
...🍀🍀🍀...
Musik berhenti tepat saat Theo berdiri di depan Naina. Pernyataan cinta Theo tak bisa dihindari lagi. Kedua tangan Theo memegang tangan Naina dengan lembut, hal itu membuat Naina terkejut.
Tatapan semua orang tertuju padanya dan Theo.
Kenapa kak Theo malah memegang tanganku? Kenapa bukan pada Nisha?
Naina membeku, wajahnya terlihat bingung.
Nisha menatap mereka dengan tatapan sakit hati. Matanya berkaca-kaca menyaksikan apa yang akan terjadi di depannya.
"Kak Theo, kenapa kakak memegang tangan ku? Lepaskan aku kak.." pinta Naina pada Theo yang memegang tangannya.
"Sebentar aja Nai, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu"
Theo menatap Naina penuh perasaan. Theo sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan isi hatinya pada Naina. Walau harus melebihi batas persahabatan, Theo tidak peduli lagi. Dia hanya ingin Naina tau kalau Theo menganggapnya lebih dari sahabat, dan perasaannya tak dapat dipendam lagi.
"Bilang aja kak, tapi kenapa suasananya.." Naina kebingungan melihat suasana dan situasi yang tengah ia hadapi. Naina takut kalau sikap Theo padanya akan melukai hati Nisha, Naina ingin berlari dari sana tapi Theo menggenggam tangannya.
"Orang yang aku suka, orang yang selama ini diam-diam aku sukai. Sebagai seorang wanita, adalah kamu Nai. Aku suka kamu Nai.. bukan sebagai sahabat" ucap Theo lembut
Akhirnya aku berhasil mengatakannya juga. Perasaanku menjadi lebih lega.
DEG!
Wanita yang disukai kak Theo bukan Nisha, tapi aku?
Naina dan Nisha tercengang mendengar kata-kata Theo. Tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu, Nisha memutuskan untuk pergi dari sana. Nisha berlari sambil menangis.
"Ni-nisha!!" Panggil Naina kepada sahabatnya yang sudah keluar dari cafe itu.
Kenapa semuanya jadi begini? Aku pikir kak Theo dan Nisha saling suka? Tapi ternyata..
Naina menepis tangan Theo lalu berlari menyusul Nisha yang menangis. Theo mengekori Naina dari belakang.
"Nai! Kamu mau kemana?!" Tanya Theo pada Naina
"Kakak jangan ikutin aku, kalau kakak ngikutin aku. Aku bakalan marah sama kakak selamanya!" Ancam Naina pada Theo yang terus mengikutinya untuk menyusul Nisha.
Theo terdiam mendengar Naina mengancam nya, menatap ia dengan kesal.
Tak jauh dari sana ada taman, Nisha duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih. Nisha menangis sedih setelah mendengar ucapan cinta dari pria yang ia sukai itu di ucapkan pada Naina sahabatnya. Meski sudah tau ini akan terjadi, Nisha tetap merasa sakit hati.
"Nisha.." panggil Naina yang berdiri di belakang Nisha
"Mau apa kamu kesini Nai? Kenapa kamu malah nyusulin aku? Bukannya di dalam aja sama kak Theo dan yang lainnya.." suara Nisha terdengar sedikit parau, jelas kalau ia habis menangis. Buru-buru Nisha menyeka air matanya itu.
Naina pasti udah jadian kan sama kak Theo?Pikir Nisha dalam hatinya.
Naina juga sedang menyiapkan kata-kata untuk menghibur Nisha dan menjelaskan tentang Theo. Naina duduk di samping Nisha, sontak saja Nisha memalingkan wajahnya dari Naina. Ia tak mau terlihat menangis dan sedih di depan Naina.
"Nisha, maafkan aku" ucap Naina memulai pembicaraan mereka
"Kenapa kamu minta maaf sama aku? Gak papa kok kalau kamu jadian sama kak Theo. Justru aku mau kasih selamat" Nisha berusaha tersenyum di depan Naina.
Ya, aku harus kasih selamat sama sahabatku. Walau hati ku sakit..
"Pfutt.. Nisha kamu ngomong apa sih? Siapa yang bilang kalau aku jadian sama kak Theo?" Naina tertawa kecil mendengar kata-kata polos Nisha.
