
...πππ...
Setelah membuang obat dan kotak pensil Naina, Claysia dengan jahilnya langsung pergi dari sana. Dia mendapatkan kepuasan setelah berhasil mengerjai Naina, meski dia tidak berhasil mendekati Keira.
"Aku pergi dulu ya Naina, anggap saja kita impas. Dulu kamu yang udah buat aku menjadi tahanan rumah" ternyata Clay masih ada dendam pada Naina yang sudah membuat nya menjadi tahanan rumah selama 5 tahun.
"Gila kamu ya.. awas kalau kamu sampai menyentuh kakak sama kakak iparku!" Naina memegang dadanya yang terasa sesak. Napas ya tersengal-sengal.
"Bye bye Naina, semoga kamu masih hidup ya" Clay tersenyum sinis, dia pergi meninggalkan sekolah itu diam-diam.
Naina sendirian di ruang kelas yang kosong itu, tubuhnya tidak kuat lagi menahan sakit. "Di-dia.."
Tak lama kemudian, Darren dan ketiga temannya sedang lewat disana. Mereka bermaksud untuk meminta nomor telpon Naina. Darren mendengar suara aneh dari kelas kosong, suara napas seseorang yang terengah-engah.
"Kalian dengar gak? Ada suara" kata Darren yang peka.
"Gue juga denger" jawab Agam setuju
"Dari kelas seni kan? Bukannya kelas seni udah kosong?" tanya Adrian bergumam sendiri, dia yakin kalau kelas itu sudah kosong.
"Apa jangan-jangan itu setan?" tanya Wisnu sambil memegang tangan Adrian dengan wajah takutnya.
"Hahh.. haa...to..tolong..." Naina tidak kuat berjalan, dia hanya bisa mengandalkan suaranya yang terengah-engah itu untuk meminta bantuan.
Darren mendengar suara Naina, dia langsung membuka pintu ruang kosong yang tidak terkunci itu. Diikuti ketiga temannya dibelakang.
"Kak Naina??!" Darren and the geng terkejut melihat Naina terbaring di lantai dengan kondisi hidung dan sekitaran mulut yang berdarah. Gadis itu memegang dadanya, dia terlihat menderita.
"Kak Naina? Kakak gak apa-apa?" tanya Agam perhatian. Kedua teman Darren yang tadinya menghina Naina juga jadi perhatian padanya, dilihat dari cara mereka memandang Naina.
Darren menangkup tubuh Naina, dia merasakan tubuh gadis itu terasa dingin.
"To..tolong..o..obat"
"Obat? Obat apa kak?" tanya Darren cemas.
"Obat..ku.. ada di luar.. o..bat" jawab Naina yang kesulitan bernapas, dia menunjuk ke arah luar jendela ruang kelas itu.
"Aku akan cari obatnya kak!" kata Wisnu langsung melompat dari jendela. Adrian juga ikut dengan Wisnu melompat dari sana untuk mencari obat yang dimaksud Naina.
Selagi Wisnu dan Adrian mencari obat yang di katakan Naina di sekitar sana. Darren dan Agam berusaha menenangkan Naina yang napasnya masih tersengal-sengal.
Dalam hati, Naina sangat malu karena ada banyak orang yang melihatnya seperti ini. Wisnu berhasil mengambil sebuah botol berisi beberapa butir obat.
Naina meminum obat itu dan meneguknya dengan air di dalam botol. Dia juga membersihkan darah di sekitar mulutnya.
"Udah gak apa-apa kan kak?" tanya Darren cemas.
"Haah.. haahh.." Naina mengatur napasnya kembali. Beberapa kali dia mengambil dan menghela napas.
"Kakak? Masih sakit gak? Apa yang sakit?" tanya Agam cemas.
Kenapa anak anak ini jadi baik padaku? Naina keheranan melihat pada Darren dan teman-teman nya.
Tap,tap, tap
"Naina!" suara familiar memanggil Naina, dia adalah Kelvin. Pria itu berlari ke arah Naina yang duduk di lantai.
"Kakak..." Naina mendongakkan kepala ke arah saudara kembarnya.
Darren dan ketiga temannya menoleh ke arah pria tampan bertubuh tinggi itu. Wajahnya agak mirip dengan Naina. Dia menghampiri adiknya dengan cemas.
