
Kelvin membantu adiknya yang tadi jatuh itu, untuk berdiri, setelah dilihat-lihat Naina sama sekali tidak terluka. Malah tiba-tiba saja Naina menanyakan keberadaan Alma, hal yang tidak biasa ditanyakan nya. Wajahnya pun tampak cemas dan sedih.
" Nai kamu kenapa sih?"
" Kakak, Mama.. cepat telpon Mama kak !" ujar Naina panik
" Mama, kenapa sama Mama?"
" Aku mimpi semalam tentang Mama, dan aku ngerasain kalau terjadi sesuatu sama Mama. Kak, tolong telpon Mama sekarang !" Naina menangis
" Kakak Naina kenapa nangis? kakak sakit ya habis jatuh?" tanya Kayla polos
" Huu.. huu.. kakak, telpon mama "
" Iya iya, aku telpon mama. Kamu tenang jangan nangis, jangan panik. Mama pasti baik-baik saja "
Mendengar ada suara yang menangis, membuat Laura menghampiri ketiga anak itu di taman. Kelvin mencoba menghubungi Alma dengan ponsel yang diberikan ibunya.
" loh loh, kenapa Naina nangis? Kayla apa kamu bertengkar sama kak Naina?" tanya Laura sambil menyeka air mata di pipi Naina.
" Tadi kak Naina jatuh mah, terus nangis deh. " jawab Kayla polos
" Mama.. Mama..hiks " Naina tidak berhenti menangis
Laura menanyakan pada Kelvin apa yang terjadi dengan Naina. Kelvin mengatakan pada Tante nya itu kejadian yang baru saja terjadi pada Naina.
Naina tidak biasanya menangis tiba-tiba seperti ini, dan ia tidak biasanya menanyakan Alma. Apalagi dengan wajah yang panik. Laura bertanya-tanya dalam hatinya, mungkin kah yang dirasakan Naina adalah sebuah firasat?
Dihubungi berkali-kali pun, Alma tidak menjawab panggilan dari Kelvin maupun Laura. Biasanya sesibuk apapun dirinya, ia pasti akan mengangkat telpon dari anak anaknya. Hal ini semakin memperkuat dugaan ke arah yang negatif.
πππ
Viona yang baru keluar dari toilet, segera berjalan menuruni tangga darurat untuk menyusul Alma. Saat ia berjalan santai menuju ke lantai dasar, ia melihat ada bercak darah di sepanjang anak tangga.
" darah? darah siapa ini? kenapa bisa ada darah disini? " gumam Viona kebingungan
Viona berjalan terus menuruni tangga, sampai ia melihat Alma tergeletak di lantai dasar. Dan tidak terlihat siapapun disana selain dirinya dan Alma.
" Astagfirullah ! Bu Alma ! " Viona dengan wajah panik nya, mempercepat langkahnya dengan berlari menuruni tangga.
Viona sampai pada Alma yang tergeletak bersimbah darah di bawah lantai.
" Bu Alma ! Bu, bangun Bu. Ya Allah.. Bu Alma .." Viona menangis dan mencoba membangunkan Alma.
Melihat Alma yang tidak bergerak, Viona segera berteriak meminta tolong. Beberapa orang datang kesana, termasuk Mike yang saat itu kebetulan sedang menuruni tangga.
" Apa yang terjadi?" Mike kaget melihat Alma tergeletak tak sadarkan diri dengan penuh luka
" Saya tidak tau pak, tapi saya sudah telpon ambulan " jawab Viona sambil memegang ponselnya
" Terlalu lama "
Mike menggendong Alma, dan ditemani Viona mereka pergi ke rumah sakit dengan mobil Mike.
Sesampainya di rumah sakit, Alma langsung di bawa ke ruang UGD. Viona, Mike dan sekretaris nya berada di luar ruangan itu.
" Pak Mike, terimakasih sudah menolong Bu Alma " kata Viona
" Itu sudah kewajiban saya, tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan nya? apa kamu tau?" tanya Mike
Viona menceritakan pada Mike, secara singkat tentang apa yang ia lihat saat ia menuruni tangga. Alma sudah tergeletak di lantai dengan badan penuh darah dugaan Viona, Alma terjatuh dari tangga. Namun, Mike berfikir lain jika Alma tak sengaja terjatuh, pasti lukanya tidak akan sebanyak itu.
