Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 113. Pray for Naina



...🍀🍀🍀...


Tiiiiiiiiitttt.....


Suara mesin itu berbunyi panjang tanpa jeda dengan nada yang sama. Pertanda yang tidak baik untuk Naina, dengan kata lain jantung yang berhenti berdetak. Kelvin dan dokter Firlan memasuki ruangan Naina dengan terburu-buru, diikuti dua orang suster di belakangnya.


"Dokter!! tolong Naina dok, tolong adik saya! saya mohon..!!" pinta Kelvin panik mendengar suara mesin detak jantung Naina


"Bapak tolong tenang dulu, silahkan kalian tunggu di luar saat akan memeriksa Bu Ninaina" kata dokter Firlan meminta Kelvin dan Keira agar menunggu di luar ruangan.


Namun Kelvin dan Keira enggan untuk pergi, mereka ingin memastikan bahwa Naina dalam keadaan baik-baik saja. Kelvin dan Keira berjanji kalau mereka tidak akan menganggu dokter dan suster yang memeriksa Naina.


Dokter Firlan segera melakukan tugasnya, dengan memakai senter dia memeriksa mata Naina, kemudian dia menggunakannya stetoskop nya dan di arah pada dada Naina. Tangannya menyentuh pergelangan tangan Naina dengan hati-hati.


Tidak, tidak mungkin begini. batin Dokter Firlan terkejut dengan hasil pemeriksaan nya sendiri.


Suara mesin dengan satu nada itu masih berbunyi, membuat orang orang yang ada di ruangan itu menjadi tegang. Termasuk Kelvin dan Keira.


"Dokter, jantung pasien berhenti berdetak!" suster mengambil kesimpulan dari mesin pendeteksi jantung yang dia liat


DEG!


Kelvin dan Keira terkejut mendengar kata jantung berhenti. Mereka berdua langsung panik.


"Dokter! apa maksudnya jantung adik saya berhenti??! dokter!" teriak Kelvin histeris


"Dokter.. tolong selamat kan Naina! tolong dok, tolong..." pinta Keira pada Dokter itu dengan berurai air mata.


Wajah dokter Firlan juga tegang melihat kondisi Naina sudah diujung tanduk, suara mesin itu membuatnya semakin takut. Dia berdoa di dalam hatinya untuk kesembuhan pasien yang sudah berobat padanya selama satu bulan itu.


"Suster! siapkan AED!" kata Dokter Firlan dengan tegas


*AED (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung.


"Baik dok!" jawab suster itu segera melaksanakan perintah dokter Firlan, buru-buru dia mengambil alat denyut jantung itu dan diberikan lah pada dokter Firlan.


CEKRET


Seseorang membuka pintu ruangan itu, dia adalah Juna. Dia bermaksud mengambil ponselnya yang tertinggal di ruangan Naina. Juna terkejut melihat dokter sedang menggunakan alat denyut jantung itu pada Naina.


Wajah Juna langsung pucat mendengar suara mesin yang menurutnya sangat menyeramkan itu, dia teringat pada kakek nya yang tidak kembali setelah suara mesin dengan bunyi panjang itu terdengar.


"A-Apa yang terjadi? Naina.. Naina..." Juna berjalan mendekati sang dokter yang berusaha menyelamatkan nyawa tunangannya.


"Ayo! kamu harus bertahan, kamu harus bertahan Bu Naina! bukankah kamu ingin sembuh?? ayo lawan lah rasa sakit itu, saya percaya kamu bisa! jadi kembalilah kemari! ingat lah apa yang pernah Bu Naina katakan pada saya! kalau Bu Naina ingin sembuh supaya bisa bersama dengan orang-orang yang Bu Naina sayangi!" seru dokter sambil meletakkan alat denyut jantung itu pada tubuh Naina. Hingga membuat tubuh Naina mengejang sampai beberapa kali.


Keringat sudah mulai bercucuran di wajah sang dokter, sudah hampir 6 kali Dokter Firlan menggunakan alat denyut jantung itu. Namun, keadaaan masih tetap sama. Naina masih belum sadar dan suara mesin masih menggema memenuhi ruangan itu.


Tiiiiiitttttttttttt....


Bu Naina? apa kamu hanya akan berjuang sampai sini?. Dokter Firlan juga tak bisa menahan kesedihannya. Dia tau semangat Naina untuk sembuh, Naina berbeda dari pasien-pasien kankernya yang lain.