"Nai, kamu kenapa? Kamu kambuh lagi?" tanya Kelvin sambil memegang tangan adiknya.
Naina menggeleng-geleng, dia tersenyum. "Aku gak apa-apa kak"
"Kamu berdarah? Kamu muntah darah lagi?" tanya Kelvin cemas.
Kakak? Kak Naina manggil dia kakak? Berarti dia adalah Kelvin Aldara Aditama!. Batin Darren terpana melihat idolanya ada di depan mata nya.
Wisnu, Agam, Adrian melihat Kelvin dengan tatapan berbinar-binar dan penuh kekaguman.
"Aku gak apa-apa, tapi Claysia.. wanita itu.." Naina menatap kakaknya dengan ketakutan mengingat Claysia. Dia memegang tangan
"Claysia?" mata Kelvin membulat begitu mama Claysia disebut oleh Naina.
Apa dia menyakiti Naina lagi? Atau keira?. Kelvin sempat berdiri mematung.
Dia berterimakasih pada empat anak remaja itu karena sudah membantu Naina. Mereka meminta imbalan nomor ponsel Kelvin karena mereka ngefans pada Kelvin dan Naina juga. Kedua saudara itu memang panutan semua orang.
"Makasih ya Kak Kelvin, kak Naina" kata Agam, Adrian dan Wisnu dengan senyum bahasa memegang ponsel mereka.
"Iya sama-sama, makasih juga udah menolong Naina" kata Kelvin sambil tersenyum ramah pada keempat remaja itu.
"Maaf kak Kelvin, tapi saya boleh tanya?" tanya Darren sambil melihat ke arah Naina yang sedang berada di dalam mobil bersama Keira.
"Ya, tanya apa?"
"Mungkin ini kurang sopan, tapi saya penasaran dengan apa yang dibilang papa saya" Darren terus melihat ke arah Naina dengan cemas.
"Gak apa-apa, tanyakan saja" kata Kelvin dengan santai.
"Papa saya bilang kalau kak Naina sakit kanker? Apa itu benar?" tanya Darren berhati-hati.
Kelvin terpana mendengarnya, begitu pula dengan ketiga teman Darren. Mengapa teman mereka bertanya seperti itu? Naina sakit kanker?
"Itu benar, sudah bukan menjadi rahasia lagi bukan? Tapi, siapa papa mu?" tanya Kelvin.
"Nama papa saya Mike, dia bekerja di perusahaan modeling" jelas Darren singkat
"Om Mike adalah papa kamu?" tanya Kelvin sambil tersenyum tipis. Dia tak menyangka kalau dia bertemu dengan anak dari pria yang dulu pernah naksir mamanya. Anaknya juga sudah sebesar ini, Kelvin benar-benar tak menyangka.
"Benar kak" jawab Darren.
"Iya kak" Darren menjawab dengan sopan.
Jadi kak Naina beneran sakit kanker, pantas aja dia seperti itu..
"Sayang, ayo.. kayanya Naina harus ke rumah sakit" Ajak Keira pada suaminya, dia khawatir melihat badan Naina masih gemetaran.
"Aku gak apa-apa kok kak" jawab Naina menenangkan kakaknya.
"Maaf ya, saya duluan" kata Kelvin pada ke empat remaja itu.
"Iya kak, hati-hati ya" kata Darren pada Kelvin.
Mobil yang membawa Kelvin, Naina dan Keira pun melaju. Akibat telat minum obat, Naina muntah darah lagi. Dia pun dibawa ke rumah sakit oleh kakak dan kakak iparnya.
Setelah kepergian Kelvin, Darren dan gengnya merasa kasihan, juga kagum pada Naina. Gadis itu sedang sakit parah tapi dia masih mampu pergi keluar dari rumahnya. Wisnu, Agam dan Adrian bersalah karena mereka sempat mengejek keadaan tubuh Naina.
"Gue jadi ngerasa berdosa bro" kata Agam.
"Gue juga" jawab Wisnu.
"Gue denger sakit kanker darah tuh penyakit yang sulit disembuhkan. Apalagi yang namanya kemoterapi, katanya itu sakit banget"kata Agam sambil tersenyum pahit.