"Emangnya kamu gak jadian sama kak Theo?" Tanya Nisha menatap Naina bingung
"Ya enggaklah, kenapa aku jadian sama sahabatku sendiri dan orang yang sudah seperti kakak untukku?" Naina tersenyum santai, ia memegang tangan Nisha.
"Kakak?? Apa kamu benar-benar gak ada perasaan lain sama kak Theo?" Tanya Nisha sangat penasaran
"Iyalah, masa kamu gak bisa lihat itu sih? Aku sama kak Theo itu cuma sahabat dan akan tetap jadi sahabat, kak Theo sama seperti kak Kelvin. Artinya dia cuma sebatas itu, gak lebih" jelas Naina pada Nisha tentang hubungan dan perasannya pada Theo
"Tapi Nai, kak Theo suka sama kamu bukan sebagai sahabat. Apa kamu akan menolak dia?" Tanya Nisha yang khawatir kalau Theo akan sakit hati oleh Naina.
Tanpa mereka sadari, Theo ada dibelakang mereka dan mendengar apa yang dibicarakan kedua gadis itu.
"Iya Nis. Lagian aku juga gak ada niat untuk pacaran, tujuan aku sekarang adalah ngejar cita-cita. Cinta itu nomor tiga" Naina tersenyum memikirkan masa depannya nanti setelah tinggal di London.
"Nomor tiga? Nomor satu dan duanya apa?" Nisha menatap Naina dengan penasaran
"Satu keluarga, dua pendidikan dan tiga baru cinta. Aku gak akan pacaran, aku akan langsung nikah ketika aku menemukan pasangan yang cocok" jelas Naina sambil tersenyum manis
"Pantas saja selama ini kamu selalu menolak pria yang menyatakan cinta sama kamu, ternyata begitu ya prinsip kamu. Aku salut sama kamu Nai, kamu berfikiran dewasa walau kamu terlihat polos" Nisha mulai tersenyum, ia kagum pada Naina yang tak pernah sekalipun terlintas dipikiran nya untuk pacaran.
Namun tidak mungkin Naina tidak punya perasaan suka pada seseorang lebih dari teman. Ada satu orang yang pernah mengisi hatinya, namun ia pergi jauh membawa hatinya.
Naina pun mengatakan pada Nisha untuk menyatakan perasaan nya pada Theo. Walau tidak ada niat pacaran, tapi setidaknya perasaan Nisha tersampaikan pada Theo. Naina sendiri akan menegaskan pada Theo bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sahabat dan kakak adik.
Theo sakit hati mendengar kata-kata Naina yang sudah menolaknya. Theo juga terkejut mengetahui Nisha menyukainya dan Naina yang akan pergi ke London. Lagi-lagi dengan alasan kakak dan sahabat ia ditolak mentah-mentah oleh Naina.
"Apa aku yang selalu ada untuk kamu akan kalah oleh orang yang ada di hati kamu, yang bahkan gak ada untuk kamu Nai? Apa aku harus jauh dulu dari kamu agar kamu tidak menganggap ku sebagai sahabat atau saudara lagi?" Gumam Theo perih hatinya
Maaf Nai, tapi aku akan menganggap tidak pernah mendengar ini Nai..
Theo pulang dengan hati yang galau setelah menyatakan perasaannya. Walaupun sebelumnya ia sudah memantapkan hatinya bila ia ditolak oleh Naina. Tujuan awal Theo mengatakan isi hati nya adalah agar Naina tau perasannya lebih dari sahabat.
Naina mengajak Nisha kembali ke cafe itu, Naina mengumumkan pada semua teman-teman nya yang ada disana. Bahwa ia akan melanjutkan pendidikan nya di luar negeri dan mungkin ini terakhir kalinya Naina berjumpa dengan semua teman nya.
"Seriusan Nai, Lo mau kuliah ke luar negri?" Tanya Reza sedih
"Lo gak asik ah Nai. Disini juga banyak kali kampus seni yang bagus" ucap Nando yang sudah merasa dekat dengan Naina
"Gak ada Lo ga rame Nai.." ucap Bagas sedih
Naina tersenyum ceria melihat teman-teman nya yang sedih karena kepergiannya. Saat ingat masa lalu, Naina tertawa sendiri padahal dulu anak-anak yang di depannya itu tidak menyukai Naina dan memusuhi Naina. Namun sekarang mereka jadi teman baik.
