
Undangan pernikahan Ken dan Viona sudah disebar. Beberapa hari lagi menuju pernikahan mereka, banyak terjadi hal baik. Laura melahirkan anak keduanya, bayi nya adalah bayi laki-laki. Leon dan Laura menjadi orang tua baru bagi bayi mereka yang baru lahir.
" Woah, bayinya mirip sekali dengan Leon waktu kecil " ucap Bu Widya sambil menggendong cucu pertama nya dengan perasaan gembira.
" Benarkah mah? " tanya Laura penasaran
"Iya benar Laura, dia sangat tampan dan lucu. Apa kamu dan Leon sudah memberinya nama?" tanya Bu Widya
"Belum mah, kami belum kepikiran nama yang cocok " jawab Leon sambil melirik ke arah istrinya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tempatnya di rawat.
"Apa Mama boleh kasih nama buat anak kalian?" tanya Bu Widya berhati-hati
"Tentu saja ma, anak kami adalah cucu pertama mama. Mama boleh memberikan nya nama, kami akan senang. Iya kan sayang?" Leon tersenyum, Laura menjawabnya dengan anggukan, mereka sangat menantikan nama apa yang akan diberikan oleh Bu Widya pada anak mereka.
Bu Widya tersenyum memandangi cucunya yang lucu itu. Ia sudah memikirkan sebuah nama yang cocok untuk cucu pertama nya itu.
"Oma, akan kasih kamu nama Alexander. Apa kamu setuju, cucuku?" tanya Bu Widya yang tak hentinya tersenyum pada bayi yang baru lahir itu.
Baby Alex menunjukkan sedikit senyuman di wajah mungilnya, mungkinkah itu pertanda bahwa si bayi senang dengan nama yang diberikan neneknya itu. Laura dan Leon juga tidak keberatan sama sekali dengan nama yang diberikan Widya pada anak mereka, mereka senang karena anak mereka diberi nama oleh Bu Widya.
***
Pagi di rumah Bryan..
Alma sudah sibuk pagi itu, berjalan kesana kemari mengurus si kembar dan bayi yang sudah bangun lebih pagi dari biasanya. Bryan pun mencemaskan istrinya yang semakin hari semakin kurus karena kelelahan.
"Sayang, kan sudah kubilang untuk menyewa jasa baby sitter saja " keluh Bryan
Setiap kali Alma selalu bangun tengah malam, dan itu membuatnya kesulitan untuk tidur lagi. Dia selalu tidak tega membangunkan ku, padahal aku bisa membantunya.
Alma merapikan dasi dan jas yang akan dipakai suaminya untuk bekerja. "Tidak apa sayang, ada bi Asih saja sudah cukup "
"Tapi kan bi Asih cuma ada saat pagi dan siang saja. Malam hari kami akan tetap kesusahan kalau Albry bangun dan tiba-tiba rewel " kata Bryan cemas
"Sayang, kamu tenang saja. Ini bukan apa-apa. Dulu waktu mengurus si kembar, mereka lebih rewel dari ini. "
"Hem, tapi tetap saja. Aku tidak mau kamu terlalu lelah dan sakit. Kita telpon jasa baby sitter saja ya?"
"Tenang saja, aku baik-baik saja..Doakan saja aku selalu sehat. Ini kan nikmat seorang ibu " Alma tersenyum cerah, lalu ibu dari tiga anak itu segera keluar dari kamar dan melihat kedua anak kembarnya yang sudah siap ke sekolah atau belum
Si kembar sudah mandiri, mereka bisa mandi dan mengurus diri mereka sendiri tanpa bantuan Alma atau bi Asih. Alma merasa terharu karena anak-anak nya sudah bisa bersikap dewasa. Padahal dulu saat si kembar masih bayi, mereka sangat manja pada Alma. Untuk tidur dengan tenang saja, Alma kesulitan karena si kembar sangat rewel dan lebih aktif dari Albry kecil.
Naina dan Kelvin sudah bersiap-siap pergi ke sekolah, mereka sudah memakai seragam merah putih mereka. Hari itu di sekolah mereka akan dilakukan ujian kenaikan kelas, atau ujian semester 2.
Alma membantu Naina dan Kelvin untuk merapikan penampilan mereka dengan lebih baik lagi dan penuh perhatian. Disisi lain, sang ayah yang akan berangkat bekerja sedang bermain dengan si kecil Albry yang sedang terjaga.
