Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 109. Harus kuat



🍀🍀🍀


Sambil menunggu istrinya siuman, Bryan berbicara dengan dokter yang merawat Naina yaitu dokter Firlan. Dokter Firlan meminta maaf karena dia ikut menyembunyikan penyakit Naina dari keluarga. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi keinginan pasiennya. Termasuk keinginan Naina untuk menyembunyikan penyakit nya. Bryan sudah tidak masalah dengan hal itu, dia hanya ingin Naina sembuh bagaimana pun caranya.


Dokter Firlan menjelaskan bahwa jalan satu satunya adalah melakukan operasi tulang sumsum belakang.


"Berarti harus ada tulang sumsum belakang keluarga yang cocok?" tanya Bryan pada dokter itu dengan wajah stress


"Benar pak, biasanya dari keluarga adalah saudara sedarah" jawab dokter Firlan


"Kalau begitu, ambil saja tulang sumsum ku! aku saudara kembar Naina, dok!" ucap Kelvin sambil beranjak dari kursinya, dia menghampiri dokter itu dengan wajah yang merah. Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari bahagia untuk pengantin baru, malah menjadi hari yang penuh air mata.


Sementara disisi lain, Juna, Nisha dan Theo mendengarkan percakapan itu. Keira sedang berada di ruangan ibu mertuanya, menunggu nya siuman.


"Kita belum bisa melakukan nya, sebelum melakukan tes kecocokan" jawab Dokter Firlan


"Berarti aku harus menjalani tes itu? tes saja aku dokter, tes sekarang!" seru Kelvin


"Papa akan menyuruh semua orang ke rumah sakit untuk melakukan tes" ucap Bryan sambil mengambil ponselnya, dia terlihat resah. Bryan menelpon seseorang, dia berjalan menjauh dari ruangan Naina. Dia akan meminta semua orang dari keluarga nya melakukan tes sumsum tulang belakang.


"Tapi.. meski sudah dilakukan tes kecocokan kita masih belum bisa melakukan tindakan operasi untuk Bu Ninaina" jelas Dokter Forlan


"Kenapa gak bisa?"tanya Kelvin bingung


"Operasi hanya bisa dilakukan kalau Bu Ninaina sudah siuman dan kondisi tubuhnya membaik. Tapi saat ini dia belum siuman dan masih dalam keadaan koma" jelas dokter Firlan dengan wajah sedihnya.


"La-lalu kapan adik saya akan siuman?" tanya Kelvin berharap adiknya segera sadar.


"Maafkan saya pak, saya tidak bisa memprediksi hal itu" jawab Dokter Firlan dengan suara yang lemah


"Bagaimana bisa kamu tidak bisa memprediksi nya?!! kamu ini dokter atau bukan?!!" teriak Kelvin sambil menarik jas putih dokter muda itu dan menggoyang-goyangkan tubuh dokter Firlan.


Theo menarik Kelvin menjauh dari dokter Firlan, kemudian dia mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Vin, tenang Vin.. ini rumah sakit, jangan ribut disini. Kemarahan lo gak akan bisa buat Naina siuman. Tenanglah! berfikir jernih lah" Theo mengingatkan Kelvin agar bisa tenang menghadapi semua ini. Berfikir rasional dan tidak mengedepankan emosi.


Kelvin pun kembali duduk dengan mata kosongnya, dia menatap ruangan Naina dengan sedih. Nisha melihat dari jendela ruangan itu, Naina terbaring tak sadarkan diri dengan banyak selang terpasang di tubuhnya. Terdengar juga suara mesin yang memenuhi ruangan itu, bunyi yang mungkin tidak nyaman untuk di dengar. Bunyi kehidupan dan kematian, "Tit.. Tit...Tit..."


"Nai, kamu harus sembuh Nai.." tangan Nisha menyentuh jendela itu, dia meneteskan air mata untuk sahabatnya yang terbaring koma di dalam sana.


Di ruangan rawat Alma. Keira duduk di samping Alma, dia masih memakai gaun pengantin nya. Ibu mertuanya masih belum siuman setelah 2 jam pingsan.


Tak lama kemudian, perlahan-lahan Alma membuka matanya. Ia melihat ruangan bercat putih di sekeliling nya, bau obat yang menyengat tercium olehnya. Matanya menatap ke sekeliling ruangan itu, dia melihat Keira ada disampingnya.


