
...Aku yang tak akan melepaskan...
...Kamu yang menggenggam hatiku...
...Kita takkan mungkin terpisahkan...
...Biarlah terjadi, apapun yang terjadi.....
...Aku yang tak bisa melepaskan...
...Kamu yang miliki hatiku .....
...Walau mungkin terlalu cepat...
...Bagi kita berdua untuk mengatakan......
...Selamanya kita akan bersama...
...Melewati segalanya...
...Yang dapat pisahkan kita berdua...
...Selamanya kita akan bersama...
...Takkan ada keraguan...
...Kini dan nanti percayalah...
...Hanya dirimu satu-satunya tercipta untukku....
...Selamanya kita akan bersama...
...Takkan ada keraguan kini dan nanti...
...Percayalah......
...🍀🍀🍀...
Gadis itu baru saja bangun setelah tertidur cukup lama akibat disuntik oleh obat penghilang rasa sakit. Dia melihat tunangan nya yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Juna? kenapa kamu masih ada disini?"tanya Naina heran, karena tunangannya itu harusnya sudah pergi ke Australia untuk pekerjaan nya. Lalu kenapa Juna masih ada di depannya?
Juna duduk di kursi kosong, tepat disebelah ranjang tempat Naina berbaring. "Kok nanya nya gitu sih? kaya gak seneng aku disini"
"Bukannya gitu Jun, tapi kamu harusnya pergi kan? kenapa kamu ada disini? apa karena aku, kamu gak jadi pergi?" Naina menatap Juna dengan penuh rasa bersalah
"Nggak kok, aku memang tidak mau saja pergi kesana" jawab Juna dengan santainya
"Juna, aku gak bercanda. Kenapa kamu gak pergi? apa itu karena aku?" tanya Naina sedih
Dia terlalu menghabiskan banyak waktunya denganku, lalu pekerjaannya pasti terbengkalai. Kenapa aku hanya memikirkan diriku sendiri? aku bahkan tidak memperhatikan bagaimana Juna makan, bekerja dan beristirahat? aku malah galau sendiri dengan keadaan ku. Naina meremas selimutnya, bibirnya gemetar
"Enggak, Nai..bukan karena kamu. Aku saja yang tidak mau pergi" jawab Juna sambil mengerjapkan matanya sedikit.
"Tuh kan kamu bohong lagi! kenapa sih kamu gak mau jujur?" Naina menatap Juna dengan mata berkaca-kaca, dia kesal karena Juna selalu berkata tidak.
"Hey.. Naina..." Juna memegang tangan Naina dengan lembut.
Naina melepaskan tangannya dari Juna, wajahnya terlihat kesal. "Pergi! aku gak mau lihat pembohong!"
Semenjak kemoterapi di lakukan, kondisi Naina jadi lebih sensitif dari biasanya. Dia mudah menangis dan lelah, dan mudah marah ketika sedikit hal yang dianggap nya mengganggu.
"Nai..jangan marah dong.." bujuk Juna pada tunangan nya itu
"Aku gak suka kamu bohong terus kaya gini, apa sih susahnya jujur? kalau kamu lelah ya bilang aja lelah, kalau kamu gak suka kamu tinggal bilang gak suka. Apa karena aku kamu menahan diri? apa karena kamu gak enak bilang sama aku?" Naina menangis, dia sensitif tidak seperti biasanya.
"Naina ku, jangan gini dong. Jangan nangis, aku tidak suka melihat kamu menangis" Juna menyeka air mata Naina dengan jari nya yang lembut.
"Juna, kamu mau aku gak marah kan? kamu mau aku gak nangis lagi? lalu kamu harus jawab jujur, kamu capek kan sama aku? kamu capek kan ngurus aku di rumah sakit terus-terusan?" tanya Naina pada Juna
"Naina kenapa kamu ngomong gitu? sekalipun aku gak pernah capek sama kamu!"
"Jawab aja capek apa enggak?" tanya Naina yang masih menangis karena kesal pada Juna dan dirinya sendiri. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Juna terus berada disisinya.
"Gak, aku gak capek"jawab Juna jujur
"Tuh kan kamu bohong lagi!" seru Naina kesal dan tak percaya
"Aku harus ngomong kaya gimana sih supaya kamu percaya kalau aku tuh jujur!" Juna mulai emosi dengan sikap Naina yang tidak mempercayai nya.
"Kamu selalu aja bilang aku bohong. Apa kau harus jawab kalau aku capek sama kamu? ya! aku emang capek sama kamu! puas?!!" teriak Juna yang terbawa emosi
Naina menatap Juna dengan kecewa, "Akhirnya kamu ngaku juga, kalau kamu jujur kaya gini.. aku juga jadi enak" Naina tersenyum sinis
"Eng-enggak Nai, maksudnya bukan kaya gitu" Juna memegang tangan Naina dengan erat, tapi gadis itu menepisnya.