" Unch kesayangan papa, Albry sayang. Kamu lucu sekali sih nak " Bryan mencubit pelan-pelan pipi chubby Albry kecil dengan gemasnya.
Alma tersenyum melihat Bryan dan Albry, rutinitas yang membuat tubuh nya sedikit lelah namun membuat hatinya sangat bahagia. Dan ia ikhlas melakukan semua kewajiban nya sebagai seorang ibu dan seorang istri.
" Nai, sini Mama rapihkan rambutnya!" ujar Alma sambil membawa sisir di tangannya, sementara Naina sedang meletakkan buku nya di tas.
Naina menghampiri ibunya lalu duduk dipangkuan ibunya. " Hari ini mau di kepang lagi?" tanya Alma sambil menyisir rambut Naina yang panjang nya hampir menyentuh pinggang.
Rambut Naina panjang sekali, ini sih kepanjangan.
" Mau di ikat dua saja ma " pinta gadis kecil itu.
"Sayang, nanti siang kita ke salon ya " ucap Alma membujuk, sambil mengikat rambut Naina yang panjang dengan ikat rambut.
"Mau apa ke salon ma?" tanya Naina
"Potong rambut. Rambut Nai sudah panjang sekali, jadi harus dipotong " kata Alma lembut
"Tidak mau! aku gak mau potong rambut, aku suka rambut panjang. Seperti princess, rambut mereka juga panjang dan indah" Naina langsung menutupi rambutnya dengan kedua tangannya seolah melindungi rambut nya.
Kalau rambutku jadi pendek. Aku akan jelek.
"Sayang, potong rambutnya gak banyak banyak kok.., dikit aja ya? kamu akan tetap seperti princess " bujuk Alma pada anak gadisnya itu.
Naina masih saja susah kalau diajak potong rambut, bahkan dari bayi pun dia seperti ini.
"Tapi kenapa harus dipotong? biarin aja panjang ma " kata Naina dengan wajah cemberut nya.
"Kalau rambut Nai terlalu panjang, nanti dimarahin Bu guru loh. Karena rambutnya akan dianggap tidak rapi, Mama cuma mau potong rambut nya sedikit kok. Ya kan ma?" Bryan ikut membujuk Naina untuk potong rambut
" Iya papa Bryan " jawab Alma sambil tersenyum.
"Janji ya ma? potongnya sedikit aja ya "
"Iya janji..,sedikit saja kok. Ya sudah ayo cepat kalian siap-siap ke sekolah ya, Bry kamu juga siap-siap ke kantor " kata Alma mengingatkan
" Oke siap Mama!" Naina, Kelvin, dan Bryan tersenyum bersamaan. Memberi hormat pada Alma, Alma hanya menggeleng sambil tersenyum sendiri melihat kekompakan anak-anak dan ayahnya itu.
Setelah memastikan semuanya siap, si kembar dan Bryan bersiap-siap untuk pergi melakukan rutinitas mereka di hari Senin itu.
"Mama, papa kami berangkat dulu ya " ucap Kelvin sambil mencium tangan ibunya, hal itu diikuti oleh Naina.
"Semangat ujian kenaikan kelas nya ya, Naina, Kelvin " ucap Alma pada kedua anaknya
"Dadah Albry kecil " ucap Naina sambil mencium pipi Albry kecil yang chubby.
"Dadah, nanti kita main lagi ya " Kelvin mencubit kecil pipi Albry yang sedang berada di dalam gendongan Alma.
Setelah itu si kembar berpamitan juga pada Bryan dan mencium tangan papa mereka. Tak lupa mereka mengucapkan salam sebelum berangkat sekolah.
Ketika si kembar sudah naik ke mobil pak Jeffry dan pergi menuju ke sekolah. Kini giliran Bryan yang berpamitan pada anak bungsu dan istrinya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya " Bryan tersenyum
"Iya, sayang. Hati-hati dan semangat ya" kata Alma mengingatkan
"Albry, papa berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan rewel sama mama, kasihan mama ya " Bryan memberikan ciuman lembut pada bayi kecilnya di pipi mulus nya.
MUACH
Alma mencium tangan suaminya, ia tersenyum melepas kepergian suaminya yang akan bekerja. Bryan melangkah perlahan-lahan, lalu ia membalikkan tubuhnya dan melihat Alma dengan wajah yang muram.
