
Setelah aktivitas nya seharian dan menghabiskan makan malam bersama keluarga nya, Kelvin ingin segera masuk ke kamarnya, menutup rapat-rapat pintu kamarnya karena ia ingin segera beristirahat.
Sementara Naina dan Albry masih asyik memakan dessert coklat keju buatan Bryan.
"Eh, kakak gak mau makan camilan dulu?" tanya Naina pada kakak nya yang berjalan menuju ke kamarnya.
"Haa.. aku gak mau gendut" jawab Kelvin cuek
"Memangnya aku gendut? aku gak gendut!" seru Naina sebal pada kakaknya, mulutnya belepotan oleh coklat.
"Aku gak bilang kamu gendut, kamu kan yang bilang sendiri" Kelvin tersenyum menyeringai.
"Apa?!" Naina kesal
Apa aku gendut? tadi si cowok preman itu juga bilang kalau berat? tidak tidak! aku harus menimbang berat badan ku sekarang juga. Naina panik, memegang perutnya dan langsung berlari ke arah timbangan badan yang ada di dapur.
" Haha.. kakak pasti mau menimbang berat badannya" kata Albry sambil tertawa kecil
"PFut.." Alma tertawa melihat Naina yang berlari terburu-buru itu
"Ya ampun Kelvin, kamu iseng banget godain adik kamu. Naina juga, dia mirip siapa ya?" Bryan tersenyum dan melihat ke arah Alma.
"Iya iya dia mirip aku, tapi itu dulu ya" Alma tersenyum, ia mengakui bahwa Naina memang copy an dari dirinya di masa lalu.
"Sekarang juga masih mirip kok, imutnya juga masih sama " Bryan memuji
"Bryan, kamu masih aja gombal." Alma tersenyum pada suaminya.
"Ini pujian, bukan gombalan" Bryan tersenyum sambil menyeruput teh yang ada di mejanya.
Naina menimbang berat badannya, ia senang melihat timbangan nya tetap dalam mode normal. Meskipun Naina makan makanan yang manis dalam jumlah banyak dan makan pedas. Tapi berat badannya masih tetap sama saja.
"haha..empat puluh tiga kilo, mode normal dan masih aman. Olahraga sama lari pagi ada gunanya juga" Naina memegang perutnya yang datar, dan tersenyum bahagia.
Malam itu sebelum tidur, Naina dan Albry biasanya menceritakan tentang kegiatan mereka di sekolah pada Alma dan Bryan. Barulah setelah saling bercerita, mereka semua pergi tidur ke kamat masing-masing.
Alma dan Bryan juga ada di kamar mereka dan akan beristirahat. Wanita tiga anak itu, mengganti bajunya dengan piyama tidur.
"Sayang, besok kamu ke kantor ya?"
"Iya, ada rapat penting sama klien" jawab Alma sambil berbaring di samping suaminya.
"Hem.. gitu ya. Kenapa kamu gak ke kantor tiap hari aja? Viona sama Ken kan udah lama pindah ke Amerika, dan gak ada orang kepercayaan kamu lagi selain Viona di Navin"
"Aku tidak bisa mengabaikan kewajiban ku sebagai ibu dan istri, kantor itu bukan prioritas utamaku"
"Lalu apa prioritas utamamu, sayang?" Bryan memeluk istrinya
"Tentu saja anak-anak" jawab Alma yakin
"Lalu aku ke berapa?" tanya Bryan
"Kamu,ya tentu saja setelah anak-anak" jawab Alma
"Tidak apa-apa deh, aku nomor dua setelah anak-anak. Yang penting aku tetap bisa bersamamu sampai tua, tidur bersama mu, melihatmu setiap bangun pagi" Bryan memeluk istrinya dengan mesra.
Begitulah pasangan suami istri itu setiap malam, tidak ada hari tanpa kata mesra. Apalagi kalau soal urusan ranjang, jangan ditanya lagi. Meski menua dan sudah memiliki tiga orang anak, Bryan tetap aktif memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya dan memuaskannya. Tenaganya masih tetap seperti waktu muda dulu.
...****...
Keesokan harinya, pagi yang sibuk di mulai. Naina, Kelvin dan Albry sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Mereka duduk di meja makan dan sarapan bersama orang tua mereka juga.
