Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 34. Exam Day



🍀🍀🍀


Di rumah keluarga Aditama.


Terlihat Naina sedang buru-buru memakai sepatunya, sambil melihat-lihat ke arah jam dinding dengan mata membulat kaget.


"Mama! kenapa mama ga bangunin aku?!" gerutu Naina sambil memasang tali sepatunya dengan buru-buru


"Mama kan sudah bilang jangan nonton kemalaman, ya jadi begini deh. Mama udah bilang juga semalam kalau mama gak akan bangunin kamu" jawab Alma santai. Alma juga tengah bersiap-siap pergi ke kantor.


"Mama jahat huh!" Naina sebal


"Udah udah, kamu ikut Mama aja sama pak Jeffry biar cepet" kata Alma sambil mengambil tas selempang nya di meja ruang tengah.


"Emangnya kakak kemana? aku mau bareng kakak aja" ucap Naina menanyakan keberadaan kakaknya


"Kakak kamu udah pergi dari jam enam pagi" jawab Alma sambil tersenyum mendengar putrinya yang sedang mengomel dengan wajah cemberut


"Apa? jam 6? gila ya?! kakak pengkhianat! mentang-mentang sudah punya pacar, adiknya ditinggal.. huuhh. Tapi, karena orang itu adalah gadis yang sangat baik aku akan memaafkan si gunung es meletus itu" ocehannya kesal


"Ya udah jangan marah-marah, pergi sama mama aja"


Tit... Tit...


"Kaya suara klakson motor deh?" tanya Naina begitu mendengar suara klakson berbunyi dari arah luar rumahnya.


Naina dan Alma pergi keluar rumah untuk melihat siapa yang datang ke rumah mereka dan membunyikan klakson. Kemudian, terlihat lah dua pria tampan berseragam putih abu dengan motor sport mereka berada di depan gerbang rumah Naina.


Kedua pria itu kompak memberi salam kepada Alma dengan sopan dan ramah.


"Assalamualaikum tante" ucap Juna dan Theo bersamaan


"Waalaikum salam.." jawab Alma ramah


"Tante, saya kesini mau jemput Naina" kata Juna


Ngapain sih si kunyuk ini pake datang kemari? umpatnya pada Theo


"Saya juga mau jemput Naina" ucap Theo pada Alma


Tidak akan aku biarkan kamu mendekati Naina lagi, ada celah sedikit pun. Aku akan menutupinya, selama ini aku sudah berdiam diri. Theo menatap Juna dengan tatapan tajam, memancarkan aura permusuhan.


Alma dan Naina kebingungan melihat kedua orang itu. Lebih tepatnya mereka bingung memilih siapa yang akan pergi bersama Naina ke sekolah.


Kalau aku pilih kak Theo, nanti Juna marah ga ya? tapi kalau aku pilih Juna, nanti kak Theo yang marah. Kak Theo kan sahabat aku. Naina sedang berfikir akan memilih berangkat bersama siapa


"Nai, kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Alma pada putrinya itu.


"Aku berangkat sama kak Theo aja" jawab Naina yakin


Kalau aku berangkat sama mama, mama bisa telat ke kantor. Jarak ke sekolah ku dan kantor mamah kan berlainan arah. Ya sudah aku sama kak Theo aja, Juna juga pasti gak papa.


Theo langsung tersenyum senang, merasa menang dari Juna. Yes, Naina pilih aku!


Raut wajah Juna langsung pucat begitu Naina memilih untuk naik motor Theo daripada naik motor bersamanya. Juna terlihat kecewa, tanpa bicara apa-apa lagi Juna naik ke motornya.


Naina pilih dia? apa Naina suka sama dia? kalau kamu suka sama dia, terus aku apa?. Juna sakit hati dan sedih


"Tante, saya duluan" pamit Juna pada Alma dengan senyuman tipis di bibirnya. Matanya sedih dan kecewa.


BRUMM..


Juna pergi dari mengendarai motornya, lebih dulu dari Theo dan Naina yang masih ada di depan rumah. Naina sempat melihat ke arah Juna, ia melihat kesedihan di wajah Juna.


Juna kenapa ya sedih gitu? apa dia baik-baik aja?. Batin Naina cemas


"Nai ayo naik, udah mau jam 7 nih" Theo tersenyum senang, ia memberikan helm pada Naina


"Theo, Tante titip Naina ya. Jangan ngebut naik motornya, hati-hati" ucap Alma pada Theo dengan nada hangat dan ramah


"Iya Tante, tenang aja" jawab Theo patuh


Naina pun berangkat bersama Theo ke sekolah, mereka pun bertemu lagi dengan Juna di tempat parkir. Naina menyapa Juna, tapi Juna mengabaikannya dan langsung pergi begitu saja.


