
...***...
Pada dini hari, Alma sudah bangun lebih awal, ia mengambil wudhu dan segera shalat tahajud. Setelah itu Alma pun pergi ke kamar Albry yang terasa sepi dan kosong, rupanya Alma masih sedih dengan kepergian anaknya itu.
"Nak.. apa kamu baik-baik saja? Mama selalu mendoakan kamu nak, kamu akan bahagia disana kan? disisi Allah ?" Alma memegang foto Albry yang sedang tersenyum lebar, rasanya hatinya masih perih teringat kenyataan pahit kalau anak bungsunya sudah tiada.
Alma merebahkan dirinya di ranjang Albry, ia memeluk foto Albry lalu mulai menangis lagi. Membayangkan anak itu tersenyum padanya, ada disampingnya dan memanggilnya mama dengan suara imutnya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti itu.
Diam-diam Viona yang terbangun juga melihat pemandangan seorang ibu yang masih berduka atas kematian anaknya.
"Sayang, kamu ngapain disini?" tanya Ken sambil menepuk bahu Viona
"Kasihan kak Alma, apa setiap malam dia selalu seperti ini?" Viona melihat Alma dari balik pintu dengan kesedihan dan cemas
Ken juga merasakan kasihan pada kakak iparnya itu. Ken pun berbisik pada Viona dan mengusulkan sesuatu pada nya.
"Aku sih tidak keberatan, asalkan kak Alma dan pak Bryan setuju" jawab Viona
"Kalau kamu sudah setuju, nanti kita bicarakan pada kak Bryan dan kak Alma" kata Ken sambil memegang bahu istrinya dan mulai tersenyum
"Apa yang mau kalian bicarakan padaku?" tanta Bryan yang sudah ada dibelakang Ken
"Sebenarnya kami mengusulkan agar kalian pergi berlibur dulu, supaya perasaan kak Alma lebih baik." jelas Ken
Bryan melihat ke arah istrinya yang sedang berbaring di kamar Albry, dan menangis. Bryan tau bahwa setiap malam Alma masih selalu menangisi kepergian anaknya itu. Apakah liburan akan membuat Alma lebih baik? lalu bagaimana dengan perusahaan?
"Kalau soal perusahaan kakak tidak usah cemas, aku akan menggantikan mu sementara. Dan masalah anak-anak, aku akan dan Viona akan menjaga mereka" jelas Ken
"Benar pak Bryan, kak Alma butuh suasana yang bisa membuat perasaan nya lebih baik." timpal Viona cemas
"Terimakasih, aku akan bicara dulu dengan nya" Bryan tersenyum tipis.
Pria itu berjalan masuk ke dalam kamar Albry, lalu duduk di samping isterinya yang sedang berbaring.
"Sa-sayang?" Alma langsung beranjak duduk, menyadari bahwa ada seseorang yang duduk disampingnya. Segera ia menyeka air matanya.
"Tidak apa sayang, tidur saja disini kalau kamu mau" Tangan Bryan membelai lembut pipi istrinya yang basah, menatapnya dengan cemas.
"Maaf, aku membangunkan mu ya? apa kamu lapar? mau ku buatkan makanan?" tanya Alma
"Tidak sayang, aku tidak lapar. Tidurlah, masih ada 3 jam lagi menuju pagi. Aku temani kamu disini ya" ucap pria itu penuh kehangatan
"Bry, maafkan aku.. maafkan aku karena aku masih seperti ini." Alma menunduk sedih
"Tidak apa-apa, aku mengerti ini pasti sangat berat untuk kamu. Aku paham.. karena aku juga tau rasanya" Bryan memeluk istrinya dengan hangat, bibirnya mencium kening Alma.
"Maafkan aku membuatmu cemas Bry" Alma sedih
"Sayang, bagaimana kalau kita liburan?" tanya Bryan
"Liburan?" tanya Alma sembari mendongak ke arah Bryan.
"Ya, kita liburan berdua saja. Sudah lama kita tidak liburan berdua? sayang, aku ingin suasana hatimu lebih baik" jelas Bryan penuh kasih sayang di matanya
"Perusahaan mu? kantorku? dan anak-anak bagaimana?" tanya Alma
"Ada Ken dan Viona yang akan membantu kita, ayo sayang kita liburan ya? please.."
