Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 104. Gaun pengantin



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Naina selesai merias wajahnya, dia mengganti bajunya dan bersiap untuk pergi. Melihat banyak di ponsel nya dari Juna membuatnya merasa bersalah.


Tut.. Tut...Tut...


Gadis itu menelpon Juna namun belum diangkat juga. Juna sendiri sedang marah pada Naina yang tak kunjung mengangkat telponnya yang sudah berjumlah puluhan itu. Ponsel Juna terus berdering di meja, tangan Juna sedang bekerja menandatangani beberapa dokumen yang di berikan oleh Ardi.


🎢🎢🎢


Dreet.. Dreet..


Kring kring..


"Pak, maaf.. apakah bapak akan membiarkan telpon itu berdering terus?" tanya Ardi sambil melirik pada ponsel Juna yang terus berdering itu.


"Biarkan saja, salah sendiri dia tidak mengangkat telpon ku " jawab Juna cuek sambil menandantangani dokumen-dokumen di meja nya. Bibirnya mengerucut, matanya melirik pada ponsel itu dengan kesal


Dia sedang apa sih sampai tidak mengangkat telpon ku? apa telpon ku tidak penting?. batin Juna kesal


"Pak, anda akan menyesalinya kalau tidak mengangkat telpon dari Bu Naina" Ardi sudah bisa menebak kalau Naina yang menelpon Juna.


"Tidak mau, biarkan saja. Siapa suruh dia tidak mengangkat telpon ku" kata Juna cuek


Kekanakan sekali, tingkah pak Presdir seperti anak usia lima tahun saja.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?!" Juna menatap kesal pada Ardi.


"Saya tidak melihat bapak, oh ya pak..saya sudah mengingatkan bapak ya, bahwa bapak akan menyesal tidak mengangkatnya" kata Ardi menasehati


"Tau apa kamu! pokoknya sampai dia menelpon ku sampai 37 kali, aku tidak akan mengangkatnya"


"Tapi saya rasa Bu Naina tidak akan menelpon bapak sebanyak itu" Ardi tersenyum yakin


"Kamu bisa diam tidak sih?! pergi saja keluar!" seru Juna kesal pada sekretaris nya yang banyak bicara itu


"Jangan mengeluh pada saya nanti, karena saya sudah mengingatkan bapak" Ardi berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah Naina menelpon 3 kali, Naina tidak menelpon Juna lagi. Karena Naina pikir mungkin Juna sedang sibuk dengan urusan kantor nya. Sedangkan Juna kesal sendiri karena Naina hanya menelpon nya 3 kali.


"Kenapa Naina cuma menelpon ku tiga kali? apa-apaan ini! kenapa dia tidak menelpon ku lagi??!" teriak Juna kesal pada ponselnya. "Apa dia tidak sayang lagi padaku? apa aku tidak penting lagi baginya? bahkan tidak ada pesan masuk satupun!!" Juna memegang ponselnya dengan gemas.


Akhirnya yang dibilang Ardi terjadi juga. Juna menyesal karena tidak mengangkat telpon Naina. Dia pun menelpon balik Naina dan resah karena Naina tak kunjung mengangkat telponnya.


"Bagaimana ini? apa Naina marah padaku makanya dia tidak mengangkat telpon ku?" gumam Juna gelisah


Juna pun mengirim banyak pesan pada Naina, entah apa yang dia kirimkan. Juna tampak stres sendiri.


****


Di sebuah butik langganan Alma, Naina sampai di depan sana. Dia segera masuk ke dalam butik itu walau dirinya kesulitan berjalan karena menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Nai, kamu baru datang sayang?" tanya Alma menyambut anak gadisnya itu


"Iya maaf ma aku agak telat" jawab Naina sambil tersenyum seperti biasanya.


"Gak papa sayang, kita duduk dulu yuk. Kita lihat bagaimana Keira dengan baju pengantin rancangan mu itu" Alma tak sabar menantikan menantunya memakai baju pengantin.


"Loh? kak Kelvin nya mana?" tanya Naina sambil duduk di sebelah mama nya.


"Dia ke kantor dulu sebentar katanya ada urusan mendadak, dia akan segera kembali" jelas Alma singkat jelas dan padat


"kalau begitu kita tidak boleh melihat kakak ipar memakai gaun nya"


"Loh? kenapa?" tanya Alma bingung


"Harus kakak, orang pertama yang melihat kakak ipar memakai gaunnya"


"Naina, kamu benar juga sayang. Bagaimana kita bisa mendahului kakak mu untuk melihat pengantinnya?" Alma tersenyum setuju pada Naina.


"Iya kan ma" Naina tersenyum lembut


Tak lama kemudian Kelvin datang kesana dengan terburu-buru. Dia takut melewatkan melihat Keira memakai gaun pengantin nya.


"Apa Keira sudah keluar?" tanya Kelvin sambil melihat ke arah tirai tertutup di depannya.


"Tenang saja kak, kakak tidak ketinggalan momen penting kok. Aku dan mama mengerti bahwa kakak harus jadi orang pertama yang melihat kecantikan kakak ipar" jelas Naina pada kakak nya


"Kamu pintar Nai" Kelvin memuji adiknya


"Tentu saja! Ninaina kan sangat pintar" Naina bangga pada dirinya sendiri


Kelvin berganti baju lebih dulu, pria itu terlihat memakai jas hitam berbalut kemeja putih di dalamnya. Naina dan Alma memuji Kelvin yang terlihat tampan memakai jas itu.


