
πππ
Sama hal nya seperti Juna yang menghilang tanpa kabar dari semua orang. Keira juga melakukan hal yang sama. Kegalauan Kelvin lebih dari Naina yang ditinggal Juna.
Tanpa alasan yang jelas, Keira meminta putus dan menghilang begitu saja tanpa jejak. Ken dan Bryan juga sudah berupaya mencari keberadaan Keira, tapi Keira seperti menghilang di telan bumi. Keira juga meninggalkan mbok Darmi yang kini tinggal di rumah Nisha, karena Nisha ingin merawat mbok Darmi.
Hanya dalam beberapa hari, Naina sudah bisa bangkit kembali dan ceria seperti biasanya. Naina bahkan sudah merencanakan kuliahnya ke luar negeri dan menetapkan apa yang menjadi cita-cita nya. Tapi Kelvin butuh waktu lama untuk bangkit dari kegalauan nya terhadap Keira.
Sudah 5 bulan Kelvin pergi kuliah tanpa semangat. Dan sudah selama itu juga Keira pergi meninggalkan dirinya. Kelvin butuh alasan dan penjelasan dari Keira, mengapa gadis itu pergi meninggalkan nya dan semua orang yang menyayanginya.
Hanya tinggal beberapa minggu lagi Naina akan lulus dari SMA setelah melewati ujian nasional. Dengan semangat, Naina memberikan brosur-brosur universitas ternama yang ingin ia masuki pada papa dan mama nya.
"Nai, kamu yakin mau ambil sekolah seni?" tanya Alma sambil melihat-lihat brosur brosur yang ada di meja nya. Brosur-brosur itu berisi tentang universitas universitas seni terbaik di seluruh dunia. Alma masih belum yakin dengan keputusan putrinya itu.
"Apa kamu harus sampai keluar negeri? disini juga kan banyak sekolah seni yang bagus, Nai" Bryan heran melihat semua brosur itu adalah brosur universitas luar negeri bukan dalam negeri
"Iya pah, aku mau belajar mandiri juga disana. Gak papa ya pah, mah? aku mau kuliah di luar negeri aja" tanya Naina pada mama dan papa nya, seraya memohon pada mereka.
"Papa sih tidak masalah, tapi kamu dengan siapa disana? papa dan mama tidak bisa ikut kalian, karena bisnis papa dan mama kan ada disini" Bryan terlihat bingung
"Aku bisa ikut Naina pah" jawab Kelvin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Bryan, Alma dan Naina langsung menengadah ke arah Kelvin. Apa katanya? Kelvin mau ikut dengan Naina?
"Kamu bilang apa Vin?" tanya Alma pada putra sulungnya itu.
"Mama sama papa khawatir kalau Naina sendirian disana kan? aku bisa ikut kesana" jawab Kelvin sambil duduk di kursi yang ada di samping Naina
"Apa maksud kakak? kakak mau bilang kalau kakak mau ikut aku? lalu kuliah kakak gimana??!" Naina tersentak kaget dengan keputusan kakak nya yang ingin ikut ke luar negri bersama Naina.
"Ya aku juga pindah dong, aku melanjutkan kuliah ku di luar negri. Kamu mau pergi ke sekolah mana Nai? apa kamu sudah daftar online?" tanya Kelvin sambil melihat brosur brosur yang ada di meja. Kelvin menatap brosur-brosur itu dengan serius.
Apa Kelvin serius mau ikut Naina keluar negeri? Bryan melihat ke arah Kelvin dengan mata yang tidak yakin
Kak Kelvin serius mau kuliah ke luar negeri? bukankah dia waktu itu ngotot gak mau pergi? batin Naina keheranan dengan keputusan Kelvin yang terdengar mendadak
Apa keputusan Kelvin ini ada hubungannya dengan Keira? aku ingin menanyakannya, tapi aku tidak mau membuatnya teringat pada Keira, lalu dia akan sedih lagi. batin Alma sambil melihat Kelvin yang sedang melihat brosur dengan santai dan mengamatinya.
"Gimana kalau kamu kuliah disini aja Nai. Seni lukis dan desainnya sangat bagus, kamu pasti suka" Kelvin menyodorkan salah satu brosur pada saudara kembarnya itu. Merekomendasikan salah satu universitas yang cocok untuk adiknya menimba ilmu.
Naina mengambil brosur itu dan melihatnya," Royal College of Art London?"
"London??" Bryan dan Alma saling melirik satu sama lain, mereka masih ragu tentang kepergian Kelvin dan Naina untuk sekolah keluar negeri.
"Iya" jawab Kelvin singkat
Untuk apa aku berada disini kalau hanya akan membuat aku teringat kamu Kei. Lebih baik aku pergi jauh, berharap aku bisa melupakan kamu.