"Hm.. baiklah Bry" jawab Alma setuju
"Kalau begitu, besok pagi kita berangkat ya" Bryan terlihat senang karena istrinya setuju untuk berlibur. Alma hanya mengangguk.
****
Pagi itu, Alma dan Bryan sudah bersiap membawa 2 koper berisi baju-baju mereka. Mereka juga berpamitan pada Naina dan Kelvin.
"Papa sama mama cuma pergi selama satu minggu kok, Kelvin kamu sebagai anak paling dewasa, tolong jaga adik adik mu baik baik" kata Bryan mengingatkan
"Baiklah, pa. Papa sama Mama tenang aja, semuanya akan aman" Kelvin tersenyum
Mama memang harus berlibur untuk menenangkan hatinya.
"Bagus, kabarin papa ya." Bryan tersenyum " Ken, aku titip anak-anak ku dan juga kantor ya" ucap nya pada saudara kembarnya
"Tenang saja kak" jawab Ken
"Viona, maaf merepotkan kamu ya" kata Alma pada Viona
"Tidak apa-apa, santai saja kak. Kakak tenangkan lah hati kakak ya, jangan banyak pikiran" Viona tersenyum menenangkan Alma.
"Makasih Vi" kata Alma sambil tersenyum lembut
"Ma, kalian yakin gak akan kami antar sampai bandara?" tanya Naina
"Gak usah sayang, kamu dan kakak kamu kan harus sekolah. Jaga diri kamu baik-baik ya sayang" Alma tersenyum dan memeluk putrinya itu
"Nai sayang, kamu mau oleh oleh apa dari papa sama Mama nanti?" tanya Bryan
"Aku tidak mau apa-apa, aku cuma mau papa dan mama pulang dengan selamat dan sehat" jawab Naina
"Anak baik" Bryan menepuk kepala putrinya dengan gemas. Naina memeluk papa nya sebelum papanya pergi.
"Papa, papa harus jagain Mama ya." bisik Naina pada papa nya itu
"Iya sayang, itu sudah kewajiban papa" jawab Bryan sambil tersenyum
Setelah semuanya selesai sarapan pagi, Alma dan Bryan berpamitan sekali lagi pada semua anggota keluarga Aditama yang ada disana. Bryan dan Alma juga mengingatkan pada Naina dan Kelvin agar tidak terlalu dekat dengan Risya, karena mereka menaruh curiga pada Risya yang datang tiba-tiba ke dalam kehidupan mereka.
Karena itu Ken mengerahkan beberapa anggota nya untuk melindungi Kelvin dan Naina secara diam-diam di sekolah.
...🍂🍂🍂...
3 hari kemudian...
Di kelas X-A, semua siswa dan siswi membawa seragam olahraga mereka untuk berganti pakaian di ruang ganti, karena pagi itu adalah jadwal pelajaran olahraga. Naina dan Keira paling semangat kalau soal pelajaran olahraga, karena mereka sangat menyukai pelajaran itu dari SD.
Dan kali ini pelajaran olahraga itu digabung dengan kelas X-B, kelas Nisha. Semua siswa dan siswi sudah bersiap dengan pakaian olahraga mereka dan pergi ke lapangan.
"Woy, Naina.. Pak Joseph suruh Lo bawa buku absen di kelas " ujar Juna pada Naina yang akan memakai sepatu.
"Oke oke, kamu atur anak-anak yang lain dulu ya" kata Naina sambil melangkah dengan kaki nyeker, dan pergi menuju ke arah kelasnya yang lumayan jauh dari lapangan.
Sementara itu Risya, Nisha, dan Keira sedang duduk di bangku sambil menunggu Naina membawa buku absen. Melihat Nisha dan Keira mengobrol berdua dengan akrab, Risya merasa diabaikan lagi dan kesal. Padahal semua orang ingin dekat dengannya, tapi kedua sahabat Naina ini seperti menjaga jarak darinya.
