
Mobil yang dikemudikan Alma, makin lama semakin kencang. Begitu pula dengan perasaan nya yang tidak karuan. Wanita itu ingin sekali menumpahkan semua air matanya, namun ia tak berani. Karena ada anak-anak nya disana.
Perasaan berdebar, takut, masih ia rasakan saat bertemu dengan Bryan. Ternyata perasaan nya tidak memudar pada pria itu, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Walaupun Bryan sudah menyakiti nya sangat dalam.
Si kembar melihat raut wajah ibunya yang berubah-ubah. Terlihat dari kaca spion kalau wanita dari dua anak itu akan menangis. Di sepanjang perjalanan si kembar tidak bertanya apa-apa. Alma tidak menyadari kalau dari tadi bodyguard Bryan mengikutinya.
Mereka pun sampai ke rumah mereka, Alma seperti menyembunyikan anak-anak nya itu. Ia tampak ketakutan. Alma menutup pintu rumah nya rapat-rapat, sampai menguncinya.
Bagaimana ini? kak Bryan sudah melihat anak-anak. Bagaimana kalau nyonya Delia juga melihat mereka? walaupun aku sudah memantapkan hatiku, untuk memberitahukan kebenaran nya. Tapi, ternyata aku belum siap.
" Kalian jangan pergi keluar tanpa bilang pada mama ! tidak boleh !" kata Alma tegas
" Bahkan bermain di taman juga?" tanya Naina
" Tidak boleh, kalian harus bilang sama mama dulu "
" Ma, apa mama kenal om yang tadi? " tanya Kelvin sambil menyilangkan tangannya di dada.
" Oh ya sebelum mama jawab pertama kamu, Kelvin seperti nya kita harus bicara. Ada yang harus mama tanyakan padamu. " Alma menatap putra nya itu dengan curiga.
Ibu dan anak itu duduk di sofa, sementara Naina bermain sendiri di ruang bermain nya. Alma mencerca Kelvin dengan banyak pertanyaan, ia sudah menduga bahwa anaknya yang cerdas tidak sepolos kelihatan nya.
" Kelvin, mama serius bertanya sama kamu. Kamu kenal sama dia ?" tanya Alma
" Siapa maksud mama?" tanya Kelvin
" Tentu saja om yang tadi! dan apa yang kamu katakan padanya?" tanya Alma curiga
" Aku cuma mengusir nya " jawab Kelvin santai
Wajah Alma menunjukkan ketidakpuasan dengan jawaban Kelvin, ia yakin bahwa putra nya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
" Kelvin "
" Aku udah jawab pertanyaan mama, sekarang mama yang jawab pertanyaan aku. Siapa om yang tadi? kenapa wajahnya sangat mirip denganku?"
JLEB, pertanyaan itu tak mampu Alma jawab. Wanita itu malah mengalihkan perhatian dengan menyudahi pembicaraan itu. Kelvin hanya tersenyum memandangi mama nya, sekilas ia sudah mengerti apa arti dari sikap mama nya itu.
" Mama, dia papa aku dan Naina kan?" tanya Kelvin
" Mama mau masak, bentar lagi om Leon kesini. Kita akan makan siang bersama, kamu pergilah temani adikmu bermain dulu " Alma berjalan menuju ke area dapur, ia tak berani menatap wajah Kelvin.
Aku sangat ingin tahu masalah apa yang terjadi sama mama dan papa di masa lalu yang membuat mereka berpisah. Kalau begitu aku harus tanya siapa? apa om Leon? atau Tante Mia? mereka kan sudah mengenal mama.
Kelvin menghela napas dan menghampiri adiknya yang sedang bermain di ruang bermain. Sementara Alma pergi memasak makan siang.
🍂🍂🍂
Di rumah sakit Harapan..
" Hey, ada apa kamu kesini? apa kamu sakit?" tanya Ian
" Aku tidak sakit, tapi aku butuh bantuan mu. " jawab Bryan sambil merogoh saku jas nya.
" Apa?"
" uji DNA kedua rambut ini dengan milikku " jawab Bryan sambil menyerahkan kedua plastik berisi rambut pada Ian.
Ian tersenyum , lalu menatap curiga pada Bryan.
" kamu punya anak lain selain Risya? gila ya kamu Bryan "
" Jangan banyak omong, uji saja DNA kedua rambut ini dengan milikku. Cepat, aku menunggu disini " kata Bryan tak sabar
" Bryan kamu ini lucu sekali. Tes DNA tidak bisa dilakukan dengan cepat, tidak bisa ditunggu seperti ini juga." ujar Ian
" Lalu berapa lama waktu tercepat untuk tes DNA?" tanya Bryan
" 2 atau 3 minggu "
Terlalu lama, aku tidak bisa kalau tidak bertemu Alma selama itu.