Naina merasa ada yang aneh dengan sikap Juna padanya? apa ia sudah melakukan kesalahan pada Juna?


Ting tong ting tong


🎵🎵🎵


Bel masuk pun berbunyi, semua siswa-siswi masuk ke kelas mereka masing-masing. Hari itu adalah hari pertama ujian kenaikan kelas.


"Juna, semangat ya!" seru Naina menyemangati teman sebangku nya itu, tapi Juna tidak bergeming dan wajahnya sangat muram. "Hari ini penampilan kamu rapi banget Jun, bagus" Naina tersenyum pada Juna, tapi Juna masih mengabaikan dirinya.


Juna kenapa sih? dia kesal padaku ya? aku akan bicara nanti padanya kalau udah selesai ujian.


Sialan! aku masih kesel. batin Juna kesal mengingat Theo dan Naina yang berboncengan, dan Naina yang lebih memilih berangkat sekolah bareng Theo daripada dirinya.


Disisi lain, Keira terlihat semangat dan senyum-senyum sendiri. Damar juga terus memasangi nya, dan bertanya-tanya ada apa dengan Keira.


Apa ini mimpi? tidak! ini bukan mimpi! Kelvin benar-benar menjemput ku tadi pagi dan dia adalah pacarku. Aku pacaran sama Kelvin, cinta pertama mu dari aku SD. Aku gak nyangka banget keinginan ku akan terwujud. Tapi aku harus tetap berhati-hati, semua orang belum boleh tau kalau aku pacaran sama Kelvin..Bisa bisa aku jadi sasaran amukan massa!


Keira tersipu-sipu sendiri, ia juga membayangkan akan jadi apa nanti kalau semua orang di sekolah, khususnya kaum wanita tau tentang hubungan nya dan Kelvin.


Keira kenapa ya? dia kelihatan nya seneng banget? Damar penasaran apa yang membuat Keira tersenyum selebar itu di pagi hati.


Saat guru sedang membagikan lembar soal ujian dari bangku yang satu ke bangku yang lainnya, Juna membantu gurunya untuk membagikan lembar soal pada teman-teman nya.


Semenjak dekat dengan Naina, Juna jadi banyak berubah. batin Bu Febby senang melihat perubahan Juna


"Bu, soal ujian nya sudah selesai dibagikan" ucapnya pada wali kelasnya itu


"Ya sudah, kamu duduk ya. Kerjakan ujiannya dengan baik!" seru Bu Febby sambil menepuk bahu Juna, memberikannya senyuman semangat


"Makasih Bu" jawab Juna ramah


Juna kembali duduk ke bangkunya. Bu Febby mengubah kembali tempat-tempat duduk saat ujian, agar menghindari adanya kecurangan atau murid yang mencontek. Kali ini Naina kebagian duduk bersama Damar, Keira duduk bersama Dara, Juna duduk bersama Erik orang yang sama-sama memiliki nilai terendah di kelas itu.


Ujian di hari pertama mereka adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebelum memulai ujian, Naina menghampiri Juna yang duduk di bangku depan.


"Apa?" tanya Juna


Naina memberikan sebuah pensil pada Juna, dan membuat Juna tersenyum senyum melihat pensil karakter yang unik itu.



"Semangat ya Juna!" seru Naina sambil tersenyum


"PFut.." Juna tersenyum melihat pensil yang ada penghapus hello kitty nya itu.


Akhirnya Juna tersenyum juga, syukurlah.. Naina tersenyum lega, ia pun kembali ke duduknya setelah melihat satu senyuman di bibir Juna.


Ya, aku pasti semangat. Aku pasti bisa karena kamu menyemangati aku. Eh kenapa aku jadi gak kesal lagi? harusnya aku kan masih kesal. Ninaina, kamu selalu bisa mengubah keadaan. Juna tersenyum dan melihat pensil pemberian Naina dengan semangat. Juna memakai pensil itu dan menyebutnya sebagai pensil keberuntungan, barang pemberian Naina untuk pertama kalinya.


Semua siswa-siswi terlihat serius membaca soal dengan serius dan mengerjakan nya. Damar dan Juna yang biasanya selalu tidur di kelas saat ujian, kini terlihat semangat mengerjakan soal ujian mereka dengan sungguh-sungguh. Bu Febby juga merasakan perubahan pada kedua murid nya yang spesial itu dan berharap kalau mereka bisa mencapai nilai KKM.