"Ada apa?" tanya Alma
Dasar tidak peka. ucap Bryan dalam hati
Bryan yang sudah berada di depan mobilnya, tiba-tiba saja berubah haluan dan melangkah menghampiri Alma.
"Apa ada yang ketinggalan Bry?" tanya Alma dengan wajah polosnya
"Ada, kamu lupa belum isi daya " jawab Bryan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Alma, dan mencondongkan pipinya ke arah bibir istrinya.
" Jadi dari tadi kamu nunggu ini?" Alma tersenyum, seperti nya ia sudah mengerti maksud suaminya. Alma mendaratkan bibirnya ke arah pipi Bryan, namun Bryan langsung berbalik dan membuat Alma mencium nya di bibir.
"Bryan kamu ngerjain aku?!" Alma kaget, karena yang dicium nya ternyata bukan pipi, tapi bibir.
Dia selalu saja mencuri kesempatan.
Alma masih saja bisa di jahilin, dia masih termakan keusilan ku.
"Asyik, aku dapat jackpout!" Bryan tersenyum senang, ia memegang bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir manis milik istrinya itu. " Isi daya selesai, istriku sayang aku pergi dulu ya. Assalamualaikum "
Terakhir Bryan mencium kening istrinya dengan lembut, ia pun segera berlari menuju ke dalam mobilnya. Alma tersenyum cerah melihat keberangkatan suaminya itu.
πππ
Di kantor Navin desain, Viona sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Mengatur dokumen-dokumen yang harus ditandangani oleh Alma.
"Seperti nya sudah saat nya aku pergi ke rumah Bu Alma dan membawa dokumen-dokumen yang menumpuk ini." gumam Viona sambil melihat tumpukan dokumen di meja kerja " Hem, undangan-undangan penting ini juga harus dihadiri oleh Bu Alma secara langsung"
Tring..
πΆπΆ
Ponsel Viona berbunyi, ia segera mengangkat telpon nya, sambil merapikan dokumen. " Ya? dengan Navin desain disini "
"Haha, kamu lagi ngeprank ya?"
"Ken?kenapa kamu nelpon ke telpon kantor?" tanya nya heran
"Telpon kantor?aku pikir aku menelpon ke nomor yang benar, disini tertulis calon istriku" kata Ken
"Ah.. hehe ya maaf, aku pikir kamu menelpon ke telpon kantor. Ternyata ke ponselku ya " Viona terdengar malu setelah tau kalau Ken menelpon ke ponselnya.
"Tidak..tidak.. Bu Alma adalah orang yang sangat baik, hanya saja aku memang sedikit sibuk sekarang. Karena aku ingin menyelesaikan pekerjaan lebih awal sebelum kita cuti menikah nanti " jelas Viona
"Kamu perlu bantuan ku?" tanya Ken
"kamu mau bantu apa?pukulin orang?" Viona tertawa kecil
"Wah.. kamu mengejekku?" Ken tersenyum
"Habis, mau bantuin apa kalau bukan mukulin?" tanya Viona
"Bantuin doa, hem.. berdiri di samping kamu juga udah cukup membantu kan?" Ken tersenyum
" Haha dasar kamu ya " Viona tertawa kecil mendengar nya.
Pertemuan dan pendekatan yang terbilang singkat itu, rupanya tidak membuat keduanya canggung. Justru mereka seperti sudah mengenal sejak lama dan saling mengerti satu sama lain. Viona tau pekerjaan Ken yang berada di dunia mafia, awalnya Viona tidak menyukai pekerjaan calon suaminya itu. Akan tetapi setelah Ken janji akan berhenti menyakiti orang tak bersalah, Viona mengerti keadaan nya. Begitu juga dengan Ken, ia juga mengerti pekerjaan Viona. Sebisa mungkin Ken selalu membantu Viona, apalagi masalah ibunya yang selalu sakit-sakitan.
Dengan hati yang tulus, Ken merawat calon ibu mertuanya. Membiayai semua biaya pengobatan nya, bahkan di sela sela waktunya yang sibuk, Ken meluangkan waktu menemani calon ibu mertuanya yang hampir setiap waktu nya ia habiskan di rumah sakit.
πππ
Albry kecil tertidur pulas di dalam tempat tidurnya, selagi Albry kecil tidur. Alma bisa merebahkan dirinya dan sedikit bersantai, tubuhnya terasa sedikit pegal.
"Nyonya, mau saya pijitin?" tanya Bi Asih, sambil melihat ke arah majikannya yang sedang tiduran di sofa.