PROK


PROK


PROK


"Wah...mama, lihatlah calon pengantin kita ma" Naina bertepuk tangan dengan bahagia melihat kakak nya dengan setelan jas itu.


"Apa aku tampan?" tanya Kelvin dengan senyuman percaya dirinya


"Kamu sangat tampan sayang" Alma tersenyum memuji anak nya itu. Hatinya sangat bahagia karena melihat anak sulungnya akan segera menikah dalam hitungan hari.


Tes, tes, tes,


Tanpa sadar air mata Alma mengalir, dia duduk di kursi nya dan semakin menangis. Naina dan Kelvin kompak menghampirinya nya dengan wajah cemas.


"Mama, mama kenapa ma?" tanya Naina sambil memegang bahu mama nya.


"Mama gak papa.. hiks"


"Apa mama lagi sakit?" tanya Kelvin sembari menggenggam tangan Alma.


"Mama hanya bahagia, kamu sudah akan menikah. Mama sangat bahagia..tidak disangka waktu begitu cepat berlalu, padahal rasanya seperti baru kemarin kalian masih kecil. Kalian masih merengek dan selalu bertengkar, tapi sekarang kalian sudah dewasa. Kalian akan menikah dan meninggalkan mama.."


"Kata siapa kita akan meninggalkan mama? kita akan selalu bersama mama kok" jawab Kelvin


"Benar ma, kita gak akan kemana-mana walau sudah menikah nanti" Naina mengangguk dan menenangkan mama nya


"Apa kalian berkata bohong seperti ini untuk menghibur mama?"


"Loh? siapa yang bohong ma?" Kelvin tertawa kecil


"Lalu, apakah kalian akan tinggal di rumah setelah kalian menikah nanti?" tanya Alma pada kedua anak tersayang nya.


"Kalau mama mau, aku dan Keira akan tinggal di rumah bersama papa dan mama setelah kami menikah"


"Ya, aku juga kalau sudah menikah akan tinggal bersama mama dan papa. Kalau kalian menginginkan nya" Naina tersenyum pada mama nya


Alma menyeka air matanya, terlihat senyum lembut di bibirnya. Alma memeluk kedua anaknya yang sama-sama akan menempuh ke jalan bahagia. "Terimakasih, mama dan papa punya kalian yang sangat mama dan papa sayangi. Mama berharap kalian selalu bahagia, itu adalah kebahagiaan mama"


Si kembar tersenyum dan mengiyakan kata-kata mama nya. Setelah pembicaraan itu, tirai di depan mereka terbuka lebar. Terlihat lah Keira dengan memakai gaun pengantinnya menjuntai ke bawah. Bagian atas nya tertutup dan tampak elegan. Kelvin terpana melihat gadis yang akan menjadi istrinya itu memakai gaun pengantin.


"Woahh.. can-" Naina tersenyum lebar dan dia akan memuji saudara iparnya itu. Namun, Kelvin malah membekap mulutnya.


"Kamu cantik sekali Kei, kamu adalah wanita tercantik di dunia" Kelvin memandang ke arah Keira tanpa berkedip


Harus aku orang pertama yang memuji calon istriku. Dasar Ninaina ini. gumam Kelvin dalam hatinya


Dasar! dia bahkan cemburu padaku yang akan memuji kakak iparku lebih dulu. Huh!. Naina tau maksud kakaknya membekap mulutnya. Karena dia cemburu.


Alma tersenyum melihat tingkah kedua anak nya itu. Alma jadi teringat masa kecil mereka berdua.


"Su-sungguh, apa aku cantik?" tanya Keira gugup


"Ya, sangat cantik.. bahkan a-aku ingin menikahi mu sekarang juga" kata-kata itu terucap begitu saja saat melihat Keira.


Alma dan Naina saling memeluk dan bahagia melihat kebahagiaan Keira dan Kelvin yang tinggal di depan mata.


Hari demi hari telah terlewati, hanya tinggal satu hari lagi menuju hari pernikahan Keira dan Kelvin. Ketika Alma sedang sibuk membereskan hantaran pernikahan, Alma mendapati banyak rambut yang rontok di depan kamar Naina.


"Ya Allah.. kok banyak sekali rambut disini? apa ini rambut Naina?" Alma memunguti rambut yang rontok itu. Dia terlihat bingung.


Sementara itu Juna mengajak Naina untuk bertemu di cafe milik Damar. Mereka janjian disaat waktu senggang. Juna baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya.


"Juna, kok kamu gak bilang sih kalau kamu sudah pulang ke Jakarta? aku kan bisa jemput kamu di bandara" ucap Naina pada tunangan nya itu


Juna menatap Naina dengan tatapan aneh yang sulit diartikan oleh Naina.


Kenapa Juna melihatku seperti itu?


"Duduk Nai, ada yang mau aku bicarakan sama kamu" ucap Juna pada Naina dengan nada yang tegas.


"Ada apa Jun, kenapa kamu serius sekali?" tanya Naina yang heran karena Juna terlihat serius dan tegang disaat bersamaan.


"Duduk aja Nai!!" bentak Juna dengan bibir gemetar. Matanya berkaca-kaca menatap ke arah Naina.


...---***---...