Dari absen kehadiran dan nilai harian, Juna dan Damar sudah mulai meningkat. Harapan Bu Febby semakin besar dan yakin kalau kedua anak muridnya kali ini tidak akan tinggal kelas. Tanpa mereka sadari, di luar ruang kelas X-A terlihat pak Farid, Kusno dan pak Darmawan (kepala sekolah SMA harapan bangsa) yang juga adalah paman Juna, sedang memperhatikan Juna di dalam kelas.


"Dia benar-benar serius ujian? apa aku tidak salah lihat?" kata Pak Farid sambil memegang kacamata nya, memperhatikan baik-baik cucunya yang sedang mengerjakan ujian


"Papa tidak salah lihat, Juna memang sudah banyak berubah pah" Darmawan tersenyum tulus dan bangga pada Juna


"Alhamdulillah.. Satya dan Diana akan senang sekali jika mereka melihat Juna seperti ini. Darma, siapa teman-teman terdekat Juna di kelas nya?" tanya Pak Farid sangat penasaran


"Apa mereka anak-anak yang baik pada Juna?" tanya pak Farid yang ingin memastikan kalau cucunya berteman dengan anak anak yang baik pada Juna.


"Iya mereka anak baik pah, papa tenang saja. Malah kata Bu Febby, semenjak Juna dekat dengan anak yang bernama Naina. Juna banyak berubah pah" jelas Darmawan senang dengan perubahan keponakan nya.


"Naina? anak dari keluarga mana gadis itu? apa papa mengenalnya?" tanya Pak Farid penasaran


"Naina itu kalau tidak salah dia berasal dari keluarga Aditama " jawab Darmawan yakin


"Apa kamu bilang? gadis itu dari keluarga Aditama??!" Pak Farid tersentak kaget mendengar nya.


Darmawan dan Kusno heran melihat wajah pak Farid yang langsung pucat saat mendengar nama keluarga Aditama disebut oleh Darmawan. Tubuh pak Farid gemetaran begitu mendengar nya, matanya sayu, tangannya memegang dadanya.


"Pah? papa baik baik aja?" tanya Darmawan cemas melihat papanya yang tiba-tiba saja pucat." Pak Kusno, cepat bawa papa pulang!" seru Darmawan panik


"Tidak! aku tidak mau pulang, aku mau menunggu Juna pulang, bawa saja aku ke ruangan tunggu atau ruangan apapun" Pak Farid menolak usul Darmawan untuk membawanya kembali pulang


Aku harus bicara pada anak yang bernama Naina itu..


🍀🍀🍀


🎵🎵🎵


Ting tong..


Bel pulang pun berbunyi, ujian pertama mereka dengan dua mata pelajaran telah selesai di kerjakan. Beberapa siswa masih berada di kelas, mereka mengobrol ngobrol seputar soal ujian dan ada juga yang bergosip tentang hal yang lain.


Naina juga sedang mengobrol bersama Keira dan kedua temannya yang lain tentang soal ujian yang lumayan sulit.


Juna beranjak dari bangkunya, ia memegang perutnya. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.


"Jun, Lo ga papa kan?" tanya Damar


"Gue ga papa, cuma.. ughh" Juna memegang perutnya, ia baru ingat kalau ia sering melewatkan makan. Entah berapa kali Juna melewatkan makanan nya.


"Apa Lo gak sarapan pagi lagi?" tanya Damar cemas sambil memapah Juna. Tapi Juna menepis tangan Juna


"Gue beneran gak papa, gak usah pegang gue. Gue bisa jalan sendiri" kata Juna sambil memegang perutnya


"Lo gak bisa terus belajar, tanpa peduli kondisi tubuh Lo sendiri sampai lupa makan! Lo mau mati ya?" tanya Damar yang kesal karena cemas pada temannya itu


"Gue gak papa!" seru Juna kesal


"Lo keras kepala banget! ayo makan dulu ke kantin" kata Damar cemas


"Gue bekel makanan kok" jawab Juna


"Kalau bekel makanan kenapa gak dimakan?! bego loh! tenang aja, kita bakal naik kelas! kita kan udah gak pernah bolos" Damar mengomel dan marah-marah pada temannya yang tidak peduli kondisi tubuhnya


"Bukan itu, gue tetap harus masuk lima puluh besar" kata Juna yang berharap masuk ranking lima puluh besar


"Ya gue tau, tapi Lo harus makan. Yuk makan sekarang!" ujar Damar


"Nanti aja gue mau balik, mau belajar" Juna memikirkan ujian matematika besok dan di otak nya hanya ada belajar saja.


Perut ku sakit banget, gimana mau belajar kalau gini...Juna merasakan perutnya sakit sakit seperti di remas-remas.