"Wah, bener kata kak Kelvin. Sekolah ini bagus dan kayanya cocok buat aku, Ma, pah aku boleh daftar kesini kan?" tanya Naina pada kedua orang tuanya, Naina terlihat sangat bersemangat dengan apa ia pilih dan apa yang akan ia jalani.
"Tolong berikan waktu Mama dan papa untuk berdiskusi dulu tentang ini ya, keputusan ini tidak bisa diambil dengan terburu-buru" ucap Alma pada putri bungsunya itu.
Bagaimana kalau Kelvin dan Naina kuliah di luar negeri? lalu mereka akan meninggalkan ku sendirian disini. Alma tersenyum pahit membayangkan kalau kedua anaknya akan jauh darinya.
Ada apa dengan Alma, kayanya dia terlihat ragu-ragu gitu. Bryan melirik ke arah Alma dengan tatapan bingung, ia merasakan ada kecemasan di mata istrinya.
"Apa mama gak ngizinin aku pergi ke luar negeri?!!" tanya Naina yang mengartikan kata-kata ibunya sebagai ketidaksetujuan.
"Enggak sayang, maksud mama kamu bukan gitu. Kami memang perlu waktu untuk bicara tentang masa depan kalian, kita bicara lagi besok. Sekarang sudah malam dan Naina juga besok ujian kan? tidurlah kalian!" ucap Bryan pada kedua anaknya itu.
Bryan dan Alma masuk ke dalam kamar mereka. Mereka bersiap-siap untuk pergi tidur, namun Alma masih duduk di ranjang dan melamun.
"Aku sudah mengira kalau ada yang salah dengan kamu" Bryan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, tidurlah.. besok kamu ada rapat penting.." Alma memegang tangan Bryan yang melingkar di tubuhnya.
"Al, apa kamu tidak setuju Naina pergi keluar negeri?" tanya Bryan langsung pada intinya, ia membalikkan tubuh Alma ke arahnya, matanya menatap wajah Alma yang suram.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Alma pada suaminya
"Wajahmu yang mengatakan nya. Sebenarnya kenapa kamu tidak setuju? Kamu tau kan sayang, kalau Naina sangat ingin pergi ke sekolah seni" Bryan tersenyum lembut pada Alma
"Aku bukan tidak setuju, tapi aku ragu" Jawab Alma
"Alasannya?" Bryan menaikkan alisnya.
Alma mengutarakan kepada suaminya alasan kenapa ia ragu Naina dan Kelvin pergi keluar negeri. Alma tidak ingin berada jauh dari kedua anaknya, Alma juga merasa sedih karena kedua anak nya sudah mulai beranjak dewasa.
"Jadi kamu takut akan hal itu? sayang, mereka sudah dewasa dan aku yakin mereka bisa menjaga diri mereka baik-baik. Kuliah keluar negeri juga akan membantu mereka untuk mandiri, lagipula kita kan bisa mengunjungi mereka. Kita tidak akan terpisah selamanya dari mereka" Bryan menenangkan kekhawatiran istrinya.
"Ya baiklah Bry, kamu benar juga. Aku masih berfikir kalau mereka masih anak-anak. Tapi kalau mereka pergi, aku akan sendirian dan kesepian disini" Alma masih merasa sedih karena ditinggal kedua anaknya pergi.
"Kata siapa kamu akan sendirian? kan masih ada aku, apa kamu lupa?" tanya Bryan sambil tersenyum manis pada Alma yang masih cemberut.
"Benar juga ya masih ada kamu" Alma mulai tersenyum memandang ke arah Bryan.
Tangan Bryan membelai lembut pipi Alma, ia pun memberikan kecupan manis di bibir istrinya, "Kita akan selalu bersama Al, sampai kita menua atau saat kita sampai berada di keabadian nanti"
"Insyallah.. sayang, semoga Allah selalu menyatukan kita. Bagaimana pun keadaan kita dan dimana pun kita berada.." Alma tersenyum dan memeluk suaminya dengan hangat.
"Tidur yuk udah malam" Bryan tersenyum dan membaringkan tubuh Alma di ranjang, nya perhatian ia juga menyelimuti tubuh Alma dengan selimut hangat.
"Kamu juga sayang" ucap Alma pada suaminya dengan mesra
"Ya sayang"
...πππ...
Keesokan harinya..
Pagi itu Naina bersiap untuk ujian nya di sekolah. Sementara Kelvin masih santai dengan baju tidurnya. Naina keheranan melihat kakaknya yang masih acak acakan seperti itu.
" Kakak gak kuliah?" tanya Naina sambil mengoleskan selai coklat di roti tawar miliknya itu.
"Aku gak ada kelas pagi" jawab Kelvin sambil memakan roti nya.
"Oh gitu ya?" ucap nya sambil memakan rotinya.