Belum lama Alma masuk ke dalam ruangan UGD, Mike segera menghubungi Bryan.
πΆπΆ
Saat itu Bryan sedang berada di ruang rapat, suara dering terus mengganggu nya saat itu.
" Mike? ngapain dia telpon sampai 10 kali ?" gumam Bryan sambil melihat ponselnya
" Maaf, saya permisi dulu sebentar "'
Bryan keluar dari ruangan rapat dan mengangkat telpon dari sahabatnya itu.
" Halo "
" Bry, Lo lama banget sih angkat telpon nya ! " Mika terdengar kesal
" Kenapa Lo marah-marah? ada apaan sih? gue lagi rapat "
" Mantan istri Lo, Almahyra masuk rumah sakit."
" Apa? jangan bercanda Lo " Bryan tak percaya
" Gue serius Bryan, gue sendiri yang bawa dia ke rumah sakit. Dia jatuh dari tangga "
" Rumah sakit mana?!! teriak Bryan langsung panik
Bryan langsung memerintahkan Andre untuk membatalkan semua jadwalnya hari itu, ia panik dan segera pergi ke rumah sakit. Membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama untuk Bryan yang ngebut itu untuk sampai ke rumah sakit.
CEO Aditama grup itu berlari menuju ke ruang UGD tempat Alma di rawat. Ia melihat Mike, dan Viona ada depan ruangan itu.
" Pak Bryan!!"
Hosh.. hoshh..
" Lo udah datang?" tanya Mike
" Gimana kejadian nya sih? Alma gak papa kan? apa kata dokter? Dimana kejadian nya?! " Bryan langsung memburu sahabatnya itu dengan banyak pertanyaan
" Bro, Lo tenang dulu, dokter lagi meriksa dia dan belum keluar dari ruangan UGD. Duduk dulu disini, dan kita tunggu " kata Mike menenangkan sahabatnya
Kayanya dia beneran serius sama mantan istri nya itu. Dia kelihatan khawatir.
" Tapi.. Alma..." Bryan terlihat cemas, matanya mengarah pada pintu ruangan UGD
Kenapa ini bisa terjadi? ya Tuhan.
Di saat Bryan sedang menunggu Alma di rumah sakit, hpnya terus berdering. Bryan pun memutuskan untuk melihat siapa yang menghubungi nya, ada banyak panggilan tidak terjawab dari Kelvin dan Laura.
π΅π΅π΅
Bryan pun menjawab telpon dari Laura.
" Halo Bryan?"
" Ya kak ada apa?"
" Kenapa kamu baru angkat telpon nya? Alma juga tidak mengangkat telponnya. Dari tadi Naina nangis terus ingin ketemu Mama nya. " jelas Laura
" Kak.. jangan kasih tau anak-anak dulu. Alma di bawa ke rumah sakit "
" Apa maksud kamu? memangnya dia kenapa?"
" Aku gak tau kejadian jelasnya, sekarang dokter lagi meriksa dia di UGD. " jawab Bryan dengan nada yang sedih
" APA?! serius? rumah sakit mana?" Laura tercengang mendengar nya
" Rumah sakit harapan kasih, please kak jangan kasih tau anak-anak dulu. Nanti mereka cemas, kakak gak usah kesini..Biar aku yang jaga disini. " jelas Bryan
" Ya, kakak ngerti kok. "
" Aku titip anak-anak dulu. "
" Ya Bryan, kabarin kakak ya tentang Alma. "
TUT...
Bryan memutuskan telponnya, pria itu masih resah gelisah menunggu dokter yang belum kunjung keluar dari ruang UGD itu. Sembari menunggu Mike dan Viona menceritakan kejadian yang terjadi. Bahwa mereka juga tidak tau kenapa Alma bisa jatuh dari tangga.
" Perusahaan mu pasti ada CCTV kan?" tanya Bryan
" Maaf Bryan, tapi di tangga darurat itu adalah sudut buta " jawab Mike
" Sialan!" Bryan terlihat geram, hatinya tidak karuan. Ia tau bahwa ada sesuatu yang salah.
" Kenapa kita gak tunggu aja dia sadar dan dia kan mengatakan kejadian yang sebenarnya?" tanya Mike
Tak berselang lama, seorang dokter pria keluar dari ruangan UGD. Sang dokter menjelaskan bahwasanya Alma mengalami luka luar yang cukup parah. Kulit kepalanya harus dijahit, kaki kiri nya patah, lengan kanan nya patah, dan Alma juga mengalami gegar otak ringan.