"Gak usah Bi, masa saya suruh orang tua mijitin saya. Bibi, saya minta buatkan saja jus stroberi saja. Tiba-tiba saya mau minum yang segar " kata Alma pada Bi Asih
"Ya sudah, bibi buatkan dulu ya, nya " Bi Asih tersenyum lalu segera pergi ke dapur.
"Makasih bi"
Saat sedang rebahan santai merilekskan tubuhnya yang pegal-pegal, Alma mendapatkan telpon dari kepala sekolah SD tempat si kembar sekolah.
"Ya, ada apa Bu kepala sekolah?" tanya Alma
"Maaf menganggu waktunya Mama nya kembar, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan mengenai Kelvin. Apa Bu Alma bisa datang kemari setelah pulang sekolah anak-anak?" tanya Bu Diana (kepala sekolah SD Berlian)
"Iya baik Bu, nanti saya akan kesana saat menjemput anak-anak " jawab Alma ramah
Setelah itu Alma langsung menutup telponnya dengan hati yang berdebar debar. Beberapa pikiran negatif bertebaran di kepalanya.
Ada apa ya? apa Kelvin membuat masalah? apa dia bertengkar di sekolah? tidak tidak ! Kelvin kan bukan anak yang seperti itu. Lalu kenapa Bu kepala sekolah memanggilku ya?. Batin Alma merasa khawatir
****
Ujian kenaikan kelas hari pertama itu selesai pukul 11.30, Alma yang menggendong Albry, terlihat sedang menunggu si kembar keluar dari kelas. Sekalian menunggu anak-anak yang lain bubaran juga. Hatinya deg deg-an, karena ini pertama kalinya ia dipanggil ke sekolah sejak Kelvin masuk sekolah dasar.
Theo melihat Alma yang sedang duduk di kursi dekat taman sekolah, Theo segera menghampiri Alma dan menyapanya.
"Hai Tante Alma " Theo mencium tangan Alma dengan sopan
"Eh, ada Theo" Alma tersenyum lembut
"Tante Alma ada apa ke sekolah? nunggu Kelvin sama Naina ya?" tanya Theo ramah
"Iya, Theo mau pulang ya?" tanya balik Alma
"Iya Tante" jawab Theo ramah
Senang banget deh ketemu Tante Alma, calon ibu mertua masa depan. ucap anak itu dalam hatinya
Tadinya Theo ingin berlama-lama dan menunggu Naina keluar dari kelas, tapi ia sudah dijemput oleh Mama nya dan akhirnya ia pulang bersama mama nya.
Beberapa saat kemudian, Naina dan Kelvin keluar dari kelas mereka dan melihat Alma juga Albry ada di depan pintu ruang kepala sekolah.
"Mama, Mama kok sama Dede ada disini?" tanya Naina
"Iya Ma, ada apa?" tanya Kelvin
" Mama dipanggil Bu kepala sekolah" jawab Alma
"Ada apa mama dipanggil Bu kepala sekolah?" tanya Naina
"Gak tau, kenapa ya Mama dipanggil? kalian tunggu di mobil saja ya sama pak Jeffry, mama gak akan lama kok " jelas Alma pada kedua anaknya
Kelvin dan Naina terlihat bingung dengan sikap mama nya yang tampak serius. Alma memasuki ruang kepala sekolah, ia disambut oleh Bu Diana dan Pak Yogi wali kelas kelas 3A dengan wajah ramah.
Melihat dari wajah ramah mereka, seperti nya Kelvin tidak membuat masalah. Begitulah pikir Alma dalam hatinya.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikum salam bu Alma.. anda sudah datang? silahkan duduk dulu " kata Bu Diana ramah
" waalaikum salam " jawab pak Yogi
" Iya Bu " jawab Alma sambil duduk di sofa empuk, ruangan kepala sekolah itu.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Bu Diana mengatakan alasan Alma dipanggil ke sekolah. Karena Bu Diana merasa kasihan pada Alma dan bayinya jika berlama-lama di sekolah.