Ya Allah, aku kebawa emosi. Gimana bisa aku marah sama orang sakit? gimana bisa aku bentak Naina kaya barusan. Juna merasa bersalah karena sudah membentak Naina.
Naina memalingkan wajahnya,"Juna, please pergi dari sini. Tinggalkan aku sendiri"
"Nai dengerin aku dulu!"
"Sebelumnya aku minta maaf karena udah buat kamu capek. Tapi aku mohon, kamu pergi aja dari sini sekarang" Naina sedih
Maafin aku Jun, hanya ini satu satunya cara supaya kamu pergi ke Australia. Aku gak mau kamu terus menerus disini dan meninggalkan pekerjaan kamu.
Juna hanya bisa mengelus dada, dia harusnya lebih bersabar pada orang yang sedang sakit. Tapi tadi dia membentaknya, maka Juna pun sekarang harus mengalah demi kondisi Naina.
"Oke Nai, aku pergi sekarang. Tapi, nanti sore aku kesini lagi" ucap Juna pada Naina sambil menghela napasnya
"Gak perlu, kamu pergi saja ke Australia dan urus urusan mu!" seru Naina tegas
"Pokoknya aku kesini lagi nanti" kata Juna keras kepala
"Kalau kamu kesini lagi, aku akan makin ngambek" ancam Naina pada Juna kalau dia kembali lagi ke rumah sakit maka ia akan marah padanya.
Juna terdiam, dia akhirnya mengerti mengapa Naina tiba-tiba seperti sengaja mengajak bertengkar. Itu karena Naina memikirkan Juna.
Tap, Tap, tap
Juna berlari menghampiri Naina dan memeluk gadis itu. "Juna..apa yang kamu lakukan??!" tanya Naina sambil mendorong pelan tubuh Juna yang memeluknya. Namun, Juna memeluknya semakin erat.
"Fine, oke aku akan pergi Nai. Tapi, kamu harus janji sama aku ketika aku kembali dua hari lagi.. kamu harus baik-baik saja, jangan tunggu aku"
"Kamu ngomong apa sih.. aku gak ngerti" ucap Naina yang masih berada dalam pelukan Juna.
"Aku ngerti, kamu mau aku pergi ke Australia kan?"
"Juna..."lirih Naina pelan
Jadi Juna tau maksud sikapku padanya ini?
"Dasar bodoh! mana mungkin aku tidak tahu kamu. Pakai ngajak berantem segala lagi? aku benar-benar takut tau gak, takut kalau kamu akan mutusin aku" Juna tersenyum sambil mencium kening Naina dengan lembut.
MUACH..
"Kamu salah Jun, aku yang takut. Aku takut kamu meninggalkan aku" Naina memeluk Juna dengan erat
"Aku gak akan pernah meninggalkan kamu Nai, percayalah. Udah ya jangan marah marah lagi, aku kan mau pergi ke Australia.. jadi kamu harus senyum dong sebelum aku pergi" Juna melepaskan pelukan nya dan dia melihat Naina dengan penuh cinta.
"Hem.. iya" Naina tersenyum pada Juna.
Mereka berdua berjanji akan selalu berkomunikasi ketika berada di dalam jarak yang jauh, dan berjanji bahwa mereka berdua akan baik-baik saja. Akhirnya Naina melepaskan Juna dengan senyuman dan kepercayaan. Siang itu Juna langsung berangkat ke bandara, menuju ke Australia untuk 2 hari ke depan.
"Pak, apa ada yang ketinggalan?" tanya Ardi melihat Juna yang berdiri mematung diam saja dan belum pergi ke tempat check in pesawat.
"Ada yang ketinggalan dan tidak bisa aku bawa, hatiku"
"Apa bapak sedang membuat puisi?" tanya Ardi menertawakan Juna
"Kamu ini! aku lagi serius malah ditertawakan!" seru Juna kesal
"Hehe, habisnya bapak lucu sih..lebat banget" Ardi mengejek bos nya itu
"Potong gaji bulan ini" ucap Juna sambil menatap kesal ke arah sekretaris nya itu.
"Ah pak, jangan gitu dong" Ardi langsung terkejut begitu mendengar potong gaji dari bosnya.
"Lagian kamu sih kurang ajar bilang aku lebay!" seru Juna kesal dibilang lebay oleh Ardi.
"Gak kok siapa yang bilang bapak lebay, saya cuma bilang bapak puitis dan romantis" ucap Ardi memuji
"Hem.. potong gaji gak jadi" Juna tersenyum menyeringai
Haih.. nasib nasib, di puji melayang.. di ejek potong gaji.
...---***---...