Saat orang lain mungkin menyerah dan mengeluh dengan penyakit ini, Naina tetap semangat berjuang untuk kesembuhan nya. Dia memakan makanan yang tidak disukainya, meminum obat yang pahit, menahan sakitnya kemoterapi dan pengobatan pengobatan lain yang dia jalani. Tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun, ataupun menyerah untuk berobat.


Dokter Firlan juga percaya bahwa dengan semangat nya, gadis itu akan sembuh dan kembali seperti sedia kala. Hati dokter Firlan sakit melihat Naina yang kini terbaring lemah di ranjang nya.


"Dokter! kenapa berhenti? ayo cepat selamatkan tunangan saya!! selamatkan Naina!" seru Naina pada dokter Firlan yang sudah menghentikan aktivitas nya dan meletakkan alat denyut jantung itu di meja yang ada disana.


"Maafkan saya tapi..."


Juna memotong ucapan dokter Firlan, "Aku tidak butuh maaf mu! cepat bangunkan Naina! cepat!!" teriak Juna sambil menarik baju dokter Firlan dengan kasar.


"Hiks... huuuhu... huuuhu..." Keira menangis terisak-isak, gadis itu jatuh terduduk. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan dokter selanjutnya. "Naina...hiks.. Naina..."


"Maafkan saya tapi Bu Ninaina...."


"Aku bilang jangan teruskan!! jangan banyak bicara!!!" teriak Juna histeris, ia teringat pada kematian kakek dan kedua orang tuanya dulu. Dia sering berhadapan dengan dokter yang mengatakan kematian orang tersayang nya. "Aku tidak mau mendengar nya lagi! aku tidak mau!!" teriak Juna dengan berurai air mata


Di sisi lain ada Kelvin yang diam membeku dengan wajah sedih, dia menantikan kata-kata dokter selanjutnya.


Dengan berat hati, dokter Firlan melanjutkan ucapannya. "Bu Ninaina sudah tiada, waktu kematian pukul 13.25 lebih 20 detik" ucapnya sedih


Hancur sudah hati Juna, mendengar kalimat itu terulang lagi dari mulut dokter. Kalimat yang membawa orang-orang terkasih nya dan tidak kembali selamanya. Kelvin menangis tanpa suara, dia membeku di tempatnya.


"Naina...!! enggak mungkin.. Naina gak mungkin meninggal...enggak..." Keira sulit percaya, dia menangis sejadi-jadinya, sahabat sekaligus adik iparnya itu dinyatakan tidak bernyawa.


Juna memeluk gadis itu dengan erat, tak hentinya pria itu memanggil memanggil manggil nama Naina. "Nai.. jangan kaya gini... please. Kamu udah janji untuk menikah sama aku, kamu janji untuk hidup bersamaku selamanya. Kamu jangan mengingkari janjimu seperti ini... kamu mau buat aku mati ya? Nai, aku janji deh kalau kamu bangun, aku akan beliin apapun yang kamu mau, apapun yang kamu inginkan aku akan kabulkan. Kamu mau makan permen stoberi yang selalu aku larang kan? aku akan izinkan kamu memakan nya, tapi kumohon bangun.. bangun sekarang juga Nai.." Juna mencium tangan Naina, berharap tunangan nya akan kembali.


Berita kematian Naina akhirnya disampaikan oleh Keira pada semua keluarga karena Kelvin hanya diam membisu saking syok nya.


"Halo Pah.." ucap Keira pada papa mertuanya lewat telpon, suara nya terdengar parau


"Ada apa Kei? kamu nangis ya?" tanya Bryan cemas mendengar suara parau Keira.


"Pah.. Naina..." Napas Keira tersendat saat dia akan mengatakan berita kematian itu.


"Naina kenapa nak? bentar lagi papa dan mama akan kesana" kata Bryan pada menantunya.


"Naina... Naina meninggal Pa.." jawab Keira sambil menangis terisak-isak


DEG!


Bryan tidak menjawab lagi telpon dari Keira. Bryan syok, dia terdiam dan memegang ponselnya tanpa mematikan panggilan telpon yang masih tersambung itu.


"Sayang, ayo berangkat! katanya mau ke rumah sakit, kok diam aja?" tanya Alma pada suaminya yang duduk di kursi teras dengan wajah syok, "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Alma


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Bryan beranjak dari kursinya, kemudian dia masuk ke dalam mobil.


"Bryan kenapa ya?" tanya Alma bingung melihat suaminya bertingkah aneh, dia pun mengikuti Bryan masuk ke dalam mobil.


