
Pov Junai
...🍀🍀🍀...
Naina menutup ponselnya dengan telapak tangan, ia melirik ke arah Juna. "Jun, aku angkat telpon dari kak Theo dulu ya"
"Disini aja bicaranya" jawab Juna dengan wajah serius
"Eh, kenapa?" Naina keheranan
"Apa aku tidak boleh mendengar apa yang kalian bicarakan? atau mungkin kamu mau bicarakan sesuatu sama dia?" tanya Juna sambil memegang tangan Naina.
"Juna, seperti nya aku harus bicara sama kak Theo secara pribadi" raut wajah Naina mulai serius, ia pikir sudah waktunya untuk bicara pada Theo tentang perasaan nya pada Juna.
Sudah saatnya aku mengatakan pada kak Theo, kalau aku menyukai Juna. Aku tidak bisa membiarkan kak Theo berharap.
"Aku tidak mau! aku mau dengar kalian bicara apa, aku calon suami kamu kan?" Juna membujuk Naina dengan wajah memelas nya, ia ingin mendengar Naina bicara dengan Theo di depannya.
Aku tidak akan membiarkan mu berduaan saja dengan si Theo, walau hanya bicara di telpon. Juna cemburu melihat Naina di telpon pria lain.
"Juna.." Naina terlihat bingung harus bagaimana menghadapi rengekan Juna padanya.
"Aku janji gak akan ganggu, aku cuma mau dengar apa yang kalian bicarakan" Juna menunjukkan kedua jarinya, seraya berjanji tidak akan menganggu pembicaraan itu.
"Oke, kalau kamu ganggu. Aku akan marah" ancam Naina pada Juna.
Juna mengangguk, ia berusaha mempertahankan senyuman dan ketenangan nya. Ditengah cemburu yang melanda hatinya karena pria bernama Theo.
Gadis itu kembali mengangkat ponselnya ditangan dan menyalakan loud speaker agar Juna bisa mendengarnya juga.
"Ya kak? ada apa?" tanya Naina pada Theo yang sedang menunggu jawaban dari nya. Juna ada di samping Naina, memasang telinga nya baik-baik.
"Kamu sudah terima bunga dan coklat dariku? harusnya sudah sampai tadi pagi, kan?" suara Theo di dalam ponsel Naina, terdengar.
Deg!
Bunga? coklat? apa maksudnya?
Juna menggertakkan gigi, ia kesal mengetahui kalau Theo mengirimkan bunga dan coklat padanya. Naina terdiam dan menatap Juna, mengisyaratkan agar pria itu diam dulu dan tahan emosi.
"Bung-" Juna sudah mulai emosi
Begitu Juna mulai membuka mulutnya, Naina langsung membekap nya dengan telapak tangan. "SST.. diam dulu" bisik Naina pada Juna.
"Nai? kamu dengar aku?" tanya Theo yang tak kunjung mendengar suara Naina atau jawaban Naina padanya.
"Ya kak, aku sudah terima bunga dan coklatnya. Terimakasih kak" jawab Naina sopan seperti biasanya
Mata Juna membulat kesal, ia tak tahan ingin memaki pria yang sudah mengirimkan bunga kepada wanita yang ia cintai dan sudah ia tandai sebagai calon istrinya. Namun, Naina membekap mulut Juna dan memelototi pria itu.
"Nai.. ayo kita bertemu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu" pinta Theo dengan suara lembut
Theo kamu harus mencoba lagi, kamu baru ditolak sekali. Siapa tau kali ini hati Naina akan berubah, ya aku harus semangat. Aku harus mengatakan nya secepat mungkin, kalau tidak.. si Juna yang akan curi start duluan. Theo bertekad mengatakan isi hatinya pada Naina untuk kedua kali.
"Bertemu?" Naina terlihat berfikir
Ya, mungkin ini saatnya aku menegaskan pada kak Theo. Kalau aku sudah memilih Juna.
Si Theo brengsek! sialan! ngapain dia ngajak ketemuan sama Naina? ngapain dia mengirim coklat dan bunga? ternyata dia masih belum nyerah!!. Umpat Juna pada Theo di dalam batinnya.
"Oke kak, ayo kita ketemu. Dimana?" tanya Naina pada Theo, sambil sibuk membekap mulut Juna dan memelototinya. Juna mendengus kesal, ia menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Nanti aku kirim alamatnya ya, Nai" jawab Theo dengan senyuman lelah di bibirnya. Theo baru saja pulang dari rumah sakit dan kurang tidur.
"Iya kak, oke" jawab Naina, lalu menutup telponnya.
Tut..
"Kyaaa!! Juna!!" teriak Naina yang kaget karena Juna tiba-tiba memegang kedua tangan dan menghimpit tubuhnya ke sofa.