Mendengar penjelasan dari dokter, tubuh Bryan langsung menjadi lemas, panik, cemas, bercampur di dalam pikiran dan hatinya. Mike berusaha menenangkan Bryan. Ini pertama kalinya Mike melihat Bryan begitu mencemaskan seseorang.
Menurut keterangan dokter, dari luka luka yang di derita Alma. Jika Alma jatuh dari tangga dengan sendirinya, ia pasti tidak akan luka separah ini. Dokter berasumsi, mungkin saja Alma jatuh dari tangga karena di dorong oleh seseorang.
Bryan dan Mike langsung memerintahkan orang yang bisa mereka percaya untuk mencari penyebab Alma jatuh dari tangga.
*****
Setelah mendapat perawatan, Alma dipindahkan ke ruang rawat. Untuk sementara waktu Alma harus berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.
Tit...titt...tit...
Suara mesin medis terdengar jelas di ruangan Alma, selang infus terpasang di tangan nya, gadis itu masih belum siuman setelah di beri obat bius. Beberapa lukanya sudah dijahit, tangan dan kakinya yang patah juga sudah di gips. Bryan masih setia menunggu di sampingnya sambil memegang tangannya.
" Al, kamu cepat bangun dong. Jangan buat aku khawatir " Bryan menundukkan kepalanya, menunjukkan kesedihan di matanya. Melihat wanita yang ia cintai tidak berdaya di hadapan nya membuat hatinya terluka. Dan Bryan juga merasa takut terjadi sesuatu pada Alma.
Tak lama kemudian, Mia dan Leon datang setelah diberitahu oleh Laura kalau Alma masuk ke rumah sakit. Mereka tampak khawatir.
" Apa yang terjadi pak Bryan? kenapa Alma bisa seperti ini?" tanya Mia cemas melihat sahabatnya itu terbaring di ranjang di rumah sakit
" Saya juga tidak tau bagaimana persisnya, tapi.."
Leon melihat Alma dengan penuh khawatir, lalu ia dengan wajah penuh emosi, menarik kerah baju Bryan dengan kasar. " Bagaimana ini bisa terjadi? padahal aku sudah menyuruh mu menjaganya! beginikah caramu menjaga dia?!"
BUKK
Bryan menerima pukulan Leon tanpa perlawanan.
" Seharusnya aku tidak percaya padamu!" Leon masih terlihat marah pada Bryan
" Maafkan aku, ini memang kesalahan ku yang tidak menjaga nya dengan baik. Kamu boleh memukulku "
" Brengsek !" gerutu Leon
" Stop ! apa yang kalian lakukan di rumah sakit? Alma lagi sakit dan kalian malah berantem di depan orang sakit " ujar Mia kesal
Leon melepaskan Bryan, dan melihat keadaan Alma. Bryan sangat tidak nyaman dengan tatapan Leon pada Alma, ternyata masih ada cinta di matanya itu untuk Alma.
" Al, aku disini. Kamu jangan buat aku khawatir Al." ucap Leon lembut
Stop Bryan, ini bukan waktunya kamu cemburu pada nya.
Bryan menahan kekesalannya saat Leon menatap Alma dengan penuh cinta. Tak bisa ia pungkiri, bahwa hatinya merasa cemburu.
Alma membuka matanya perlahan-lahan, kesadaran nya juga mulai kembali. Mia, Leon dan Bryan terlihat lega melihatnya.
" Alma.. kamu gak papa Al?" tanya Mia cemas
Syukurlah. batin Leon dan Bryan lega
" Bry.. bry.. Bryan " gumam Alma pelan
Leon terlihat kecewa karena pertama kali saat gadis itu sadar, nama Bryan lah yang diucapkan nya. Bukan nama nya.
Apa yang kamu pikirkan Leon? sejak awal kamu sudah tau bahwa memang tidak pernah punya tempat di hatinya. Tapi kenapa kamu masih seperti ini? bodoh. batin Leon sedih
" Iya, aku disini? " Bryan segera menghampiri Alma dan menggenggam tangannya, mengusap kepalanya dengan lembut. Menatap Alma dengan penuh kekhawatiran.