"Kami sudah melakukan tes IQ pada Kelvin dan hasilnya sangat memuaskan Bu "
" Huft.. Lalu apa masalahnya Bu? mengapa saya dipanggil?" tanya Alma bingung
"Alasan saya memanggil Bu Alma adalah karena kami ingin meminta persetujuan dari Bu Alma mengenai Kelvin. "jelas Bu Diana
" Persetujuan apa Bu?" tanya Alma
"Seperti nya biar pak Yogi saja yang menjelaskan detailnya, silahkan pak Yogi " kaya Bu Diana pada pak Yogi
"Jadi begini Bu, setelah melakukan tes IQ dan hasilnya memuaskan. Kami semua guru sudah sepakat untuk memindahkan Kelvin langsung ke kelas 3 atau 4, dengan istilah lainnya loncat kelas. Tentu saja dengan persetujuan Bu Alma dan Pak Bryan " jelas Pak Yogi dengan senyuman ramah di wajahnya
" Kelvin benar-benar anak genius, Bu, dia bahkan bisa mengerjakan soal soal anak kelas 5 yang sulit. Apalagi matematika nya sangat luar biasa, akan sangat disayangkan kalau Kelvin tinggal di kelas 2 yang sudah sangat ia kuasai. " jelas Bu Diana membanggakan Kelvin
" APA?!!" Alma tercengang mendengar penjelasan pak Yogi
Aku tau Kelvin putraku genius, tapi sampai loncat kelas? Ya Allah..soal kelas 5 pun bisa ia kerjakan? padahal di rumah ia jarang belajar, dan banyaknya main games saja.
"Bu Alma? apa Bu Alma baik-baik saja?" tanya Bu Diana yang heran melihat Alma melamun
"Saya tidak apa-apa Bu, maafkan saya. Saya terlalu terkejut. " jawab Alma
"Jadi bagaimana Bu? apa ibu setuju dengan kami?" tanya Bu Diana
" Saya akan membicarakan ini dengan Kelvin dan papa nya dulu Bu. Bisakah ibu dan bapak memberikan saya waktu untuk jawaban nya?" tanya Alma sambil tersenyum ramah
" Baik lah Bu, kami akan tunggu jawaban dari Bu Alma dan pak Bryan secepat nya ya. " kata Bu Diana
"Kami minta maaf sudah menganggu waktunya ya, Bu Alma " kata Pak Yogi
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah memberitahu saya. " jawab Alma
Pembicaraan yang hanya berlangsung 10 menit itu pun selesai. Alma keluar dari ruangan kepala sekolah, ia pun segera pergi ke tempat parkir dimana pak Jeffry dan si kembar ada disana.
Si kembar yang penasaran tentang apa yang dibicarakan Mama mereka dengan kepala sekolah, segera memburu Alma dengan banyak pertanyaan. Namun, bukannya jawaban yang mereka dapatkan hanya senyuman kebahagiaan terukir di bibir manis Alma.
***
Malam itu saat semua orang sedang santai dan Bryan sudah pulang kerja. Si kembar sedang sibuk makan camilan malam mereka sambil menonton TV bersama Bryan.
"Sayang, anak-anak bilang kalau kamu dipanggil kepala sekolah. Ada masalah apa?" tanya Bryan penasaran
"Ada masalah besar sayang "jawab Alma sambil menyandarkan tubuhnya dengan manja ke bahu suaminya.
"Apa Kelvin dan Naina membuat masalah di sekolah?" tanya Bryan serius
"Mama, sumpah deh aku gak buat masalah di sekolah. Kakak kali yang buat masalah " kata Naina tidak tenang
"Ma, aku juga anak baik. Aku gak mungkin buat masalah, Naina tuh yang suka buat ulah " Kelvin menunjuk ke arah adiknya
"Hehe, masalahnya Kelvin harus pindah. Kepala sekolah dan wali kelasnya yang baru mengatakan nya padaku. " jelas Alma
Kelvin, Naina dan Bryan kaget mendengar nya. Apa maksudnya pindah sekolah atau pindah apa?. Alma pun menjelaskan semuanya kalau Kelvin akan loncat kelas karena tes IQ nya sangat sempurna, ujian kenaikan kelas kali ini Kelvin akan naik ke kelas 3 atau kelas 4.
Bryan sangat bangga kepada anaknya, dulu ia juga pernah loncat kelas tapi hanya satu kelas saja. Tapi Kelvin bisa loncat ke 3 kelas sekaligus, membuktikan anaknya lebih genius daripada dirinya.
Setelah berunding, akhirnya mereka setuju agar Kelvin naik ke kelas 3 saja. Sementara itu Naina juga senang karena Kelvin tidak akan seangkatan dengan dirinya, ia tidak iri sama sekali pada kakaknya.
...---***---...