Sial! rencana ku selalu gagal untuk mencelakai Naina, selalu saja ada orang yang menolong nya. Gak si Juna, si Keira, si Nisha, selalu saja ada yang menyelamatkan nya. Belum lagi ada bodyguard yang selalu mengawasi nya dari jauh.
"Ris, kita ke ruang ganti dulu ya bentar. Kamu mau ikut?" tanya Nisha
"Gak usah, aku disini aja deh" jawab Risya sambil tersenyum
"Ya udah, kita pergi dulu ya" kata Keira
Rasain! kali ini bahkan para kstaria penyelamat mu juga tidak akan bisa menyelamatkan mu.
Beberapa detik kemudian, Naina berlari setelah mengambil buku absen. Ia menyerahkan buku absen itu pada Pak Joseph. "Ini pak, buku absen nya!"
"Makasih ya Naina" kata Pak Joseph sambil mengambil buku absennya
"Lo pake sepatu dulu gih, kan mau lari lari." ucap Juna pada Naina yang telanjang kaki.
"Iya, aku mau pake sepatu kok" jawab Naina
"Cie.. Juna perhatian ni yeehh" ucap Nando dan Reza menggoda Juna( anak kelas X-B) teman-teman Juna.
"Apaan sih kalian? cepetan baris!!" ujar Juna pada teman-temannya. Ia tampak kesal dan malu dengan ejekan teman-temannya itu.
"Cie.. cie.. Juna malu" goda Nando
"Bacot Lo! cabut gak Lo??!" Juna memukul bahu Nando. Juna melihat ke arah Naina yang melangkah pergi ke tepi lapangan untuk memakai sepatunya.
Apa cuma aku saja yang merasa malu disini? kenapa aku suka sama cewek yang gak peka?. Juna sedih melihat reaksi Naina yang biasa saja saat di goda oleh teman-temannya.
Ternyata beneran kata si Damar, si Juna berubah akhir-akhir ini karena si Naina. Dia bahkan gak bolos bolos lagi dan jadi rajin belajar. Apa ini yang namanya hidayah? atau kekuatan cinta? batin Reza takjub melihat perubahan pada diri Juna.
PRUUUTTTTTT....
Pak Joseph meniup peluit nya, ia mengabsen satu persatu siswa kelas X-A dan X-B untuk di tes lari di lapangan. Tibalah giliran Juna dan siswa siswa lainnya berlari.
Juna mendapatkan urutan pertama dalam tes lari itu. Naina tersenyum senang dan memberi jempol untuk Juna. Disisi lain anak-anak siswi kelas X-B, meneriaki Juna saat pria itu membuka kaos nya dan menunjukkan ABS nya.
"Gimana? gue keren kan?" tanya Juna membanggakan dirinya.
"Ya kamu keren, tapi lebih keren lagi kalau nilai ulangan harian matematika kamu bisa meningkat" kata Naina sambil menyerahkan sebotol air minum pada Juna
"Gue kan lagi berusaha" jawab Juna
"Oke. Btw, kamu populer juga ya?" tanya Naina
"Gue gak sepopuler kakak Lo" jawab Juna sambil duduk di samping Naina dan meneguk air di dalam botol.
"Pakai baju kamu tuh, malu maluin" gerutu Naina
"Kenapa? Lo gak mau gue di lihat cewek lain ya? apa tubuh gue menggoda? " goda Juna pada Naina
Naina melempar handuk pada Juna tepat ke wajahnya."Mesum! cepat pakai baju kamu!" teriak Naina sebal
Kenapa ya? aku merasa ada yang menusuk kakiku?
"Galak amat sih!" Juna sebal
"Ninaina, Nisha, Keira, Vita, dan Risya, giliran kalian!" ujar Pak Joseph pada ke lima murid perempuan nya.
"Baik pak!" jawab kelima siswi itu kompak.
Kelima siswi itu bersiap siap di lapangan untuk tes lari mereka. Risya tersenyum semangat, ia terus melihat Naina dan menantikan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
Kenapa dia belum jatuh juga? harusnya blackey ku sudah menggigitnya?. Risya heran melihat Naina masih baik-baik saja.