" Percepat prosesnya! aku mau selesai dalam 3 hari !"
" Bryan kamu benar-benar ya, itu tidak bisa !" seru Ian kesal
" Aku akan kembali dalam 3 hari untuk mengambil hasil tes nya. Aku mengandalkan mu teman " Bryan tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan Ian. Ian mendengus kesal melihat tingkah kawannya itu.
" Aku usahakan !!" teriak Ian pada Bryan
Bryan pergi dan pulang ke rumah Aditama. Disana ia disambut ramah dan hangat oleh Risya, yang ia pikir adalah putrinya. Ny. Delia juga menyambut nya dengan ramah.
" Papa, udah pulang?" tanya Risya sambil memeluk Bryan dengan hangat
" Iya sayang, papa mau bicara dulu sama nenek ya. Kamu main dulu sama Kayla " Bryan mengelus kepala anak nya itu dengan lembut
" Iya pa, aku main dulu ya " kata Risya dengan senyuman di wajahnya.
Meskipun Selina adalah ibunya, dan ibunya tidak ada di rumah. Risya tidak pernah menanyakan ibunya sama sekali. Dia lebih menyayangi Bryan dan Ny. Delia yang selalu mengasuhnya.
***
Bryan mengajak ibu dan kakak nya bicara di ruang kerja Bryan.
" Apa yang mau kamu bicara dengan kami?" tanya Laura
" Ma, kak. Lihat ini " Bryan menunjukkan selembar foto, Naina dan Kelvin pada Laura dan Ny. Delia
Mereka kaget dan terpana melihat foto itu, Kelvin sangat mirip dengan Bryan waktu kecil.
" Bryan, siapa ini? siapa anak yang mirip dengan kamu ini?" tanya Ny. Delia
" Anak ini mirip dengan Bryan waktu kecil, ya ampun " Laura tak kalah kagetnya dengan Ny. Delia
" Mereka berdua adalah anak nya Alma " jawab Bryan
" APA?!"
Bryan menjelaskan tentang pertemuan nya dengan Alma dan anak kembar itu. Laura dan Ny. Delia sangat senang mendengar nya. Mereka berdua sangat penasaran dengan keadaan Alma dan anak-anak nya.
" Tanpa tes DNA pun, mama yakin kalau mereka berdua adalah anak-anak kamu. " kata Ny. Delia sambil tersenyum memandangi foto Naina dan Kelvin.
" Aku juga yakin ma, tapi Alma pasti menyangkalnya. Ma, kak, kalian mau kan bantu aku untuk mendapatkan Alma kembali?" tanya Bryan tulus
" Kami akan membantu kamu " kata Ny. Delia semangat ingin melihat cucu cucu nya dari Alma.
" Bryan, jika dia tau kamu punya anak dengan Selina kira-kira apa dia masih bisa menerima kamu?" tanya Laura tajam
" Aku tidak bisa memaksanya menerima Risya, tapi aku harus mencoba dulu. " kata Bryan
" Bryan, Laura, ini hanya kecurigaan mama saja. Bagaimana jika seandainya Risya bukanlah anak kamu dan Selina?"
" Mama, kita kan sudah melakukan tes DNA saat Risya berusia 11 bulan. Dan hasilnya memang benar Risya adalah anak Bryan " kata Laura
" Tapi mama tidak yakin, entah kenapa mama merasa ada yang janggal. Bukannya mama menyangkal keberadaan Risya atau tidak sayang pada Risya. Bukankah Bryan pernah bilang sebelumnya kalau dia tidak pernah menyentuh Selina?"
Bryan dan Laura langsung berfikir keras setelah mendengar perkataan Ny. Delia. Bryan pun berkata akan menyelidiki semua nya, dan melakukan tes DNA pada Risya secara diam-diam untuk menghilangkan kecurigaan dan keraguannya.
Kebingungan Bryan tidak sampai disitu, ia harus memastikan semuanya berakhir dengan Selina. Agar dia bisa mengejar wanita yang dicintainya itu.
Ny. Delia sangat bersemangat ingin bertemu dengan Alma dan si kembar, begitu juga dengan Laura. Bryan pun memberikan alamat rumah Alma yang ia dapat dari para bodyguard nya.
🍂🍂🍂
Leon, Alma, dan si kembar makan siang bersama. Suasana menjadi aneh ketika Alma diam saja. Setelah selesai makan, si kembar pergi ke sisi lain rumah itu. Leon mengajak Alma berbicara.
" Al,ada apa?"