"Ma.. mama.. sudah sadar?" tanya Keira lega melihat mama mertua nya sudah siuman


"Keira, Naina mana?" itulah hal pertama yang ditanyakan Alma begitu dia sadar dari pingsan nya.


"Naina.. dia..."


Alma beranjak dari ranjang nya dengan wajah panik dan tubuh yang sempoyongan. "Mama harus ketemu Naina" kata Alma sambil mencabut selang infus yang terpasang di tangannya.


"Ma.. mama masih lemah, mama tiduran dulu aja ya" pinta Keira yang cemas melihat kondisi mama mertuanya, terlebih lagi melihat wajah nya yang pucat.


"Naina..Naina anakku.." Alma celingukan kesana kemari, wanita itu menangis. Dia berjalan keluar dari ruangannya, diikuti oleh Keira di belakang nya.


Alma seperti kehilangan akal, dia berjalan tanpa alas kaki dengan langkah yang gontai. Juna melihat Alma dan menggandeng tangan Alma. "Tante.."


"Juna, dimana Naina? Naina dimana Juna? kenapa kita ada di rumah sakit?" tanya Alma pada calon menantunya itu, sambil memegang tangannya Alma menatap Juna penuh harapan.


"Naina ada di ruang rawat, tante.."jawab Juna lemas


"Sedang apa Naina disana? bukankah seharusnya dia ada di rumah?" tanya Alma dengan wajah bingung.


"Mama.. mama udah sadar?" tanya Kelvin pada mama nya.


Alma berjalan terseok-seok mendekati putra sulungnya, dia terus bertanya dimana Naina pada Kelvin berulang-ulang. Alma mengatakan pada putranya tadi dia bermimpi kalau Naina muntah darah lalu dibawa ke rumah sakit.


"Mah.. itu bukan mimpi, Naina benar-benar dibawa ke rumah sakit. Naina sakit ma..Naina sakit kanker.. sama dengan penyakit Almh nenek" Kelvin berusaha menyadarkan mama nya dari syok yang sempat melanda Alma karena kematian Albry. Dia tidak ingin hati ibu nya terluka lagi, dan keadaan nya menjadi drop sama seperti waktu Alma kehilangan Albry.


"Enggak!! Naina itu gak sakit, Naina itu sehat!! Adik kamu baik-baik saja, Vin.. adik kamu baik-baik saja! kamu pasti bercanda kan? Naina itu sehat, dia sama sekali gak sakit..Naina.. baik-baik saja Vin" seru Alma sambil memukul mukul pelan-pelan tubuh Kelvin untuk melampiaskan semua kesedihan dan amarahnya. Alma tidak percaya bahwa anak nya sakit parah.


"Iya ma, Naina akan baik-baik saja..Naina pasti akan sembuh" Kelvin memeluk mama nya. Ibu dan anak itu saling menenangkan satu sama lain.


Semua orang disana melihat betapa syok nya Alma mengetahui anaknya sakit dan sedang koma. Mereka sedih karena Naina, anak ceria dan murah senyum itu akan mengidap penyakit mematikan. Dia juga menyembunyikan penyakit nya sendiri dalam senyuman pahit. Berapa hati orang yang dipatahkan oleh Naina melihat keadaan Naina saat ini? semua nya begitu mendadak terutama bagi keluarga nya. Apakah gadis itu akan bernasib sama seperti nenek nya? ataukah dia akan sembuh?


Setelah keadaan nya agak tenang, Alma dan Bryan masuk ke ruangan dimana Naina terbaring koma. Dengan langkah yang goyah, Alma mendekati putrinya yang sangat ia sayangi. Bryan mengekori Alma dari belakang.


"Sayang.. bangun Nak" ucapnya sambil menggenggam tangan Naina dan menciumnya."Bukankah kamu sama seperti mama, yang benci rumah sakit? maka nya cepat bangun dong sayang.. kalau terjadi apa-apa sama kamu, gimana mama akan hidup? mama sudah kehilangan adik kamu, jangan sampai mama kehilangan kamu juga sayang.. mama.. hiks.. mama gak sanggup lagi Nai... please bangun lah sayang..Mama, papa dan semua orang nunggu kamu." Wanita dua anak itu tidak sanggup lagi menahan air matanya, hari itu dia banyak menangis. Melihat anaknya berbaring tak berdaya, membuat hatinya terkoyak hancur. Seandainya saja dirinya berada di posisi Naina, seandainya dia saja yang sakit dan bukan Naina. Dia rela menggantikan putrinya dari rasa sakit yang selama ini dia alami.