Benar-benar bandel ni anak, gak ada cara lain. Walaupun cara ini dibilang kekanak-kanakan, bodoh amat deh. Yang penting si Juna mau makan. Hanya satu orang yang bisa bujuk dia. Damar kesal dengan sikap keras kepala sahabatnya itu. Damar melihat ke arah Naina yang akan keluar dari kelas, semua orang sudah bubaran dari kelas.


Damar menghampiri Naina yang sudah menggendong tas nya." Nai tunggu!" seru Damar


"Ada apa mar?" Naina menoleh ke arah Damar


"Tolongin si Juna, dia sakit gara gara terus belajar dan gak mau makan! tuh lihat dia!" seru Damar seraya menunjuk ke arahnya temannya yang sedang berjalan menghampiri nya


"Gue gak papa! Lo ngadu sama si Naina, mar?!!" Juna menatap tajam Damar. Damar bersembunyi di belakang Naina, takut dimarahi Naina


Sorry bro! nanti kamu akan berterimakasih padaku. batin Damar


Naina menatap wajah Juna yang memang terlihat pucat, bahkan wajahnya juga berkeringat. Naina melihat nya dengan khawatir.


Juna sampai lupa makan karena belajar? apa dia sangat ingin masuk rangking lima puluh besar itu? sebenarnya kenapa dia sangat berusaha keras?. Naina bertanya-tanya


Kenapa Naina menatapku begitu? Ya Allah Gusti, aku jadi deg degan lagi. batin Juna keheranan dengan tatapan Naina padanya


"Gue.. gue beneran gak papa.." ucap Juna tiba-tiba


"Duduk di kursi sekarang!" seru Naina pada pria itu dengan suara yang tegas


"Tapi gue mau pulang.."


"Mau pulang dan menyiksa diri kamu lagi? kayanya kamu lebih suka sakit ya?" Naina terse yang tipis sambil menyilangkan tangan di dada


"Nai.. Lo marah?" tanya Juna sambil memperhatikan raut wajah Naina


"Aku marah atau tidak, kamu bisa lihat sendiri kan? Sekarang duduk Jun! aku gak akan ngomong dua kali!" ancam Naina pada Juna dengan mata yang tegas dan tajam.


Dia marah padaku?


gila! si Naina kalau marah berdamage banget. Damar takjub melihat sosok lain dari Naina yang biasanya polos lembut, menjadi tegas


Juna tak bisa menatap Naina yang terlihat marah padanya itu. Juna duduk dengan patuh di salah satu kursi yang ada di kelas. Naina masih menatapnya tajam.


"Gue udah duduk, Lo jangan tatap gue kaya gitu lagi dong. Gue gak nyaman," ucap Juna jujur


"Mana yang sakit, Jun?" tanya Naina sambil memperhatikan Juna dari atas sambil bawah


"Gak ada yang sakit" jawab Juna


"Mana yang sakit, Jun?!!" Naina bicara setengah membentak Juna yang keras kepala.


Dia benar-benar keras kepala, padahal wajahnya sudah pucat begini.


"Perut.." Juna mengalah


Kenapa dia malah marahin orang sakit sih? apa salah ku?. Batin Juna heran


"Mar, apa dia gak sarapan pagi ini?" tanya Naina pada Damar


"Kenapa Lo tanya sama dia?" tanya Juna cemburu


"Diem gak!" seru Naina pada Juna dengan mata galak nya


Mode galak Naina boleh juga nih. Hihihi mati Lo, Jun.. batin Damar senang melihat temannya menciut di depan Naina


"Katanya dia lupa gak makan, tapi dia bilang kalau dia bawa makanan di tas nya" jawab Damar


Tanpa bicara, Naina membuka resleting tas gendong Juna. Ia melihat keresek hitam dan ada sebuah kotak bekal di dalam sana. Tanpa banyak bicara, Naina pun pergi keluar kelas dan meninggalkan tas nya di kelas.


"Eh? Nai Lo mau kemana?" tanya Juna


"Tunggu bentar!" seru Naina sambil berlari keluar kelas dan Juna tak tau gadis itu mau kemana. Damar juga kebingungan melihat Naina yang berlari terburu-buru.


Beberapa menit kemudian, Naina datang membawa sebotol minuman dan obat mag.


"Kamu gak akan bisa makan makanan itu tanpa minum dan obat, kamu kayanya kena mag. Oke, sekarang minum dulu obatnya terus makan ya" ucap Naina sambil tersenyum pada Juna


Juna terdiam, ia terharu melihat Naina yang perhatian padanya. Merasa menganggu momen Junai, Damar pun memutuskan untuk pergi keluar dari kelas itu.


Benar-benar, aku ini teman yang pengertian. Damar bangga pada dirinya sendiri.


...---***---...