"Ya, walau gue belum pernah lihat yang kanker secara langsung. Tapi gue banyak nonton film tentang orang yang kena penyakit kanker, akhirnya selalu sad" jelas Adrian prihatin.
"Semoga kak Naina gak gitu, dia kan punya semangat juang yang tinggi. Kak Naina pasti akan sembuh" kata Darren mendoakan Naina dengan tulus.
Ketiga temannya mendoakan yang sama untuk kesembuhan Naina.
πππ
Di rumah sakit..
Kelvin menggendong tubuh Naina yang menggigil kedinginan dengan cemas. Dia langsung merebahkan tubuh Naina di sebuah ranjang beroda.
"Kamu tenang ya Nai.."kata Kelvin pada adiknya.
"Aku gak apa-apa kak, jangan cemas" jawab Naina sambil tersenyum pahit di wajahnya yang pucat.
"Suster, tolong adik saya!" ujar Kelvin pada salah seorang suster disana.
"Baik pak, bapak tunggu disini ya. Saya akan panggilkan dokter lain, kebetulan dokter Firlan sedang bertugas di luar" kata suster itu menjelaskan dengan singkat.
"Ya sus, tolong ya" kata Kelvin cemas.
Suster itu mendorong ranjang Naina masuk ke dalam salah satu ruangan. Kelvin dan Keira berada di luar ruangan itu dan menunggu dengan cemas.
"Vin, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Naina bisa seperti itu?" tanya Keira penasaran.
"Tadi Naina bilang ada Clay disana" jawab Kelvin.
"Clay? Wanita gila itu?" tanya Keira tak percaya dan tak habis pikir bagaimana bisa ada Clay di sekolah.
"Seperti nya dia ingin menganggu kamu, tapi kamu dalam penjagaan ketat.Makanya mereka menganggu Naina, aku benar-benar bodoh.. seharusnya aku memberikan penjagaan juga untuk Naina.." Kelvin memegang kepalanya dengan gusar, dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Naina.
"Ya Allah, ternyata dia benar-benar psikopat. Sayang ini gak bisa dibiarkan!" kata Keira tegas.
"Aku akan minta papa mengurus ini" kata Kelvin sambil mengambil ponselnya. Dia melangkah pergi dari sana untuk menelepon papa nya.
Sementara Keira duduk disana dan menunggu Naina bersama dengan ketiga bodyguard nya.
Dreet...
Dreet..
πΆπΆπΆ
"Bukan ponselku.. ponselnya Naina?" Keira membuka ponsel Naina yang ada di tasnya. Dia melihat telpon itu dari Juna. Keira bingung mau mengangkat nya atau tidak. Tapi menurut pendapat nya, Juna harus tau keadaan Naina.
Tut..
"Nai kenapa sih kamu lama banget angkat telpon nya? Kamu senang yang buat aku cemas?" oceh Juna begitu telpon itu diangkat oleh Keira.
"Ini Keira, Jun"
"Aku gak salah nelpon orang kan? Ini nomor Naina kan? Kenapa kamu yang angkat?" suara Juna terdengar kesal, karena Naina tidak menjawab pesan ataupun telpon darinya sejak tadi siang.
"Kamu gak salah nomor kok, ini hp Naina. Aku yang angkat telponnya" jelas Keira singkat.
"Terus Naina nya mana?"
"Dia lagi di periksa dokter" jawab Keira pada Juna.
"Apa?! Naina di rumah sakit lagi? Kenapa dia?" Juna tercengang mendengar tunangan nya masuk rumah sakit, padahal sebelumnya Naina sudah baik-baik saja.
"Dia kambuh itu..." jawab Keira
Tut...Tut.. Tut..
"Eh? Juna? Kenapa langsung di putus? Aku kan belum selesai bicara?!" Keira kesal pada Juna yang mematikan telpon nya begitu saja.
Saat itu Juna baru saja beres rapat, dia meminta pada Ardi untuk menunda jadwal nya selanjutnya karena dia akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Naina.
...---***---...
Chapter berikutnya : Wedding Junai
Hi Readers! mohon pengertiannya ya, karena jadwal up yang tidak teraturπ₯Ί beri dukungan kalian komen, like nya ya..biar author semangat.. chapter yang kalian tunggu-tunggu akan segera tiba..ππ€
Sambil nunggu, yuk mampir ke novel baruku