"Mama juga udah siap-siap, mama mau kemana mah?" tanya Naina
"Mama mau anterin kalian terus pergi ke kantor. " jawab Alma
"Mama mulai ke kantor lagi?" tanya Kelvin
"Hem, kayanya sih gitu. Hari ini Mama ada rapat penting juga." jawab Alma
"Asyik, dianterin mama" Albry senang karena akan diantar oleh mama nya ke sekolah
"Iya sayang" jawab Alma. " Oh ya, Nai hari ini kamu pembagian kelas ya? jadi belum mulai belajar kan?" tanya Alma
"Iya mungkin ma " jawab Naina ragu
"Iya belum mulai efektif belajar nya, pasti anak-anak baru cuma perkenalan sama bagi jadwal pelajaran aja " jelas Kelvin
"Oh gitu kak, kalau cuma setengah hari sekolahnya. Aku mau jemput Albry pas pulang sekolah" kata Naina semangat
"Boleh sayang " jawab Alma sambil membawa tas selempang nya.
"Asyik, aku bisa mampir ke sekolah lama ku deh. Sekalian nostalgia.." Naina tersenyum senang
"Al, kamu sama Albry naik mobil aku aja. Pak Jeffry biar nganterin Naina sama Kelvin "
"Emangnya kamu gak akan telat nganterin kita dulu?" tanya Alma
"Tenang aja, ini masih pagi. Aku kan Presdir nya" kata Bryan santai
Mereka saling berpamitan satu sama lain, Bryan, Alma dan Albry naik ke mobil Bryan. Sementara si kembar diantar oleh pak Jeffry ke sekolah.
Naina tiba-tiba merasa heran kepada kakaknya itu, padahal kakak nya sudah mendapat izin untuk mengendarai kendaraan dan membawa kendaraan oleh Bryan dan Alma. Tapi Kelvin lebih memilih naik mobil jemputan setiap harinya.
Lalu tiba-tiba terlintas juga di pikiran Kelvin, bahwa ia memang sudah waktunya memiliki kendaraan sendiri dan membawanya ke sekolah seperti anak-anak lain yang mengendarai mobil atau motor ke sekolah.
"Nai, seperti nya kamu benar. Aku harus punya kendaraan sendiri " ucap Kelvin
"Iya kan? kakak mau motor apa mobil?" tanya Naina
"Aku masih pikir-pikir dulu deh" jawab Kelvin
"Oh ya kak, kemarin kakak nganter Keira sampai ke rumahnya kan?" tanya Naina
"Hum..iya " jawab Kelvin cuek seperti biasanya
"Kasihan Keira ya kak, selama ini dia hidup kesulitan. Kita sudah ada disisi nya sekarang, kita harus bantu dia" kata Naina
"Hem.. " Kelvin terlihat cuek
Kehidupan seperti apa yang kamu jalani Kei? kamu menceritakan semuanya pada yang lain, dan Naina, tapi kenapa kamu tidak pernah bicara padaku? Apa aku tidak penting buat kamu?
Naina hanya tersenyum melihat kejaiman kakak nya itu, ia tau bahwa Kelvin yang terlihat cuek itu nyatanya adalah orang yang paling peduli pada Keira. Hal itu terbukti saat Keira pergi 5 tahun yang lalu, Kelvin selalu mencuri informasi tentang keberadaan Keira secara diam-diam. Naina juga tau surat-surat yang disimpan Kelvin di dalam laci kamarnya, untuk disampaikan pada Keira.
"Kakak benar-benar tsundere, aku pikir cowok tsundere cuma ada di dalam drama aja" gumam Naina
"Apa kamu bilang?"
"Kakak adalah tipe tsundere" jawab Naina
"Apaan itu? apa itu adalah judul dari salah satu drama konyol mu?" tanya Kelvin tak tahu
"Kakak.. masa kakak tidak tau sih? cari tau sendiri saja deh, apa sih yang tidak diketahui oleh si genius Kelvin Aldara Aditama?" Naina sebal pada kakak nya yang selalu mengejeknya.
Tsundere? apa itu?
...***...
Seperti biasanya, Naina turun lebih dulu di halte bus yang berada di dekat sekolahnya. Dia berjalan menuju ke gerbang sekolahnya, didepan sana ia bertemu dengan Juna yang sedang berjalan kaki.
"Oi si cewek gila?" Juna tersenyum menyeringai melihat gadis yang memiliki gaya sedikit tomboy, dan rambut yang di kuncir satu.
"Oh si cowok preman, kemana motor kamu? kenapa jalan kaki?" tanya Naina sedikit mengejek.
"Bukan urusan Lo!" kata Juna cuek
"Iya sih bukan urusan aku, tapi aku senang saja melihat nya" Naina tersenyum tipis
"Kamu akhirnya dapat hukuman atas perbuatan kamu kemarin. Makanya jangan buat ulah, jadi lah anak baik " Naina menasehati Juna sambil menepuk bahunya.