"Ada apa Ris? kamu kelihatan senang?" tanya Naina polos
"Tentu saja aku senang, aku bisa olahraga bareng kamu Nai.. ini juga pelajaran olahraga pertama ku " jelas Risya dengan wajah yang ramah
"Oh begitu ya? kalau gitu semangat ya" kata Naina menyemangati
"Makasih ya Nai, kalau ada kamu disini pasti aku semangat" Risya tersenyum manis.
Tentu saja aku akan semangat, menantikan kamu jatuh tidak berdaya. Kematian satu orang tidak cukup untuk menggantikan penderitaan ku dan mama.
" Satu...Dua ... tiga... mulai!!! " ujar Pak Joseph memulai tes lari itu
Keira, Nisha, Naina, Risya dan Vita berlari bersamaan. Naina yang semula dibarisan paling depan dan paling semangat, mendadak larinya jadi lambat. Diam-diam Risya tersenyum melihat wajah Naina yang pucat.
"Kei, Naina kenapa tuh?" tanya Nisha pada Keira yang berlari disebelahnya.
"Gak tau, tapi wajahnya pucat. Kita samperin dia yuk" kata Keira merasa ada yang janggal.
Keira dan Nisha membalikkan badan mereka dan berlari menghampiri Naina.
Naina juga merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, mendadak tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan seperti ada yang menusuk nusuk kakinya.
Ada apa ini? kakiku lemas sekali..ada yang menusuk juga...Ah sakit.. Aku tidak bisa bergerak!. Naina tersentak kaget, tubuhnya tidak bisa bergerak. Pandangan nya menjadi kabur, kepalanya sakit bukan main, dadanya juga sesak. Entah apa sebabnya.
Juna yang sedang duduk di bangku yang ada pinggir lapangan, melihat ada keanehan pada Naina. Gadis itu tiba-tiba berdiam diri ditempatnya dengan wajah pucat dan kepalanya yang berkeringat.
Dia kenapa? kok kayanya ada yang aneh.
Juna pun berlari menghampiri Naina dengan cemas, tepat saat itu tubuh Naina roboh tidak sadarkan diri.
BRUGH
Dengan cepat, Juna menangkap dan menggapai tubuhnya yang roboh itu.
"Nai! Nai Lo kenapa Nai? Nai bangun! Naina! Naina!" Juna melihat Naina dengan panik, ia menggoyangkan kepala Naina. Namun, gadis itu tidak sadarkan diri, tubuhnya terkulai lemas dipangkuan Juna.
"Nai!" teriak Keira dan Nisha panik melihat sahabat mereka jatuh pingsan.
"Kenapa bibir Naina warnanya ungu?" tanya Nisha kaget melihat bibir Naina yang berubah menjadi ungu.
Mata Juna terbelalak, ia panik melihat Naina yang tidak sadarkan diri tanpa diketahui apa sebabnya.
"Ya Allah, Naina kenapa?" tanya Risya dengan mata yang berkaca-kaca, ia melihat Naina dengan cemas. Risya menunjukkan simpati dan kesedihan nya di depan semua orang. Risya bahkan ikut memegangi Naina yang ada dipangkuan Juna.
Yes, berhasil.
Semua orang panik melihat Naina yang jatuh pingsan, dan mereka berlarian menghampiri Naina, termasuk Pak Joseph.
Pak Joseph panik melihat kondisi wajah Naina yang pucat, dan bibir nya yang ungu seperti terkena racun.
"Kita bawa Naina ke rumah sakit! Juna, bantu bawa Naina ke mobil bapak!" ujar Pak Joseph panik
Ini pasti racun!
"Iya pak!" tubuh Juna gemetar saking panik dan takutnya.
"Tunggu! " seru Pak Joseph sambil melihat ke arah sepatu Naina.
Guru olahraga kelas X itu membuka kedua sepatu Naina, lalu disana terlihat satu hewan mematikan. Semua orang kaget melihatnya, bagaimana bisa hewan mematikan dan langka itu bisa ada di dalam sepatu Naina?
"Astagfirullah!!" ucap teman-teman Naina kaget melihat hewan kecil mematikan itu.
...***...