" Tidak ada kak "
" Al, kamu pikir aku tidak tau kamu? " tanya Leon sambil menatap Alma
" Aku.. aku bertemu lagi dengan kak Bryan " jawab Alma terlihat sedih
Deg, Leon merasakan serangan mendadak masuk ke dalam hatinya. Dalam sekejap Leon merasakan takut, dan khawatir. Meskipun ia sudah tau resiko nya kalau Alma kembali ke Indonesia. Maka, cepat atau lambat Alma akan kembali bertemu dengan mantan suaminya itu. Tapi, ini terlalu cepat.
" Lalu, apa yang kamu lakukan? apa kamu memberitahu nya tentang Naina dan Kelvin?" tanya Leon dengan mata yang penuh kecemasan.
" Tidak, aku belum siap kak. Aku kabur darinya, dan aku tidak mau bertemu dengannya " kata Alma sambil menggelengkan kepalanya
Leon terdiam sejenak, ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa menyatakan cinta pada Alma. Leon takut kalau perasaan Alma akan goyah lagi pada Bryan, saat melihat Alma, Leon merasa kalau masih ada cinta di hati Alma untuk Bryan. Dia sudah menunggu 6 tahun dengan sabar menunggu Alma, waktu yang cukup lama untuk segera mengatakan cinta. Berapa lama lagi dia akan menunggu?
Sampai kapan aku harus menunggu hati kamu menyambut aku? aku tidak akan peduli meski di hati kamu masih ada sisa cinta untuknya, aku tidak akan bersabar lagi Al, aku akan mendapatkan mu. Perlahan, setelah aku memilikimu, mungkin kamu akan jatuh cinta padaku.
Rasa egois ada di dalam dirinya sekarang, ia ingin memiliki Alma. Sebuah rencana sudah tersusun di kepalanya. Akhirnya ia menggunakan cara yang menurutnya licik, Leon menyerahkan sepucuk amplop coklat yang berukuran cukup besar, dan ia memberikan nya pada Alma.
" Apa ini kak?"
" Kamu jangan berharap lagi pada Bryan, Al. Antara kamu dan dia cuma masa lalu " kata Leon dengan sorot mata yang tajam tidak seperti biasanya, wajahnya datar.
Alma tertegun, melihat wajah hangat Leon, tiba-tiba berubah menjadi begitu gelap bagi nya. Ia mengambil amplop itu dan membuka isi nya. Terlihat foto Selina, Bryan dan seorang anak perempuan di tengahnya mereka. Ketiganya tersenyum, seperti keluarga yang bahagia.
Alma terkejut melihatnya. Wanita itu bertanya dalam hatinya, apakah Bryan dan Selina memiliki anak bersama?
" Anak itu adalah anak Bryan dan Selina, usianya 5 tahun. "
" Kenapa .. kenapa kak Leon memberitahukan ini padaku?" tanya Alma bingung
" Aku hanya ingin kamu berfikir secara logika, apa kamu mau kembali pada Bryan setelah tau semua ini?" tanya Leon tegas
" Itu tidak mungkin kak ! kak Bryan dan aku sudah lama berakhir !" seru Alma emosi
Ia seperti tertampar oleh kenyataan yang ada di depannya.
Bagaimana bisa? kamu bilang kamu selalu mencintai ku dan tidak pernah mengkhianati ku? tapi.. kamu punya anak dengan nya kak Bryan? apa itu artinya perselingkuhan itu benar-benar terjadi saat itu? Bagaimana cintaku menjadi sebodoh ini?
Leon sudah bisa menebak arti dari kata di mulut Alma, berbeda dengan yang dikatakan hatinya. Perasaan berharap pada Bryan, masih ada pada hati Alma.
" Sudah saatnya kamu melupakan Bryan Al, dan lihat apa yang ada di depan kamu. Maaf, aku memberitahu kan ini bukan untuk membuat kamu sedih "
" Tidak kak, aku tidak sedih. Kakak tidak usah cemas, aku justru berterimakasih pada kakak yang sudah memberitahu ku. " Alma tersenyum pahit, tangan nya yang memegang kertas terlihat gemetar.
Leon memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan Alma. Pria itu tersenyum, dan Alma juga tidak menghentikan Leon menggenggam tangannya.
" Kamu tau kan, aku akan selalu berada disisi kamu, Naina dan Kelvin."
Apa sudah saatnya aku menyerah padamu? apa sudah saatnya aku membuka hatiku untuk kak Leon yang selalu ada di samping ku?
" Terimakasih kak " Alma tersenyum.
Aku akan mengambil hatimu Alma.
🍂🍂🍂
2 hari kemudian, di depan TK harapan bangsa.
Anak-anak kecil mulai bubaran keluar gerbang sekolah elit itu. Termasuk Naina dan Kelvin yang sudah mulai bersekolah.
" Dadah Kelvin ! sampai ketemu besok ya " kata seorang 3 orang anak perempuan sambil tersenyum ceria pada Kelvin.