"Emang Lo anak baik? tau apa Lo soal gue baik apa kagak?! cewek gila Lo " Juna berjalan mendahului Naina, lehernya terlihat merah.
"Hey, kamu udah periksa ke dokter?" tanya Naina cemas melihat leher dan telinga Juna yang memerah.
"Gue udah bilang kalau gue sehat walafiat seratus persen" jawab Juna sebal
"Habisnya leher dan telinga kamu merah banget." Naina memperhatikan telinga dan leher Juna yang memerah.
"A-Apa? ini semua gara-gara Lo tau gak! jauh jauh Lo dari gue " Juna terlihat gugup dan kesal pada Naina
Sialan! jantung ku dag dig dug lagi nih. Juna memegang dadanya, perasaan nya tidak karuan.
"Aku juga gak mau dekat-dekat sama kamu, memangnya kamu aja yang gak mau? Aku cuma berbaik hati ngasih tau kamu. Huh!" Naina berjalan cepat mendahului Juna, bibirnya mulai mengerucut.
Sebenarnya kenapa aku seperti ini?
Juna melihat gadis yang membuatnya berdebar itu dari belakang. Tak lama kemudian ,ke empat temannya menghampiri nya.
"Jun, mana motor Lo?" tanya Reza heran
"Gue di hukum gak boleh bawa motor ke sekolah 3 hari " jawab Juna
" Gegara kejadian kemaren ya? tenang aja Jun, Lo bisa nebeng sama gue" kata Nando sambil tersenyum cerah
"Kita juga bakal bantuin Lo ngerjain hukuman loh" kata Damar dengan senang hati
"Kalian setia kawan banget, oke nanti pulang sekolah kalian bantuin gue ngecat tembok belakang sekolah"
"Oke siap bos Jun" jawab ke empat temannya itu kompak. Juna hanya tersenyum menanggapi keempat temannya.
"Oh ya gimana tuh si geng Thanios?" tanya Bagas, salah satu teman dekat Juna juga.
"Tenang aja, bukannya mereka udah di abisin sama si Juna kemarin. Mereka gak bakal berani gangguin markas kita lagi" jelas Damar
"Bener tuh, kemarin aja mereka kabur pas ngeliat si Juna. Huh cemen" kata Reza sambil tersenyum tipis, merendahkan geng Thanios itu.
"Berani ngelawan Juna, artinya cari mati. Kalau kalian atau temen temen yang lain digangguin sama mereka lagi, bilang aja sama Juna" Nando tersenyum sinis
"Juna memang paling bisa di andalkan deh kalau urusan berantem. Gak salah kita mengangkat Lo sebagai ketua geng Virsche boys " kata Damar membanggakan temannya itu.
Persahabatan antara Juna dan keempat temannya itu sudah berjalan selama bertahun-tahun. Walaupun Juna yang berasal dari keluarga kaya, tapi ia tidak pernah memandang seseorang dari statusnya. Juna adalah orang yang friendly, karena itulah ia memiliki banyak teman-teman yang solid padanya. Dan teman-teman terdekatnya adalah anggota geng yang sering disebut Virsche boys.
Tring ..Tring..
Bel masuk kelas pun berbunyi dengan lantang, semua siswa segera memasuki kelas mereka masing-masing setelah melihat pengumuman di masing tentang pembagian kelas mereka.
"Yah, sayang banget Nai, Kei, kita gak sekelas" kata Nisha sedih
"Gak papa, kelas kita kan sebelahan. " jawab Keira menghibur Nisha yang sedih
"Padahal aku mau satu kelas sama kalian." Nisha cemberut
"kita akan sering-sering main ke kelas kamu, jam istirahat juga kita bisa ketemu" kata Naina menghibur
"Ya sudah deh, yuk kita masuk kelas. Bel udah bunyi tuh, semangat ya Nisha" kata Keira menyemangati
"Iya Nis, nanti kita ketemu lagi ya" timpal Naina sambil tersenyum cerah
"Oke deh " Nisha mulai tersenyum, ia masuk ke kelasnya lebih dulu. Yaitu jelas sepuluh B yang bersebelahan dengan kelas sepuluh A, kelas Naina dan Keira.
Theo dan kedua temannya tampak sedang berjalan di lorong, mereka juga akan masuk ke dalam kelas. Theo tersenyum lembut saat melihat Naina dari belakang. Hari itu Theo tidak memakai kacamata seperti biasanya.
"Wah wah Theo, apa itu peri cantik yang selalu Lo ceritain itu?" tanya seorang teman dekat Theo sambil menepuk tangan Theo.