Kenangan tentang kecelakaan Albry anak bungsunya, kembali membayangi dirinya. Dia sulit untuk bangkit dari kehilangan buah cinta nya itu, jika dia kehilangan Naina juga. Entahlah apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Putri kesayangan papa, bangun Nak.. kamu harus sehat sayang. Kamu jangan buat papa dan mama sedih dong? kamu kan anak kuat, kamu pasti bisa melawannya. Kamu harus sembuh..papa sama Mama akan menunggu kamu" Bryan mengecup kening putrinya dengan lembut, bulir-bulir air mata jatuh membasahi kening Naina. Gadis itu masih saja tertidur lelap, dan tidak tahu kapan akan bangun.


Setelah memberikan kekuatan dan dorongan pada Naina untuk segera bangun dari komanya. Bryan mengajak Alma pulang lebih dulu,dia takut kalau istrinya akan drop lagi. Belum lagi Alma belum makan apa-apa dari tadi pagi, dirinya sudah sibuk menyiapkan pernikahan dan siang hari nya dia jatuh pingsan karena mengetahui keadaan Naina.


"Gak Bry, aku gak mau pulang" Alma menolak untuk pergi


"Aku mau tunggu Naina sampai dia sadar" kata Alma tak mau beranjak dari kursi


"Naina akan marah kalau dia sudah sadar nanti, kamu keras kepala tidak mau beristirahat dan tidak mau makan. Naina akan kecewa dan sedih, kalau kamu seperti ini sayang" Bryan menasehati istrinya agar tetap kuat untuk Naina. Naina sendiri tidak akan senang kalau mama nya terpuruk karena keadaan nya. "Al, kamu mau Naina sedih?"


"Aku gak mau Naina sedih" jawab Alma sambil memegang tangan Naina, dia enggan meninggalkan Naina disana.


"Kalau kamu gak mau Naina sedih, kita pulang dulu yuk. Makan, beristirahat dan ganti baju. Percaya sama Allah kalau Naina akan siuman dan segera sembuh" jelas Bryan mencoba untuk yakin kalau putrinya akan sembuh.


"Bagaimana kalau Allah mengambil lagi seseorang yang berharga untuk kita? aku gak sanggup Bry.." Alma menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Sayang, marilah kita kuat! marilah kita berfikir positif untuk keselamatan Naina. Masih banyak orang yang sayang pada Naina, mereka pasti berdoa untuk keselamatan Naina. Naina pasti bisa melewati nya, kita harus percaya bahwa anak kita itu kuat! kita juga harus sekuat dirinya! kamu ingat, apa yang dikatakan Naina saat aku sedang sakit demam dulu?" Bryan mengingatkan Alma tentang masa kecil Naina dulu.


#FLASHBACK


17 tahun yang lalu...


Di kamar Bryan dan Alma, pagi itu Bryan masih berbaring di kamarnya tidak seperti biasanya yang selalu olahraga di hari minggu pagi.


"Sayang.. tumben kamu gak olahraga pagi?" tanya Alma sambil duduk di samping suaminya yang masih terbaring di ranjang. Wanita itu baru saja selesai mandi.


Alma melihat Bryan tidak seperti biasanya, tubuh pria itu menggigil. Alma memegang kening suaminya, "Ya Allah.. sayang, kamu demam? aku telpon dokter Haris untuk memeriksa mu, ya" Alma panik dengan kondisi suaminya


"Gak usah sayang ini cuma demam biasa, kayanya aku juga kecapean habis perjalanan ke Australia tanpa tidur" jawab Bryan dengan wajah pucat nya, tubuhnya tertutupi oleh selimut hangat.


"Ya udah, aku akan siapkan obat, bubur dan kompres untuk demam ya. Kamu jangan kemana-mana sayang" ucap Alma perhatian pada suaminya


"Makasih sayang" Bryan tersenyum pada istrinya.


Alma keluar dari kamar itu dan berjalan menuju ke arah dapur. Dia melihat gadis kecil sedang membaca komik sambil tengkurap di karpet. Dia adalah Naina saat diri nya berusia 7 tahun. Di atas sofa juga ada Kelvin sedang asyik bermain game di ponselnya.