" Bryan.. " Alma menatap Bryan dengan matanya yang sayup-sayup
" Aku akan panggil dokter " ucap Leon berinsiatif. Leon keluar dari ruangan itu dan segera memanggil dokter.
Dokter memeriksa kondisi Alma, dan tidak ada luka dalam yang serius. Hanya luka luar dan patah tulang. Namun, Alma harus di rawat selama beberapa di rumah sakit. Ini kedua kalinya Alma masuk ke rumah sakit, dan ia sangat benci dengan rumah sakit.
Setelah itu Bryan dan Leon pergi keluar dulu karena mereka masih ada urusan. Dan Mia lah yang menjaga Alma sementara waktu.
" Syukurlah kamu gak ada luka dalam. Tapi, kamu harus di rawat beberapa hari Al. " ucap Mia merasa lega
" Gak bisa begini, kerjaan ku banyak "
" Apa saat ini pekerjaan lebih penting dari kondisi mu? kamu tau betapa cemasnya pak Leon dan Pak Bryan saat kamu belum siuman tadi. Keadaan nya sangat panas tadi !"
" Mereka pasti berantem ya?" Alma menebak
" Kamu sudah bisa menebak nya, tepat sekali. Tapi kamu tau gak Al? aku menikmati sekali wajah pak Bryan yang terlihat putus asa dan sedih, aku baru pertama kali melihat pak Bryan yang dingin menjadi seperti itu. Kayanya dia benar-benar mencintai kamu " jelas Mia sambil tersenyum
" Iya begitulah. Seperti nya kami memang saling mencintai."'
" Aku senang Al. Dan aku juga ada kabar baik, Aldo udah ngelamar aku. "
" Seriusan?" Alma terlihat senang
Mia memberitahukan pada Alma bahwa Mia dan pacarnya itu akan segera menikah. Alma terlihat senang akhirnya temannya akan menikah. Setelah itu Mia bertanya tentang apa yang terjadi hingga Alma bisa terjatuh dari tangga, Alma pun menceritakan tentang Selina yang mendorong nya dari tangga.
" Apa? si pelakor itu yang dorong kamu? kalau begitu kita harus laporkan dia ke polisi dong!" kata Mia marah
" Tidak jangan Mi, lagian aku juga gak papa. Kamu udah janji ya gak akan ngasih tau ini sama siapa-siapa " Alma melarang
" Tapi ini gak bisa dibiarin Al, dia udah keterlaluan buat kamu sampai patah tulang begini. Aku bakal bilang sama pak Bryan, tentang hal ini " kata Mia keras kepala
Ya ampun, seharusnya aku gak kasih tau Mia. Urusannya bisa panjang kalau menyangkut dengan polisi dan hukum.
πππ
Sore itu Ny. Delia, Laura dan si kembar melihat keadaan Alma di rumah sakit. Naina tak henti-hentinya menangis melihat kondisi ibunya yang tidak leluasa bergerak karena tulang kaki dan tangannya ada yang patah.
" Mama, mama pasti sakit ya? mama.. huu...huu.. hiks "
" Nai, udah dong nangisnya. Ini di rumah sakit jangan berisik " Kelvin berbisik ke telinga adiknya itu
" Tapi mama kak.. mama sakit.. "
" Mama gak papa kok, gak usah cemas ya sayang. Udah jangan nangis lagi ah " Alma tersenyum
" Dari tadi dia nangis terus, kayanya udah ada firasat tentang kamu Alma." kata Ny. Delia
" Iya Bu, tapi aku gak apa-apa kok. "
" Gak apa-apa gimana? kata dokter kamu bahkan belum bisa berjalan dengan benar selama seminggu. Kamu akan kesulitan kalau begini. " kata Laura cemas
" Aku pasti bisa sembuh sebelum seminggu "
Itu benar, gimana ya? siapa yang bisa merawat ku? sekarang aku bahkan tidak bisa bergerak leluasa? Mia sedang sibuk dengan pernikahan nya, aku tidak bisa merepotkan Mia. Bryan juga pasti sibuk, lalu urusan kantor ku juga gimana? lalu anak-anak siapa yang ngurus?
Banyak sekali yang dipikirkan oleh Alma saat ia sakit. Dan karena itulah ia benci sakit. Namun dengan senang hati Ny. Delia dan Laura menawarkan diri mereka untuk merawat si kembar.
...---****---...