Kelvin hanya menanggapinya dengan dingin. Naina iri pada Kelvin karena kakak nya itu sangat menarik perhatian di hati pertamanya bersekolah.
" Baru pertama masuk sekolah saja, sudah ada yang naksir kakak. " gerutu Naina sambil duduk di kursi yang ada di depan sekolah nya itu.
" Jangan heran Nai, Kakak mu ini kan memang tampan " kata Kelvin sambil menjilat lollipop nya.
" Oh ya kak, bukannya itu adik kelas kita yang namanya Risya? dia kan yang bilang kalau Kakak mirip sama papa nya " kata Naina sambil menunjuk ke arah Risya yang di jemput oleh seseorang yang membawa mobil mewah.
" Oh anak itu ya.." respon Kelvin cuek dan tidak peduli seperti biasanya.
Ny. Delia keluar dari mobilnya, dan menghampiri Risya. Dengan penuh kasih sayang, Ny. Delia membelai Risya. Meskipun ia memang curiga kalau Risya bukanlah cucunya. Jauh di dalam hatinya, ia sangat menyayangi Risya.
" Risya, gimana belajar nya sayang?"
" Baik-baik aja nek " jawab Risya sambil tersenyum
Naina terlihat sedih melihat pemandangan cucu dan nenek itu, dari kejauhan. Kelvin melihat wajah sedih adiknya itu, ia duduk di samping Naina sambil menunggu Alma menjemput nya.
" Kenapa Nai?" tanya Kelvin cemas
" Kak, kayanya akan menyenangkan juga ya kalau kita punya nenek kaya neneknya Risya. " jawab Naina
" Bukannya mama sudah memberikan segalanya untuk kita? mama bisa berperan seperti papa, seperti nenek dan seperti kakek juga. Mama sayang sama kita, apa itu belum cukup buat kamu?" tanya Kelvin heran
" Bukan begitu kak. Maksud ku, akan menyenangkan kalau kita memiliki keluarga yang lengkap seperti orang lain. Punya papa, nenek dan kakek. Selama ini mama juga tidak pernah menceritakan tentang papa kita dan keluarga papa, padahal aku sangat ingin tau " Naina terlihat sedih melihat orang lain yang di jemput oleh papa, nenek, dan mama mereka.
Naina ingin merasakan kasih sayang dari nenek dan kakek juga seperti orang lain. Apalagi kasih sayang seorang ayah. Kelvin mengerti maksud adiknya itu, ia hanya mengelus kepala adiknya dengan lembut dan tersenyum.
" Kita akan punya keluarga yang utuh nanti, kamu bersabar ya sedikit Nai " Kelvin begitu dewasa untuk anak seumuran nya.
Bahkan semua guru memuji Kelvin yang disebut sebagai genius dan sudah menghapal perkalian dan pembagian di usianya yang masih muda. Naina juga tak kalah hebat dengan kembarannya itu, meskipun matematika nya tidak secerdas kakaknya, Naina lebih berbakat di bidang seni, ia pintar menggambar seperti Alma, tulisan tangannya juga tidak terlihat seperti tulisan tangan anak yang berusia 5 tahun pada umumnya.
Para guru memuji orang tua yang membesarkan Kelvin dan Naina dengan sangat baik.
Beberapa menit kemudian, Alma datang dengan mengendarai mobilnya. Ia memberhentikan mobilnya di depan kedua anaknya. Tepat saat itu, Ny. Delia yang akan masuk ke dalam mobilnya. Terkejut melihat Alma dan si kembar dari kejauhan.
Bukankah itu Alma? dan anak-anak itu..mereka
" Maaf ya sayang sayangku mama agak terlambat, tadi jalanan nya macet" kata Alma sambil merangkul kedua anaknya itu
" Gak papa ma " jawab Kelvin
Perhatian Alma teralihkan saat melihat wajah putrinya yang murung, tidak ceria seperti biasanya saat menyambutnya.
" Loh loh, Princess mama yang cantik ini kenapa? apa ada yang gangguin kamu di sekolah? Kelvin, gimana sih kamu jagain adik kamu?" tanya Alma sambil duduk berlutut di depan Naina dan membelai pipi anaknya itu.
" Alma !"
Deg, sebuah suara familiar memanggil namanya. Alma membalikkan badannya dan melihat mantan ibu mertua nya sedang berdiri tepat di belakang nya.
" Alma.. "
" Ibu Delia?" Alma kembali berdiri dan melihat Ny. Delia
" Lama tidak bertemu, Alma " Ny. Delia tersenyum ramah pada Alma dan kedua anaknya itu.
Mereka benar-benar mirip dengan Bryan dan Alma...
Alma terlihat takut saat melihat Ny. Delia ada di dekatnya.
...---***---...