"Juna, kamu tenang dulu.. aku akan jelasin semuanya.." Naina berusaha melepaskan dirinya dari Juna yang mengunci kedua tangannya dengan erat
"Mau menjelaskan apa? mana bisa aku tenang? calon istriku setuju bertemu dengan pria lain, bahkan pria lain itu mengirimi nya bunga dan coklat lalu dia menerimanya, apa kamu pikir aku bisa tenang?!" oceh Juna kesal pada Naina yang setuju bertemu dengan Theo. Tangannya masih mengunci tubuh Naina di sofa, tatapan matanya tajam menatap Naina.
"Jun-jun..lepaskan dulu aku, kita bicara baik-baik ya? aku akan jelaskan, ok? lepaskan aku dulu.." bujuk Naina pada Juna. Namun Juna tetap kesal dan tak mau melepaskannya.
"Aku tidak mau dengar!" Juna menggeleng kesal
Masa aku harus melakukan ini, ya udah aku coba dulu saja.
CUP
Kecupan manis mendarat di pipi Juna dari bibir indah milik Naina itu. Refleks Juna melepaskan pegangan tangannya dari Naina dan tersipu malu. Juna memegangi pipinya yang baru saja tersentuh oleh bibir Naina.
Aku melakukan nya, ternyata ini berhasil. Huft.. Naina lega karena Juna melepaskan nya.
"Ka-kamu memang pintar membuat aku kehabisan kata-kata" ucap Juna yang senang sekali setelah di cium oleh Naina untuk pertama kalinya.
Aku dicium Naina, hihi. pria itu cekikikan di dalam hatinya
"Sudah marah nya? kalau gitu aku mau pergi ya, aku masih ada urusan di galeri" pamit Naina sambil membawa tas gendong nya dan dokumen yang sudah ditandatangani bersama.
"Tunggu! kamu mau pergi gitu aja? tidak akan menjelaskan dulu padaku?" tanya Juna sambil memegang tangan Naina, menahannya.
"Katanya kamu tidak mau dengar" jawab Naina polos.
"Aku mau dengar! barusan itu aku marah karena aku cemburu" gerutu Juna dengan bibir cemberutnya.
"Cemburu?" Naina bingung karena ia belum sepenuhnya mengerti arti kata cemburu ini.
"Iya aku cemburu. Mana ada pria yang tidak cemburu kalau gadis yang dia sukai bicara dengan pria lain, pria lain itu juga memberinya bunga dan coklat. Tentu saja aku cemburu" gumam Juna kesal
"Apa cemburu itu memang seperti ini? seperti kamu yang marah padaku? apakah cemburu itu artinya marah? " tanya Naina polos
"Kamu tidak mengerti cemburu? haha..oke aku jelaskan, cemburu itu seperti kamu yang marah saat melihat foto wanita lain di ponselku.. Perasaan marah itu adalah cemburu" Juna tersenyum dan menjelaskan arti cemburu pada Naina, cemburu yang juga berkaitan dengan rasa marah.
"Aku tidak cemburu pada wanita yang bahkan aku tidak tau siapa dia!" Naina berteriak kesal
Huh, memikirkan nya lagi aku menjadi kesal. Foto wanita yang ada di ponsel Juna itu.
"Ini kamu sedang cemburu. Nah itu juga yang aku rasakan saat kamu bersama Theo" ucap Juna sambil memegang kedua tangan Naina.
"Juna, tapi kak Theo berbeda. Dia sahabatku dari kecil, dia sudah seperti kakak ku sendiri. Kamu harusnya tidak boleh cemburu padanya" Naina tersenyum dan menjelaskan pada Juna, bagaimana posisi Theo di dalam hatinya.
"Tetap saja! aku tidak suka, bagaimana pun juga dia adalah pria. Pria dan wanita tidak akan bisa murni bersahabat, dia juga suka sama kamu kan?" Juna terlihat takut kehilangan Naina.
"Dia hanya bingung dengan perasaannya Jun, aku akan menjelaskan padanya hubungan ku dan dia bagaimana dan hubungan ku dan kamu bagaimana. Kamu percaya padaku kan?" Naina menatap Juna dengan penuh kasih sayang.
Juna memalingkan matanya, ia terlihat grogi dengan tatapan tidak biasa Naina padanya. "Aku percaya sama kamu, tapi jangan tunjukkan tatapan itu lagi padaku"
"Kenapa?"
"Setiap kali kamu menatapku begitu, aku semakin jatuh cinta padamu" jawab Juna dengan wajah yang memerah
"Juna, kamu gombal lagi?!" Naina mendengus kesal
Juna memegang kedua pipi Naina dengan tangan kekarnya itu, lalu..
CUP
Ciuman di kening mendarat untuk Naina. "Aku percaya kamu, jadi jelaskan padanya lalu kembali padaku"
Naina tersenyum pada Juna untuk meyakinkan nya. "Kamu yang paling tau, kemana hatiku akan pulang"ucap Naina lembut
Kyaaa!! tidak ku sangka aku mengucapkan kata kata yang ada di dalam drama yang pernah ku tonton. Rasanya menggelikan dan romantis. Naina menjerit sendiri di dalam hati, ia mengucapkan kata romantis pada Juna yang ia kutip dari drama Korea kesayangan nya.
...---***---...