Lebih baik jangan kasih tau Alma dulu, dia pasti syok duluan. Lagian berita ini belum tentu benar, putriku tidak meninggal. Dia pasti baik-baik saja. Bryan berusaha meneguhkan hatinya bahwa Naina baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian, pasangan suami-istri itu sampai di rumah sakit. Di depan ruangan Naina sudah ada teman-teman Naina dan keluarganya yang lain.


"Al, kamu yang kuat ya.." Laura menangis lalu memeluk Alma yang baru saja datang dan belum tau apa-apa.


"Ada apa kak Laura? kenapa semuanya ngumpul disini?" Alma bingung melihat semua orang ada disana, semua orang itu berwajah sedih.


"Jun! lepasin Naina Jun, dia harus di pindahkan ke kamar jenazah" ucap Reza pada sahabatnya yang terus memeluk Naina.


"Kamar jenazah apaan!!! minggir Lo! kalau kalian berani mindahin Naina ke kamar jenazah, awas aja kalian!!" ancam Juna pada dokter dan suster yang akan memindahkan tubuh tak bernyawa itu ke kamar jenazah, namun Juna terus menghalangi nya.


Mendengar suara Juna dari dalam ruangan Naina membuat Alma dan Bryan panik. Dia langsung berlari ke kamar Naina. Mereka melihat Juna memeluk Naina dengan erat sambil menangis.


"Naina!! anakku!!" Alma menghampiri putrinya, dia menangis dan memanggil manggil nama Naina.


Bryan juga histeris sama hal nya dengan Alma ,banyak yang menangisi Naina. Disisi lain Damar berusaha menenangkan Juna yang terus mengamuk di ruangan itu.


"Jun tenang Jun.. tenang!" Damar memegangi Juna yang histeris tidak terkendali


"Naina gak mungkin pergi Mar, gak mungkin!! dia udah janji.. dia janji sama gue mau hidup bahagia sama gue.. hiks" wajah Juna sudah basah oleh air mata.


"Anakku!! gak mungkin.. hiks..Naina sayang, kembalilah sayang.. bagaimana bisa mama hidup tanpa kamu? mama sudah kehilangan Albry, apa kamu tega membuat mama hancur lagi nak? kamu kan anak kuat, kamu pasti bisa... mama mohon kembalilah, kembalilah pada kami nak... "Alma memegang tangan Naina, dia berharap Naina akan mendengar suara nya.


Ya Allah.. aku mohon selamatkan Naina, kembalikan Naina pada kami. Kami masih menyayanginya, masih banyak orang yang menyayangi nya.


"Naina.. putri kesayangan papa, papa sama Mama udah kuat demi kamu nak. Jadi kami mohon, kamu cepat bangun, kami sayang kamu nak.. masih banyak yang mencintai kamu nak, kamu anak baik, kamu pasti kuat.. kamu pasti kuat.. Nai bangun sayang" Bryan tidak tega melihat putri nya terbujur kaku, dengan wajah pucat seperti kehabisan darah. Bryan mengelus lembut kening Naina kemudian membelai rambutnya penuh kasih sayang.


Kecupan lembut mendarat di kening Naina dari sang papa. Air mata nya membasahi kening Naina.


Di luar ruangan itu, semua orang menangis untuk Naina, mereka memanjatkan doa untuk Naina agar dia kembali. Semua orang mengaji untuk Naina, membaca surat Yassin dengan tubuh yang gemetar dan hati sedih.


...*****...


Di sebuah taman yang indah, Naina sedang duduk sendirian di sebuah kursi panjang berwarna putih. Gadis itu juga mengenakan gaun berwarna putih, dengan rambut panjangnya yang tergerai.


"Aku dimana ya? kenapa aku berjalan sendirian? dimana semua orang?" tanya Naina bergumam sendiri melihat-lihat tidak ada siapapun di taman indah itu selain dirinya.


Naina pun berjalan, dia bermaksud untuk mencari semua orang. Samar-samar dia mendengar suara orang-orang memangil namanya dan meminta nya untuk kembali.


"Kenapa aku dengar suara mama, papa, Juna dan semua orang ya? tapi kenapa suaranya begitu jauh" Naina menatap ke langit yang cerah itu, dia kebingungan mencari jalan pulang.


Bersambung..


Bisakah Naina menemukan jalan pulang untuk kembali pada keluarga dan orang-orang tersayang nya? atau kah dia akan kembali pada yang kuasa?


...---***---...


Hai Readers! kalau mau lanjut, silahkan komen ya😍 maaf author gak full ngetiknya untuk episode ini karena buru-buru🙏😊