Semenjak Keira pergi, kakak jadi sering bolos dan galau terus. Keira kenapa sih kamu selalu menutup diri? kamu bukan hanya menyiksa diri kamu sendiri, tapi kamu juga menyiksa semua orang terutama kak Kelvin. Naina prihatin melihat kondisi kakaknya selama beberapa bulan terakhir ini karena patah hati.
Pagi itu Alma dan Bryan mengumumkan keputusan mereka pada si kembar. Mereka setuju kalau Naina dan Kelvin pergi kuliah keluar negeri. Namun tentunya dengan beberapa syarat dan janji yang harus mereka tepati dari Alma dan Bryan.
Naina dan Kelvin senang karena mereka diizinkan untuk pergi melanjutkan kuliah mereka di London. Segera setelah itu Kelvin dan Naina mempersiapkan kepindahan mereka, surat-surat dan daftar ke universitas yang mereka inginkan.
Kelvin dan Naina semakin sibuk mempersiapkan masa depan mereka dan hidup baru mereka di luar negeri nanti. Alma dan Bryan juga tidak tinggal diam, mereka menyiapkan tempat tinggal dan beberapa bodyguard dari Ken untuk menjaga Kelvin dan Naina selama mereka berada di negeri orang.
Setelah menyelesaikan masa SMA nya dan mendapatkan surat kelulusan nya. Naina mendapatkan peringkat terbaik diantara teman-teman satu angkatannya. Nilainya sangat tinggi di bidang seni, terutama seni melukis dan menulis.
"Akhirnya kita lulus juga ya" ucap Nisha dengan hati yang bahagia dan plong
"Iya ya, udah ini kita makan-makan yuk!" ajak Naina pada sahabatnya itu
"Ayo!.. tapi.."
"Ada apa Nis?" tanya Naina sambil melihat wajah Nisha yang sedih
"Seandainya saja Keira ada disini ya" Nisha teringat pada sahabatnya itu, mereka kemana-mana selalu biasa bertiga dan kini hanya berdua.
Naina hanya terdiam mendengar ucapan Nisha, ia juga sedih teringat Keira yang menghilang entah kemana. Naina juga jadi teringat pada Juna yang pergi tanpa kabar, Naina penasaran bagaimana dengan kabar si trouble maker itu.
Dimana pun kamu berada, aku harap kamu baik-baik saja Jun..
Lalu ada beberapa adik kelas dan senior, memberikan Naina bunga dan hadiah dihari kelulusan nya itu.
"Kak Naina, ini buat kakak!!"
"Selamat ya Naina!" ucap seorang pria sambil memberikan sebuket bunga dan sekotak coklat untuk Naina.
"Makasih ya semuanya" Naina tidak bisa menolak orang yang memberinya selamat dan hadiah. Naina tersenyum ramah pada semua pria yang memberikan selamat dan hadiah padanya.
Ternyata capek juga ya jadi populer. Ini pasti karena kakak. Padahal sebelumnya tidak ada hal hal seperti ini. gerutu Naina didalam hatinya
Nisha yang ada disana juga ikut membantu Naina membawakan hadiah-hadiah itu
"Wah, apa hadiah ku bisa diterima juga ya?" tanya seorang pria yang ada dibelakang Naina. Naina dan Nisha menoleh ke arah asal suara itu.
"Kak Theo?"
Apa kak Theo kesini buat Naina? batin Nisha sedih melihat Theo menghampiri Naina.
Theo berpakaian rapi, tangannya membawa dua bunga yang berbeda warna dan dua kotak hadiah yang berbeda.
"Selamat ya Naina, Nisha.. kalian sudah melewati masa SMA yang bahagia dan selamat datang ke dunia orang dewasa" Theo tersenyum ramah, ia memberikan satu kotak berwarna pink dan bunga mawar pink pada Naina.
"Makasih kak Theo" jawab Naina sambil mengambil pemberian Theo.
"Ini ada juga kok buat kamu Nisha" Theo memberikan kotak berwarna biru dan mawar putih pada Nisha.
Nisha tersenyum senang dengan bunga dan hadiah yang pertama kali diberikan oleh Theo padanya. Setelah itu Theo mengajak Naina dan Nisha untuk merayakan kelulusan mereka di sebuah cafe bersama teman-teman Juna juga.
Malam itu Naina, Nisha, Theo juga teman-teman Juna sudah berkumpul di meja yang sudah dipesan oleh Theo. Banyak anak remaja yang berkumpul di sana.
"Cafe nya bagus dan ramai juga ya" ucap Naina sambil duduk di kursi nya, ia melihat-lihat ke arah cafe yang suasana nyaman dan hangat.