"Mama!!" panggil gadis kecil itu pada mama nya, dia menghampiri sang mama yang akan berjalan ke arah dapur


"Ya sayang ada apa?" tanya Alma menghentikan langkahnya


"Mana papa ma? katanya papa mau ngajak aku lari pagi ke taman, tapi kenapa papa belum bangun?" tanya Naina dengan kening yang berkerut karena menunggu papa nya dari tadi pagi tidak kunjung keluar dari kamar.


"Aduh.. maaf ya sayang, kaya nya papa kamu lupa dan gak sempat ngasih tau. Papa kamu gak bisa jalan-jalan hari minggu ini" kelas Alma dengan wajah sedih


"Papa kenapa ma?" tanya Naina dengan bibir yang mengerucut.


"Papa kamu lagi sakit"


"Papa sakit?!!" Naina kecil terperangah panik mendengar papa nya sakit. Dia langsung berlari tanpa bertanya apa-apa lagi pada mama nya. Naina berlari ke kamar orang tuanya.


Alma hanya tersenyum melihat anak perempuan nya itu. "Kalau urusan papa nya saja dia pasti selalu semangat, aku jadi sedikit cemburu" gumam Alma lalu melangkah pergi menuju ke arah dapur.


Naina menghampiri papa nya di kamar, dia melihat Bryan terbaring dengan selimut hangatnya. "Papa!!"


"Eh sayang? maaf ya papa gak bisa lari pagi hari ini" Bryan mengusap kepala anaknya dengan lembut. Naina meletakkan tangan kecilnya di kening Bryan.


"Gak papa pah. Kata mamah, papa lagi sakit ya? ternyata papa gak bohong" Naina yakin bahwa papa nya sakit


"Apa? haha.. lah iya masa papa bohong" Bryan tertawa kecil, walaupun badannya merasa tidak nyaman. Keadaan nya terasa lebih baik karena ada putri kesayangannya disana.


Dengan tingkah gemasnya, Naina memeriksa kondisi papa nya seperti dokter pada pasiennya. Bryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putri kecilnya.


Beberapa menit kemudian, Alma datang membawa kompresan, bubur dan obat untuk suaminya. Naina langsung menyerobot mama nya, dia mengambil handuk kecil dan memeras handuk itu.


"Sayang, kamu mau ngapain??" tanya Alma pada anak perempuan nya yang mengompres kepala Bryan dengan handuk basah.


"Aku akan merawat papa! papa pasti sembuh, aku akan kuat demi papa.. aku gak boleh sedih sedih, kalau aku sedih papa nanti keadaan nya malah makin drop" ucap Naina sambil tersenyum melihat papa nya.


"Darimana kamu belajar kata-kata seperti ini?" Bryan tersenyum dan mencubit pipi Naina dengan gemas.


"Hehe, kata ibu guru kita harus kuat untuk orang yang kita sayang. Ketika orang yang kita sayangi sedang sakit, kita jangan sedih! tapi kita harus kuat dan menjadi kekuatan agar orang itu cepat sembuh" jelas Naina pada papa dan mama nya


Naina laksana matahari yang bersinar terang untuk orang-orang di sekitarnya. Dia selalu memberikan semangat dan selalu tersenyum dalam keadaan apapun.


"Kamu benar sayang! kita harus kuat untuk orang yang kita sayangi" Alma membenarkan semua ucapan putrinya.


"Bukan kata aku mah, tapi kata ibu guru" jawab Naina dengan wajah polosnya itu. Alma dan Bryan tersenyum melihat ke arah Naina.


#ENDFLASHBACK


"Harus menjadi kuat untuk orang yang dicintai dan disayangi. Naina bilang begitu kan? apa kamu lupa?" tanya Bryan pada istrinya


"Aku gak pernah lupa Bry, aku gak pernah lupa..hiks.." Alma menangis mengingat anak nya itu


"Karena itu kita harus kuat demi orang yang kita sayangi. Karena Naina juga pasti akan begitu, Naina akan semangat untuk pulih, kalau kita kuat untuknya" jelas Bryan pada Alma dan saling menguatkan satu sama lain.


Bryan berhasil membujuk Alma untuk pulang lebih dulu. Bersama Kelvin dan Keira juga, sementara Juna dan Nisha lah yang menunggu Naina di rumah sakit.


...---***---...