"Diem Lo, gak lihat situasi nya apa? si Theo lagi ngeliatin si peri cantiknya, fokus banget dia" kata temannya sambil tertawa kecil
Naina dan Keira membalikkan badannya ke belakang setelah mengantar Nisha ke kelasnya. Beruntung nya belum ada guru yang masuk kelas, mereka pun menyapa Theo dan kedua kakak kelas yang berdiri di depan mereka.
Wow cantik, dua duanya cantik. ucap salah satu teman Theo kagum pada kedua gadis cantik itu.
"Hai kak Theo, hai juga kakak kakak" sapa Naina dan Keira ramah
"Hai kenalin aku Niko, anak kelas sebelas IPA 2 " kata Niko yang heboh langsung berjabatan tangan dengan Naina, tanpa sadar ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.
Manis banget cewek ini, imut imut. Gemesin. kata Niko dalam hatinya, kata-kata nya tertuju untuk Naina.
Apa apaan sih si Niko?. Theo kesal, menggerutu dalam hatinya melihat tangan Naina disentuh oleh Niko, temannya.
"Kenalin aku juga dong, aku Rio kelas sebelas IPA 1. Sekelas sama si Theo" kata Rio sambil berjabatan tangan dengan Keira
Cantik banget cewek ini, pembawaan nya kalem. Yang kaya begini, tipe ku banget. ucap Rio, yang tatapan matanya tertuju pada Keira.
"Hai kak, aku Naina" Naina tersenyum ramah
"Aku Keira, kelas sepuluh A sama kaya Naina" jawab Keira ramah
Apa gak kelamaan nih jabatan tangan nya? batin Keira bingung
Di belakang mereka, terlihat Juna dan Kelvin yang berjalan bersamaan. Seperti nya mereka berdua akan sama-sama ke kelas.
"Kenapa gue bisa bareng sama Lo?" tanya Juna tidak senang
"Gue juga gak suka jalan bareng sama Lo" jawab Kelvin cuek.
"Gue beruntung gak sekelas sama makhluk dingin kaya Lo. Alhamdulillah banget deh.." Juna tersenyum lega
"Oh ya? kalau begitu selamat ya, Lo jadi adik kelas gue sekarang. Bukan temen sekelas lagi " Kelvin tersenyum dingin pada pria yang ada disampingnya itu.
"Sialan Lo! Lo ngeledek gue?" tanya Juna kesal
"Gak kok..gue juga bersyukur dan Alhamdulillah karena gue gak sekelas lagi sama makhluk yang selalu buat masalah di kelas" Kelvin menatap tajam Juna.
"Apa? Kelvin, Lo rese banget ya. Berasa hidup Lo sempurna ya, mentang-mentang Lo genius" gerutu Juna kesal
Sialan! aku di ejek mati-matian sama ni orang. Ternyata ini gak enaknya naik kelas.
Kelvin mengacuhkan Juna yang terus menggerutu padanya. Tiba-tiba langkah Kelvin terhenti saat memandang ke arah depan.
Si Mr. Genius lihat apaan?
Tepat di depan kelas X-B disana ada Keira, Naina, kedua teman Theo dan Theo juga. Juna juga ikut ikutan melihat ke arah depan, pandangan kedua pria itu terlihat tidak baik.
Si anak baru itu, baru pertama kali masuk sekolah udah ngegebet cowok aja. batin Juna kesal melihat Naina yang berjabatan tangan dengan pria lain.
Kelvin dan Juna jalan bersamaan menghampiri Keira dan Naina, tak lepas dari tatapan tajam di mata mereka. Ada ketidaksenangan di mata Juna dan Kelvin.
"Bel udah bunyi, kalian gak dengar ya?" tanya Kelvin pada Theo, Naina, Keira, dan menampakkan wajahnya yang kesal.
"Iya kak, kami mau masuk kelas hehe" kata Naina sambil tersenyum melihat kakaknya berwajah marah tidak seperti biasanya.
Kak Kelvin kenapa sih? kaya mau makan orang aja.
Naina segera menarik tangan Keira, mereka pun masuk ke dalam kelas 10-A. Kedua teman Theo itu bisa merasakan aura dingin yang dipancarkan oleh Kelvin, saat si ketua OSIS itu datang. Mereka pun pergi bersama Theo, ke kelas mereka masing-masing.
Dua orang itu, aku menandai kalian. batin Kelvin kesal pada kedua teman Theo, yang sudah menyentuh tangan adiknya dan tangan Keira.
Juna melihat wajah marah Kelvin, ia pun mengira kalau Kelvin sedang cemburu pada Naina. Melihat tatapan Kelvin padanya sangat tajam dan tampak kesal.
Apa jangan-jangan si mr.genius cold man ini suka sama si cewek gila itu?
...---***---...