"Kalian jangan kangen aku ya! Tenang aja, kalau sekolah ku udah beres aku pasti balik lagi" Naina tersenyum ceria pada teman-teman yang akan berpisah dengannya.
"huuhu.. Naina Lo udah besar lagi, gue bangga sama Lo" Reza menangis lebay sambil memeluk Damar
"Gadis kecil gue udah gede.." ucap Nando yang juga sama lebainya dengan Reza
"Emang kalian bapak ku! Kenapa bilangnya aku udah gede?!" Naina bercanda tawa dengan teman-teman nya itu.
Naina senang karena masih memiliki banyak teman yang sayang dan tulus padanya. Selalu ada bersamanya, menemani hari-hari Naina tanpa Juna.
🍀🍀🍀
Setelah selesai makan makan, Nisha pulang bersama Theo dan Damar yang mengantar Naina pulang.
"Ya, kenapa mar?" Tanya Naina
Damar terlihat berhati-hati, seperti ingin mengucapkan sesuatu."Juna, dia juga…"
"Mar, aku gak mau dengar tentang Juna lagi" Naina memotong ucapan Damar, ia kesal mendengar nama Juna
Sudah kuduga dia masih marah sama Juna, ini bukti kalau Juna emang berarti banget buat Naina.
"Oke deh kalau gitu gue skip. Gue cuma mau bilang pasti ada alasan kenapa dia pergi begitu aja"
"Apa sih maksud kamu ngomong kaya gini mar? Kamu mau membela dia lagi? Bukannya kamu sama aku itu sama aja, kamu juga sedih ditinggal Keira tanpa kabar kan? Kamu marah sama dia, sama kaya yang aku rasakan sama dia yang pergi tanpa kabar. Jadi kamu jangan ungkit ungkit lagi mereka yang udah pergi, mar!!" Naina langsung marah pada Damar, mendengar Damar menyebut nama Juna membuat emosinya mencuat.
Ya ampun kenapa aku jadi emosi seperti ini. Naina merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Naina jadi teringat Keira yang sudah menyakiti hati kakaknya. Damar pun meminta maaf pada Naina karena sudah menyinggung nama Juna di depannya.
Mereka pun sampai di depan rumah Naina. Naina segera turun dari motornya, melepas helm milik Damar yang biasanya dipakai Keira saat Keira masih ada.
"Thanks ya mar.. mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, aku minta maaf mar karena barusan udah marah-marah sama kamu" ucap Naina merasa bersalah telah membawa nama Keira yang membuat Damar semakin sedih
"Eits.. santai aja kali, gue gak papa. Gue yang harusnya minta maaf karena gue udah nyinggung soal dia. Sorry Nai.. dan jangan bilang ini buat yang terakhir. Karena kita pasti akan ketemu lagi" Damar tersenyum lebar pada teman baiknya itu.
"Maksud ku ini yang terakhir sebelum aku pergi ke London, hehe" Naina nyengir
"Oke, kalau begitu Lo sehat selalu disana. Sukses ya" Damar mendoakan Naina dengan tulus
Semoga kamu juga ketemu seseorang yang sudah lama kamu rindukan, disana Nai.
"Kamu juga ya Damar, sukses selalu!" Naina tersenyum menyemangati Damar
Damar tersenyum lalu ia pergi mengendarai motornya. Naina masuk ke dalam rumahnya, ia disambut oleh kedua orang tua nya yang sedang menyiapkan makan malam berdua.
"Eh Nai kamu udah pulang?"tanya Alma menyambut kepulangan anaknya
"Iya mah, pah" jawab Naina
"Makan malam dulu yuk" ajak Bryan pada putri bungsunya itu, sambil menata makan di meja makan.