"Iya Nai, di depan juga ada tempat untuk menyanyi" Nisha melihat ke arah panggung kecil dan beberapa orang sedang memainkan alat musik disana.
"Iya yah, kak Theo bisa aja deh milih tempat yang bagus" Naina tersenyum bahagia.
"Ini rekom dari temen kampus aku juga sih. Malam ini aku yang traktir ya" ucap Theo pada Naina, Nisha dan teman-teman Juna yang ada disana.
Pokoknya hari ini aku harus mengatakan nya, apapun jawaban Naina. Aku harus mengatakan isi hatiku.
"Seriusan? wah baik banget Lo bro!" Bagas menepuk pundak Theo, ia merasa senang sudah ditraktir oleh Theo.
"Panjang umur sehat selalu ya" ucap Damar pada Theo
"Emang gue lagi ultah? pake ucapan panjang umur segala" Theo tersenyum mendengar kata-kata Damar padanya
"Loh? emangnya doa kaya gitu cuma buat yang ulang tahun aja?" tanya Damar sambil tersenyum senang
"Ya juga sih" jawab Theo sambil tersenyum
Damar, Nando, Reza, dan Bagas memesan makanan juga minuman yang mereka inginkan. Mereka tampak menikmati traktiran dari Theo. Naina dan Nisha juga ikut menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.
Tapi kedua gadis itu lebih menikmati suasana cafe dan view nya yang cocok untuk berselfie ria. Dan benar saja, kedua gadis itu asyik berfoto-foto disana.
Saat mereka sedang asyik berfoto, kedua gadis itu terkejut melihat Theo yang tiba-tiba naik ke atas panggung dan memegang gitarnya.
"Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang saya sukai.. meskipun suara saya tidak sebagus penyanyi. Namun saya hanya ingin dia tau perasaan saya padanya" Theo berbicara dengan memakai mikrofon yang dipegangnya. Theo melihat ke arah Naina yang sedang berdiri di dekat Nisha.
Mungkin setelah ini hubungan kita akan berbeda Nai.
Beberapa tamu yang hadir di cafe itu bertepuk tangan, mereka menantikan penampilan Theo di atas panggung. Damar dan ketiga teman nya yang lain melihat ke arah Theo dengan tatapan bertanya-tanya.
Orang yang dia suka? jangan-jangan dia mau nembak si Naina sekarang? wah Juna, kamu tidak bisa menghentikannya. Damar mencemaskan apa yang akan terjadi di depannya itu.
"Kenapa kak Theo naik ke atas panggung?" tanya Naina heran
Apa kak Theo mau mengatakan perasaannya pada Nisha?. Batin Naina yang berfikir kalau Theo akan mengatakan cintanya pada Nisha.
Apa hari ini kak Theo mau nembak Naina? Pasti orang yang dimaksud kak Theo itu adalah Naina. Batin Nisha berkebalikan dengan apa yang ada dipikiran Naina. Nisha terlihat sedih, ingin kakinya pergi dari sana tapi hatinya penasaran dengan apa yang akan terjadi di cafe itu.
Theo mulai memetik gitarnya dibelakangnya ada pria yang memainkan keyboard dan juga drum.
...πΆπΆπΆ...
...Kutuliskan kenangan tentang...
...Caraku menemukan dirimu...
...Tentang apa yang membuatku mudah...
...Berikan hatiku padamu...
...Takkan habis sejuta lagu...
...Untuk menceritakan cantikmu...
...'Kan teramat panjang puisi...
...'Tuk menyuratkan cinta ini...
...Telah habis sudah cinta ini...
...Tak lagi tersisa untuk dunia...
...Karena telah ku habiskan...
...Sisa cintaku hanya untukmu...
...Aku pernah berfikir tentang...
...Hidupku tanpa ada dirimu...
...Dapatkah lebih indah dari...
...Yang kujalani sampai kini?...
...Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu.....
...Tetap cantik rambut panjangmu...
...Meskipun nanti tak hitam lagi...
...Bila habis sudah waktu ini...
...Tak lagi berpijak pada dunia...
...Telah aku habiskan...
...Sisa hidupku hanya untukmu...
...Dan telah habis sudah cinta ini...
...Tak lagi tersisa untuk dunia...
...Karena telah ku habiskan...
...Sisa cintaku hanya untukmu.....
...πΆπΆπΆ...
Tepat setelah selesai menyanyi, Theo menyimpan gitarnya, Theo berjalan menghampiri ke arah Nisha dan Naina. Semua orang yang ada di cafe itu berdebar-debar penasaran dengan sosok gadis yang disukai Theo.
Kini pria tampan calon dokter muda itu sudah berdiri tepat di depan Naina. Naina melihatnya penuh kebingungan, sementara itu mata Nisha berkaca-kaca melihat Theo yang akan mengatakan cintanya pada Naina.
...---***---...