna berada.


Mereka memperingati Juna untuk selalu membahagiakan Naina sesuai dengan apa yang dia pernah janjikan.


"Aku menyerahkan putriku padamu, kamu harus selalu membuat nya bahagia. Kamu sudah berjanji" kata Bryan tegas.


"Kalau kamu berani membuat Naina menangis, maka aku akan memberimu pelajaran" Ancam Ken pada Juna.


"Naina adalah kesayangan kami semua, dan kami harap kamu memang orang yang tepat untuk Naina. Jadi, jangan pernah kecewakan kepercayaan kami pada kamu dan juga mengecewakan Naina" kata Leon mengingatkan, matanya menatap tajam ke arah Juna. Pria itu terlihat mendengarkan ucapan semua pria di keluarga Aditama.


Betapa sayangnya mereka pada Naina dan betapa hangatnya keluarga Aditama. Juna merasa beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga itu


"Itu benar, macam-macam pada Naina! Maka kamu akan mati Jun!" seru Kelvin mengancam.


"Saya bersumpah dengan hidup saya dan demi anu saya, kalau saya akan menjaga Naina dengan baik" Juna memberi hormat kepada pria pria itu.


"Buahahahahaa.." Ken, Leon dan Bryan langsung tertawa mendengar ucapan Juna.


"Boleh juga kamu Jun" kata Kelvin sambil tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.


Tibalah waktu dimana sang pengantin pria dan pengantin wanita untuk melakukan akad nikah. Semua tamu, kerabat, teman-teman Juna dan Naina sudah menunggu momen-momen terbaik itu. Pernikahan, acara sakral Juna dan Naina. Tepat pada tanggal 6 Agustus, hari ulang tahun Naina dan Kelvin.


"Sayang, selamat ulang tahun.." Keira memberikan sebuah kotak kecil pada Kelvin.


"Apa ini?"


"Dibukanya nanti aja ya" Keira tersenyum manis pada suaminya.


Kelvin menyimpan kotak kecil itu di dalam saku jas nya, dia mencium kening sang istri dengan mesra.


Semua orang bersiap-siap untuk menyaksikan akad nikah. Naina dan Juna sudah duduk berdampingan di depan penghulu, saksi, dan juga ayah kandung Naina.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


...---***---...