"Aku udah makan pah tadi ditraktir kak Theo" jawab Naina sambil menghampiri mama dan papanya yang sudah duduk di meja
"Jadi kapan nih kamu sama Theo?" goda Bryan pada Naina
"Papa apa-apaan sih, kak Theo itu sama kak Kelvin! mereka kakak kakak ku" jawab Naina pada papa nya
"Papa setuju loh Nai kalau kamu pacaran sama Theo" Bryan tersenyum
"Papa! Nai belum mau pacaran. Udah ah aku mau ke kamar dulu ya. Sisakan aku cemilannya, jangan di abisin!" pesan Naina pada kedua orang tuanya
"Iya deh iya, yaudah ganti baju sana" ucap Bryan perhatian pada anaknya.
"PFut.. oh ya papa, by the way celemek papa bagus. Mencerminkan karakter dan hati papa" Naina melirik ke arah celemek hello Kitty yang dipakai oleh Bryan. Naina tertawa mengejek papa nya.
"A-Apa?!! Ninaina kamu!!" Bryan kesal dan malu karena celemek yang di pakainya adalah celemek bermotif hello Kitty, bibirnya mengerucut sebal."Sayang, tuh kan anak kita ngejekin aku!"
"Bagus kok sayang, kamu kelihatan macho!" Alma tersenyum memuji suaminya atau malah mengejek.
Naina masuk ke dalam kamarnya, saat itu ia melihat Kelvin sedang mengepak barang-barang nya. Karena besok Naina dan Kelvin akan berangkat ke London. Naina melihat kakak nya sedang memandangi foto Keira di layar ponselnya.
Dia tak mau bertanya pada Kelvin karena ia tau itu akan membuat Kelvin terluka. Naina memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan ganti baju. Lagi-lagi sebuah telpon dari unknown number menghubungi nya. Beberapa hari ini Naina sering mendapatkan telpon misterius yang entah dari siapa.
"Siapa sih? akhir-akhir ini aku sering dapat telpon dari orang aneh. Jangan di angkat deh" Naina cuek melihat ponselnya berdering di ranjang.
🎵🎵🎵🎶🎶
Drett.. Drett..
"Ya ampun, orang ini gak mau nyerah ya!" gerutu Naina pada orang yang menelponnya itu. Tangan Naina gemas, ia mengangkat telpon dari orang misterius itu.
Tut..
"Halo?"
".... " tidak ada suara yang terdengar dari si penelpon itu.
"Halo? ada orang gak sih disini? kamu bisu ya? ngomong dong!!" Naina kesal karena tidak ada jawaban dari orang yang menelpon nya itu.
Orang ini kenapa sih?
"...."
"Hey! kalau kamu gak bicara juga. Aku tutup ya!" Naina mengancam
"..."
"Kamu gila ya?! kamu siapa sih? kalau mau ngomong ngomong aja, kan aku jadi bingung" oceh Naina pada orang yang tak kunjung bicara padanya setelah menelpon.
Tit...
"Kamu beraninya menutup telponnya duluan?! harusnya aku duluan yang nutup telponnya!! nyebelin?!!" gerutu Naina pada ponselnya.
****
Keesokan harinya, Naina dan Kelvin sudah siap dengan persiapan mereka ke London. Bryan dan Alma mengantar kedua anak itu ke bandara.
"Mama papa akan nyusul kamu dua hari lagi ya sayang" Alma memeluk Naina dengan penuh kasih sayang dan sedih.
"Iya ma, mamah gak usah khawatir ya" Naina menepuk
"Tenang aja ma, kan ada Kelvin" ucap Kelvin menenangkan ibunya.
"Kamu harus jaga adik kamu ya Vin, jangan sampai adik kamu ditipu orang asing" Alma mengingatkan Naina dengan mata yang berkaca-kaca.
"mama, aku kan bukan anak kecil lagi" Naina tertawa kecil mendengar nasehat ibunya yang terdengar lucu.
"Oh ya, disana akan ada dua orang anak buah om Ken yang nunggu kalian. Namanya Diego dan Frans" Bryan mengingatkan anak-anak nya.
"Iya pah" Kelvin memeluk papa nya sebelum pergi check in ke bandara
Naina dan Kelvin pergi memasuki area check-in, mereka menyerahkan tiket pesawat mereka. Melambaikan tangan mereka pada Alma dan Bryan yang melihat Naina dan Kelvin dari kejauhan.
"Anak-anak ku, semoga kalian selalu baik-baik saja"
...---****---...